Ketulusan yang Mendalam dalam Keyakinan, Ikrar, dan Praktik
“Enam puluh tahun yang lalu, dengan penuh welas asih, Master memimpin kami memulai perjalanan dari praktik celengan bambu, lalu menyebarkan cinta kasih ke seluruh dunia. Sebagai murid-murid Master, kami berikrar untuk merendahkan hati guna menjalankan Tzu Chi di komunitas agar kebajikan dan cinta kasih Tzu Chi dapat diwariskan dari generasi ke generasi,” kata Xie Dong-xian, relawan Tzu Chi.
“Murid-murid Jing Si Pingtung berikrar dengan hati tertulus. Kami akan berani, tekun, dan bersemangat serta tidak akan melupakan tekad awal. Kami akan mengemban misi dan menjalankan praktik Bodhisatwa. Kami akan menjalankan Tzu Chi di komunitas dan menjalin jodoh baik secara luas. Kami akan mewariskan silsilah Dharma dan jiwa kebijaksanaan hingga selamanya. Kami akan mengemban misi Buddha dan menjaga jiwa kebijaksanaan Master. Master, mohon tenanglah,” pungkas Xie Dong-xian.
Saya sangat bersyukur dan tersentuh.
Bodhisattva sekalian, Tzu Chi telah berdiri 60 tahun. Tzu Chi sudah lama dijalankan di Pingtung. Di Pingtung, kita memiliki banyak kenangan. Dahulu, setiap kali berkunjung ke Pingtung, saya merasakan kedekatan seakan-akan pulang ke rumah. Berhubung termasuk pedesaan, gaya bicara orang-orang di sana sangatlah polos. Karena itulah, saya sangat sukacita.
Begitu pula sebaliknya. Setiap tahun, saat relawan dari Pingtung kembali ke sini, mereka juga merasakan apa yang saya rasakan saat pergi ke Pingtung. Mereka juga merasakan kedekatan. Kedekatan ini berasal dari saudara se-Dharma. Kalian merasa dekat dengan saya karena telah menerima dan menyerap ajaran saya ke dalam hati. Mengenai para saudara se-Dharma kita, saya sangat sukacita dan bersyukur.
Terhadap semua insan Tzu Chi, saya sangat bersyukur. Ini karena insan Tzu Chi telah membawa dampak besar bagi masyarakat. Selama puluhan tahun ini, Tzu Chi sungguh telah mengerahkan potensi di Taiwan. Di mana pun ada orang yang menderita, insan Tzu Chi akan berinisiatif untuk memberikan bantuan. Ini menunjukkan kesungguhan hati kita.
Bodhisattva sekalian, Tzu Chi telah berdiri 60 tahun. Tzu Chi sudah lama dijalankan di Pingtung. Di Pingtung, kita memiliki banyak kenangan. Dahulu, setiap kali berkunjung ke Pingtung, saya merasakan kedekatan seakan-akan pulang ke rumah. Berhubung termasuk pedesaan, gaya bicara orang-orang di sana sangatlah polos. Karena itulah, saya sangat sukacita.
Begitu pula sebaliknya. Setiap tahun, saat relawan dari Pingtung kembali ke sini, mereka juga merasakan apa yang saya rasakan saat pergi ke Pingtung. Mereka juga merasakan kedekatan. Kedekatan ini berasal dari saudara se-Dharma. Kalian merasa dekat dengan saya karena telah menerima dan menyerap ajaran saya ke dalam hati. Mengenai para saudara se-Dharma kita, saya sangat sukacita dan bersyukur.
Terhadap semua insan Tzu Chi, saya sangat bersyukur. Ini karena insan Tzu Chi telah membawa dampak besar bagi masyarakat. Selama puluhan tahun ini, Tzu Chi sungguh telah mengerahkan potensi di Taiwan. Di mana pun ada orang yang menderita, insan Tzu Chi akan berinisiatif untuk memberikan bantuan. Ini menunjukkan kesungguhan hati kita.
Kita mendengar dan melihat dengan sungguh-sungguh, lalu segera bergerak untuk melakukan hal yang benar. Saat ada sesuatu yang harus dilakukan, kita akan segera berhimpun untuk melakukannya. Begitu pula dengan penyaluran bantuan internasional. Saat suatu negara dilanda bencana, kita selalu segera bergerak untuk memberikan bantuan. Inilah yang membuat saya lebih tenang sekarang.
Sungguh, segala hal yang terjadi di seluruh dunia berkaitan erat dengan kita. Saya sangat sukacita. Saya tidak perlu khawatir, terlebih terhadap relawan di Taiwan. Para relawan kita selalu segera mengenakan seragam, berkumpul bersama, dan menghimpun kekuatan untuk bersumbangsih. Jadi, terhadap Tzu Chi di seluruh dunia, saya sangat sukacita dan tenang.
