Dua Ibu Rumah Tangga Menggerakkan Cinta di Kampung Halamannya
Di sebuah pulau kecil yang tenang di perairan barat Indonesia, berdiri megah sebuah bangunan baru, Kantor Penghubung Tzu Chi Tanjung Balai Karimun. Peresmiannya baru digelar hari Minggu lalu, 15 Juni 2025. Bukan sekadar kantor, bukan juga hanya tempat berkegiatan. Ini adalah rumah insan Tzu Chi, rumah bersama, rumah cinta kasih yang dibangun oleh tangan-tangan tulus para relawan Tzu Chi Tanjung Balai Karimun (TBK) dengan dukungan dari donatur dan masyarakat.
Apabila ditarik mundur 20 tahun silam, di balik semua langkah penuh cinta kasih ini, ada kisah dari dua ibu rumah tangga yang dengan niat sederhana ingin membantu sesama. Mereka adalah Ong Lie Fong dan Sukmawati.
Saat ditemui dalam Peresmian Kantor Penghubung Tzu Chi Tanjung Balai Karimun, Ong Lie Fong tak kuasa menyembunyikan haru. “Rasanya senang sekali. Enggak nyangka bisa ada hari ini. Dulu kami enggak punya tempat tetap,” kenangnya.
Apabila ditarik mundur 20 tahun silam, di balik semua langkah penuh cinta kasih ini, ada kisah dari dua ibu rumah tangga yang dengan niat sederhana ingin membantu sesama. Mereka adalah Ong Lie Fong dan Sukmawati.
Saat ditemui dalam Peresmian Kantor Penghubung Tzu Chi Tanjung Balai Karimun, Ong Lie Fong tak kuasa menyembunyikan haru. “Rasanya senang sekali. Enggak nyangka bisa ada hari ini. Dulu kami enggak punya tempat tetap,” kenangnya.
Kala itu tahun (kurun waktu tahun 2005-2011), semua kegiatan harus berpindah-pindah: rumah relawan satu ke rumah relawan lain. Sampai suatu hari di tahun 2011, sang suami angkat bicara. “Kalian sudah banyak relawan, kalian butuh tempat tetap. Pakai saja ruko kita.” Itulah awal mula. Ruko yang awalnya disewakan, kemudian digunakan secara cuma-cuma oleh Tzu Chi. Tak lama, satu ruko tambahan di sebelahnya, milik kerabat Lie Fong: Bapak Benjamin, juga turut dipinjamkan untuk perjalanan cinta kasih ini. Dua ruko kecil itulah yang menjadi fondasi dari apa yang kini menjadi kantor baru nan megah penuh sejarah.
Terhitung 14 tahun kemudian, yang mereka miliki bukan hanya bangunan baru, tapi juga rumah bagi ribuan cinta kasih.
Terhitung 14 tahun kemudian, yang mereka miliki bukan hanya bangunan baru, tapi juga rumah bagi ribuan cinta kasih.
Semangat dari Dua Perempuan Biasa
Semua itu bermula dari satu niat yang sederhana, ingin membawa semangat Tzu Chi ke kampung halaman. Ong Lie Fong, yang lahir dan besar di Tanjung Balai Karimun, pertama kali mengenal Tzu Chi dari seorang relawan Batam bernama Wang Lie Yu yang mengajaknya menjadi donatur.
“Saya memang senang beramal,” akunya dengan senyum tipis.
“Lalu tahun 2005 ada baksos besar gabungan Tzu Chi Batam, Malaysia, dan Singapura di Tanjung Balai Karimun. Saat itu saya jadi PIC pasien, dan berhasil kumpulkan lebih dari 4.000 pasien. Wah, itu rasanya sangat sukacita bisa membantu orang.”
Ketika kegiatan berakhir dan semua relawan kembali ke kota asalnya, Ong Lie Fong termenung. Masih ada sisa sisa sukacita dari bersumbangsih di hatinya, tapi bagaimana caranya agar rasa kebahagiaan dalam memberi ini tidak hilang begitu saja. “Saya mulai mikir, habis ini saya mau ngapain lagi ya?”
