Mempertahankan Cinta Kasih dan Kasih Sayang Misi Kesehatan
“Pada bulan Maret tahun ini, saya mengikuti baksos kesehatan di Kamboja yang dipimpin oleh Wakil Kepala RS Xu. Kebetulan sekali, tempat yang kami tuju bernama Provinsi Pursat dan lokasi kami menginap berada di tepi Sungai Pursat. Kami mengadakan baksos kesehatan di Krakor,” kata Xie Jin-long, Dokter TIMA.
“Hal yang paling berkesan bagi saya ialah ketekunan anak-anak TYDA. Berhubung cuaca di sana sangat panas dan pengap, para penerjemah datang secara bergilir. Namun, mereka datang membantu selama 3 hari penuh. Saya merasa sangat tersentuh. Mereka semua adalah mahasiswa kedokteran. Saya sangat berterima kasih kepada mereka karena telah belajar dengan sungguh-sungguh dan bertahan hingga akhir,” pungkas Xie Jin-long.
Saya sangat berterima kasih kepada para dokter. Beberapa hari terakhir ini, setelah kembali ke Taipei, saya mendengar para dokter berbagi pengalaman. Saya benar-benar merasa sangat dipenuhi berkah. Dalam hidup ini, apa lagi yang saya harapkan? Setiap hari, saya bertemu dengan para dokter dan menghabiskan waktu bersama mereka. Jadi, apa lagi yang diharapkan? Ini sudah membuat saya sangat tersentuh. Memiliki tekad yang sama dalam kehidupan adalah kebahagiaan yang terbesar.
Meski saya bukan seorang dokter, sepanjang hidup saya selalu berjalan bersama para dokter. Beberapa hari yang lalu, saya pergi ke Dalin. Selama di sana, saya menginap di asrama yang sama dengan para dokter. Setiap pagi, saya bertemu dengan para dokter, berkumpul bersama, serta mendengarkan pengalaman yang disampaikan oleh dokter dan perawat. Setiap kali mendengarnya, saya selalu merasa tersentuh.
Meski saya bukan seorang dokter, sepanjang hidup saya selalu berjalan bersama para dokter. Beberapa hari yang lalu, saya pergi ke Dalin. Selama di sana, saya menginap di asrama yang sama dengan para dokter. Setiap pagi, saya bertemu dengan para dokter, berkumpul bersama, serta mendengarkan pengalaman yang disampaikan oleh dokter dan perawat. Setiap kali mendengarnya, saya selalu merasa tersentuh.
Kisah pembangunan Rumah Sakit Tzu Chi Dalin dimulai ketika ketua dewan dan camat Dalin datang ke Hualien untuk meminta agar Tzu Chi membangun sebuah rumah sakit di Dalin. Sebenarnya, di Dalin sudah ada insan Tzu Chi dan saya sendiri telah beberapa kali berkunjung ke sana. Namun, kali itu, mereka secara khusus meminta Tzu Chi untuk membangun rumah sakit di sana. Jadi, saya pergi lagi ke Dalin dan datang ke kantor kecamatan.
Di sana, saya mendengarkan aspirasi banyak orang, mulai dari warga, perwakilan masyarakat, hingga anggota dewan. Mereka semua berkata, “Kami berharap Tzu Chi dapat membangun rumah sakit di Dalin.” Saat itu, pembangunan Rumah Sakit Tzu Chi Hualien baru selesai tahap pertama, hanya gedung bagian depannya saja.
Mereka berkata, “Asal bisa sebesar rumah sakit di Hualien, kami sudah sangat bersyukur.” Saya pun menjawab, “Membangun rumah sakit saja tidak cukup. Kita juga harus membangun asrama dokter. Tanpa asrama, tidak akan ada dokter yang datang. Di Hualien pun kami melakukan hal yang sama. Selain rumah sakit, kami juga membangun asrama yang letaknya tidak jauh dari rumah sakit.”
Mereka berkata, “Master, asalkan Anda bersedia memulainya, kami yakin semuanya tidak akan sulit.” Saya berkata, “Jika Tzu Chi diminta untuk membangun rumah sakit di sini, setidaknya harus tersedia lahan sekitar 20 hektare.” Mereka lalu menghubungi sebuah pabrik gula dengan harapan bisa memperoleh lahan yang luasnya hampir 20 hektare.
A-jing yang juga merupakan salah satu anggota komite Tzu Chi mendengar hal ini dan berkata, “Master, masih kurang 1 hektare lebih. Saya akan pulang dan berdiskusi dengan ayah mertua saya. Kebetulan, lahan di sebelah lahan itu milik keluarga kami.” Dia pun pulang dan menyampaikan hal tersebut kepada ayah mertuanya. Ayah mertuanya langsung menjawab, “Baik, membangun rumah sakit adalah hal yang sangat baik. Jika ada rumah sakit di sini, masyarakat akan lebih terlindungi.”
