Kumpulan Ceramah Master Cheng Yen

Memuji Praktik Bodhisattva dengan Sukacita

Pada malam saat topan melanda, ada 7 relawan yang berjaga di Aula Jing Si, termasuk saya yang juga menginap di sana. Selain itu, ada pula tim relawan pelayanan, konsumsi, dan penyambutan di area jamuan meja. Sejak pukul 4 hingga 5 pagi, sebanyak 23 relawan telah datang satu per satu untuk menempati pos tugas masing-masing,” kata Zhou Ming-xue, relawan Tzu Chi.

Berhubung hari itu kegiatan bekerja dan sekolah diliburkan, kami berpikir bahwa para Bodhisatwa yang tinggal di sekitar sini pasti ingin datang membantu. Meski diminta untuk tidak datang, mereka tetap hadir. Jadi, saya menghubungi mereka satu per satu dan berpesan, ‘Kalau memang memungkinkan, silakan datang. Namun, jika angin dan hujan terlalu kencang, jangan memaksakan diri,” kata Zhang Shu-fen, relawan Tzu Chi.

Ketika pagi-pagi sekali melihat mereka sudah hadir, saya merasa sangat tersentuh. Cinta kasih mereka kepada Master tidak pernah berubah. Mereka menganggap Aula Jing Si ini sebagai rumah mereka sendiri dan menganggap semua orang sebagai satu keluarga. Karena merasa ini adalah urusan keluarga, mereka tidak pernah menolak untuk mengerjakannya,” pungkas Zhang Shu-fen.

Akibat topan kali ini, kami menerima pemberitahuan bahwa seluruh jadwal piket malam dan tugas siaga dari tim Tzu Cheng dibatalkan. Namun, saya berpikir, ‘Saya tinggal sangat dekat. Jika tugas dibatalkan dan tidak ada yang datang, bagaimana mungkin itu dibiarkan?” kata Lin Xin-yi, relawan Tzu Chi.

Pagi itu, saya melihat angin dan hujan belum begitu besar. Berhubung rumah saya sangat dekat, saya merasa tidak boleh tidak datang. Jadi, pukul 4.50 pagi, saya sudah tiba di Aula Jing Si dan langsung membantu di area jamuan meja. Saya melakukannya dengan hati yang penuh sukacita. Selama Master datang, saya pasti akan selalu hadir menjalankan tugas ini,” pungkas Lin Xin-yi.

