Kompetisi Memasak Vegan di Tzu Chi Kembali Hadir, Menggaungkan Vegetarisme
Aroma masakan kembali menggugah selera di kantin Tzu Chi Center, Minggu, 21 September 2025. Ruangan yang sehari-hari menjadi tempat makan, kini disulap meriah menjadi arena kompetisi memasak. Deretan meja berisi bahan-bahan lokal tersusun rapi dan lengkap. Begitu lomba dimulai, asap mengepul dari setiap panci yang terbuka, denting sendok dan pisau berpadu dengan dag dig dug-nya para peserta, serta tawa riang dan sorakan para supporter yang tak kalah bersemangat. Suasana hangat ini menjadi tanda dimulainya Vegan Cooking Competition 2025, sebuah lomba memasak vegan yang hadir dalam rangka menyemarakkan Bulan Tujuh Penuh Berkah.
Berbeda dari sekadar demo masak yang hanya menampilkan satu arah pertunjukan, ajang kompetisi ini dipilih agar suasananya lebih hidup, interaktif, sekaligus melatih kreativitas peserta. Dalam lomba, setiap orang tidak hanya memasak untuk dinikmati oleh lima juri, tetapi juga berpacu dengan waktu, mengatur strategi, hingga menyajikan tampilan hidangan yang menarik. Riuh dukungan penonton membuat atmosfer semakin hangat.
Berbeda dari sekadar demo masak yang hanya menampilkan satu arah pertunjukan, ajang kompetisi ini dipilih agar suasananya lebih hidup, interaktif, sekaligus melatih kreativitas peserta. Dalam lomba, setiap orang tidak hanya memasak untuk dinikmati oleh lima juri, tetapi juga berpacu dengan waktu, mengatur strategi, hingga menyajikan tampilan hidangan yang menarik. Riuh dukungan penonton membuat atmosfer semakin hangat.
Tahun ini, panitia menetapkan jamur sebagai bintang utama. Bahan sederhana yang mudah ditemukan di pasar ini bukan hanya akrab di dapur vegetarian maupun vegan, tetapi juga menyimpan segudang keistimewaan. Jamur mengandung protein nabati yang cukup tinggi, rendah lemak, kaya serat, serta diperkaya vitamin B kompleks, kalium, hingga antioksidan yang baik bagi tubuh. Tak heran jika jamur sering dijadikan pilihan untuk menjaga pola makan sehat sekaligus mendukung gaya hidup ramah lingkungan. Teksturnya yang kenyal dan rasa umami alaminya membuat jamur kerap dijuluki sebagai “pengganti daging” yang ideal. Dari tumisan sederhana, sup hangat, hingga kreasi modern ala restoran, jamur mampu bertransformasi menjadi hidangan bergizi, lezat, dan penuh inovasi.
Dengan mengkreasikan jamur sebagai primadona kompetisi kali ini, sebanyak 15 tim masing-masing beranggotakan dua orang dari He Qi dan badan misi Tzu Chi langsung sigap mengambil pisau, wajan, dan bumbu begitu waktu dimulai. Hanya ada 60 menit di depan mereka, ada yang serius menakar bumbu, ada pula yang berdiskusi sambil mengaduk tumisan. Dari dapur yang riuh ini, jamur sederhana berubah wujud: jadi katsu vegan yang renyah, sushi roll, sampai steak jamur yang gurih, juicy, dan umami. Sekilas tampak sederhana, tapi nyatanya masakan vegan bisa kreatif, modern, sekaligus memikat lidah siapa saja.
Dengan mengkreasikan jamur sebagai primadona kompetisi kali ini, sebanyak 15 tim masing-masing beranggotakan dua orang dari He Qi dan badan misi Tzu Chi langsung sigap mengambil pisau, wajan, dan bumbu begitu waktu dimulai. Hanya ada 60 menit di depan mereka, ada yang serius menakar bumbu, ada pula yang berdiskusi sambil mengaduk tumisan. Dari dapur yang riuh ini, jamur sederhana berubah wujud: jadi katsu vegan yang renyah, sushi roll, sampai steak jamur yang gurih, juicy, dan umami. Sekilas tampak sederhana, tapi nyatanya masakan vegan bisa kreatif, modern, sekaligus memikat lidah siapa saja.
