Di Sri Lanka, Tzu Chi Mendistribusikan Makanan kepada Lebih dari 1.000 Keluarga
Pada tanggal 05 Juli 2022, Pemerintah Sri Lanka menyatakan kebangkrutan. Pada tanggal 09 Juli 2022, lebih dari 100.000 orang menyerbu kediaman presiden Sri Lanka untuk menunjukkan kemarahan mereka. Pada tanggal 14 Juli 2022, Presiden Sri Lanka secara resmi mengundurkan diri. Krisis ekonomi di Sri Lanka telah menyebabkan kekurangan bensin, obat-obatan, dan makanan di Sri Lanka, harga makanan pokok meningkat lebih dari dua kali lipat dalam waktu enam bulan.
Yang lebih mendesak adalah, meskipun orang punya uang, mereka tidak bisa membeli bahan yang mereka butuhkan. Mereka hanya bisa menunggu dalam antrean panjang selama beberapa hari. Pada malam hari, mereka tidak bisa pergi tidur dan harus tidur di tanah sampai keesokan harinya. Tanpa gas dan bensin, mobil dan bus tidak akan berjalan, dan orang-orang tidak memiliki bahan bakar untuk memasak. Sri Lanka kelihatannya membeku.
Bersimpati dan mendistribusikan bantuan
Pada tahun 2004, Tzu Chi pertama kalinya menginjakkan kakinya di Sri Lanka dalam rangka membantu para korban tsunami di Asia Selatan. Saat itu, Tzu Chi membuka kantor penghubung di Hambantota, membangun Desa Da Ai dan SMP Nasional Tzu Chi. Sekarang Tzu Chi sudah memiliki kantor di Colombo, ibukota Sri Lanka.
Menghadapi gelombang kesulitan baru-baru ini, pada tanggal 06 – 09 Juli 2022, relawan Hambantota mendistribusikan pasokan bantuan kepada 1.032 rumah tangga para guru dan siswa sekolah Tzu Chi, penduduk Desa Da Ai dan relawan Tzu Chi.
Tentu saja krisis ekonomi juga berdampak langsung kepada aktivitas para relawan Tzu Chi. Hal yang paling jelas adalah, karena kurangnya transportasi, mereka yang tinggal jauh tidak dapat mencapai titik pertemuan.
Syukurlah, 20 orang siswa dan 10 orang guru dari sekolah tersebut menawarkan diri untuk melakukan tugas pembagian bantuan. Seorang penerima bantuan jangka panjang bernama Y. B. Inoka Damayanthi juga menawarkan diri membantu. Dia tinggal 15 kilometer dari kantor penghubung Hambantota; karena gejolak ekonomi, tidak ada bus yang bisa dia naiki. Dibawah terik sinar matahari, dia hanya bisa berjalan setidaknya 3 jam untuk menjadi relawan yang datang membantu. Jika itu adalah anda, apakah anda akan melakukannya ?
Cerita dari Inoka
Inoka, 47 tahun, seorang ibu tunggal dengan empat orang anak. Anak tertua berusia 18 tahun, dan yang termuda berusia 9 tahun. Karena IQ-nya rendah, dia kesulitan mencari pekerjaan. Setelah menceraikan suaminya pada tahun 2015, dia menerima tunjangan dari suaminya, Tetapi sayangnya, pada tahun 2018, suaminya meninggal karena serangan jantung.
Ketika Tzu Chi mengetahui kasusnya, dia telah kehilangan kontak dengan putra sulungnya selama bertahun-tahun, Inoka menderita depresi, kecenderungan bunuh diri, insomnia, dan panik.
Dia tinggal di pinggiran kota bersama anak-anaknya; buah-buahan dan sayur-sayuran yang dia tanam selalu dimakan oleh monyet dan gajah. Hidupnya dalam kondisi menyedihkan. Tzu Chi telah memberinya bantuan sembako setiap bulan sejak bulan Februari 2019.
Pada akhir tahun 2019, Inoka mulai menjadi relawan Tzu Chi. Depresinya mulai berkurang dan pikirannya sudah mulai terang. Para relawan lain merasa bahwa Inoka pada dasarnya pintar, penuh perhatian dan optimis.
Pada bulan Juli 2022, Sri Lanka berada dalam kesulitan ekonomi. Inoka bahkan lebih terpengaruh dari kebanyakan orang. Tapi dia bisa hidup di hari ini dan menjadi relawan untuk berkontribusi kepada banyak orang. Rasa syukurnya yang memberinya kekuatan; kepuasannya memberinya kebijaksanaan.
Hidup tidaklah kekal. Bersyukur, hormat, dan cinta akan membawa kebahagiaan dan bertahan selamanya.
Fotografer : dok. relawan Tzu Chi,
Diterjemahkan oleh : Sik Pin.