Keinginan yang Tak Terhentikan – Tidak pernah Berhenti Tetapi Terus Maju
“Perjalanan hidup kami penuh suka dan duka. Ketika kami mengalami kemunduran, kami akan memikirkan Master Cheng Yen, kemudian menghapus air mata kami, menelan harga diri kami, dan terus maju. Tanpa Tzu Chi, kami tidak akan pernah merasakan bahagianya memberi” – Yap Kon Loy dan Lim Whey
Dengan sebuah handuk di leher dan memakai sepatu jogging, pasangan Tzu Chi Malaysia ini terlihat bugar dan penuh semangat. Diusianya yang sudah 70-an, pria itu jauh dari kata lemah dan tua. Keduanya menikmati jalan-jalan dan berlari dengan kecepatan yang mereka inginkan, dan merupakan pecinta lingkungan yang aktif. Sepanjang perjalanan mereka, mereka memunggut sampah-sampah yang bisa didaur ulang, dan membawanya pulang ke rumah untuk dibersihkan, dipilah-pilah, dan didaur ulang.
Yap Kin Loy, dengan tinggi badan 180 cm, dan potongan tubuh yang ramping dan kekar, mungkin terlihat sedikit angkuh oleh orang lain. Sebaliknya, istrinya Lim Whey memiliki sikap anggun dan lembut yang membuatnya kelihatan lebih mudah didekati.
“Segala sesuatu yang telah saya capai hari ini lebih mudah diucapkan daripada dilakukan,” kata Kon Loy sambil mengingat kembali masa mudanya yang sembrono.
Seseorang yang hilang dalam pelarian
Terlahir dalam keluarga miskin, Kon Loy harus bekerja di usia remaja ketika teman-teman sebayanya hidup nyaman di sekolah. Dia merasa lebih rendah dari mereka, dan untuk mengimbanginya, dia mulai memaksa mengumpulkan “uang keamanan”, memanfaatkan ukuran tubuhnya yang tinggi dan sangar. Di desanya, dia dikenal sebagai seseorang yang tidak pernah kompromi, dan menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan konflik.
Ketika dia berusia 18 tahun, dia mencederai seseorang dalam sebuah perkelahian, dan polisi mau menangkapnya. Keesokan harinya, dia kabur dari kampung halamannya ke Kuala Lumpur, dimana dia bekerja sebagai pengantar barang di sebuah toko yang menjual perangkat keras. Momen penting dalam hidupnya terjadi ketika dia memutuskan untuk meninggalkan masa lalunya dan memulai kehidupan baru. Dia bekerja dengan rajin dan mulai mendapat perhatian dari bos nya, yang kemudian mempercayakan dia menjalankan keseluruhan toko. Pada tahun-tahun inilah dia belajar cara menjalankan bisnis.
Pada usianya yang ke 20, dia jatuh cinta pada Lim Whey ketika dia mengantar barang ke lokasi penambangan tempat Lim Whey bekerja. Lim Whey adalah anak ke lima dari enam bersaudara, dan keluarganya, yang tinggal di Cheras, tidak sanggup membiayai pendidikannya.
“Saya pergi ke sekolah, tetapi tidak bisa membaca,” kata Lim Whey sambil tertawa.
Ketika orang tuanya sedang bekerja, Lim Whey dan kakak-kakaknya harus menjaga rumah dan adik mereka yang paling kecil. Kewajibannya termasuk harus berjalan ke perkebunan sejauh hampir satu kilometer untuk mengumpulkan kayu bakar yang akan digunakan untuk memasak.
Pada usia 14 tahun, Lim Whey harus melakukan beberapa pekerjaan sekaligus, termasuk menjaga anak tetangganya, memindahkan batu bata ke lokasi pembangunan, dan memuat gerobak dorong dengan batu kapur dan membawanya ke para pekerja bangunan. Hidupnya keras tapi dia tidak pernah mengeluh.
Lim Whey dan Kon Loy menikah ketika Kon Loy berusia 23 tahun. Kon Loy membuka toko yang menjual perangkat kerasnya sendiri dan Lim Whey pindah ke kampung halamannya di Dengkil untuk membantu suaminya.
“Saya tidak tahu apa-apa tentang masa lalunya ketika menikah dengannya. Dia baru memberitahu saya setelah kami menikah, dan satu-satunya harapan saya hanyalah dia tidak akan menempuh jalan yang sama lagi,” kata Lim Whey.