Percaya Diri Membawa Masakan Nusantara
“Hari ini kami masak jamur balado cah kemangi lengkap dengan sate ‘usus’ dari jamur tiram,” begitu cerita tim DAAI TV dari grup 6 saat menjelaskan menu andalan mereka. Bagi mereka, ikut lomba vegan cooking ini merupakan kesempatan berbagi semangat dan variasi menu vegetarian yang lezat.
Pasangan Shinta Sanly Putri dan Nadya Dharma ini menuturkan tantangan utama memang datang dari aturan makanan vegan yang tidak memperbolehkan penggunaan bawang hingga telur, susu, dan turunannya. Makanya setiap tim harus memutar ide mencari bahan pengganti wangi bawang-bawangan. “Agar aroma masakan tetap harum, kami tadi mengganti bawang dengan daun wansui dan berbagai bahan lain yang memberikan karakter rasa serupa,” jelas Shinta.
Pasangan Shinta Sanly Putri dan Nadya Dharma ini menuturkan tantangan utama memang datang dari aturan makanan vegan yang tidak memperbolehkan penggunaan bawang hingga telur, susu, dan turunannya. Makanya setiap tim harus memutar ide mencari bahan pengganti wangi bawang-bawangan. “Agar aroma masakan tetap harum, kami tadi mengganti bawang dengan daun wansui dan berbagai bahan lain yang memberikan karakter rasa serupa,” jelas Shinta.
Persiapan menu ini terbilang spontan. Dalam waktu 60 menit, mereka memilih mengolah jamur king oyster dan jamur tiram menjadi sajian bercita rasa nusantara. Untuk menyiasati keterbatasan waktu, mereka membagi tugas dengan rapi: ada yang memotong, ada yang merebus, dan ada yang menumis. “Jadi nggak pakai lama, sat set biar nggak lewat waktu,” ungkap Shinta sambil tertawa. Hasilnya, hidangan medok dengan bumbu yang kuat berhasil memikat juri. “Judul masakan kami: jamur nusantara,” lengkapnya sumringah.
Meski awalnya hanya ingin berbagi, rasa percaya diri tumbuh di tengah proses memasak. Mereka bahkan sempat bercanda, “Menang atau kalah belakangan, yang penting PD dulu.” Namun saat nama mereka diumumkan sebagai juara dua, rasa kaget bercampur bahagia tak terbendung.
“Syok, tercengang, kok bisa…?? Rasanya kayak saling meyakinkan, ini beneran kita bertiga (tiga tim pemenang utama) yang belum dipanggil? Speechless banget,” tutur Nadya kegirangan.
Bagi tim DAAI TV, terutama Nadya yang sudah lima tahun menjalani pola makan vegetaris, ia sangat menikmati kompetisi ini. Menurutnya, makanan vegan pun justru mudah ditemukan asal ada niat. “Nyesel loh kalau nggak cobain vege. Menunya bisa dibuat beraneka ragam dan rasanya nggak kalah enak!” tegas Nadya.
Mengikuti kompetisi ini bagi mereka adalah pengalaman berharga. Mereka berharap di musim berikutnya akan ada lebih banyak peserta yang ikut meramaikan, sehingga semakin banyak orang yang bisa merasakan langsung betapa kreatif dan nikmatnya masakan vegetaris.
Meski awalnya hanya ingin berbagi, rasa percaya diri tumbuh di tengah proses memasak. Mereka bahkan sempat bercanda, “Menang atau kalah belakangan, yang penting PD dulu.” Namun saat nama mereka diumumkan sebagai juara dua, rasa kaget bercampur bahagia tak terbendung.
“Syok, tercengang, kok bisa…?? Rasanya kayak saling meyakinkan, ini beneran kita bertiga (tiga tim pemenang utama) yang belum dipanggil? Speechless banget,” tutur Nadya kegirangan.
Bagi tim DAAI TV, terutama Nadya yang sudah lima tahun menjalani pola makan vegetaris, ia sangat menikmati kompetisi ini. Menurutnya, makanan vegan pun justru mudah ditemukan asal ada niat. “Nyesel loh kalau nggak cobain vege. Menunya bisa dibuat beraneka ragam dan rasanya nggak kalah enak!” tegas Nadya.
