Kegiatan Internasional

Komunitas yang Rentan Terhadap Musibah di Guatemala Menerima Bantuan dan Harapan dari Tzu Chi

Pada dini hari tanggal 25 September 2023, Sungai Las Vasas di Guatemala City, ibukota Guatemala di Amerika Tengah, mengalami kenaikan permukaan air secara tiba-tiba dan parah akibat curah hujan yang deras. Warga yang tinggal di rumah-rumah ilegal yang terbuat dari seng di sepanjang bantaran sungai lengah dan tidak bisa melarikan diri tepat pada waktunya. Tragisnya, enam orang kehilangan nyawa, dan lima belas lainnnya hilang. Enam rumah di kawasan itu hanyut.

Mobilisasi untuk membawa bantuan
Mendengar berita tersebut, relawan Tzu Chi segera memulai upaya penilaian kerusakan pasca bencana dan mencari tahu bantuan apa saja yang dibutuhkan.
Pada tanggal 28 September 2023, relawan Tzu Chi penghubung utama di Guatemala, Ko Feng Chin, bersama Sekretaris OCA (Overseas Community Affairs) dan juga relawan Tzu Chi, Chen Ya-qi, berangkat ke wilayah yang terkena bencana. Meskipun berada di distrik ketujuh ibukota, wilayah tersebut sangat terpencil, dan akses langsung dengan kenderaan tidak mungkin dilakukan.
Mereka melewati jalan berkelok-kelok, melewati bawah Jembatan Narnajo, melalui kawat berduri, menuju Desa Dios el Fiel di kawasan miskin Anexo Kjell. Jalan setapak tersebut terdiri dari tangga batu yang berbahaya tanpa pagar apapun sebagai penyangga, sehingga menuntut perhatian yang cermat pada setiap langkah.

Penduduk di Prensa Libre sebagian besar adalah pendatang yang datang ke kota untuk mencari penghidupan. Mereka tinggal di bangunan darurat yang terbuat dari lembaran timah untuk tempat tinggal sementara, sehingga menciptakan struktur komunitas yang kompleks.

Berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh reporter surat kabar lokal terkemuka, Prensa Libre, sebagian besar penduduk di kawasan ini adalah pendatang yang datang ke kota untuk mencari pekerjaan. Mereka tinggal di bangunan darurat yang terbuat dari lembaran seng sebagai tempat berlindung sementara. Ada 85 rumah dan lebih dari 100 keluarga di komunitas ini.
Para relawan berkunjung pada hari Senin, hari dimana banyak warga sedang bekerja atau sekolah, sehingga relatif sepi. Terdapat toko kelontong kecil yang menjual barang-barang dalam kemasan kecil, sesuai dengan keterbatasan daya beli warga. Mengetahui rencana Tzu Chi yang mau memberikan bantuan, warga di sekitar lokasi mulai membersihkan tempat tersebut, meninggalkan peralatan memasak, meja, dan kursi untuk para pengungsi. 

Ko Feng-chin (tengah), menyerahkan voucher pengumpulan bantuan kepada Kepala Desa, Jayro Ramirez (kiri). Dia menginstruksikan mereka untuk memastikan pasokan sampai ke tangan tujuh puluh sembilan rumah tangga yang terkena dampak bencana dengan segera.

Pada hari itu, para relawan menyiapkan 11 set bantuan tunai, masing-masing GTQ 500 (sekitar US$64), dan segera mendistribusikan kepada rumah tangga miskin yang terkena dampak bencana. Pada tanggal 02 Oktober 2023, para relawan kembali melakukan peninjauan dan penilaian kerusakan bencana lain; Ko Feng-chin dengan cermat meninjau daftar tersebut, dan akhirnya memutuskan untuk memberikan bantuan kepada 79 rumah tangga. Dia menyerahkan voucher pengumpukan bantuan Tzu Chi kepada Kepala Desa, Jayro Ramirez, dan menekankan pentingnya mengirimkan bantuan kepada masyarakat yang terkena dampak bencana secara tepat waktu.