Dari perenungan itu, Lie Fong ingin ada relawan juga di kampungnya. Ia kemudian menghubungi Sukmawati dan mengajaknya mulai mencari donatur, menggalang relawan. Tahun itu juga, Tzu Chi Tanjung Balai Karimun lahir. Satu langkah kecil yang terus bergulir jadi gerakan yang tak terhentikan.
“Saya memang senang beramal,” akunya dengan senyum tipis.
“Lalu tahun 2005 ada baksos besar gabungan Tzu Chi Batam, Malaysia, dan Singapura di Tanjung Balai Karimun. Saat itu saya jadi PIC pasien, dan berhasil kumpulkan lebih dari 4.000 pasien. Wah, itu rasanya sangat sukacita bisa membantu orang.”
Ketika kegiatan berakhir dan semua relawan kembali ke kota asalnya, Ong Lie Fong termenung. Masih ada sisa sisa sukacita dari bersumbangsih di hatinya, tapi bagaimana caranya agar rasa kebahagiaan dalam memberi ini tidak hilang begitu saja. “Saya mulai mikir, habis ini saya mau ngapain lagi ya?”
Dari perenungan itu, Lie Fong ingin ada relawan juga di kampungnya. Ia kemudian menghubungi Sukmawati dan mengajaknya mulai mencari donatur, menggalang relawan. Tahun itu juga, Tzu Chi Tanjung Balai Karimun lahir. Satu langkah kecil yang terus bergulir jadi gerakan yang tak terhentikan.
Sukmawati, rekan seperjuangan Ong Lie Fong, tak kalah gigih. Dulu mereka hanya berdua, menapaki jalan sepi, mengirim SMS satu per satu kepada teman setiap kali ada kegiatan, berjanjian di sebuah tempat karena memang belum ada lokasi berkumpul yang tetap. Pernah pula meminjam aula hotel untuk sekadar kegiatan gathering relawan.
“Waktu pertama sekali ya enggak ada yang tahu kami kerja untuk Tzu Chi. Cuma kami berdua,” kata Sukmawati sembari tertawa mengenang masa lalu. “Waktu itu enggak ngerti apa-apa. Survei pasien saja pulang-pulang lupa tanya anaknya cewek apa cowok. Ya intinya kalau ada uang donasi masuk, harus ada kegiatan yang dilakukan. Padahal masih belum tahu apa-apa,” lengkapnya.
Tapi ketidaktahuan itu tak menghalangi mereka. Justru itulah yang membentuk mereka jadi relawan sejati. “Kami percaya, kalau niatnya tulus, semua jalan pasti terbuka,” ujar Sukmawati, yang kini dikenal oleh hampir semua staf RSUD di sana karena Tzu Chi Tanjung Balai Karimun.
Pada tahun 2013, Ong Lie Fong pindah ke Batam karena anaknya bersekolah di sana dan sang suami juga lebih sering bekerja di sana. Tongkat estafet Tzu Chi Tanjung Balai Karimun kemudian dilanjutkan oleh Sukmawati. Seiring berjalan, Tzu Chi semakin dikenal, relawan bertambah, cinta kasih yang bergulir semakin besar, dan bantuan yang diberikan semakin luas.
Dari hanya berdua, mereka berhasil mengajak puluhan relawan lainnya dan menghimpun ratusan, lalu ribuan donatur. “Awalnya kami galang dana sendiri. Senang sekali loh tiap ada (donasi) yang masuk,” ungkap Sukmawati.
Kini, Tzu Chi Tanjung Balai Karimun memiliki lebih dari 11 ribu donatur di pulau kecil itu. Bahkan celengan di minimarket menjadi simbol cinta kasih besar-besaran, yang diisi oleh siapa saja, dari masyarakat berbagai kalangan dan agama.
“Waktu pertama sekali ya enggak ada yang tahu kami kerja untuk Tzu Chi. Cuma kami berdua,” kata Sukmawati sembari tertawa mengenang masa lalu. “Waktu itu enggak ngerti apa-apa. Survei pasien saja pulang-pulang lupa tanya anaknya cewek apa cowok. Ya intinya kalau ada uang donasi masuk, harus ada kegiatan yang dilakukan. Padahal masih belum tahu apa-apa,” lengkapnya.
