Langkah Kecil untuk Kesadaran Besar Tentang Kanker Payudara
Kegiatan ini menghadirkan dr. Martha Roida Manurung sebagai narasumber utama. Dengan gaya penyampaian yang hangat dan mudah dipahami, ia membagikan pengetahuan lengkap tentang cara mendeteksi dini tanda-tanda kanker payudara serta kondisi yang perlu diwaspadai.
Agar semakin mudah diingat, para peserta juga mendapatkan lembar panduan praktek SADARI yang berisi langkah-langkah pemeriksaan mandiri. Tak hanya penyampaian materi, kegiatan ini juga diisi dengan sesi tanya jawab yang berlangsung hangat dan penuh antusiasme dari peserta, serta mendapatkan penjelasan yang penuh manfaat dari dokter dan perwakilan YKPI.
Kegiatan ini menjadi pengingat akan pentingnya deteksi dini, mengingat kanker payudara menempati peringkat kedua kasus kanker terbanyak di dunia, dengan kurang lebih 2,3 juta kasus baru pada tahun 2022. Meskipun bukan penyebab kematian tertinggi (peringkat ke-4 secara global), kanker payudara tetap menjadi ancaman serius yang dapat dicegah dengan kesadaran dan pemeriksaan rutin.
Salah satu peserta, Tjoeng Susanti (63), datang setelah menerima informasi melalui grup RT di tempat tinggalnya di Kebon Kelapa, Mangga Besar. Dengan mata berkaca-kaca, ia membagikan kisah perjuangannya melawan kanker payudara.
“Bagus sekali ada kegiatan seperti ini. Saya mendapatkan banyak pengetahuan baru. Saya pernah didiagnosis kanker payudara, dan saat itu dokter mengatakan harapan hidup saya hanya 20%,” cerita Tjoeng Susanti dengan suara bergetar.
Ia mengenang masa sulit itu, dari rasa sakit setelah terjatuh, pengobatan tradisional, hingga akhirnya menjalani biopsi dan operasi. Meski dilanda duka mendalam karena kehilangan suami dan anak tercinta, ia tidak berhenti berdoa dan berjuang.
“Saya percaya doa, keyakinan, dan berbuat baik adalah kunci kesembuhan saya,” tuturnya penuh haru.
“Visi kami adalah menurunkan angka penderita kanker payudara stadium lanjut. Melalui edukasi seperti ini, kami ingin masyarakat memahami bahwa deteksi dini bisa menyelamatkan nyawa,” jelas Nani Firmansyah.
Sebagai penyintas kanker selama 21 tahun, Nani berbagi pengalaman pribadinya yang penuh keteguhan hati.
“Saya dulu sempat kaget saat didiagnosis, tapi saya tidak panik. Saya mencari pendapat dari beberapa dokter dan menjalani kemoterapi dengan ikhlas. Sekarang saya ingin masyarakat tahu tidak semua kanker harus dikemoterapi, dan jika dilakukan pada stadium awal, hasilnya bisa sangat baik,” tambahnya.
“Saya jadi lebih sadar tentang pentingnya SADARI. Dengan bimbingan dari dokter dan narasumber, saya tahu bagaimana cara memeriksa diri sendiri sebelum harus ke rumah sakit,” ujarnya penuh semangat,” ungkap Luzy.
Jurnalis : Rosy Velly Salim (He Qi Pusat),
Fotografer : Rosy Velly Salim, Susi Christine (He Qi Pusat),
Editor : Fikhri Fathoni.