Meskipun Lim Whey kelihatan seperti wanita yang tenang, namun dia juga bisa kehilangan atas kontrol emosinya tetapi dia selalu menghindar dan tidak mau membuat keributan selama pertengkaran. Setiap kali suaminya mengamuk, dia akan menghiraukannya dan membiarkan suaminya tenang dengan sendirinya.
Hidup mereka sudah cukup tenang dan mapan – membesarkan empat orang anak sambil menjalankan bisnis mereka – hingga pada tahun 1997, hidup mereka mengalami perubahan setelah bertemu dengan relawan Tzu Chi Ang Kim Seng.
Menempa persahabatan dan menanam tonggak sejarah
“Kami memiliki hubungan bisnis dengan saudara kami Kim Seng, dia menawari kami menjadi donatur Tzu Chi dan kami setuju saja karena kami juga ingin berbuat baik. Kami bahkan belum tahu banyak tentang Tzu Chi,” kata Kon Loy sambil tersenyum.
Kim Seng punya toko perangkat keras di Klang, sekitar 45 menit perjalanan dengan mobil dari Dengkil. Karena jaraknya yang cukup jauh, dia tidak bisa selalu datang untuk mengumpulkan donasi mereka setiap bulan. Namun, pasangan Kon Loy dan Lim Whey akan mampir ke toko Kim Seng untuk menyerahkan donasi mereka setiap kali mereka ada mengantar barang ke Klang. Kim Seng sering mengundang mereka datang ke sharing session yang diadakan relawan Tzu Chi di Klang, dan pasangan ini tidak pernah tidak hadir walaupun perjalanan cukup jauh. Namun, mereka belum mengenal Tzu Chi waktu itu sehingga acara sharing session tidak begitu berpengaruh kepada mereka.
“Kami belum mengenal Tzu Chi waktu itu, jadi saya tidak mengerti apa yang mereka ceritakan,” kata Kon Loy malu-malu.
Pada tahun 1998, wabah virus Nipah merebak di Bukit Pelanduk, Negeri Sembilan. Relawan Tzu Chi di mobilisasi untuk menolong para peternak babi dan pasangan Kon Loy dan Lim Whey ikut serta. Itulah pengalaman pertama mereka mengetahui tentang apa itu kunjungan untuk memberi perhatian dan amal dimaksud. Besarnya welas asih dan kepedulian para relawan membawa perubahan penting pada pemahaman pasangan tersebut tentang berbuat baik dan melayani masyarakat. Hal tersebut meninggalkan jejak yang dalam di hati mereka yang kemudian menjadi tonggak sejarah awal bergabungnya mereka ke Tzu Chi. Kim Seng mengambil kesempatan tersebut untuk mendorong mereka melakukan daur ulang, yang mulai mereka lakukan di rumah setahun kemudian.
Selain mengikuti kegiatan “kumpul-kumpul” bersama di Tzu Chi dan kegiatan daur ulang, mereka juga mulai mengikuti pelatihan relawan Tzu Chi di Malaka.
“Kami belum memiliki seragam Tzu Chi, jadi kami memakai kemeja putih dan celana hitam untuk mengikuti pelatihan. Mereka yang sudah memakai seragam Tzu Chi duduk di barisan depan, dan kami duduk di barisan belakang,” kenang Lim Whey.
Setelah mengikuti beberapa sesi pelatihan, Lim Whey bertanya kepada relawan Tan Lay Choo apa syaratnya untuk bisa memiliki seragam Tzu Chi.
“Lay Choo Shejie memberitahu kami bahwa kami sudah bisa mendapatkan seragam Tzu Chi karena kami aktif di kegiatan daur ulang dan sudah mengikuti banyak sesi pelatihan. Saya ingat, seragam Tzu Chi kami saat itu berwarna biru muda,” kenang Lim Whey.
Seragam Tzu Chi tersebut membuat pasangan Kon Loy dan Lim Whey menjadi lebih merasa memiliki Tzu Chi dan mereka semakin sering terlibat dalam aktivitas Tzu Chi.
Pada tahun 2000, pasangan ini bertemu dengan Master Cheng Yen di sebuah kamp pelatihan daur ulang di Taiwan. Adalah Master Cheng Yen yang mengilhami mereka untuk melanjutkan keterlibatan mereka dengan Tzu Chi dan menegaskan aspirasi mereka untuk selalu berbuat baik. Mereka mulai mendorong orang lain untuk melakukan daur ulang, dan hingga kini, mereka telah membuka titik daur ulang di Dengkil, Tanjung Sepat, Banting, dan Sepang.
