Dulu Ditolong, Sekarang Ingin Menolong
Minggu menjadi hari yang dinantikan oleh banyak orang, baik sekedar untuk beristirahat dari rutinitas kerja, beribadah maupun berekreasi atau segedar kumpul untuk keluarga. Hal ini sama halnya dengan 60 orang warga yang datang berkumpul di Tzu Chi Center di PIK pada Minggu 5 Juni 2022.
Para peserta yang datang untuk menghadiri acara sosialisasi relawan baru Tzu Chi. Relawan mengadakan acara ini untuk memperkenalkan visi dan misi Tzu Chi agar mereka tahu kegiatan misi amal kemanusiaan dan semoga bisa bergabung dlam barisan relawan Tzu Chi untuk membantu sesama.
Peserta yang hadir merupakan warga dari wilayah Kamal Muara dan warga Penjaringan khususnya Rw. 12, Penjaringan, Jakarta Utara. Mereka diundang oleh Teksan Koordinator Bidang Amal Hu Ai Pluit 2. Turut hadir masyarakat umum lainnya yang tertarik untuk bergabung menjadi relawan Tzu Chi.
Bagi warga dari Kamal Muara yang rumahnya masuk dalam program bedah rumah Yayasan Tzu Chi dan warga Penjaringan dalam program pembagian beras di Rw. 11 dan 12 Penjaringan para warga mengutarakan ketertarikannya untuk lebih mengenal dan ingin tahu bagaimana untuk menjadi relawan Tzu Chi.
Rombongan warga disambut oleh 22 relawan Tzu Chi dari komunitas He Qi Utara 2 yang menyanyikan lagu selamat datang. Para warga berkumpul di Galeri DAAI Tzu Chi. Christine Tjen menyampaikan perkenalan singkat tentang apa itu Tzu Chi. Dikatakan bahwa Master Cheng Yen mendirikan Tzu Chi pada 14 Mei 1966 di Hualien, Taiwan. Organisasi sosial kemanusiaan ini lintas suku, agama, ras dan negara, serta berprinsip pada cinta kasih universal.
Berawal dari dukungan 30 Ibu-Ibu rumah tangga yang menyisihkan uang belanja sebesar 50 sen NTD setiap hari, para murid Master Cheng Yen ini memulai langkah pertama untuk mendirikan Badan Misi Tzu Chi.
Yayasan Buddha Tzu Chi memfokuskan kegiatannya pada Empat Misi, Amal, Kesehatan, Pendidikan dan Budaya Kemanusiaan. Di penghujung sosialisasi para relawan memperagakan Bahasa isyarat tangan (shou yu) yang bertemakan “Satu Keluarga” dan mengajak peserta yang hadir untuk ikut memperagakan dan bernyanyi bersama.
Di akhir acara sosialisasi relawan para peserta diajak untuk menyantap hidangan agar-agar dan bacang yang sudah disiapkan oleh tim konsumsi sambil mengisi formulir pendaftaran untuk menjadi relawan Tzu Chi.
Rokayah Ketua RW Kamal Muara mengatakan dirinya lebih tahu tentang awal mula Tzu Chi yang dipenuhi perjuangan. Putri kecilnya yang bernama Raisyah melihat celengan di meja. “Mama, nanti kita bawa pulang ya celengannya? Aku mau nabung untuk amal, seribu setiap harinya tak apa-apa kan, ya?” tanya Raisyah dengan ceria.
Rombongan warga Kamal Muara berpamitan terlebih dahulu, sementara rombongan warga Penjaringan dan masyarakat umum melanjutkan sesi touring Aula Jing si. Peserta dibagi menjadi tiga kelompok dan didampingi oleh relawan Tzu Chi untuk melihat catatan sejarah kegiatan misi amal kemanusiaan Tzu Chi di Indonesia dan di Taiwan.
Para peserta sangat antusias melihat ornamen-ornamen yang estetik dan belajar cara berdaur ulang. Shi xiong dan Shi jie yang mendampingi mereka juga melayani permintaan peserta yang ingin berfoto sebagai kenang-kenangan.
Semua rangkaian sesi yang telah dilalui, para peserta sosialisasi diharapkan menjadi paham mengenai visi dan misi Tzu Chi serta pentingnya mengembangkan niat mereka untuk membantu orang lain. Hal ini tentunya membuat mereka tertarik untuk turut andil. Lina Tjandra, selaku penanggung jawab acara berbagi pengalaman bahwa dirinya bergabung di Tzu Chi karena inilah kesempatan yang baik dan juga tempat untuk berbuat kebajikan. “Setelah menjadi relawan, saya belajar sangat banyak. Salah satunya adalah praktik kebaikan,” tutup Lina.
Editor : Anand Yahya.