Karena Mata adalah Jendela Dunia, Screening Baksos Kesehatan Tzu Chi ke-153
Nani (48) tiba di Basement Aula Jing Si dengan kursi roda yang didorong oleh suaminya. Tatapan kosong dari kedua matanya langsung menggugah siapa pun yang melihatnya. Suaminya menjelaskan bahwa istrinya telah kehilangan penglihatan total sejak beberapa bulan terakhir.
Nani datang ke Tzu Chi setelah dirujuk oleh dokter mata di Rumah Sakit Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng. Lebih dari dua tahun, katarak mengaburkan penglihatannya. Dan dalam lima bulan terakhir penglihatannya hilang, hanya menyisakan bayangan cahaya samar.
Sebelumnya Ibu Nani bekerja sebagai akuntan. Kondisi mata memaksanya berhenti bekerja. Sang suami pun meninggalkan pekerjaannya di kantor untuk mendampingi istri tercinta dan kini mencari nafkah sebagai pengemudi ojek daring. Pasangan tanpa anak ini saling mengandalkan satu sama lain. Karena itu kabar tentang operasi katarak gratis dari Tzu Chi menjadi secercah harapan yang sangat berarti bagi keduanya.
“Harapan saya bisa kembali melihat dunia, melihat wajah suami saya yang selalu setia,” tuturnya lembut.
Meski penglihatannya buram akibat katarak, semangatnya tak padam. Setiap hari Ibu Esther tetap rajin membaca Alkitab menggunakan kaca pembesar. Dalam doanya ia selalu memohon agar diberi kesempatan untuk melihat lebih jelas agar bisa kembali membaca Alkitab tanpa hambatan.
Sebelumnya ia sempat beberapa kali kecewa karena harapan bantuan operasi melalui BPJS tak kunjung terwujud. Ketika mengetahui baksos katarak Tzu Chi memiliki batas usia peserta maksimal 70 tahun, Ibu Esther sempat khawatir. Namun dengan keyakinan penuh dan tekad kuat, ia memberanikan diri hadir langsung ke lokasi pagi itu dan diterima dengan tangan terbuka oleh tim relawan.
“Baksos katarak Tzu Chi ini membawa cahaya dan kebahagiaan untuk saya. Tuhan membawa saya datang ke rumah cinta kasih universal untuk mewujudkan harapan umat-Nya,” ujarnya.
Sementara di salah satu sudut ruang tunggu, Julistina (67) duduk menanti kartu kuning, kartu yang menandai lolos screening dan bisa menjalankan operasi pada hari Sabtu, 13 Desember 2025, mendatang. Sisa-sisa kecantikannya di masa muda masih tampak jelas. Empat tahun terakhir penglihatannya makin menurun sejak ia kehilangan putri satu-satunya akibat kanker.
Kesedihan itu begitu membekas hingga membuatnya enggan ke rumah sakit. Selain itu ada juga trauma yang tertinggal dari pengalaman menemani sang putri berobat, yakni perlakuan kurang baik dari salah satu tenaga medis. Sejak itu ia memilih diam, tidak menceritakan kondisi matanya kepada siapa pun.
Sehari-hari, Julistina aktif di gereja, membersihkan, membantu, mengurus apa saja yang bisa ia kerjakan. Untuk membaca tulisan kecil, ia masih mampu, tapi rasanya seperti ada yang mengganjal di mata.
Suatu hari, Julistina berdoa agar Tuhan memberinya jalan supaya bisa melihat dengan jelas. Tak lama seorang teman memberitahu informasi tentang Baksos Kesehatan Tzu Chi ke-153. Tanpa pikir panjang, ia langsung mendaftar. Demi memastikan tak salah jalan, ia bahkan datang ke Tzu Chi Center sehari sebelumnya hanya untuk mengecek lokasi.
“Saya ingin lebih mencintai pekerjaan sosial,” katanya mantap. Selain aktif di gereja, jauh sebelum itu Julistina yang pernah tinggal lama di Bali, aktif mendampingi anak-anak hiperaktif dan autis agar bisa membaca dan berhitung.
Bakti sosial Tzu Chi berskala besar yang menutup tahun 2025 ini diselenggarakan dengan dukungan Tzu Chi Hospital sebagai tuan rumah. Dr. Santoso Kurniawan, MM, Kepala Medis Tzu Chi Hospital Indonesia, menegaskan layanan operasi katarak ini selaras dengan visi dan misi Tzu Chi untuk membantu masyarakat hidup lebih sehat dan lebih nyaman.
“Pancaindra terutama mata, punya peran penting. Bagi mereka yang masih produktif, penglihatan yang baik akan meningkatkan produktivitas. Bagi yang sudah paruh baya, mata yang sehat membantu memperpanjang masa produktif. Sementara untuk para lansia, setidaknya mereka bisa tetap mandiri dan tidak menyulitkan orang lain,” tuturnya.
Meski layanan BPJS di Jakarta sudah berfungsi cukup baik, dr. Santoso menjelaskan bahwa banyak pasien tetap mengalami hambatan. “Ada yang harus menunggu antrean lama, ada pula yang karena alasan tertentu tidak dapat menggunakan BPJS,” tuturnya.
Tidak sedikit pula pasien yang mengikuti baksos karena kepercayaan mereka terhadap pelayanan yang diberikan Tzu Chi. “Kalau kita bisa membantu lebih cepat, kenapa tidak?” tambahnya.
Baksos Kesehatan Tzu Chi ke-153 menjadi kesempatan berharga bagi para Relawan Tzu Chi komunitas He Qi PIK untuk menebar ladang berkah. Mereka memanfaatkan momentum ini sebaik-baiknya, karena menyadari bahwa meskipun kegiatan serupa mungkin kembali diadakan di Jakarta tahun depan, belum tentu komunitas mereka mendapat giliran untuk terlibat sedekat ini. Sepanjang hari, para relawan tampak aktif menemani para pasien dengan obrolan ringan agar mereka tidak bosan menunggu dan merasa lebih nyaman.
“Kami para relawan menjalani tugas ini dengan bersyukur dan bahagia. Apalagi kalau bertugas di kertas kuning itu seperti membawa kabar gembira kepada calon pasien. Jadi saya happy sekali,” tuturnya.
Peserta screening kali ini datang bukan hanya dari Jakarta, tetapi juga dari Bogor dan sekitarnya. Beberapa pasien bahkan datang mendadak pada hari screening, dan tetap diterima tanpa ragu.
“Target pasien memang sekitar 150, tapi pendaftaran tak sampai sebanyak itu, sehingga pasien yang datang langsung pun tetap diterima. Akses ke sini tidak mudah, jadi kalau mereka sudah berusaha datang jauh-jauh, tak mungkin ditolak. Mereka yang datang sudah pasti butuh bantuan,” terang Suster Wenny, dari TIMA Indonesia.
Jurnalis : Khusnul Khotimah, Pien Ong (He Qi PIK),
Fotografer : Edi, Feranika H (He Qi PIK), Indra Gunawan (He Qi Angke), Mery Hasan (He Qi Barat 2),
Editor : Fikhri Fathoni.