Mengikuti kompetisi ini bagi mereka adalah pengalaman berharga. Mereka berharap di musim berikutnya akan ada lebih banyak peserta yang ikut meramaikan, sehingga semakin banyak orang yang bisa merasakan langsung betapa kreatif dan nikmatnya masakan vegetaris.
Steak Jamur Kecombrang Jadi Juara
Selain DAAI yang menerima predikat sebagai juara 1, kebahagiaan juga jelas terpancar dari wajah tim relawan Tzu Chi komunitas He Qi Timur saat diumumkan sebagai juara pertama. Mereka mengaku tak menyangka bisa meraih juara dengan menu sederhana yang mereka sajikan: steak aceh dengan potato mushroom dan saus kecombrang.
“Rasanya bahagia, nggak sangka,” ucap Lifhi Joti dengan mata berbinar.
Inspirasi menu ini datang dari tanah kelahiran Lifhi yang berasal dari Aceh. Bumbu khas kecombrang kemudian dipadukan dengan jamur untuk menciptakan cita rasa baru yang belum pernah ditampilkan sebelumnya.
“Rasanya bahagia, nggak sangka,” ucap Lifhi Joti dengan mata berbinar.
Inspirasi menu ini datang dari tanah kelahiran Lifhi yang berasal dari Aceh. Bumbu khas kecombrang kemudian dipadukan dengan jamur untuk menciptakan cita rasa baru yang belum pernah ditampilkan sebelumnya.
Persiapan Lifhi Joti dan Indriati terbilang singkat, hanya dua hari, bahkan baru sempat mencoba sehari sebelum lomba. Tantangan terbesar datang dari keterbatasan waktu saat memasak, namun dengan doa dan semangat, semua bisa terselesaikan tepat waktu. Proses pengolahan jamur pun mereka lakukan dengan teliti: jamur shitake, enoki, tiram, dan oyster dihaluskan lalu ditumis terlebih dahulu agar hilang bau langu-nya, sebelum dibumbui dan diolah lebih lanjut. Hasil akhirnya adalah steak jamur berpadu kentang dan tahu, lengkap dengan saus kecombrang yang harum menggugah selera.
Sebagai bagian dari tim konsumsi di komunitas He Qi Timur, mereka memang sudah terbiasa memasak bersama. Namun, kemenangan ini tetap di luar dugaan. “Sebenarnya kami tuh asal masakan nggak kena kritik saja sudah sangat bersyukur, eh ternyata malah juara. Senang sekali,” ungkap keduanya haru.
Bagi tim ini, kompetisi bukan untuk menang, tetapi juga menjadi kesempatan berkreasi dan mengajak orang lain untuk mengenal bahwa masakan vegetarian bisa bervariasi dan tetap nikmat.
Mereka berharap tahun depan lomba serupa bisa menghadirkan lebih banyak peserta dengan kreasi yang semakin beragam. “Semoga makin banyak orang yang tahu bahwa vegetarian itu senikmat itu, bahkan tanpa penggunaan daging sekali pun,” tutup Lifhi penuh semangat.
Sebagai bagian dari tim konsumsi di komunitas He Qi Timur, mereka memang sudah terbiasa memasak bersama. Namun, kemenangan ini tetap di luar dugaan. “Sebenarnya kami tuh asal masakan nggak kena kritik saja sudah sangat bersyukur, eh ternyata malah juara. Senang sekali,” ungkap keduanya haru.
Bagi tim ini, kompetisi bukan untuk menang, tetapi juga menjadi kesempatan berkreasi dan mengajak orang lain untuk mengenal bahwa masakan vegetarian bisa bervariasi dan tetap nikmat.
Mereka berharap tahun depan lomba serupa bisa menghadirkan lebih banyak peserta dengan kreasi yang semakin beragam. “Semoga makin banyak orang yang tahu bahwa vegetarian itu senikmat itu, bahkan tanpa penggunaan daging sekali pun,” tutup Lifhi penuh semangat.
