Melakukan Praktik Nyata dengan Welas Asih dan Kebijaksanaan
Setiap hari, saya memperhatikan berita internasional dan hal-hal yang terjadi di masyarakat sekarang. Lalu, saya akan berpikir bahwa saya memiliki sekelompok Bodhisattva dunia. Jalinan jodoh sungguh tidak terbayangkan. Orang baik selalu saling berhadapan. Kita semua saling berhadapan dan berhimpun di Tzu Chi. Tzu Chi sungguh telah melakukan banyak hal bagi dunia.
Bodhisattva sekalian, dalam keseharian, kita hendaknya saling berbagi pengalaman dan mengingat kembali kejadian masa lalu. Jalinan jodoh apa yang membawa kalian ke Tzu Chi? Galilah ingatan kalian sejak masa itu dan tulis kisah dan pengalaman kalian dengan baik. Saya selalu berharap dapat melihat kitab sejarah Tzu Chi. Kisah kalian merupakan bagian dari kitab sejarah Tzu Chi.
Pada zaman kita hidup, Tzu Chi didirikan di Taiwan. Para relawan di sini sudah sangat senior. Bersama saya, kita bersama-sama mendirikan Tzu Chi. Begitu pula dengan Cai Kuan yang saya lihat pagi ini. Kita bisa mengenal dan memahami satu sama lain karena kita semua adalah pendiri Tzu Chi. Kitalah yang membangun sejarah Tzu Chi.
Tzu Chi merupakan sebuah keluarga besar. Saya sangat bersyukur memiliki jalinan jodoh baik dengan begitu banyak orang yang bersedia menerima ajaran saya dan mendukung saya menjalankan Tzu Chi. Mendengar begitu banyak orang berbagi pengalaman membutuhkan waktu. Saya telah mendengar dan melihat mereka. Sejak dua tahun lalu, saya berkata, “Hanya saling berbagi pengalaman saja tidaklah cukup. Kita harus menulis sejarah kehidupan kita.”
Setiap orang hendaknya menginventarisasi sejarah kehidupan diri sendiri. Dengan melakukan inventarisasi, selain menumbuhkan jiwa kebijaksanaan diri sendiri, kita juga bisa mewariskannya kepada anak cucu dan membuat orang-orang tahu bahwa ada begitu banyak Bodhisattva dunia di era sekarang.
“Kakak Xu Shu-sheng telah membuat catatan selama 13 tahun menghirup keharuman Dharma. Beliau juga berbagi bahwa dirinya pernah empat kali mendengar ceramah Master, baru memahami ajaran dan menulisnya di buku catatan. Beliau merasa bahwa dengan keahliannya, dia dapat mewariskan ajaran Master,” kata Jian Shu-si, relawan Tzu Chi.
“Saat mengidap kanker, asalkan ada sedikit tenaga, beliau pasti akan mendengar ceramah Master dan menenangkan hati untuk membuat catatan. Halaman ini adalah catatan terakhirnya. Beliau mewariskan Dharma dengan gambar dan telah menulis 29 buku catatan. Kakak Shu-sheng tidak menyesal menapaki Jalan Tzu Chi di kehidupan sekarang,” lanjut Jian Shu-si.
“Kami bersyukur kepada Master yang memotivasi kami untuk menginventarisasi kehidupan diri sendiri. Hari ini, kami ingin mempersembahkan 42 buku ‘Warisan Keluarga’. Kisah banyak relawan di sini ada di dalamnya. Kami bersyukur atas kesempatan yang Master berikan untuk menulis sejarah kehidupan orang-orang. Master berkata bahwa sejarah sangatlah penting. Apa pun yang Master katakan, kami akan menjalankannya. Mari kita bersama-sama menginventarisasi sejarah dan nilai kehidupan masing-masing,” pungkas Jian Shu-si.
Jalinan jodoh setiap orang berbeda-beda. Namun, pada akhirnya, semua bertekad dan berikrar untuk menapaki Jalan Bodhisatwa bersama. Semua ini merupakan kisah nyata. Jika bisa, jejak langkah kita sebagai Bodhisattva di era sekarang hendaknya kita tulis sendiri. Jika tidak bisa menulisnya sendiri, mungkin ada anak kita atau orang lain yang bisa membantu.
Di Tzu Chi, kita mengembangkan welas asih dan kebijaksanaan. Di era ini, kita memiliki jalinan jodoh untuk berhimpun di Tzu Chi. Saat kalian mendengarkan ceramah saya, saya mungkin hanya mengulas sedikit prinsip kebenaran. Namun, dengan kebijaksanaan kalian, kalian menyebarkannya kepada orang-orang sehingga mereka makin memahaminya.
Jika ingin memberikan ceramah, saya harus mencari kisah yang menyentuh di dalam Sutra. Kisah kehidupan kalian juga bagaikan kisah dalam Sutra yang sangat menyentuh. Setiap kisah yang kalian bagikan bagaikan Sutra. Kita hidup di masa kini. Namun, kita memiliki sejarah dari masa lalu. Apa yang terjadi kemarin, itulah sejarah.
Kalian telah mengenal Tzu Chi puluhan tahun dan memiliki sejarah yang panjang. Kalian juga sering bersumbangsih, mendengar, dan melihat. Demikianlah kita mengembangkan kebijaksanaan dan welas asih. Jika sudah lama dan banyak mendengar Dharma, welas asih kita akan bertumbuh. Jadi, dengan menjalankan praktik welas asih, kita dapat memahami kebenaran agung di dunia. Inilah welas asih dan kebijaksanaan.
Kebijaksanaan dan welas asih bagaikan kedua kaki kita. Satu langkah kebijaksanaan dan langkah berikutnya welas asih. Terus melangkah maju dengan welas asih dan kebijaksanaan, ini disebut tekun dan bersemangat. Saya sangat sukacita melihat semua orang bersumbangsih dengan kesungguhan hati dan cinta kasih.
Menulis kitab sejarah dengan kisah kehidupan Bodhisattva dunia