Ketulusan Tim Logistik di Balik Bakti Sosial Kesehatan Tzu Chi
Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia bersama Tzu Chi International Medical Association (TIMA) Indonesia kembali mengadakan bakti sosial kesehatan di Pondok Pesantren Al Ashriyyah Nurul Iman, Parung Panjang, Bogor, pada hari Minggu, 12 Juli 2026.
Sehari sebelum kegiatan, sejumlah tim logistik dan para penanggung jawab tim dari relawan Tzu Chi Tangerang telah tiba di lokasi untuk mempersiapkan perlengkapan. Jahja Houten dan Hasbul Waton (Anton) menjadi bagian dari kelompok perintis tersebut.
Saat mobil pikap Tzu Chi Tangerang tiba dari Depo Pelestarian Lingkungan Tzu Chi di Medang, Jahja dan Anton bersama beberapa santri membongkar, mengelompokkan, dan menginventarisasi perlengkapan untuk tim pendaftaran, pemeriksaan tekanan darah dan berat badan, poli umum, poli gigi, apotek, konsumsi, alur pasien, dan logistik.
Sebagai Ketua Tim Logistik, Jahja memastikan jenis dan jumlah barang yang diserahkan kepada setiap tim sesuai dengan barang yang dikembalikan setelah kegiatan selesai.
Anton juga mengoordinasikan para santri untuk membersihkan toilet pria dan wanita agar nyaman digunakan oleh para dokter dan tenaga medis.
Usianya yang telah mencapai 60 tahun tidak menghalangi Anton menjalankan tugas logistik yang membutuhkan banyak aktivitas fisik.
“Awal mula saya menjadi relawan Tzu Chi langsung bergabung dengan tim logistik. Dan ternyata saya berjodoh dengan tim ini. Di setiap kegiatan baksos kesehatan di Nurul Iman Islamic Boarding School saya selalu hadir sebagai relawan tim logistik” kata pria yang akrab disapa Anton ini.
Anton tidak ragu mengerjakan berbagai tugas sederhana, mulai dari membersihkan halaman hingga memasang dan membongkar tenda. Sikap rendah hati para relawan Tzu Chi pula yang dahulu menginspirasinya untuk bergabung. Dua tahun sebelumnya, ia melihat para relawan membungkukkan badan sambil mengucapkan “Gan En” dalam kegiatan pembagian beras cinta kasih di lingkungan tempat tinggalnya.
Pelayanan Kesehatan bagi Para Santri
Pada hari pelaksanaan, sebanyak 93 relawan Tzu Chi, 94 tenaga medis TIMA Indonesia, dan tujuh relawan Tzu Ching bergotong royong memberikan pelayanan kesehatan kepada para santri dan santriwati. Sebanyak 986 santri dan santriwati memperoleh pelayanan kesehatan umum, sedangkan 197 orang mendapatkan pemeriksaan dan perawatan gigi.
Selain pemeriksaan dan pengobatan, para santri juga mengikuti dua sesi penyuluhan kesehatan. Sesi pertama disampaikan oleh dr. Amelia, Sp.A., mengenai pencegahan Hepatitis A. Menurutnya, lingkungan pesantren dengan banyak penghuni dan aktivitas bersama memiliki risiko penularan penyakit infeksi yang lebih tinggi.
“Anak-anak di sini tinggal bersama dalam jumlah yang besar dan cukup banyak aktivitas dilakukan secara bersama-sama. Kondisi ini membuat risiko penularan penyakit, khususnya Hepatitis A menjadi lebih tinggi. Karena itu, kami berharap melalui penyuluhan ini mereka semakin memahami pentingnya menjaga kebersihan diri, mencuci tangan dengan benar, serta mengetahui cara mencegah penyakit menular,” jelas dr. Amelia.
Selain memberikan layanan pengobatan, tim medis juga menyoroti pentingnya upaya pencegahan penyakit di tengah-tengah lingkungan santri. Berdasarkan hasil pemeriksaan, keluhan kesehatan yang paling banyak ditemukan masih didominasi oleh penyakit menular.
“Sebagian besar keluhan yang kami temui merupakan penyakit menular, seperti batuk, pilek, dan gatal-gatal. Kondisi seperti ini memang cukup umum dijumpai di lingkungan tempat tinggal komunal. Karena itu, upaya pencegahan melalui edukasi dan penerapan pola hidup bersih dan sehat menjadi sangat penting,” tambahnya.
Sesi kedua dibawakan oleh drg. Linda Verniati, Sp.Ortho., mengenai kesehatan gigi dan mulut. Ia menjelaskan pertumbuhan gigi, pentingnya merawat gigi tetap, serta teknik menyikat gigi yang benar menggunakan model gigi dan sikat.
“Dengan melihat model gigi ini para santri dan santriwati dapat mengetahui bahwa susunan gigi-geligi itu memiliki banyak celah, sehingga menyikat gigi dengan durasi lama tidak menjamin gigi menjadi lebih bersih. Intinya mereka harus mengetahui teknik menyikat yang efektif menjangkau celah-celah gigi,” ujar drg. Linda.
Melalui penyuluhan tersebut, para santri diharapkan semakin mampu menjaga kesehatan gigi dan mulut secara mandiri.
“Dan harapan tertinggi kami para dokter gigi kelak saat datang kembali untuk mengadakan bakti sosial kesehatan tidak lagi menemukan gigi yang rusak sehingga harus dicabut, melainkan cukup melakukan tindakan perawatan dan pembersihan karang gigi,” tutup drg. Linda.
Tim Logistik Menjadi Barisan Terakhir
Kegiatan berakhir sekitar pukul 15.00 setelah seluruh pasien di poli umum dan poli gigi selesai dilayani. Saat relawan dari tim lain mulai mengemas perlengkapan dan meninggalkan lokasi, tim logistik masih memeriksa, mengelompokkan, dan mengemas barang inventaris.
Jahja kembali mencocokkan jenis dan jumlah perlengkapan yang dikembalikan oleh setiap tim dengan dokumen inventarisasi. Pekerjaan ini tetap membutuhkan ketelitian meskipun kondisi fisik para relawan mulai lelah.
Di tengah kesibukannya, Anton memaknai tugas di tim logistik sebagai bagian dari proses melatih diri.
“Kegiatan di Tzu Chi khususnya tim logistik ini adalah tempatnya melatih diri untuk mengikis ego karena musuh terbesar kita adalah ego di dalam diri kita sendiri,” ungkap Anton.
Jurnalis : Wanda Pratama, Vivi Angel (He Qi Tangerang),
Fotografer : Wanda Pratama, Steven, Vivi Angel (He Qi Tangerang),
Editor : Fikhri Fathoni.
Jurnalis : Wanda Pratama, Vivi Angel (He Qi Tangerang),
Fotografer : Wanda Pratama, Steven, Vivi Angel (He Qi Tangerang),
Editor : Fikhri Fathoni.