Kegiatan Internasional

Harapan Setelah Badai Odette

Pada tanggal 05 Januari, kegiatan bantuan kemanusiaan di Bohol dibagi menjadi 2 tim : tim yang pertama pergi ke kotamadya Ubay dan tim yang kedua pergi ke gugusan pulau Carlos P. Garcia (CPG).
Saya ikut tim yang pergi ke gugus pulau-pulau yang terpencil. Ketika saya tiba di daerah yang tertimpa bencana dua hari lalu, saya mengambil foto semua kerusakan parah yang terjadi dengan handphone saya. Relawan yang duluan datang ke daerah terpencil tersebut memberitahu saya bahwa saya akan melihat kondisi yang jauh lebih parah.
Benar saja, kami melihat rumah-rumah yang hancur diterjang badai selama 3 jam perjalanan melewati kota Ubay. Saya tidak sanggup melihatnya, juga tidak bisa melupakan apa yang telah saya lihat.
Setelah menempuh pejalanan panjang, kami tiba di kota Carlos P. Garcia (CPG), sebuah kota yang namanya diambil dari nama mendiang presiden Filipina. Atap gedung balaikota sudah hilang, yang tersisa hanya patung dari mendiang Presiden Garcia yang masih berdiri di depan. 

Para calon penerima bantuan Tzu Chi dari kota CPG berkumpul di sebuah halaman yang sebagian atapnya masih utuh.
Kegiatan pemberian bantuan dimulai program yang memperkenalkan Yayasan Tzu Chi. Para partisipan juag diajak untuk berdoa memohon berkah dan kedamaian.
Seorang partisipan memasukkan donasi ke dalam celengan Tzu Chi. Berapapun yang disumbangkan tidak masalah karena berkontrbusi untuk menolong orang lain.

Ketika topan badai Odette (atau topan badai Rai) menerjang pada sore hari tanggal 16 Desember 2021, sebanyak 6.460 rumah tangga dan 24.430 orang merasakan amukan badai tersebut. 6 orang meninggal dan   870 rumah hancur total.
Hingga tulisan ini dibuat, sudah 19 hari berlalu. Sebuah tempat kurang dari 30 meter persegi dibelakang gedung balai kota menjadi kantor darurat sementara.
Dari wawancara kami dengan walikota CPG Fernando B. Estavilla, Tzu Chi telah sering membantu kota tersebut dalam 5 atau 6 tahun terakhir, membantu dalam masalah medis. Untuk bencana topan ini, setiap rumah tangga akan menerima 20 kg beras. Beras ini bisa membuat keluarga tersebut bertahan minimal 15 hari sampai dengan 1 bulan. Sebelumnya, pemerintah setempat membagikan 3 kg beras untuk setiap rumah tangga untuk 2-3 hari.
Menilai kondisi terakhir, walikota Estavilla mengatakan bahwa butuh waktu 6 bulan hingga 1 tahun untuk memulihkan suplai listrik ke CPG. Jikalau demikian, bagaimana ekonomi bisa pulih ? Karena itu, dia mengatakan bahwa mereka benar-benar butuh bantuan.  

Relawan memeriksa jumlah penerima bantuan di kantor walikota.
Calon penerima bantuan menunjukkan kartu distribusi bantuan mereka kepada murid-murid sekolah untuk mengambil beras bantuan.
Seorang murid sekolah Tzu Chi membantu seorang calon penerima bantuan.

Ketika relawan memperkenalkan Yayasan Tzu Chi kepada para partisipan, walikota CPG mengambil sebuah celengan Tzu Chi untuk meminta donasi dari para partisipan. Ada seorang yang menyumbangkan 100 Peso kedalam celengan, seketika orang-orang disekitarnya langsung bersuara kagum. 100 Peso itu bagi anda mungkin untuk uang parkir, atau untuk secangkir kopi Starbuck, atau biaya laundry saya kemaren. Tapi 100 peso dari orang tersebut adalah cinta kasihnya untuk para korban badai. Nilainya lebih dari 1 juta Peso atau 10 juta Peso.
Ada orang yang sambil berdonasi juga membagikan uang koinnya kepada orang disekitarnya agar mereka juga bisa bersumbangsih.
Selama kegiatan pembagian bantuan, relawan Tzu Chi selalu mengajak  para penerima bantuan untuk bersama-sama menyanyikan lagu-lagu doa. Ketika mereka bernyanyi, saya melihat seorang wanita menghapus airmatanya yang mengalir jatuh. Setelah wanita tersebut menerima beras bantuan, saya mendekatinya dan menanyakan kenapa dia menangis. Wanita tersebut, yang bernama Lolita, berkata bahwa dia berusia sekitar akhir 40-an dan memiliki 6 orang anak. Sebelum badai melanda, dia memasak pisang dan menjualnya dari rumah ke rumah. Suaminya adalah seorang buruh bangunan.

Seorang anak membantu ibunya membawa beras bantuan.
Seorang penerima bantuan menyusun beras 10kg keatas sepeda motor.
Kaum wanita saling membantu membawa beras bantuan.

Setelah diterjang badai Odette, rumah-rumah mereka hancur. Tidak ada yang tersisa, bisnis-bisnis kecil hilang, dan kehidupan seakan-akan berhenti. Apa yang harus kita lakukan di masa depan, pikir mereka. Tiba-tiba, 20 kg beras bantuan Tzu Chi memberi harapan kepada mereka.
Di pintu keluar, seorang laki-laki berusia 70 atau 80-an menggenggam erat tangan istrinya yang berjalan lambat. Relawan Tzu Chi berjalan mengikuti mereka, sambil membawa dua karung beras bantuan mereka hingga ke rumah mereka.

Relawan Tzu chi bertugas di setiap titik di lokasi pemberian bantuan, membantu para penerima bantuan setahap demi setahap.
Anak ini sama sekali tidak keberatan membawa beras bantuan. Topan badai Odette membuat banyak orang di Bohol kehilangan rumah dan tidak punya makanan atau minuman.

Dalam perjalanan pulang, supir kami sempat tersesat karena semua jalan terlihat sama. Tiba-tiba seorang mengendarai sepeda motor mendatangi kami dan menawarkan bantuan sebagai penunjuk jalan ke dermaga sehingga kami sempat menaiki kapal ferry terakhir di hari itu.
Di dunia ini, selalu ada cinta kasih dan kehangatan dimana mana.

Beras bantuan yang dibagikan kepada 1.000 keluarga di kota Ubay dan 1.500 keluarga di kota CPG.

Sumber : www.tzuchi.org.ph
Jurnalis : Joy Rojas,
Fotografer : Michael Sanchez, Daniel Lazar,
Diterjemahkan oleh : Sik Pin.