Di Thailand, Tzu Chi Menyalurkan Bantuan Perbekalan Kepada Para Korban Banjir
Thailand baru-baru ini dilanda bencana banjir yang parah. Karena musibah tersebut, keluarga-keluarga miskin semakin menderita. Dengan tujuan bersama untuk membantu yang kesusahan, relawan Tzu Chi menyiapkan dan menyalurkan bantuan perbekalan kepada para korban banjir secepat mungkin.
Banjir terparah dalam sejarah lokal
Hujan deras di musim hujan Thailand dan dampak dari angin topan telah menyebabkan bencana di banyak daerah. Diantaranya, yang paling parah dihantam bencana adalah Propinsi Ubon Ratchatani, yang menghadapi banjir terparah dalam sejarah setempat.
Bencana tersebut mempengaharui setidaknya 22 propinsi dan 40.000 keluarga di Thailand. Kapan bencana banjir ini akan surut? Ada yang bilang baru akan surut di awal bulan November.
Berlayar di darat
Rumah-rumah mereka yang terkena banjir akan tetap tergenang. Kaum miskin lebih menderita lagi. Relawan Tzu Chi pertama-tama melakukan survey jumlah orang di setiap keluarga yang terkena dampak dan mencari-tahu apa saja yang diperlukan oleh anak-anak, seperti susu bubuk, dan makanan bergizi, dan apa yang dibutuhkan oleh kaum manula.
Setelah itu, relawan segera mempersiapkan perbekalan darurat untuk penanggulangan bencana. Mereka berlayar di darat, bukan untuk bersantai-ria, tetapi karena hujan di musim hujan ini telah menyebabkan air sungai meluap. Setelah hampir sebulan meluap, beberapa jalan di Propinsi Ubon Ratchatani hanya bisa dilewati oleh truk besar.
Walaupun daerah bencana masih dilanda banjir, relawan mengemudikan truk-truk besar untuk mengantarkan bantuan, atau mengayuh perahu untuk mengantarkan paket-paket bantuan. Mereka yang menderita tidak bisa meninggalkan rumah mereka, jadi para relawan mengirimkan cinta kasih dan bantuan perbekalan satu per satu.
Menyiapkan bantuan sesuai kebutuhan
Truk-truk yang memuat perbekalan diparkirkan di pinggiran area tenda, dan para relawan turun dari truk untuk mengunjungi para korban dengan berjalan kaki; mereka menjumpai banyak lansia yang tidak bisa banyak bergerak di berbagai tempat pengungsian.
Relawan Tzu Chi Zhang Hui-Zhen mengatakan, “Propinsi Ubon Rachattani adalah propinsi yang terparah terkena bencana. Jadi, selain merawat mereka yang terkena musibah, kami juga membawakan barang-baran kebutuhan sehari-hari untuk mereka. Kami menyediakan bubuk multi-vitamin untuk meningkatkan imunitas tubuh para lansia dan anak-anak, yang merupakan mayoritas disini.” Relawan dengan cermat menyiapkan perbekalan sesuai dengan kebutuhan para korban, sehingga mereka bisa dibantu sebaik mungkin dan dengan penuh bermartabat.
Tzu Chi juga menyiapkan kelambu anti nyamuk, pengusir nyamuk, dan bubuk gandum, yang membantu pasien pulih. Tzu Chi juga memberikan pampers untuk para lansia, yang paling dibutuhkan mereka.
Supphaphimitr, Wakil Gubernur Propinsi Ubon Rachattani, mengatakan :
“Pampers-pampers ini betul betul menolong. Karena mereka yang terbaring di tempat tidur tidak bisa kemana-mana, dengan pampers bantuan dari Tzu Chi, mereka dapat memiliki kualitas hidup yang lebih baik selama banjir.”
Ini adalah bukti cinta kasih yang tulus dan murni dari para relawan. Berkat cinta kasih ini, mereka yang terkena bencana, ketika menerima bantuan perbekalan, merasa hangat, ketenangan pikiran, dan rasa hormat.
Boonyuen, salah satu korban bencana, mengatakan dengan penuh syukur: “Sama sekali tidak mengharapkan banjir separah ini, kami tidak memindahkan barang-barang ke tempat yang aman. Banyak barang yang terendam. Saya sangat bahagia Tzu Chi datang menolong dan memperhatikan kami dengan cinta dan kasih sayang.”
Menolong para supir taksi
Selama masa pandemi Covid-19, jumlah turis yang datang ke Thailand menurun drastis, dan hidup para supir taksi dirudung permasalahan.
Para supir taksi tersebut, yang memiliki tingkat muatan penumpang sangat rendah dalam dua sampai tiga tahun terakhir ini, sangat mengarapkan kembalinya para turis, tetapi bencana banjir duluan datang. Para relawan Tzu Chi di Thailand juga memberi bantuan perbekalan kepada para supir taksi. Para relawan telah bekerja penuh perhatian dan memberikan cinta kasih untuk memberikan bantuan kepada mereka.
Seorang supir taksi bernama Ti Layun berkata: “Saya sangat senang Tzu Chi memberikan bantuan ini kepada kami, yang merupakan wujud cinta kasih dan pengabdian mereka, dan terus memberi semangat kepada para supir taksi untuk terus berusaha, menghadapi banjir dengan penuh keberanian, dan hidup dengan ketenangan pikiran, hingga air surut dan kehidupan kembali normal.”
Disamping itu, para relawan juga mengundang 23 orang supir taksi dari berbagai kabupaten untuk membantu mengantarkan bantuan bagi para korban banjir. Ibarat lari estafet, kekuatan cinta kasih bisa diantarkan ke tempat-tempat yang jauh dengan bantuan mereka.
Rasa syukur dan hormat
Karena banjir belum surut, para relawan harus menggunakan rakit untuk mengantarkan bantuan perbekalan kepada para korban. Mereka mengantarkan cinta kasih dan perhatian kepada para korban yang tidak bisa datang ke lokasi pembagian bantuan.
Selain memberikan cinta kasih, para relawan, setelah mengantarkan paket bantuan, juga menunjukkan rasa hormat mereka dengan beranjali dan membungkuk memberi hormat dan menghibur para korban untuk menenangkan mereka dan menyemangati mereka. Inilah cara para relawan memberi dengan tulus dan tanpa pamrih.
Dengan penuh welas asih, mereka merasakan penderitaan orang lain dan membawa bantuan sesuai dengan kebutuhan mereka. Saat melihat para korban menerima bantuan, mereka baru bisa merasa lega.
Para relawan merasa bersyukur diberi kesempatan untuk memberi bantuan langsung secara personal.
Untuk menyebarkan cinta kasih dan perhatian adalah seperti lari estafet. Dibutuhkan bantuan orang lain untuk menyalurkan cinta kasih dan menyebarkannya jauh dan luas. Diperlukan anda dan saya untuk bekerja sama dengan penuh kasih untuk membawa bantuan ke tempat-tempat yang jauh. Jadi, mari bergabung dengan Tzu Chi. Mari bersama-sama menyebarkan cinta kasih dan perhatian.
Fotografer : DaAi TV, Zhang Hui-Zhen, dok. Yayasan Tzu Chi,
Diterjemahkan oleh : Sik Pin.