Kalian harus ingat bahwa usia kita akan terus bertambah. Saya jauh lebih tua daripada kalian. Saya sendiri juga merasa bahwa generasi kedua hendaknya tahu untuk mengamati kondisi, berpegang pada filosofi Tzu Chi, serta tahu bagaimana menyebarkan semangat Tzu Chi. Inilah harapan saya terhadap kaum monastik di Griya. Kalian juga harus mewariskan semangat Tzu Chi kepada generasi penerus kalian. Kata orang, kita harus mewariskan kebajikan dalam keluarga. Inilah warisan terbaik.
Kita mewariskan keluhuran kepada anak cucu. Keluhuran kita ialah bersumbangsih. Kita selalu berkata bahwa kita bersumbangsih tanpa pamrih. Namun, kita menuai segala sesuatu yang kita tabur. Siapa yang makan, dialah yang merasa kenyang. Jika kita yang makan, orang lain tidak akan kenyang. Kita harus menyuruh mereka untuk memakan sesuatu. Jadi, kita akan menuai apa yang kita tabur. Jika tidak melakukan apa-apa, kita tidak akan memperoleh pencapaian.
Sungguh, segala hal yang terjadi di seluruh dunia berkaitan erat dengan kita. Saya sangat sukacita. Saya tidak perlu khawatir, terlebih terhadap relawan di Taiwan. Para relawan kita selalu segera mengenakan seragam, berkumpul bersama, dan menghimpun kekuatan untuk bersumbangsih. Jadi, terhadap Tzu Chi di seluruh dunia, saya sangat sukacita dan tenang.
Kalian harus ingat bahwa usia kita akan terus bertambah. Saya jauh lebih tua daripada kalian. Saya sendiri juga merasa bahwa generasi kedua hendaknya tahu untuk mengamati kondisi, berpegang pada filosofi Tzu Chi, serta tahu bagaimana menyebarkan semangat Tzu Chi. Inilah harapan saya terhadap kaum monastik di Griya. Kalian juga harus mewariskan semangat Tzu Chi kepada generasi penerus kalian. Kata orang, kita harus mewariskan kebajikan dalam keluarga. Inilah warisan terbaik.
Kita mewariskan keluhuran kepada anak cucu. Keluhuran kita ialah bersumbangsih. Kita selalu berkata bahwa kita bersumbangsih tanpa pamrih. Namun, kita menuai segala sesuatu yang kita tabur. Siapa yang makan, dialah yang merasa kenyang. Jika kita yang makan, orang lain tidak akan kenyang. Kita harus menyuruh mereka untuk memakan sesuatu. Jadi, kita akan menuai apa yang kita tabur. Jika tidak melakukan apa-apa, kita tidak akan memperoleh pencapaian.
Kita sering berkata, “Saya akan melimpahkan jasa kepadamu.” Apakah itu mungkin? Adakalanya, kita melantunkan Sutra dan ingin melimpahkan jasa kepada seseorang. Sesungguhnya, itu mustahil. Yang melantunkan Sutra tetaplah diri kita. Kita melakukannya demi mendoakan ketenteraman seseorang. Saat mengetahuinya, orang tersebut akan merasa lega. Mengetahui bahwa ada orang yang berdoa untuk dirinya, dia akan merasa jauh lebih baik. Inilah kebenaran yang berkaitan dengan batin manusia.
Dalam batin kita, kita tahu bahwa kita tengah menapaki jalan ini. Jalan ini adalah jalan para Buddha dan Bodhisatwa. Saat tahu bahwa ada seseorang yang menapaki jalan ini untuk kita hingga mencapai tujuan, kita bersyukur kepada orang tersebut. Sesungguhnya, orang yang berjalan untuk kita itu memperoleh pencapaian yang lebih banyak. Jadi, siapa yang menabur, dialah yang menuai.
Saat kita membangkitkan cinta kasih untuk mendoakan ketenteraman seseorang, sesungguhnya diri sendirilah yang terlebih dahulu memperoleh ketenteraman. Jadi, kita menuai apa yang kita tabur. Jika tidak menabur, kita tidak akan memperoleh apa-apa. Jika tidak ada yang memberitahunya bahwa kita berdoa baginya dengan tulus, dia tidak akan tahu hal ini. Jika kondisinya memang akan membaik, dia tetap akan membaik. Singkat kata, inilah keyakinan.
Dalam batin kita, kita tahu bahwa kita tengah menapaki jalan ini. Jalan ini adalah jalan para Buddha dan Bodhisatwa. Saat tahu bahwa ada seseorang yang menapaki jalan ini untuk kita hingga mencapai tujuan, kita bersyukur kepada orang tersebut. Sesungguhnya, orang yang berjalan untuk kita itu memperoleh pencapaian yang lebih banyak. Jadi, siapa yang menabur, dialah yang menuai.