Dilanda bencana
Anna Maria, yang selamat dari bencana tersebut, berduka atas kehilangan beberapa anggota keluarga – saudara perempuannya, saudara iparnya, dan seluruh anggota keluarga mereka yang berjumlah tujuh orang dan semuanya tewas. Saat menerima kabar memilukan itu, adik perempuannya bergegas pergi dari pedesaan untuk berada di sisinya. Setahun yang lalu, Anna Maria dan suaminya pindah kesana untuk sementara bersama anak-anak mereka, dan suaminya bekerja keras untuk menghidupi keluarga,
Keluarga saudara perempuannya telah tinggal di daerah ini selama lima tahun dan tidak mampu membayar uang sewa rumah di dataran tinggi. Para relawan mengamati bahwa meskipun rumah-rumah di dataran tinggi merupakan rumah sementara, namun aman dari bencana banjir – sebuah sumber kebahagiaan bagi para penghuninya.
“Saya hanya berjarak beberapa rumah, tapi saat saya sampai di rumah mereka, sungai sudah membawa mereka pergi. Tidak ada satupun yang selamat!” Anna Maria mengungkapkan kesedihannya yang mendalam. Dia memohon,” Kami memohon kepada Tuhan untuk membantu kami menemukan mayat orang yang masih hilang. Setelah ditemukan, harap kembalikan jenazahnya kepada kami. Kita tidak bisa menyerah dalam pencarian.”

Warga desa Dios es Fiel menata foto dan bunga segar, untuk mengenang arwah orang yang pernah tinggal di tanah datar tersebut.

Carlos Humberto, seorang tukang kebun berusia 22 tahun, kehilangan ayahnya dalam bencana tersebut. Ayahnya berpenghasilan sedikit dengan menyemir sepatu. Relawan Tzu Chi mendampingi Carlos ke sebuah flat tempat warga memasang foto dan meletakkan bunga untuk mengenang almarhum. Longsoran lumpur yang tiba-tiba melewati sebuah tikungan sempit, berdampak parah pada beberapa rumah di seberang sungai – tempat tinggal mereka dulu.
Personil militer masih berada di lokasi kejadian, namun masa kritis 72 jam untuk tanggap bencana telah berlalu, dan harapan untuk menemukan orang hilang dalam keadaan hidup semakin memudar. Para prajurit mengadakan perayaan ulang tahun untuk anak yang selamat, berharap mereka dapat bangkit dari kesedihan dan bisa tersenyum kembali.

Menciptakan siklus kebaikan
Setelah penilaian bencana, distribusi bantuan yang dijadwalkan pada tanggal 08 Oktober 2023 harus dibatalkan karena protes politik yang membuat jalan tidak dapat dilalui. Mencermati situasi, Kepala Desa Jayro Ramirez memberitahu para relawan Tzu Chi bahwa distribusi dapat dilakukan pada tanggal 22 Oktober 2023 setelah situasi mereda.
Para relawan segera membeli perbekalan yang dibutuhkan dan mengirimkannya sehari sebelumnya. Truk hanya bisa membongkar di Jembatan Narnajo, dimana warga, tua dan muda, bersemangat membantu relawan Tzu Chi untuk mengangkut barang. Persatuan mereka sangat menyentuh hati para relawan. Setelah barang diturunkan, para relawan menyimpannya dengan aman menunggu jadwal distribusi pada keesokkan harinya.

Relawan Bapak Liu Li-wen (kiri) berpartisipasi dalam pendistribusian Tzu Chi untuk pertama kalinya di Guatemala dan menceritakan asal muasal “Era Bank Bambu.” Warga menanggapi seruan tindakannya dengan penuh semangat.

Pendistribusian dimulai dengan relawan Tzu Chi, Ko Feng-chin, memeriksa ID dan voucher masing-masing penerima. Penduduk desa masuk dengan membawa voucher dan tas yang dapat dipergunakan kembali, dengan sabar menunggu acara dimulai. Dalam pidatonya, Ko Feng-chin menjelaskan kepada mereka bahwa Tzu Chi didirikan oleh Master Cheng Yen di Taiwan atas dasar welas asih terhadap semua makhluk hidup. Tzu Chi adalah organisasi keagamaan non-pemerintah yang mengedepankan semangat Cinta Kasih yang Besar tanpa memandang agama atau ras. Setelah itu, Relawan Liu Li-wen, suami dari relawan Lin Yue-zi, menceritakan asal muasal “Era Celengan Bambu”, dengan menekankan bahwa setiap orang dapat membantu orang lain tidak peduli seberapa sedikit yang dapat mereka berikan. Acara berlangsung khidmat, dan penduduk desa mendengarkan dengan penuh perhatian.
Meskipun relawan Liu Li-wen baru pertama kali berpartisipasi dalam kegiatan Tzu Chi dan  penggalangan dana di Guatemala, hubungan antara istrinya dengan Tzu Chi membuatnya paham betul tentang kisah-kisah kegiatan organisasi Tzu Chi. Penyampaiannya yang sepenuh hati tentang celengan bambu dan kekuatan lima puluh sen sangat menyentuh hati orang banyak. Alhasil, mereka menunjukkan semangatnya untuk menebar kasih sayang dengan menjatuhkan koin ke dalam celengan bambu Tzu Chi.

