HUT Tzu Chi Ke-30: Tzu Chi Memberikan Pengalaman Hidup yang Sungguh Bermakna
Rebecca Halim tak sanggup mengungkapkan banyak kata ketika ribuan pasang mata memandangnya di atas panggung perayaan HUT Tzu Chi yang ke-30. Sebetulnya, ia ingin sekali banyak bercerita karena ia menjadi salah satu relawan yang sudah lebih dari 20 tahun bergabung dengan Tzu Chi, namun perasannya sungguh dalam, ia begitu terharu hingga air mata sedikit tergenang di sudut-sudut matanya. Tapi tak lama, beberapa ungkapan terima kasih, syukur dan bahagia terungkap dari lubuk hatinya diiringi senyum dan tawa gembira.
Rebecca Halim adalah istri dari Sugianto Kusuma, Wakil Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. Sejak Sugianto Kusuma menjalin jodoh baik dengan Tzu Chi di tahun 2002, sejak itu pula lah Rebecca turut serta bergabung bersama. Mulai saat itu, dimana ada Sugianto Kusuma, di situ pula ada Rebecca Halim. Padahal sebelum menjadi relawan Tzu Chi, Rebecca menuturkan enggan ikut kegiatan suaminya yang mayoritas untuk berbisnis. Tapi setelah mengenal Tzu Chi, jarang sekali ia absen menemani sang suami. Ia bahkan bisa menyalurkan hobinya di bidang seni melalui Tzu Chi.
“Saya suka menggambar dan menulis, itu adalah dua hal yang saya sukai. Makanya saya sangat senang ketika bergabung dengan Tzu Chi (di Tzu Chi ada kelas budaya humanis),” tutur Rebecca Halim. “Melalui Tzu Chi, saya bisa mengikuti kelas menggambar dan kaligrafi. Saya juga belajar guzheng (kecapi) hingga mengikuti pertunjukan guzheng dan isyarat tangan,” lanjutnya.
Dalam praktik isyarat tangan, Rebecca adalah salah satu ahlinya. Untuk mendalami isyarat tangan, ia bersama beberapa relawan lain bahkan pernah beberapa kali pergi belajar isyarat tangan langsung ke Tzu Chi Taiwan. “Setelah kembali ke Indonesia, kami mengajarkan kepada relawan Tzu Chi yang lain. Bagi saya, belajar isyarat tangan itu sangat mudah dan saya bisa belajar dengan cepat,” tuturnya bersemangat.
Selain isyarat tangan, Rebecca juga ikut serta turun di berbagai kegiatan amal lainnya. Ketika program 5P di wilayah Kali Angke dilaksanakan untuk menangani banjir Jakarta, ia pun aktif ke lapangan dan mengetahui banyak hal baru, pengalaman baru yang sama sekali tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Ia pun menjadi ingin tahu dan ingin melakukan banyak hal yang bermakna di Tzu Chi.
Rebecca mengaku dulu merasa waktunya banyak tersia-siakan. Dulu ia juga merasa melakukan hal yang baik ya hanya dengan melakukan amal (berdana). Tapi ketika masuk Tzu Chi, ia tahu bahwa ada banyak kesempatan yang berbeda untuk membantu orang lain, “Dan ternyata kita langsung melakukannya sendiri, ini rasanya sangat berbeda. Dulu kita melakukan amal dengan menyumbang dana, tetapi itu rasanya berbeda dengan melakukan sendiri secara langsung. Seperti kita juga harus turut menggalang dana dan menggalang hati, ini rasanya benar-benar berbeda dibanding hanya langsung menyumbang dana sendiri.”
Rasa sukacita dalam mempraktikkan dan menyebarkan cinta kasih itu lah yang terus terekam indah dalam hati Rebecca Halim. Walaupun tak mudah pada awalnya karena kepribadiannya yang introvert, tapi ia mencoba untuk keluar dari zona nyamannya. Belajar banyak dari berbagai ajaran Master Cheng Yen, dimana setiap orang harus bisa melepaskan ego, itu pula yang dilakukan oleh Rebecca. Ia belajar untuk tidak malu berinteraksi dengan orang lain.
“Setelah bergabung dengan Tzu Chi, kehidupan saya sangat berbeda dibanding paruh pertama kehidupan saya (sebelum mengenal Tzu Chi). Jadi saya sangat bahagia di setengah kehidupan saya yang selanjutnya bisa mengenal Tzu Chi. Sungguh kehidupan saya sangat bahagia dan harmonis,” lengkap Rebecca yang kini mempunyai 13 cucu dari 4 orang anak. Ia pun sangat mendukung relawan untuk terus bersumbangsih bersama Tzu Chi seperti dirinya dan Sugianto Kusuma yang mengajak anggota keluarga lain bergabung dalam lingkaran cinta kasih ini.
