Menapaki Jalan Bodhisattva, Menebarkan Cinta Kasih, dan Menumbuhkan Kebijaksanaan
Pada Minggu pagi, pukul 7.30 WIB, 23 Nopember 2025, dimulailah pelatihan sebagai langkah awal dari 46 relawan Tzu Chi abu putih yang baru memulai menapaki jalan Bodhisattva, dan memupuk ingatan bagi relawan yang sudah tergabung lebih dulu. Pelatihan digelar di Tzu Chi Center Jakarta, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, dengan tajuk Menapaki Jalan Bodhisattva, Menebarkan Cinta Kasih Menumbuhkan Kebijaksanaan.
Tujuan pelatihan yang rutin digelar oleh Yayasan Buddha Tzu Chi bertujuan untuk memberi pembekalan kepada relawan dalam menjalankan misi dan visi Tzu Chi. Relawan adalah garda terdepan dalam melayani masyarakat, maka diperlukan pengenalan dan pembekalan bagi relawan baru, serta memantik lagi semangat bagi relawan terdahulu.
Semangat ini dinyalakan melalui materi perdana tentang sejarah berdirinya Yayasan Buddha Tzu Chi yang dibawakan oleh Baruna. Materi berisi sejarah awal berdirinya Tzu Chi dari sebutir benih tekad oleh Master Cheng Yen, berkembang hingga merambah ke banyak Negara. Dari embrio kecil dirawat tanpa kenal putus asa, menyita tenaga, waktu pikiran, dan segalanya. Kini, bertumbuh menjangkau banyak hati, hingga lintas negeri. Dari beberapa orang yang menyisihkan uangnya dimulailah cahaya kasih yang minim, berangsur menyala bagaikan jutaan lentera hingga menerangi lebih dari 100 negara. Semua berawal dari tekad dan ketulusan bersumbangsih tanpa pamrih, demi menyelamatkan manusia dengan cinta kasih.
Bukan hanya semangat berkegiatan saja yang ditempa pada pelatihan ini, pelatihan budaya humanis turut dibawakan oleh Yonga Wang agar relawan memiliki tatakrama dalam bersikap, berperilaku, berbusana, dan tatakrama dalam menyantap makanan.
Tujuan pelatihan yang rutin digelar oleh Yayasan Buddha Tzu Chi bertujuan untuk memberi pembekalan kepada relawan dalam menjalankan misi dan visi Tzu Chi. Relawan adalah garda terdepan dalam melayani masyarakat, maka diperlukan pengenalan dan pembekalan bagi relawan baru, serta memantik lagi semangat bagi relawan terdahulu.
Semangat ini dinyalakan melalui materi perdana tentang sejarah berdirinya Yayasan Buddha Tzu Chi yang dibawakan oleh Baruna. Materi berisi sejarah awal berdirinya Tzu Chi dari sebutir benih tekad oleh Master Cheng Yen, berkembang hingga merambah ke banyak Negara. Dari embrio kecil dirawat tanpa kenal putus asa, menyita tenaga, waktu pikiran, dan segalanya. Kini, bertumbuh menjangkau banyak hati, hingga lintas negeri. Dari beberapa orang yang menyisihkan uangnya dimulailah cahaya kasih yang minim, berangsur menyala bagaikan jutaan lentera hingga menerangi lebih dari 100 negara. Semua berawal dari tekad dan ketulusan bersumbangsih tanpa pamrih, demi menyelamatkan manusia dengan cinta kasih.
Bukan hanya semangat berkegiatan saja yang ditempa pada pelatihan ini, pelatihan budaya humanis turut dibawakan oleh Yonga Wang agar relawan memiliki tatakrama dalam bersikap, berperilaku, berbusana, dan tatakrama dalam menyantap makanan.
Pada setiap acara Tzu Chi tidak luput diwarnai dengan suka cita penampilan lagu dan isyarat tangan. Tujuan dari Shou Yu (isyarat tangan) adalah, dengan gerakan, memberi makna setiap syair yang dilantunkan supaya menjadi lebih mudah diingat. Dengan gerakan tangan akan melekat sebagai Muscle memory.