Saat kita membangkitkan cinta kasih untuk mendoakan ketenteraman seseorang, sesungguhnya diri sendirilah yang terlebih dahulu memperoleh ketenteraman. Jadi, kita menuai apa yang kita tabur. Jika tidak menabur, kita tidak akan memperoleh apa-apa. Jika tidak ada yang memberitahunya bahwa kita berdoa baginya dengan tulus, dia tidak akan tahu hal ini. Jika kondisinya memang akan membaik, dia tetap akan membaik. Singkat kata, inilah keyakinan.
Saat mendengar bahwa kondisi seseorang tidak baik, kita berdoa untuknya karena peduli. Inilah keyakinan kita. Lalu, dia tahu bahwa kita berdoa untuknya dan dia yakin pada ketulusan doa kita. Ini juga disebut keyakinan. Jadi, keduanya memiliki keyakinan dan saling menghibur. Ini sangatlah baik.
Setelah mendengar ucapan saya ini, jangan berpikir bahwa kalian tidak perlu berdoa lagi. Saya ingin kalian tahu bahwa kondisinya membaik bukan karena doa kalian, melainkan ketulusan kalian yang memengaruhi kondisi batinnya. Jadi, kondisi batin sangatlah penting. Berhubung kita memberitahunya bahwa kita telah berdoa baginya, dia pun merasa lebih lega. Singkat kata, ketulusan sangatlah penting.
Saya sering berkata bahwa kita harus tulus. Kali ini, kalian juga kembali dengan tulus untuk menemui saya. Saya ingin kalian memiliki keyakinan benar. Saya sangat tulus terhadap kalian dan ingin mengingatkan kalian untuk berhati tulus. Karena itulah, kali ini saya terus mengulas tentang ketulusan. Saya sangat bersyukur. Karena itulah, saya terus-menerus mengucap syukur kepada kalian.
Saat mendengar saya bersyukur kepada kalian, kalian juga merasa sukacita dan berkata, “Kami bersyukur kepada Master yang mengucap syukur kepada kami. Master yakin bahwa kami kembali untuk menemuinya. Kami ingin Master mengetahui ketulusan kami.” Ini sudah pasti. Tanpa kalian mengatakannya, saya sudah tahu. Ini disebut memahami satu sama lain. Kalian terlebih dahulu memahami diri sendiri dan saya menerima kalian apa adanya. Jadi, kita saling memahami dan saling mengasihi. Inilah cinta kasih agung yang sesungguhnya.
Setelah mendengar ucapan saya ini, jangan berpikir bahwa kalian tidak perlu berdoa lagi. Saya ingin kalian tahu bahwa kondisinya membaik bukan karena doa kalian, melainkan ketulusan kalian yang memengaruhi kondisi batinnya. Jadi, kondisi batin sangatlah penting. Berhubung kita memberitahunya bahwa kita telah berdoa baginya, dia pun merasa lebih lega. Singkat kata, ketulusan sangatlah penting.
Saya sering berkata bahwa kita harus tulus. Kali ini, kalian juga kembali dengan tulus untuk menemui saya. Saya ingin kalian memiliki keyakinan benar. Saya sangat tulus terhadap kalian dan ingin mengingatkan kalian untuk berhati tulus. Karena itulah, kali ini saya terus mengulas tentang ketulusan. Saya sangat bersyukur. Karena itulah, saya terus-menerus mengucap syukur kepada kalian.
Saat mendengar saya bersyukur kepada kalian, kalian juga merasa sukacita dan berkata, “Kami bersyukur kepada Master yang mengucap syukur kepada kami. Master yakin bahwa kami kembali untuk menemuinya. Kami ingin Master mengetahui ketulusan kami.” Ini sudah pasti. Tanpa kalian mengatakannya, saya sudah tahu. Ini disebut memahami satu sama lain. Kalian terlebih dahulu memahami diri sendiri dan saya menerima kalian apa adanya. Jadi, kita saling memahami dan saling mengasihi. Inilah cinta kasih agung yang sesungguhnya.
Berhimpun untuk melatih diri bersama sebagai saudara se-Dharma
Menghimpun kekuatan untuk menyalurkan bantuan
Menuai apa yang ditabur dan mewariskan kebajikan dalam keluarga
Ketulusan yang mendalam dalam keyakinan, ikrar, dan praktik
Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 20 April 2026
Sumber : Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah : Hendry, Marlina, Shinta, Janet, dan Graciela
Ditayangkan Tanggal 22 April 2026