Kepergian Para Bodhisattva Menunjukkan Ketidakkekalan Hidup
“Sejak RS Tzu Chi ini beroperasi pada tahun 2007 hingga hari ini, semua telah berkembang dari kondisi awal di mana banyak departemen yang hanya ada satu dokter hingga kini menjadi kerja sama tim lintas spesialis dan lintas bidang. Pencapaian kita sangat luar biasa. Sesungguhnya, pelayanan medis bukan sekadar angka-angka. Di dalamnya, kita dapat melihat bagaimana para dokter dan perawat bersungguh hati untuk merawat dan menjaga hati yang lain,” kata Yu Zheng-zhan, Wakil Kepala Rumah Sakit Tzu Chi Taichung.
Saya sangat bersukacita karena tahun ini, para dokter bisa kembali dengan begitu lengkap. Saya merasa sangat bersyukur. Mungkin Kepala RS Chien tahu bahwa belakangan ini, suasana hati saya kurang baik sehingga beliau mengajak banyak dokter kembali ke sini agar saya bisa mendengar laporan kalian dan hati saya menjadi lebih teguh. Oleh karena itu, saya merasa sangat bersyukur. Dalam hidup ini, manusia selalu merasa kurang puas. Demikianlah yang saya rasakan sekarang.
Ada pula yang merasa sudah cukup, tetapi dalam waktu singkat kembali kehilangan. Seperti yang tadi saya sampaikan, hati saya sangat sedih. Mungkin semua juga mengetahui tentang Tino Chu dari Zimbabwe. Tahun lalu, beliau pergi ke Taichung untuk melakukan pemeriksaan kesehatan. Kalian pun tahu bahwa kondisinya memang memiliki beberapa risiko. Namun, beliau tetap kembali ke Zimbabwe, Setelah kembali ke Zimbabwe, beliau tetap tidak pernah berhenti. Setelah pulang, beliau tetap melanjutkan pekerjaannya.
Bagi Zimbabwe, kehilangan dirinya sama seperti kehilangan segalanya. Banyak warga kurang mampu yang merasa kehilangan segalanya.
Beliau sebelumnya tidak banyak bercerita kepada saya. Namun, dalam telekonferensi ini, beliau memperlihatkan relawan-relawan di sana dan berbagi kepada saya tentang apa yang dilakukan di sana. Lihatlah, mereka menanam jagung di sana dan memperlihatkan hasil panen jagung, mangga, dan alpukat itu kepada saya. Semua itu beliau tunjukkan satu per satu kepada saya. Bahkan, mereka juga menyiapkan meja dan kursi untuk saya.
Ketika malam tiba, beliau berkata bahwa ia sedikit lelah dan ingin tidur lebih awal. Keesokan paginya, para relawan bertanya-tanya mengapa beliau belum bangun karena biasanya beliau bangun sangat pagi. Ketika mereka pergi membangunkannya, tubuhnya sudah terasa dingin. Begitulah kehidupan yang penuh dengan ketidakkekalan.
Meski kepergiannya membuat hati saya sangat sakit, saya merasa kagum kepadanya. Hingga akhir hayatnya, beliau masih memiliki harapan untuk hari esok. Beliau pergi tanpa rasa sakit. Saya sangat iri padanya. Beliau baru berusia 71 tahun. Dahulu, usia 70 tahun sudah terasa sangat tua, tetapi sekarang, usia 70 tahun seperti paruh baya. Beliau pergi secara tiba-tiba. Hal ini membuat saya sangat tidak rela.
Ketika kembali ke sini, beliau sempat memberi tahu saya bahwa dirinya pergi ke Taichung untuk pemeriksaan kesehatan karena ada keluhan pada matanya. Saya pun memberitahunya, “Jika Anda ke Taichung, carilah Dokter Cai dan lakukan pemeriksaan secara lengkap.” Saat kembali, beliau memberi kabar bahwa pemeriksaan telah dilakukan, tetapi banyak poin yang tidak lolos. Saya berkata, “Anda harus mengikuti saran dokter dan bekerja sama.” Lalu, beliau kembali ke Zimbabwe tanpa mengikuti saran dokter.
Beliau meninggal dunia beberapa hari setelah melakukan telekonferensi dengan saya. Saat berbicara dengan saya secara daring, tidak ada gejala yang terlihat. Begitulah ketidakkekalan hidup. Dalam beberapa hari terakhir, tindakan beliau terus terbayang di benak saya.
Belakangan ini, saya merasa sangat sedih. Hari ini, hati saya terasa lebih terbuka dibandingkan hari-hari sebelumnya. Yang dihadapi misi kesehatan ialah kehidupan. Hal paling berharga dalam hidup ialah kehidupan itu sendiri. Kehidupan membutuhkan pelayanan medis. Kita memberikan pelayanan medis, termasuk pemeriksaan kesehatan.