Tapi ketidaktahuan itu tak menghalangi mereka. Justru itulah yang membentuk mereka jadi relawan sejati. “Kami percaya, kalau niatnya tulus, semua jalan pasti terbuka,” ujar Sukmawati, yang kini dikenal oleh hampir semua staf RSUD di sana karena Tzu Chi Tanjung Balai Karimun.
Pada tahun 2013, Ong Lie Fong pindah ke Batam karena anaknya bersekolah di sana dan sang suami juga lebih sering bekerja di sana. Tongkat estafet Tzu Chi Tanjung Balai Karimun kemudian dilanjutkan oleh Sukmawati. Seiring berjalan, Tzu Chi semakin dikenal, relawan bertambah, cinta kasih yang bergulir semakin besar, dan bantuan yang diberikan semakin luas.
Dari hanya berdua, mereka berhasil mengajak puluhan relawan lainnya dan menghimpun ratusan, lalu ribuan donatur. “Awalnya kami galang dana sendiri. Senang sekali loh tiap ada (donasi) yang masuk,” ungkap Sukmawati.
Kini, Tzu Chi Tanjung Balai Karimun memiliki lebih dari 11 ribu donatur di pulau kecil itu. Bahkan celengan di minimarket menjadi simbol cinta kasih besar-besaran, yang diisi oleh siapa saja, dari masyarakat berbagai kalangan dan agama.
Dua perempuan itu bahkan tak menyangka bahwa langkah kecil mereka akan menjadi gerakan cinta kasih yang menggugah seisi pulau Karimun. Saat ini sudah ada lebih dari 800 keluarga menerima bantuan rutin setiap bulannya, juga ada ribuan lainnya yang terbantu lewat bakti sosial.
Kantor Penghubung Tzu Chi Tanjung Balai Karimun yang baru diresmikan ini pun bukan cuma pencapaian fisik, tapi cermin dari perjalanan panjang yang penuh sukacita, air mata, tawa, dan doa.
Sukmawati menuturkan tak mudah awalnya untuk mendapatkan izin pembangunan. Lingkungan yang majemuk membuat relawan harus menghadapi penolakan, bahkan kecurigaan. Namun bantuan datang dari berbagai arah, termasuk dari tokoh lintas agama seperti Romo Setiyono, yang membuka jalan dengan ketulusan dan jaringan yang luas.
Kini, kantor baru itu berdiri, bukan hanya sebagai tempat administrasi, tapi sebagai simbol perjuangan panjang. “Kata Master, sepotong bata, sesendok semen, itu semua cinta kasih,” ujar Sukmawati lirih. “Tempat ini bukan punya kita. Kita hanya jembatan untuk menjembatani orang-orang yang susah. Yang kita bangun bukan tembok, tapi harapan.”
Pesan cinta kasih itu terpatri di setiap tembok, bata, dan semen. Bahkan saat masih berdebu, mereka duduk bersama tukang bangunan, berbagi makan siang bersama.
Kantor Penghubung Tzu Chi Tanjung Balai Karimun yang baru diresmikan ini pun bukan cuma pencapaian fisik, tapi cermin dari perjalanan panjang yang penuh sukacita, air mata, tawa, dan doa.
Sukmawati menuturkan tak mudah awalnya untuk mendapatkan izin pembangunan. Lingkungan yang majemuk membuat relawan harus menghadapi penolakan, bahkan kecurigaan. Namun bantuan datang dari berbagai arah, termasuk dari tokoh lintas agama seperti Romo Setiyono, yang membuka jalan dengan ketulusan dan jaringan yang luas.
Kini, kantor baru itu berdiri, bukan hanya sebagai tempat administrasi, tapi sebagai simbol perjuangan panjang. “Kata Master, sepotong bata, sesendok semen, itu semua cinta kasih,” ujar Sukmawati lirih. “Tempat ini bukan punya kita. Kita hanya jembatan untuk menjembatani orang-orang yang susah. Yang kita bangun bukan tembok, tapi harapan.”
Pesan cinta kasih itu terpatri di setiap tembok, bata, dan semen. Bahkan saat masih berdebu, mereka duduk bersama tukang bangunan, berbagi makan siang bersama.
