Menanam Benih Welas Asih Lewat Tulus Vegetarian di Selatpanjang
Bulan Tujuh dalam kalender lunar kerap disalahartikan oleh sebagian masyarakat sebagai bulan yang penuh kerawanan atau keangkeran. Melalui Program Tulus Vegetarian, Tzu Chi Selat Panjang mengajak masyarakat memahami makna hakikinya sebagai Bulan Penuh Berkah, Bulan Sukacita, Bulan Berbakti, dan Bulan Welas Asih.
Selain membagikan hidangan vegetarian, kegiatan diisi dengan agenda spiritual dan edukatif. Salah satunya adalah Kebaktian Sutra Ksitigarbha yang mengajak relawan dan masyarakat berdoa bersama, memanjatkan rasa syukur, mengikis karma buruk, serta melimpahkan jasa kebajikan kepada leluhur dan seluruh makhluk.
Sosialisasi vegetarian juga digelar untuk memberikan pemahaman mengenai manfaat pola makan vegetarian bagi kesehatan dan lingkungan melalui pengurangan jejak karbon, serta perlindungan terhadap kehidupan hewan.
Keberkahan program semakin terasa berkat dukungan dari umat Vihara Buddha Dharma Selatpanjang. Dukungan diberikan berupa donasi selama dua hari dan penggunaan fasilitas dapur vihara untuk mengolah serta menyediakan hidangan vegetarian. Sinergi antarlembaga keagamaan dan sosial ini menjadi bagian penting dalam kelancaran kegiatan.
Sekitar 20 hingga 25 relawan Tzu Chi Selat Panjang hadir setiap hari dengan penuh sukacita. Mereka berbagi tugas sebagai koordinator, tim logistik, konsumsi dan dapur, kebersihan, serta pendaftaran dan pendataan. Semua bekerja sama dan bahu-membahu untuk menghadirkan kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat.
Dari sana, Venty mulai tertarik mengamati setiap kegiatan di Tzu Chi dan menggali informasi lebih dalam. Sebagai seorang Muslim, ia melihat bahwa gerakan kemanusiaan Tzu Chi bersifat universal, melintasi batas agama, suku, dan ras serta terbuka bagi siapa saja.
Sambutan hangat dan harmonis para relawan juga dirasakannya sejalan dengan nilai-nilai yang ia yakini. Menghormati sesama, saling menolong dalam kebaikan, bertutur kata lembut, dan menghadirkan senyuman menjadi nilai yang menurutnya dekat dengan ajaran Islam.
Meski tergolong relawan baru, Venty dipercaya menjadi koordinator Program Tulus Vegetarian. Kepercayaan ini menjadi kesempatan baginya untuk kembali mengasah keterampilan yang sempat vakum selama sekitar sepuluh tahun, seperti mengatur jadwal kerja dan membangun komunikasi profesional.
Tugas tersebut terasa lebih ringan berkat semangat kebersamaan. Para relawan senior tidak ragu berbagi pengalaman dan memberikan bimbingan, sementara seluruh tim saling mendukung dalam menjalankan tanggung jawab.
Selain mengoordinasikan kegiatan, Venty berkomitmen untuk menjalani pola makan vegetarian selama 15 hari. Tantangan terbesarnya adalah menahan keinginan untuk mengonsumsi daging, ayam, dan ikan.
Ketika lingkungan sekitar mempertanyakan kehalalan makanan vegetarian, Venty menjelaskan dengan tenang bahwa seluruh menu terjamin halal. Ia terlibat langsung dan menyaksikan proses pemilihan bahan hingga penyajiannya.
Pengalaman tersebut memberi perenungan mendalam bagi Venty. Ia merasakan tumbuhnya penghargaan terhadap hak hidup makhluk lain dan kedamaian batin karena tidak ada kehidupan yang berakhir demi makanan yang dikonsumsinya.
“Bagi saya, Tzu Chi menghadirkan ruang kemanusiaan universal yang luar biasa. Semangat saling menghormati dan menghargai perbedaan menjadi jembatan untuk merajut kedamaian bagi seluruh umat manusia,” ungkap Venty.
Hasilnya, tubuh Dinda terasa lebih ringan dan ia tidak mudah begah ataupun mengantuk setelah makan. Baginya, pilihan makanan juga berkaitan dengan nilai welas asih atau Metta.
Langkahnya mendapat dukungan penuh dari sang mama yang turut mengikuti program vegetarian. Kehadiran Mama membuat proses menyiapkan dan menikmati makanan nabati di rumah menjadi lebih menyenangkan.
Sebagai pengalaman pertama, Dinda sempat khawatir akan merasa lemas, cepat lapar, atau bosan. Ia mengatasinya dengan memperbanyak protein nabati seperti tahu, tempe, dan jamur, serta mencari berbagai resep sederhana melalui media sosial. Rasa penasaran juga membuatnya mencoba membuat olahan ikan dan sosis vegetarian.
Menjaga konsistensi di luar rumah menjadi tantangan tersendiri. Saat berkumpul bersama teman, Dinda tetap bersosialisasi, tetapi memilih memesan minuman agar komitmennya tetap terjaga.
Melalui tantangan ini, Dinda berharap tubuhnya tetap ringan dan lincah menjalani aktivitas. Lebih dari itu, ia ingin melatih kesabaran dan kemampuan menahan diri dari keinginan untuk mengonsumsi makanan nonvegetarian.
Dari tangan relawan yang menyiapkan makanan, keberanian Venty melangkah melampaui batas perbedaan, hingga pilihan sederhana Dinda mengubah isi piringnya, semuanya menjadi bagian dari benih cinta kasih yang sama.
Semoga benih welas asih, kedamaian, dan semangat vegetarian yang ditanam bersama terus tumbuh, membawa ketenteraman dan keberkahan bagi Kota Selatpanjang serta seluruh makhluk di bumi.
Jurnalis : Candera (Tzu Chi Selat Panjang),
Fotografer : Candera, Roziyatul Halipah (Tzu Chi Selatpanjang),
Editor : Anand Yahya.