Menyikapi semangat Bank Bambu, Anna Maria (menggendong anak) yang kehilangan beberapa anggota keluarganya dan masih linglung, membawa uang receh dari rumahnya.

Anna Maria masih dalam keadaan linglung karena kehilangan beberapa anggota keluarga dalam bencana tersebut. Sambil mengendong anaknya, dia membawa uang receh dari rumahnya, merespons semangat celengan bambu. Para relawan mendoakan agar dirinya cepat sembuh dari kesedihan dengan keyakinan bahwa “satu tindakan kebaikan menghilangkan seribu bencana”. Beberapa warga meminta maaf karena tidak membawa uang kembalian, dan ada pula yang, setelah membawa pulang bantuan, kembali dengan membawa uang koin, menjatuhkan koinnya satu persatu atau bahkan segengam penuh kedalam celengan bambu. 
Untuk dsitribusi bantuan kali ini, relawan Tzu Chi membeli barang-barang berupa kacang hitam, gula pasir, minyak goreng, dedak padi, oatmeal, mi instan, biskuit, selimut, empat batang sabun, dan enam gulungan tisu toilet untuk masing-masing 79 rumah tangga yang menerima bantuan.
Barang-barang yang didistribusikan penting untuk kehidupan sehari-hari, dan jumlahnya melebihi apa yang dapat dibawa oleh satu orang sendirian. Penduduk desa menerima barang bantuan dengan senyuman. Ibu-ibu yang mengendong bayi dibantu oleh para relawan dalam membawa barang-barang bantuan. Kasih yang mendalam dari Tzu Chi menghilangkan bayang-bayang bencana dan penduduk desa kembali dapat tersenyum, mengungkapkan rasa terima kasih mereka berulang kali.
Jayro Ramirez memfasilitasi segalanya, termasuk tenda, meja, mikrofon, sound-system, dan tempat parkir; dia sibuk mengatur situasi. Beliau mengucapkan terima kasih kepada Tzu Chi dan mengatakan: “Terima kasih semua telah bergabung dan bersama kami. Bantuan ini sangat bermanfaat bagi masyarakat kami yang berpenghasilan rendah.”
Mengatasi medan yang tidak rata, para relawan perlu mengandalkan perhatian dan kekuatan mereka. Meskipun Ko Feng-chin berusia 76 tahun, dia tetap memberi contoh dan bekerja tanpa mengenal lelah dengan berpartisipasi aktif dalam setiap tahap pemberian bantuan.

Kondisi para lansia, orang sakit, dan penyandang disabilitas yang kritis
Usai pendistribusian bantuan di Desa Dios el Fiel, para relawan Tzu Chi menuju ke Kota San Jose Vinola untuk melakukan pendistribusian bantuan kembali bagi para masyarakat rentan yang dijadwalkan pada sore hari. Kota ini telah berkolaborasi dengan Yayasan Tzu Chi selama dua belas tahun terakhir, menjalin hubungan mendalam sejak Walikota Miguel Angel Solares Montengero menjabat pada tahun 2012. Baru-baru ini, pemerintah kota meminta bantuan Tzu Chi untuk membantu keluarga miskin dan sakit di kota tersebut.

Kota San Jose Viñola mengucapkan terima kasih atas donasi Tzu Chi yang bermanfaat bagi dua puluh sembilan rumah tangga. Sebuah plakat peringatan diserahkan, dan relawan penghubung Tzu Chi untuk Guatemala, Ko Feng-chin (tengah), menerimanya atas nama organisasi.

