Kehangatan Bulan Tujuh Penuh Berkah di Depo Pangeran Jayakarta
Depo Pelestarian Lingkungan Tzu Chi di Pangeran Jayakarta, Jakarta Pusat, Minggu pagi itu lebih meriah dari biasanya. Deretan tenda Tzu Chi berdiri dengan meja-meja panjang yang dipenuhi aneka kuliner menggoda selera seperti lontong pecel dengan bala-bala, nasi hainan, nasi bakar, hingga sate dan kari bihun. Para relawan tampak sibuk menyiapkan hidangan memastikan semuanya siap disajikan.
Sejak pukul setengah delapan, orang-orang mulai berdatangan dengan wajah penuh senyum. Ada yang berjalan perlahan dengan bantuan tongkat, ada yang digandeng keluarganya, ada pula yang datang sambil menggendong anak kecil. Mereka adalah Gan En Hu, penerima bantuan jangka panjang dari Tzu Chi. Hari itu, Minggu, 7 September 2025, mereka tak hanya menerima bantuan bulanan tapi juga diundang untuk merasakan kebersamaan dalam acara Bulan Tujuh Penuh Berkah.
Sejak pukul setengah delapan, orang-orang mulai berdatangan dengan wajah penuh senyum. Ada yang berjalan perlahan dengan bantuan tongkat, ada yang digandeng keluarganya, ada pula yang datang sambil menggendong anak kecil. Mereka adalah Gan En Hu, penerima bantuan jangka panjang dari Tzu Chi. Hari itu, Minggu, 7 September 2025, mereka tak hanya menerima bantuan bulanan tapi juga diundang untuk merasakan kebersamaan dalam acara Bulan Tujuh Penuh Berkah.
“Biasanya Gan En Hu datang lebih untuk mengambil bantuan bulanan. Tapi kali ini kami ingin mereka merasakan sukacita, duduk bersama, dan merasakan ketulusan relawan,” tutur Cucu, Ketua Misi Amal He Qi Pusat.
Cucu menjelaskan, gathering Gan En Hu kali ini sengaja dibuat lebih istimewa karena bertepatan dengan perayaan Bulan Tujuh Penuh Berkah. Selain makan bersama, acara juga dimeriahkan dengan demo masak vegetarian.
“Kami ingin mengajak mereka mengubah pola makannya menjadi vegetarian. Yang sudah bervegetarian bisa berbagi manfaatnya. Dengan begitu kita bisa melangkah bersama menuju hidup sehat penuh kesadaran. Ini juga bagian dari menjaga bumi kita yang sedang sakit,” tambahnya.
Dalam demo masak, Andi Gunawan yang dikenal piawai di dapur berbagi tips kepada para Gan En Hu cara membuat urap dan tempe bacem. Sayuran seperti wortel, kol, kangkung, dan kacang panjang dikukus dengan api sedang cenderung kecil. Sementara itu, bumbu urap terdiri dari campuran kunyit, kencur, terasi vegetarian, gula, dan kaldu jamur yang diulek, lalu dicampurkan dengan kelapa parut dan digongseng tanpa minyak.
“Kalau mengukus sayurnya jangan dibuka-buka tutupnya, biar matangnya alami dengan uapnya,” kata Andi memberi tips.
Cucu menjelaskan, gathering Gan En Hu kali ini sengaja dibuat lebih istimewa karena bertepatan dengan perayaan Bulan Tujuh Penuh Berkah. Selain makan bersama, acara juga dimeriahkan dengan demo masak vegetarian.
“Kami ingin mengajak mereka mengubah pola makannya menjadi vegetarian. Yang sudah bervegetarian bisa berbagi manfaatnya. Dengan begitu kita bisa melangkah bersama menuju hidup sehat penuh kesadaran. Ini juga bagian dari menjaga bumi kita yang sedang sakit,” tambahnya.
Dalam demo masak, Andi Gunawan yang dikenal piawai di dapur berbagi tips kepada para Gan En Hu cara membuat urap dan tempe bacem. Sayuran seperti wortel, kol, kangkung, dan kacang panjang dikukus dengan api sedang cenderung kecil. Sementara itu, bumbu urap terdiri dari campuran kunyit, kencur, terasi vegetarian, gula, dan kaldu jamur yang diulek, lalu dicampurkan dengan kelapa parut dan digongseng tanpa minyak.
“Kalau mengukus sayurnya jangan dibuka-buka tutupnya, biar matangnya alami dengan uapnya,” kata Andi memberi tips.
Beberapa Gan En Hu diajak maju ke depan untuk praktik langsung. Ayu (39) tak melewatkan kesempatan untuk ikut mengulek bumbu. “Kalau diulek begitu, rasanya lebih enak, bumbunya keluar semua,” ucapnya setelah ikut langsung demo masak.
Siapa sangka di balik senyumnya kini, beberapa bulan lalu Ayu pernah berada di titik terendah hidupnya. Ia menjadi korban perdagangan orang. Awalnya dijanjikan pekerjaan di Thailand, namun setibanya di sana justru dibawa ke perbatasan Myanmar. Selama empat bulan ia harus bertahan di lingkungan yang keras, dipaksa menjadi scammer dengan bermodal suara, tanpa pernah digaji. Ayu menyaksikan penyiksaan, sekaligus merasakan bagaimana rekannya diperlakukan tanpa sedikit pun belas kasih.
Ketika akhirnya berhasil kembali ke tanah air berkat bantuan KBRI dan Kementerian Luar Negeri RI, Ayu yang seorang ibu tunggal itu tak hanya membawa pulang trauma, tapi juga kebingungan bagaimana cara memberi makan tiga anaknya yang menunggu di rumah.