Pulau Penuh Berkah
Sukmawati sadar bahwa Tanjung Balai Karimun mungkin terdengar asing di telinga banyak orang. Tapi ia selalu ingat pesan Master Cheng Yen, pendiri Tzu Chi, yang mengatakan Tanjung Balai Karimun adalah “pulau penuh berkah.” Sebuah penghargaan yang membuat relawan di sana merasa diperhatikan sekaligus diakui.
Dan memang, keberkahan itu nyata. Pemerintah daerah kini memberikan dukungan penuh. Warga dari semua agama ikut bergandengan tangan dalam kegiatan kemanusiaan. “Kita semua satu keluarga,” ujar Ong Lie Fong. “Kalau kita sambungkan tali saudara ini, ya satu pulau memang jadi saudara semua. Yang Muslim pun sangat mendukung,” tukas Sukmawati.
Mereka tahu bahwa fasilitas kesehatan di Tanjung Balai Karimun masih terbatas. Banyak pasien yang harus dirujuk ke Batam. Tapi itulah peran mereka. Membantu transportasi, menemani proses pengobatan, mempermudah jalan bagi yang tak tahu ke mana lagi harus melangkah, memberikan pendampingan. Bahkan pemerintah pun kini ikut mendukung. “Pak Bupati sendiri datang, lihat langsung bagaimana kami membantu warga,” ucap Sukmawati bangga. “Dari situlah kepercayaan tumbuh.”
Dan memang, keberkahan itu nyata. Pemerintah daerah kini memberikan dukungan penuh. Warga dari semua agama ikut bergandengan tangan dalam kegiatan kemanusiaan. “Kita semua satu keluarga,” ujar Ong Lie Fong. “Kalau kita sambungkan tali saudara ini, ya satu pulau memang jadi saudara semua. Yang Muslim pun sangat mendukung,” tukas Sukmawati.
Mereka tahu bahwa fasilitas kesehatan di Tanjung Balai Karimun masih terbatas. Banyak pasien yang harus dirujuk ke Batam. Tapi itulah peran mereka. Membantu transportasi, menemani proses pengobatan, mempermudah jalan bagi yang tak tahu ke mana lagi harus melangkah, memberikan pendampingan. Bahkan pemerintah pun kini ikut mendukung. “Pak Bupati sendiri datang, lihat langsung bagaimana kami membantu warga,” ucap Sukmawati bangga. “Dari situlah kepercayaan tumbuh.”
Kini, dengan rumah baru yang berdiri kokoh, harapan juga tumbuh lebih tinggi. “Semoga relawan di sini bisa bersatu hati dan kerja sama dengan harmonis sehingga menjadi teladan di tengah masyarakat,” kata Ong Lie Fong, pelan namun tegas.
Sukmawati menambahkan, “Ini bukan akhir. Ini awal. Awal untuk lebih banyak kebaikan.”
Kisah mereka mempertegas kekuatan niat dan tekad awal yang apabila terus digenggam erat mampu mengakar hingga melahirkan perubahan besar. Dua perempuan sederhana yang tanpa disadari telah melampaui tantangan dan rintangan hingga mengukir sejarah cinta kasih di sebuah pulau kecil yang kini dipenuhi berkah. Semoga semakin banyak barisan Boddhisattva yang bergabung, menguatkan tekad, melatih diri,dan melayani sesama di Tanjung Balai Karimun.
Jurnalis : Metta Wulandari,
Fotografer : Metta Wulandari, Dok Tzu Chi,
Editor : Khusnul Khotimah.
Sukmawati menambahkan, “Ini bukan akhir. Ini awal. Awal untuk lebih banyak kebaikan.”
Kisah mereka mempertegas kekuatan niat dan tekad awal yang apabila terus digenggam erat mampu mengakar hingga melahirkan perubahan besar. Dua perempuan sederhana yang tanpa disadari telah melampaui tantangan dan rintangan hingga mengukir sejarah cinta kasih di sebuah pulau kecil yang kini dipenuhi berkah. Semoga semakin banyak barisan Boddhisattva yang bergabung, menguatkan tekad, melatih diri,dan melayani sesama di Tanjung Balai Karimun.
Jurnalis : Metta Wulandari,
Fotografer : Metta Wulandari, Dok Tzu Chi,
Editor : Khusnul Khotimah.