Di balai kota, Ibu Nancy, perwakilan pemerintah kota, dan Ko Feng-chin menyampaikan pidato, diikuti presentasi tentang “Era Celengan Bambu” oleh relawan Liu Li-wen. Ibu Nancy mempunyai hubungan khusus dengan Tzu Chi; dirinya pernah bekerja di Balai Kota Peresia sebelumnya, memimpin relawan Tzu Chi pada kunjungan pertama mereka sambil mengenakan sepatu hak tinggi setinggi tiga inci, berjalan di jalanan curam berlumpur untuk mensurvei lima belas rumah tangga. Dia pindah ke Kota San Jose Vinola dua tahun lalu dan bekerja disana. Sebagai pengakuan atas sumbangan tersebut, pemerintah kota secara khusus menyiapkan plakat penghargaan, yang diterima oleh Ko Feng-chin; ini membuat acara berjalan semakin khidmat.
Di lokasi distribusi bantuan, para relawan bertemu dengan banyak warga lanjut usia, sakit, dan mereka yang menyandang disabilitas. Maria Eugenia, 58 tahun, yang pernah bekerja di bidang yang berhubungan dengan komputer, kaki kanannya diamputasi karena kanker tulang sepuluh tahun yang lalu. Dia sekarang tinggal bersama putranya yang berusia dua puluh tahun. Meskipun kehilangan kaki kanannya, dia tetap lincah dan optimis, menggunakan kruk untuk menaiki tangga tanpa bantuan.
Seorang pria berusia 43 tahun menjalani operasi otak delapan tahun lalu, sehingga dia tidak bisa berjalan. Dia tinggal bersama putrinya yang berusia dua puluh tahun dan putranya yang berusia lima belas tahun. Operasi tersebut mengganggu kemampuannya dalam menggunakan kakinya sehingga memerlukan dukungan dua orang untuk berjalan. Dia tidak bisa bekerja selama tiga tahun terakhir. Selain itu, terdapat orang-orang dengan tantangan unik, termasuk orang-orang yang tinggal sendirian, dan seorang wanita lanjut usia yang menderita Herpes Zoster selama lebih dari setahun. Selain itu, ada seorang ibu tunggal yang berani merawat putranya dan ibunya yang sudah lanjut usia. 

Relawan Ling Yao-shuo (berbaju abu-abu) membantu memegang bank bambu untuk penggalangan dana dan membantu seorang wanita dengan bayinya dalam mengumpulkan barang-barang bantuan.

Relawan Ling Yao-shuo memfasilitasi proses pembagian kursi roda, memungkinkan mereka yang memiliki keterbatasan dalam berjalan untuk aktif berinteraksi dalam pembagian bantuan. Temannya, Shi-zhong, pertama kalinya menghadiri acara pemberian bantuan, ditemani oleh istrinya dan putrinya. Mereka dengan penuh syukur mempersembahkan setiap barang dengan rasa terima kasih,.

Pada tanggal 22 Oktober, setelah berhasil melakukan distribusi bantuan di daerah miskin di Guatemala City, para relawan bergegas ke Balai Kota San Jose Viñola untuk mendistribusikan bantuan kepada dua puluh sembilan warga yang menghadapi kemiskinan dan penyakit.

Perbekalan dalam jumlah besar yang dibutuhkan untuk kedua distribusi bantuan pada tanggal 22 Oktober tersebut, diperoleh oleh relawan senior Luo Su-chen di Kota San Jose Vinola. Kecuali mi instan yang diganti dengan spaghetti, bantuan yang diberikan sama seperti di pagi hari, yang sangat dibutuhkan oleh dua puluh sembilan rumah tangga.
Aspek terpenting dalam memberi bantuan adalah agar setiap orang menginspirasi orang lain dengan pemikiran yang baik, dan meneruskan cinta kasih tersebut. Saat berbuat baik, kita tidak boleh meninggalkan siapapun yang memerlukan bantuan; pemikiran-pemikiran baik secara kolektif, jika diakumulasikan, akan menciptakan keharmonisan dan mambawa manfaat dan berkah bagi masyarakat. 

Cinta Kasih Besar Tzu Chi menghapus bayang-bayang bencana. Setelah menerima bantuan penting yang berlimpah, dengan senyuman di wajah mereka, penduduk desa berulang kali mengungkapkan rasa terima kasih mereka yang tulus.

Kedua pembagian bantuan secara berturut-turut ini mengajari para relawan pentingnya menyadari berkah yang dimiliki, menghargai berkah tersebut, dan menabur lebih banyak berkah untuk membantu orang lain yang membutuhkan. Dalam kehidupan, proses penuaan, penyakit, dan kematian tidak dapat dihindari, jadi kita harus memanfaatkan setiap kesempatan untuk menyebarkan ajaran Buddha dan memberikan manfaat bagi semua makhluk hidup. Bagi para relawan Tzu Chi di Guatelama, mereka berharap, dengan membantu masyarakat miskin, mereka juga dapat meneruskan perbuatan baik. Jika setiap orang melakukan kebaikan, kita akan mampu menghindari bencana dan menciptakan dunia yang damai sejahtera.

Sumber : www.global,tzuchi.org,
Jurnalis : Wu Ci-tien, Chu Xiu-lian,
Fotografer : Wu Ci-tien
Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh : Sik Pin.