Mainan dan Pegangan Besi untuk Reihan
“Kehidupan yang sempurna bukan terletak pada materi, kekuasaan, ketenaran, status sosial, melainkan pada kepedulian dan hubungan baik antar sesama.”
(Master Cheng Yen)
Muhammad Reihan Efendi (14), yang akrab dipanggil Reihan, merupakan salah satu penerima bantuan Tzu Chi. Saat berusia 1 tahun 2 bulan, Reihan terkena demam tinggi, kejang, koma dan sempat dirawat di ruangan ICU di salah satu rumah sakit di Jakarta. Semenjak itu, kondisi Reihan menjadi tidak bisa berbicara dan berjalan seperti halnya anak seusianya. Pertumbuhannya juga bisa dikatakan lambat dibandingkan anak-anak normal lainnya. Adapun setiap bulannya relawan komunitas He Qi utara 2 selalu mengunjungi Reihan untuk melihat perkembangannya dan bersilaturahmi.
Kunjungan kasih pada tanggal 8 Desember 2022 membuat Ayen sebagai Koordinator Misi Amal He Qi Utara 2 berpikir bahwa ternyata Reihan sudah semakin besar dan tingginya pun sudah menyamai tinggi ibunya. Saat melihat ibunya mengalami kesulitan pada saat mengangkat dan menggendong Reihan menuju toilet, tebesitlah ide dari Ayen untuk membuat besi pegangan bagi Reihan agar ia dapat berjalan sendiri ke toilet.
Kemudian Ayen menghubungi salah satu relawan yang memiliki usaha besi, yaitu Tju Andi. Dan ia pun menyatakan kesediaannya untuk membantu. Keesokan harinya, mereka berdua kembali datang ke rumah Reihan untuk mengukur panjang besi yang akan digunakan oleh Reihan. Pemasangan besi ini akan dilakukan pada tanggal 20 Desember 2022.
Sehari sebelumnya, Ayen melihat mainan abjad dan angka milik cucunya yang sudah tidak terpakai, lalu ia pun meminta izin cucunya untuk memberikannya kepada Reihan. Tak disangka, cucunya yang bernama Benedict Nikolas Raka (4) juga ingin memberikan mainan LEGO miliknya. Keesokan harinya, karena Ben sudah libur dari sekolahnya, akhirnya Ayen pun mengajak cucunya ikut berkunjung ke rumah Reihan untuk menyerahkan sendiri mainan yang ingin diberikan.
“Saat kami datang Reihan sangat senang sekali, ditambah ia melihat Benedict membawa mainan, membuat Reihan sampai loncat-loncat dan teriak-teriak kegirangan,” ungkap Ayen penuh sukacita. Ketika bertemu Reihan, Benedict sempat kaget ketika melihat Reihan berteriak kencang, namun seiring waktu Benedict pun bisa bermain dan mengajari kakak Reihan cara bermain. “Amah (Nenek), kakak kenapa udah besar tidak bisa jalan dan ngomong?” tanya Benedict. “Kakak sakit Ben,” jawab Ayen. Akhirnya, Benedict pun lanjut bermain kembali bersama Reihan. “Saya sangat senang melihat Ben bisa menganggap semua orang adalah sama tidak ada perbedaan, selain itu saya juga ingin memberi pengetahuan kepada Ben tentang ketidaksempurnaan dalam hidup ini,” tambah Ayen.
Sementara itu, Tju Andi, pada tanggal 20 Desember pun ikut turun tangan ke lokasi mulai dari mengukur, memasang hingga mengecat pipa besi agar Reihan bisa belajar berdiri. “Saya merasa sangat senang sekali dapat membantu Reihan dan juga senang melihat mamanya sudah bisa lebih ringan tidak perlu mengangkat-angkat Reihan lagi,” ungkapnya, “semoga pipa besi ini bisa berguna dan bermanfaat buat Reihan.”
Waktu pun berjalan hingga akhirnya Reihan dan Benedict harus berpisah. Terlihat Reihan masih ingin bermain, namun setelah diberi pengertian akhirnya ia pun mengerti. Lalu mereka pun melakukan foto bersama sebagai kenangan pertemuan mereka saat itu. Bu Cicih mengucapkan terima kasih kepada Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, relawan, dan donatur atas bantuan dan perhatiannya untuk Reihan dan keluarganya.
Fotografer : Ayen (He Qi Utara 2),
Editor : Hadi Pranoto.