“Jika saya menghitung dengan benar, kami telah melakukan daur ulang selama 22 tahun,” kata Kon Loy.
Hati yang mencintai tanpa syarat
Selama bertahun-tahun, mereka telah memperoleh wawasan dan pengalaman dari Tzu Chi. dan yang paling berkesan adalah ketika mereka menjadi relawan sebagai bagian dari Tzu Ching dan assosiasi Yi-Te.
Membolak-balik album foto mereka, Kon Loy menemukan sebuah foto yang sudah tua, terutama karena sudah ada bintik kuningnya. Foto itu sangat istimewa baginya karena menunjukkan dirinya berpakaian rapi dalam jubah wisuda, berdiri disamping mahasiswa pasca sarjana Tzu Ching.
“Saya tidak pernah mengenyam pendidikan, apalagi memakai jubah wisuda. JIka bukan karena para Tzu Ching, bagaimana mungkin saya punya kesempatan ini?” terdengar nada kegembiraan dan rasa bersyukur di suaranya.
Ketika pasangan ini mengajukan diri sebagai Ayah dan Ibu Tzu Chi bagi mahasiswa Multimedia University (Cyberjaya Campus), mereka khawatir tentang kurangnya pendidikan mereka, dan juga khawatir dengan kemampuan mereka untuk bisa berkomunikasi dengan para mahasiswa. Namun, Kim Seng meyakinkan mereka bahwa yang terpenting adalah kesediaan untuk mencintai seseorang tanpa syarat. Disamping itu, universitas tersebut dekat dengan rumah mereka.
“Ketika mendengar dukungan dari Kim Seng Shexiong, saya merasa kami harus mencoba,” kata Lim Whey.
Ternyata tidak ada penyesalan. Sebagian mahasiswa berasal dari negara bagian yang berbeda, jadi kedua pasangan ini memberlakukan para mahasiswa seperti anak mereka sendiri, seperti membawa mereka pergi berobat ketika mereka sakit, dan mengirim makanan ke asrama mereka. Ketulusan dan kasih sayang dari pasangan ini telah memenangkan hati para mahasiswa dan mereka mulai menjalin ikatan yang dekat.
“Suatu kali saya diundang untuk berbagi pengalaman di atas panggung kepada mahasiswa dalam acara Tzu Ching, saya sangat gugup karena seperti mengajar ikan berenang, tetapi mereka semua memberi saya tepuk tangan yang meriah setelah saya selesai. Di waktu lain, ketika delapan orang lulusan Tzu Ching kembali ke Taiwan untuk diresmikan sebagai anggota komite Tzu Chi, tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkan kegembiraan saya karena mereka adalah masa depan Tzu Chi yang akan meneruskan aspirasi guru,” kata Kon Loy.
“Kami merasa muda kembali ketika sedang berada bersama para mahasiswa. Kami hanya diingatkan kembali pada usia kami ketika kami melihat ke cermin,” desah Kon Loy dengan sentimen masa lalu.
Diberkati karena telah menjadi berkat
Pasangan ini berjalan di jalan Tzu Chi saling bergandengan tangan, dan disertifikasi sebagai anggota komite Tzu Chi pada tahun 2005. Kata “Gan En” kini terpatri di dalam hidup mereka. Mereka berterima kasih kepada Master Cheng Yen karena mendirikan Tzu Chi, dan kepada Kim Seng dan istrinya, Tan Kwee Eng, karena memperkenalkan Tzu Chi kepada mereka. Kwee Eng mungkin tidak dalam kondisi sehat, namun dia tetap aktif di Tzu Chi. Kegigihannya menggerakkan hati pasangan ini.
“Kami masih sehat. Jadi kenapa kami tidak mengupayakan yang terbaik dari kami juga? Kami harus belajar darinya,” kata Lim Whey.
Visi mereka adalah untuk berbagi kebijaksanaan Master Cheng Yen dan Tzu Chi ke seluruh dunia. Kerja keras dan usia tidak akan menghalangi mereka.