Saya merasa bahwa semua ini berkat jalinan jodoh. Dari situlah, perencanaan pembangunan rumah sakit dimulai. Akhirnya, Rumah Sakit Tzu Chi Dalin benar-benar dibangun.
Di sana, saya mendengarkan aspirasi banyak orang, mulai dari warga, perwakilan masyarakat, hingga anggota dewan. Mereka semua berkata, “Kami berharap Tzu Chi dapat membangun rumah sakit di Dalin.” Saat itu, pembangunan Rumah Sakit Tzu Chi Hualien baru selesai tahap pertama, hanya gedung bagian depannya saja.
Mereka berkata, “Asal bisa sebesar rumah sakit di Hualien, kami sudah sangat bersyukur.” Saya pun menjawab, “Membangun rumah sakit saja tidak cukup. Kita juga harus membangun asrama dokter. Tanpa asrama, tidak akan ada dokter yang datang. Di Hualien pun kami melakukan hal yang sama. Selain rumah sakit, kami juga membangun asrama yang letaknya tidak jauh dari rumah sakit.”
Mereka berkata, “Master, asalkan Anda bersedia memulainya, kami yakin semuanya tidak akan sulit.” Saya berkata, “Jika Tzu Chi diminta untuk membangun rumah sakit di sini, setidaknya harus tersedia lahan sekitar 20 hektare.” Mereka lalu menghubungi sebuah pabrik gula dengan harapan bisa memperoleh lahan yang luasnya hampir 20 hektare.
A-jing yang juga merupakan salah satu anggota komite Tzu Chi mendengar hal ini dan berkata, “Master, masih kurang 1 hektare lebih. Saya akan pulang dan berdiskusi dengan ayah mertua saya. Kebetulan, lahan di sebelah lahan itu milik keluarga kami.” Dia pun pulang dan menyampaikan hal tersebut kepada ayah mertuanya. Ayah mertuanya langsung menjawab, “Baik, membangun rumah sakit adalah hal yang sangat baik. Jika ada rumah sakit di sini, masyarakat akan lebih terlindungi.”
Saya merasa bahwa semua ini berkat jalinan jodoh. Dari situlah, perencanaan pembangunan rumah sakit dimulai. Akhirnya, Rumah Sakit Tzu Chi Dalin benar-benar dibangun.
Saya juga merasa sangat bersyukur karena pada waktu itu, ketua badan misi kesehatan kita baru saja pulang dari AS. Ketika bertemu beliau, saya merasa sangat bahagia. Saya berkata kepadanya, “Saat diperlukan, murid hendaknya memberikan dukungan. Saat ini, ada sebuah tugas di Dalin. Apakah Anda bersedia pergi ke sana?” Beliau menjawab, “Izinkan saya pulang dan membicarakannya dengan istri saya.” Setelah pulang, beliau benar-benar berdiskusi dengan istrinya, Ci Lian.
Pasangan suami istri ini sudah lama berguru kepada saya. Ci Lian berkata, “Jika Master membutuhkan bantuan dan kamu bersedia pergi, saya juga akan ikut.” Dia sama sekali tidak menghalangi. Keduanya pun kembali ke Taiwan dan menjadi generasi pertama yang merintis Rumah Sakit Tzu Chi Dalin. Saat itu, rumah sakit bahkan belum selesai dibangun. Beliau sudah datang terlebih dahulu untuk mulai membuat perencanaan. Ketika rumah sakit hampir resmi beroperasi, beliau sudah berada di sana untuk membantu.
Pada awalnya, beliau menganggap dirinya sendiri seperti pekerja lainnya. Pada awal mula pembangunan rumah sakit kita, semua pekerjaan harus dilakukan sendiri. Itu semua sungguh berat. Itulah sebabnya saya sering mengatakan bahwa saya sangat beruntung. Sepanjang perjalanan hidup ini, saya mengalami pasang surut, tetapi selalu dipertemukan dengan orang-orang baik yang bersedia membantu saya. Semuanya memiliki kesatuan hati dan tekad.
Sama seperti sekarang, Rumah Sakit Tzu Chi Taipei telah berdiri di sini. Begitu pula TIMA yang terus bertahan tanpa kenal lelah untuk senantiasa melindungi kehidupan dan terus mengadakan baksos kesehatan. Saya benar-benar merasa tersentuh dan bersyukur.
Pasangan suami istri ini sudah lama berguru kepada saya. Ci Lian berkata, “Jika Master membutuhkan bantuan dan kamu bersedia pergi, saya juga akan ikut.” Dia sama sekali tidak menghalangi. Keduanya pun kembali ke Taiwan dan menjadi generasi pertama yang merintis Rumah Sakit Tzu Chi Dalin. Saat itu, rumah sakit bahkan belum selesai dibangun. Beliau sudah datang terlebih dahulu untuk mulai membuat perencanaan. Ketika rumah sakit hampir resmi beroperasi, beliau sudah berada di sana untuk membantu.