“Saya berharap semakin banyak lagi orang yang bergabung dalam keluarga besar Tzu Chi. Saya berharap relawan Tzu Chi juga berani mengemban tanggung jawab karena kita masih akan melakukan banyak hal, masih ada jalan yang sangat panjang. Saya berharap semangat dan nilai-nilai Tzu Chi bisa diwariskan ke generasi selanjutnya agar kita bisa melakukan semuanya dengan lebih baik,” pungkas Rebecca Halim.
Sejalan dengan Rebecca Halim, Agus Rijanto juga bergabung dengan Tzu Chi di tahun 2002 dimana ia dan istrinya melihat siaran DAAI TV Taiwan yang menayangkan proses pembersihan Kali Angke. Agus berkomentar tayangan itu hanya kepalsuan belaka.
“Ah, udahlah jangan dilihat, itu mah palsu.” Agus merasa adegan itu kebanyakan hasil rekayasa, supaya orang lain mau menonton sehingga tercapai tujuannya untuk mempengaruhi orang lain. “Buktinya apa kalo itu palsu?” timpal Ho Sok Cheng, istrinya. Agus pun tak mau kalah dengan pendapatnya, “Liat aja itu orang kerja, kerja di got gitu (masa) pake celana dan sepatu putih. Mana mungkin (bukan rekayasa)?!”
Walaupun menyangka itu adalah rekayasa tapi Agus mengiyakan ketika istrinya mengajaknya mencari Tzu Chi di Jakarta. Di pertengahan tahun 2002 itu juga, ia yang masih penasaran memutuskan pergi ke Hualien dan malah menjadi anggota komite kehormatan (setelah mendonasikan satu juta dolar Taiwan) sepulang dari Taiwan.
Agus dulunya tak berbeda dengan relawan lain yang aktif di berbagai kegiatan, tapi seiring dengan semakin mendalamnya ia memahami Tzu Chi melalui siaran Ceramah Master Cheng Yen, termasuk di antaranya membaca kata perenungan dimana semuanya adalah bahasa mandarin, ia merasakan manfaat yang sangat besar. Apalagi kata-kata Master itu terasa sangat bagus, menyentuh, mendasar, dan sederhana hingga ada satu keinginan dalam dirinya untuk menyebarluaskan ajaran Master Cheng Yen ini.
“Saya terpikir bagaimana mengolah bahasa mandarin ini menjadi bahasa Indonesia sehingga bisa tersebar luas ke masyarakat. Mereka bisa mendapatkan pencerahan dan menyebarkan cinta kasih juga sehingga mungkin ada yang malah ingin bergabung menjadi barisan relawan dan membantu banyak orang,” kata Agus.
Berhubung DAAI TV Indonesia belum mengudara, hasil terjemahan Ceramah Master Cheng Yen dalam bahasa Indonesia saat itu masih ditayangkan ke TV cable setiap hari 18.45 WIB setelah melalui proses penerjemahan yang panjang dan penuh kehati-hatian.
“Yayasan Buddha Tzu Chi berlatarbelakang agama Buddha sedangkan agama mayoritas di Indonesia adalah agama Islam, jadi dalam penyampaian ini kita harus berhati-hati karena pesan yang ingin disampaikan adalah universal,” jelas Agus.
Menjalankan perannya selama 3 hingga 4 tahun lamanya, Agus merasa dipenuhi berkah. Walaupun selama itu pula tidak ada hari libur untuk menerjemahkan wejangan Master Cheng Yen, ia tak pernah mempermasalahkannya. Malah, ia semakin mendalami Dharma. Kini pun ia masih aktif di berbagai misi Tzu Chi, khususnya masih menjadi pembimbing relawan Zhen Shan Mei (dokumentasi) Tzu Chi.
“Saya tidak merasa berjasa, hanya melaksanakan kewajiban sesuai dengan kesanggupan saya dimana, kemampuan saya dimana, itu saya berusaha untuk memanfaatkkan sebaik-baiknya. Selain berdonasi materi, kita juga bisa mendonasikan apa yang sesuai dengan keahlian kita,” pesan Agus seraya tersenyum hangat.
Melengkapi harapan Rebecca Halim, Agus ingin relawan bisa mendalami Tzu Chi dan menerapkan ajaran Master Cheng Yen dengan baik. “Jangan hanya mendengarkan tapi tidak menerapkan. Berkeyakinan dengan baik, melaksanakan ajaran dengan baik. Semoga bisa memperluas semua kegiatan di segala bidang dan melalui segala hambatan,” harapnya.
Fotografer : Arimami Suryo A., Dok Tzu Chi Indonesia,
Editor : Khusnul Khotimah.