“Sepanjang 20 tahun lebih saya di Tzu Chi, saya tidak pernah terpikir untuk berhenti meskipun terkadang saya mengalami penderitaan. Saya akan memikirkan mereka yang akan menderita tanpa bantuan dari Tzu Chi, dan itu adalah motivasi yang cukup bagi saya untuk terus melanjutkan. Keluhan hanya bersifat sementara, tetapi kesetiaan saya terhadap Master Cheng Yen hidup selamanya,” kata Kon Loy dengan mata yang berkaca-kaca.
“Bisa menolong orang lain adalah berkah, dan saya akan melakukan semua yang bisa saya lakukan untuk menolong,” tambah Lim Whey.
“Banyak orang mengatakan bahwa saya telah banyak berubah semenjak saya bergabung dengan Tzu Chi. Setiap kali saya akan berulah, saya akan mengingatkan diri saya bahwa Tzu Chi adalah sebuah organisasi yang bertujuan untuk mengembangkan pikiran saya, jadi saya akan mengelola emosi saya dan menangani masalah dengan bijaksana,” kata Kon Loy.
Kebahagiaan adalah sebuah perjalanan
Sejak merebaknya pandemi Covid-19 tahun lalu, kebanyakan aktivitas Tzu Chi harus dilakukan secara online. Ini menjadi tantangan bagi mereka karena harus kembali belajar bagaimana cara menggunakan handphone mereka untuk bergabung dalam sesi kultivasi spiritual secara online.
“Ini pertama kalinya saya belajar menggunakan handphone dengan benar. Hanya dengan satu sentuhan di layar, kami bisa menonton ceramah dharma Master Cheng Yen dan ikut acara bedah buku bersama relawan lain,” kata Kon Loy, sambil menambahkan bahwa hal terbaik yang dia pelajari selama pandemi adalah bagaimana melakukan video call dengan cicitnya di China.
Kebijaksanaan datang seiring dengan usia, dan Kon Loy yang kini lebih lembut telah memperoleh banyak hal dari sesi pelatihan Tzu Chi. Menjadi rendah hati dan selalu berpandangan positif membuatnya bahagia.
“Saya merasa diberkati dan berhasil, saya mungkin kelihatan tua, tetapi saya tetap berjiwa muda, saya merasa seperti anak muda yang mengikuti perkembangan zaman. Jika kami menyimpan 50 tahun usia kami kedalam “Harta Karun Usia”, maka kami sebenarnya hanya berusia 20-an. Karena kami masih sangat muda, kami harus lebih terlibat ke dalam Tzu Chi,” kata Kon Loy.
Pada tahun 2018, Kon Loy lolos dari selamat dari kecelakaan mobil, dan bagi dia itu adalah sebagai sebuah peringatan tentang hidup.
“Saya sedang mengemudi suatu hari ketika sebuah taksi tiba-tiba menabrak saya. Truk saya terbang melintasi parit dan mendarat di seberang jalan. Saya beruntung selamat dan hanya menderita luka ringan. Hal itu membuat saya berpikir bahwa hidup saya terselamatkan karena saya banyak berbuat baik bersama Tzu Chi, jadi saya bersumpah untuk berbuat baik lebih banyak lagi untuk mengumpulkan berkah,” kata Kon Loy sambil mengenang peristiwa tersebut.
Melihat kembali perjalanan mereka di Tzu Chi, pasangan ini melihat diri mereka ibarat potongan puzzle yang saling melengkapi. Kon Loy sambil bercanda berkata bahwa Lim Whey adalah seorang pemadam kebakaran yang akan selalu “memadamkan” pikirannya yang sering terganggu, dan Lim Whey melihat Kon Loy seperti sopir pribadi terbaiknya yang selalu menjaganya agar tetap berjalan di Jalan Bodhisattva.
“Bagi kami, jalan Tzu Chi adalah jalan yang tidak bisa kembali! Kami akan terus terlibat di dalam Tzu Chi sampai akhir hayat kami,” kata pasangan ini dengan tegas.
Ketika mereka berdua terlibat dalam pasangan sebuah kegiatan, mereka didorong oleh minat dan tujuan yang sama. Tidak dapat disangkal bahwa keterlibatan mereka dalam amal telah mengembangkan mereka menjadi individu yang lebih sempurna.
Jurnalis : Koh Poo Leng,
Fotografer : Ang Lay Hoon, Yap Kon Loy, Lay Kin hoong,
Diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh : Ten Zhe Xin,
Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh : Sik Pin.