Siapa sangka di balik senyumnya kini, beberapa bulan lalu Ayu pernah berada di titik terendah hidupnya. Ia menjadi korban perdagangan orang. Awalnya dijanjikan pekerjaan di Thailand, namun setibanya di sana justru dibawa ke perbatasan Myanmar. Selama empat bulan ia harus bertahan di lingkungan yang keras, dipaksa menjadi scammer dengan bermodal suara, tanpa pernah digaji. Ayu menyaksikan penyiksaan, sekaligus merasakan bagaimana rekannya diperlakukan tanpa sedikit pun belas kasih.
Ketika akhirnya berhasil kembali ke tanah air berkat bantuan KBRI dan Kementerian Luar Negeri RI, Ayu yang seorang ibu tunggal itu tak hanya membawa pulang trauma, tapi juga kebingungan bagaimana cara memberi makan tiga anaknya yang menunggu di rumah.
Di tengah kegelapan itu harapan pun datang. Seorang teman yang merupakan relawan Tzu Chi menyarankannya untuk mengajukan bantuan biaya hidup. Setelah melalui proses survey oleh relawan Tzu Chi ke rumah kontrakannya, sejak bulan Mei 2025 lalu ia pun mendapatkan bantuan biaya hidup dan biaya kontrakan.
“Banyak sekali terima kasih saya kepada Tzu Chi yang dapat memahami kondisi saya yang benar-benar terpuruk. Saat ini saya masih dalam upaya untuk bangkit dan berusaha,” ujarnya.
“Banyak sekali terima kasih saya kepada Tzu Chi yang dapat memahami kondisi saya yang benar-benar terpuruk. Saat ini saya masih dalam upaya untuk bangkit dan berusaha,” ujarnya.
Sementara itu, usai demo masak, para penerima bantuan Tzu Chi menerima jatah bantuan mereka. Dan sebelum pulang mereka dipersilahkan menikmati hidangan vegetarian lezat yang sudah disiapkan oleh para relawan dengan penuh cinta. Saking hangatnya suasana, beberapa Gan En Hu bahkan ada yang berlama-lama menikmati hidangan di bawah rindangnya pepohonan di Depo Pangeran Jayakarta.
Di antara keramaian itu, tampak Deni (22) bersama istrinya Asti (19), keduanya tunanetra. Sehari-hari mereka mengamen di sekitar Stasiun Mangga Besar dan Stasiun Pangeran Jayakarta membawa speaker kecil dan menyanyikan lagu-lagu pop. Sejak tiga bulan terakhir, Tzu Chi membantu biaya kos mereka.
“Kami sering pindah kontrakan karena telat bayar. Sekarang rasanya lebih tenang,” ucap Deni dengan suara lirih.
Bagi mereka, acara hari itu bukan sekadar makan enak, melainkan kesempatan untuk merasa diterima. “Bisa kumpul begini, kami merasa tidak sendirian,” kata Asti yang matanya masih bisa menangkap cahaya samar.
Di antara keramaian itu, tampak Deni (22) bersama istrinya Asti (19), keduanya tunanetra. Sehari-hari mereka mengamen di sekitar Stasiun Mangga Besar dan Stasiun Pangeran Jayakarta membawa speaker kecil dan menyanyikan lagu-lagu pop. Sejak tiga bulan terakhir, Tzu Chi membantu biaya kos mereka.
“Kami sering pindah kontrakan karena telat bayar. Sekarang rasanya lebih tenang,” ucap Deni dengan suara lirih.
Bagi mereka, acara hari itu bukan sekadar makan enak, melainkan kesempatan untuk merasa diterima. “Bisa kumpul begini, kami merasa tidak sendirian,” kata Asti yang matanya masih bisa menangkap cahaya samar.
Cucu kembali menegaskan, Tzu Chi ingin lebih dari sekadar memberi bantuan. “Harapan kami, ada jalinan jodoh. Mereka tidak bergantung selamanya, tapi bisa bangkit dan melihat hidup dengan cara baru,” ujarnya.
Di akhir acara, para penerima bantuan pulang dengan hati hangat. Bagi sebagian orang mungkin itu hanya sepiring nasi atau semangkuk kari bihun. Tetapi bagi Deni, Asti, Ayu, dan puluhan Gan En Hu lainnya, itu adalah tanda bahwa mereka tidak sendirian dalam perjalanan hidup yang berat.
Di Bulan Tujuh Penuh Berkah ini Tzu Chi sekali lagi menunjukkan bahwa kebaikan sederhana bisa menjadi cahaya, menumbuhkan harapan, dan menghadirkan rasa syukur.
Jurnalis : Khusnul Khotimah,
Fotografer : Khusnul Khotimah,
Editor : Fikhri Fathoni.
Di akhir acara, para penerima bantuan pulang dengan hati hangat. Bagi sebagian orang mungkin itu hanya sepiring nasi atau semangkuk kari bihun. Tetapi bagi Deni, Asti, Ayu, dan puluhan Gan En Hu lainnya, itu adalah tanda bahwa mereka tidak sendirian dalam perjalanan hidup yang berat.
Di Bulan Tujuh Penuh Berkah ini Tzu Chi sekali lagi menunjukkan bahwa kebaikan sederhana bisa menjadi cahaya, menumbuhkan harapan, dan menghadirkan rasa syukur.
Jurnalis : Khusnul Khotimah,
Fotografer : Khusnul Khotimah,
Editor : Fikhri Fathoni.