Bervegetaris Bukanlah Keterbatasan
Kisah para peserta ini sekaligus menggambarkan tujuan utama dari penyelenggaraan lomba yang bukan hanya kompetisi memasak, tetapi wadah untuk berbagi ide, menginspirasi, dan menumbuhkan semangat bervegetarian. Vegan Cooking Competition 2025 pun berakhir meriah, meninggalkan kesan hangat bagi peserta maupun penonton.
Sufei Tan, koordinator kegiatan, berharap semangat yang tumbuh di dapur kompetisi ini tidak berhenti di sini. “Kami ingin para peserta pulang dengan inspirasi baru, lalu terus menciptakan menu vegan kreatif di komunitas mereka masing-masing. Dari sana, semangat bervegetarian bisa menyebar lebih luas,” ujar penuh sukacita.
Sufei Tan, koordinator kegiatan, berharap semangat yang tumbuh di dapur kompetisi ini tidak berhenti di sini. “Kami ingin para peserta pulang dengan inspirasi baru, lalu terus menciptakan menu vegan kreatif di komunitas mereka masing-masing. Dari sana, semangat bervegetarian bisa menyebar lebih luas,” ujar penuh sukacita.
Jhonny yang pada kesempatan tersebut bertindak sebagai salah satu juri pun memberi catatan positif. Menurutnya, jamur sebagai bahan utama memang cukup rumit karena tiap jenis memiliki karakter berbeda: ada yang harus dimasak lama agar hilang bau langu, ada pula yang cukup sebentar untuk mempertahankan rasa umami dan tekstur renyahnya. Namun di tangan peserta, kerumitan itu justru jadi peluang untuk berkreasi. Mulai dari steak sampai katsu, hampir semua menu menghadirkan kejutan. Salah satunya steak jamur dengan saus kecombrang yang akhirnya keluar sebagai pemenang.
“Vegetarian itu sebenarnya sederhana. Bedanya hanya pada bahan utamanya yang menggunakan protein nabati, sedangkan saus atau bumbu bisa sama. Mau masak rendang, gulai, soto, semua bumbunya sama. Makanya kalau sausnya enak, masakan apa pun pasti jadi enak. Itu yang ditunjukkan para peserta hari ini,” ungkap Jhonny senang.
Kompetisi memasak ini membuktikan bahwa bervegetarian bukan berarti terbatas pada sayur rebus atau makanan hambar. Justru sebaliknya, bervegetaris ternyata membuka ruang kreativitas untuk menghadirkan hidangan sehat, enak, penuh cita rasa, dan ramah lingkungan. Semangat itulah yang ingin diwujudkan dan telah dibawa pulang oleh para peserta untuk menginspirasi keluarga, teman, dan komunitas mereka. Karena nyatanya setiap piring makanan vegan merupakan langkah sederhana untuk menjaga kesehatan, melindungi bumi, dan menebarkan kebaikan.
Jurnalis : Metta Wulandari,
Fotografer : Arimami Suryo A.,
Editor : Arimami Suryo A.
“Vegetarian itu sebenarnya sederhana. Bedanya hanya pada bahan utamanya yang menggunakan protein nabati, sedangkan saus atau bumbu bisa sama. Mau masak rendang, gulai, soto, semua bumbunya sama. Makanya kalau sausnya enak, masakan apa pun pasti jadi enak. Itu yang ditunjukkan para peserta hari ini,” ungkap Jhonny senang.
Kompetisi memasak ini membuktikan bahwa bervegetarian bukan berarti terbatas pada sayur rebus atau makanan hambar. Justru sebaliknya, bervegetaris ternyata membuka ruang kreativitas untuk menghadirkan hidangan sehat, enak, penuh cita rasa, dan ramah lingkungan. Semangat itulah yang ingin diwujudkan dan telah dibawa pulang oleh para peserta untuk menginspirasi keluarga, teman, dan komunitas mereka. Karena nyatanya setiap piring makanan vegan merupakan langkah sederhana untuk menjaga kesehatan, melindungi bumi, dan menebarkan kebaikan.
Jurnalis : Metta Wulandari,
Fotografer : Arimami Suryo A.,
Editor : Arimami Suryo A.