Pada awalnya, beliau menganggap dirinya sendiri seperti pekerja lainnya. Pada awal mula pembangunan rumah sakit kita, semua pekerjaan harus dilakukan sendiri. Itu semua sungguh berat. Itulah sebabnya saya sering mengatakan bahwa saya sangat beruntung. Sepanjang perjalanan hidup ini, saya mengalami pasang surut, tetapi selalu dipertemukan dengan orang-orang baik yang bersedia membantu saya. Semuanya memiliki kesatuan hati dan tekad.
Sama seperti sekarang, Rumah Sakit Tzu Chi Taipei telah berdiri di sini. Begitu pula TIMA yang terus bertahan tanpa kenal lelah untuk senantiasa melindungi kehidupan dan terus mengadakan baksos kesehatan. Saya benar-benar merasa tersentuh dan bersyukur.
“Melalui kegiatan baksos pemeriksaan USG di depo daur ulang, hingga saat ini, kami telah menyelesaikan sekitar 8 sesi pemeriksaan dengan total lebih dari 265 peserta. Dari hasil pemeriksaan, sebagian relawan dirujuk untuk melakukan pengobatan lanjutan karena mengalami kelainan, seperti tumor hati, polip kandung empedu, maupun gangguan saluran empedu. Kami berharap para relawan pelestarian lingkungan dapat segera sehat kembali,” kata Su Ming-yao, Wakil Kepala Rumah Sakit Tucheng, New Taipei City.
“Setiap kali ada saudara se-Dharma yang butuh bantuan, baik di RS Chang Gung Linkou maupun Tucheng, saya cukup menelepon, beliau akan segera datang mencurahkan perhatian. Hal yang paling saya kagumi ialah belasan tahun yang lalu, ketika TIMA kekurangan alat USG portabel, beliau mendonasikan satu unit alat tersebut. Istrinya pun diam-diam menjadi relawan di RS Tzu Chi. Beliau bahkan merancang jadwal khusus pemeriksaan untuk relawan pelestarian lingkungan,” kata Xu Rong-yuan, Koordinator TIMA wilayah utara.
“Pada tahun pertama, beliau menjadwalkan sekitar 40 hingga 50 sesi pada hari libur. Hampir seluruh waktu luangnya selama setahun dicurahkan untuk mendampingi relawan pelestarian lingkungan. Tekad beliau ialah mendeteksi sedini mungkin berbagai penyakit yang tersembunyi di dalam tubuh para relawan. Karena itulah, saya sangat mengagumi beliau,” pungkas Xu Rong-yuan.
“Hari ini, saya akan memberikan laporan mengenai baksos kesehatan di Sanzhi. Sanzhi merupakan wilayah pegunungan yang cukup terpencil. Selama puluhan tahun, kami terus berupaya mewujudkan tujuan bersama, yaitu mempraktikkan kebajikan dan memberikan perawatan yang layak bagi para lansia,” kata Lin Jun-jie, Dokter TIMA.
“Tentu saja, kami sangat berterima kasih atas koordinasi dari tim survei kasus. Bersama dengan Huashan Social Welfare Foundation, Pusat Perawatan New Life, dan Pusat Perawatan Gereja Bread of Life, kami saling bekerja sama dan melengkapi kekurangan satu sama lain. Harapan kami, para lansia yang tinggal di daerah terpencil dapat memperoleh pelayanan yang lebih baik dan menyeluruh,” pungkas Lin Jun-jie.
Begitulah Tzu Chi melindungi kehidupan dan kesehatan dengan cinta kasih. Saya selalu mengatakan bahwa kita harus memiliki rasa syukur, rasa hormat, dan cinta kasih. Nilai-nilai inilah yang menjadi arah tujuan kita bersama. Kalau benar-benar ingin diceritakan, perjalanan ini sudah sangat panjang. Semuanya adalah Bodhisatwa yang telah berjalan di jalan ini dalam waktu yang panjang. Ketika saya menghadapi kesulitan, merekalah yang senantiasa memberikan dukungan.
Kasih sayang misi kesehatan menghimpun kekuatan
Menapaki jalan penuh perjuangan dari tiada hingga ada
Melangkah ke pelosok untuk melindungi kehidupan masyarakat terpencil
Mempertahankan cinta kasih dengan rasa syukur dan hormat
Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 21 Juli 2026
Sumber : Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah : Hendry, Marlina, Shinta, Janet, dan Graciela
Ditayangkan Tanggal 23 Juli 2026