Setiap kali Master datang, saya selalu berkata, ‘Saya bersedia.’ Ini semua karena saya mengasihi Master dan seluruh keluarga besar Tzu Chi. Saya merasa sukacita bisa memikul tanggung jawab ini. Saya selalu bersedia menjadi orang yang mendukung dan bekerja sama dengan penuh sukacita. Terima kasih, Master,” kata Lin Rui-fen, relawan Tzu Chi.
Mendengar percakapan sederhana dari kalian membuat saya merasa sangat akrab. Namun, setiap kali saya datang, justru membuat banyak orang menjadi sibuk. Dari apa yang saya dengar, saya tahu bahwa kalian semua melakukannya dengan penuh sukacita. Saya merasa sangat bersyukur.
Sesungguhnya, saya juga berharap bahwa selain menjalani kehidupan sehari-hari, kita juga memberi perhatian pada berbagai kegiatan. Terkadang, saya berpikir, “Apakah hidup ini hanya untuk bangun pagi, memasak, makan, membeli sayur, dan bekerja saja?” Sesungguhnya, kita perlu memahami berbagai peristiwa yang terjadi di dunia. Berbagai hal yang dilakukan Tzu Chi di seluruh dunia sangat layak untuk diketahui oleh setiap orang.
Saya sangat berharap semua orang dapat memiliki wawasan yang luas terhadap keadaan dunia. Bukan karena ada tujuan tertentu, tetapi karena jika hidup kita hanya berkisar pada urusan rumah sendiri dan pekerjaan yang harus dilakukan hari ini, pandangan kita akan menjadi sangat sempit. Jika kita mengetahui apa yang sedang dilakukan relawan Tzu Chi di seluruh dunia, lalu menumbuhkan rasa sukacita dan memberikan pujian, Buddha mengatakan bahwa itu merupakan sebuah pahala. Melihat orang lain berbuat baik dan memberikan pujian, pahalanya bagaikan melafalkan nama Buddha puluhan ribu kali.
Setiap tindakan yang dilakukan oleh insan Tzu Chi selalu melibatkan banyak orang dan membawa dampak yang besar. Dalam setiap kegiatan, pasti ada banyak orang yang memikul tanggung jawab dan memuji. Meski kita tidak ikut terlibat secara langsung, selama kita memberi dukungan dan pujian, pahala yang kita peroleh pun sama. Mereka yang melakukannya akan merasakan sukacita lahir dan batin. Meski tidak dapat ikut melakukannya, kita tetap dapat memiliki rasa sukacita yang sama.
Hal yang memang patut dilakukan itu harus dilakukan. Hanya saja, kali ini kita tidak memiliki kesempatan untuk turut serta. Namun, ketika orang lain melakukannya, kita tetap mendukung mereka. Itu sama artinya dengan ikut berpartisipasi. Jadi, hendaknya kita memberikan dukungan, semangat, dan pujian. Semua ini merupakan pahala. Jadi, hendaknya kita semua saling menyemangati. Bukan berarti karena saya mengatakan demikian, lalu kalian cukup duduk di rumah dan hanya memuji orang lain. Bukan seperti itu. Yang dimaksud ialah ketika kalian tidak bisa ikut karena kondisi tertentu, bukan karena disengaja.
Tzu Chi telah memiliki jalinan jodoh ini. Jadi, ketika Tzu Chi melakukan sesuatu, kita dapat menceritakannya kepada orang lain. Katakan bahwa Tzu Chi memiliki relawan yang sedang berada di negara tertentu untuk membawa bantuan bagi mereka yang membutuhkan. Ceritakan bahwa Tzu Chi telah hadir di sana. Kita harus terus menceritakan kepada orang lain tentang apa yang telah kita lakukan. Dengan begitu, akan ada lebih banyak orang yang turut mendukung Tzu Chi dan turut bersukacita. Inilah yang disebut dalam Sutra Teratai, yaitu Bodhisattva memuji praktik Bodhisattva.
Ketika melihat orang lain menciptakan berkah dan berbuat baik, kita harus tahu cara memberikan pujian. Bahkan, sekalipun hanya dalam sebuah permainan, jika kita dapat memberikan pujian, itu merupakan sebuah pahala. Seperti anak kecil yang sedang bermain pasir, ia duduk di tanah, lalu menumpuk pasir hingga membentuk sebuah gundukan. Jika di dalam hatinya ia berpikir, “Saya sedang membangun vihara,” atau, “Saya sedang membangun stupa,” hati yang tulus dalam bermain itu sudah merupakan pahala yang besar.
Anak kecil belum memahami banyak hal, tetapi mereka memiliki hati yang murni. Mereka tahu ingin mempersembahkan sesuatu kepada Buddha dengan membangun stupa. Ketulusan hati seperti itu sudah menciptakan pahala. Itulah ajaran dalam Sutra. Berhubung Sutra mengajarkan demikian, kita pun memahami bahwa Buddha bukan hanya mengajarkan kepada kita untuk berbuat baik, melainkan juga mengajarkan kepada kita agar mendorong, mendidik, dan memuji orang lain yang sedang berbuat baik. Dari hal-hal kecil, kita belajar memahami makna yang besar. Itulah yang harus kita lakukan.
Saya percaya bahwa ketika melihat siapa pun melakukan kebajikan, kita semua akan turut bersukacita. Itulah ketulusan hati yang sejati. Dengan ketulusan hati, kita akan saling memuji dan tim kita akan menjadi indah. Inilah yang disebut dengan kebenaran, kebajikan, dan keindahan. Saya merasa sangat bersyukur.
Saya berharap kita semua menyadari bahwa kita memiliki jalinan jodoh karena dapat hidup pada masa hadirnya Tzu Chi. Sejak kecil hingga dewasa, kita telah mendengar, melihat, bahkan ikut serta dalam berbagai kegiatan Tzu Chi. Baik dilakukan oleh orang lain maupun diri kita sendiri, semua pengalaman itu dapat dikumpulkan untuk melengkapi sejarah Tzu Chi yang dimulai dari Taiwan hingga kini menjangkau seluruh dunia. Inilah jejak kehidupan kita di dunia ini.
Kita pernah menjadi bagian dari kelompok Bodhisattva. Nilai yang kita wariskan kepada anak cucu pun akan menjadi warisan yang sangat bermakna. Jadi, hendaknya semua orang menginventarisasi kehidupan. Gunakanlah pikiran kita untuk mengingat kembali semua pengalaman yang pernah kita lalui. Saya sering mengatakan, “Aktifkanlah otak kita.” Jika tidak digunakan, sel-sel otak kita akan tertidur.
Banyak orang berkata bahwa saat tua, daya ingat akan menurun. Sebenarnya, itu karena kita sendiri tidak menggunakannya. Kita terus berkata bahwa diri sendiri sudah tua. Saya selalu mengingatkan semua orang agar jangan mengaku diri sendiri tua. Saya pun tidak mengaku diri sendiri tua. Nilai kehidupan seseorang bukan ditentukan oleh usia. Yang terpenting ialah, apakah kita melakukan sesuatu? Jika ada melakukan sesuatu, hidup kita memiliki nilai; jika tidak melakukan apa-apa, hidup kita tidak bernilai.
Jika kita datang ke dunia ini hanya untuk menghabiskan sumber daya dengan makan, berpakaian, dan bersenang-senang, lalu apa nilai kehidupan itu? Jadi, hendaknya semuanya menginventarisasi kehidupan. Sekecil apa pun, pasti kita pernah memberikan sumbangsih bagi dunia ini.

Urusan keluarga Tzu Chi tidak lepas dari urusan dunia
Memuji praktik Bodhisattva dengan sukacita
Mengerahkan potensi bajik untuk menciptakan lautan pahala
Menginventarisasi kehidupan dan membawa manfaat bagi dunia

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 13 Juli 2026
Sumber : Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah : Hendry, Marlina, Shinta, Janet, dan Graciela
Ditayangkan Tanggal 15 Juli 2026