Kali ini penampilan Shou Yu berjudul Shou Qian Shou (bergandengan tangan), yang menampilkan gerakan indah, lembut, dan tepat sesuai syair lagu di dalamnya. Penampilan Shou Yu tersebut mengajak penikmatnya untuk bergandengan tangan dalam setiap langkah dalam mengemban misi Tzu Chi dengan cinta kasih.
Kali ini penampilan Shou Yu berjudul Shou Qian Shou (bergandengan tangan), yang menampilkan gerakan indah, lembut, dan tepat sesuai syair lagu di dalamnya. Penampilan Shou Yu tersebut mengajak penikmatnya untuk bergandengan tangan dalam setiap langkah dalam mengemban misi Tzu Chi dengan cinta kasih.
Acara dilanjut dengan materi Tim Tanggap Darurat (TTD) Tzu Chi yang dibawakan oleh Teksan Luis. Materi ini berisi harapan agar semua insan dunia terbebas dari bencana. Namun bila bencana datang, relawan Tzu Chi turut memikul tanggung jawab untuk menghapuskan derita bagi yang tertimpa bencana dengan penuh cinta kasih. Selain itu, tidak hanya membantu meringankan bencana alam, namun juga masalah yang datang karena himpitan ekonomi, salah satunya adalah Program Bebenah Kampung Renovasi Rumah Tidak Layak Huni yang sedang dijalankan dibeberapa kota.
Selain itu, Tzu Chi selalu identik dengan kegiatan amal yang merambah ke berbagai pelosok Indonesia maupun ke banyak negara lainnya. Relawan Tzu Chi bersumbangsih tenaga, waktu, materi demi meringankan beban bagi yang menderita. Pemateri amal kali ini dibawakan oleh Surawaty. Banyak pasien yang terhimpit ekonomi, ada juga beberapa insan yang sangat membutuhkan alat bantu pendengaran, semua itu mampu ditangani dengan sangat baik oleh relawan misi amal Tzu Chi, karena memiliki prinsip dalam memberikan bantuan dengan cepat, tepat, dan langsung.
Selain itu, Tzu Chi selalu identik dengan kegiatan amal yang merambah ke berbagai pelosok Indonesia maupun ke banyak negara lainnya. Relawan Tzu Chi bersumbangsih tenaga, waktu, materi demi meringankan beban bagi yang menderita. Pemateri amal kali ini dibawakan oleh Surawaty. Banyak pasien yang terhimpit ekonomi, ada juga beberapa insan yang sangat membutuhkan alat bantu pendengaran, semua itu mampu ditangani dengan sangat baik oleh relawan misi amal Tzu Chi, karena memiliki prinsip dalam memberikan bantuan dengan cepat, tepat, dan langsung.
Selain materi-materi pokok yang sering disajikan dalam setiap pelatihan, kali ini disajikan pula talkshow menarik tentang para relawan komite yang masih beraroma wangi setelah mengikuti pelantikan di Hualien, Taiwan. Sebelum berangkat menuju Hualien, rombongan relawan calon komite Tzu Chi komunitas He Qi barat 2 dimentori oleh Mei Li Kosasih yang fasih berbahasa Mandarin.
Para relawan komite Tzu Chi memaparkan pengalaman lahir dan batin, maupun kesukacitaan dan tekad yang semakin dipupuk dengan niat murni sebagai relawan. Mereka bukanlah relawan yang telah mencapai titik akhir pencapaian, namun langkah awal untuk semakin mengembangkan tekad.
Para relawan komite Tzu Chi memaparkan pengalaman lahir dan batin, maupun kesukacitaan dan tekad yang semakin dipupuk dengan niat murni sebagai relawan. Mereka bukanlah relawan yang telah mencapai titik akhir pencapaian, namun langkah awal untuk semakin mengembangkan tekad.
Tidak lengkap kiranya bila pelatihan ini tidak dihadirkan tentang DAAI TV, telah banyak masyarakat umum yang mengenal DAAI TV, bahkan banyak dari relawan yang tergerak menjadi insan Tzu Chi berkat tayangan DAAI TV. Televisi cinta kasih ini, adalah satu-satunya televisi tanpa tayangan kekerasan, tanpa jeda komersial, dan hanya menayangkan hal-hal mulia inspiratif dan menggunggah pribadi-pribadi yang berniat bersumbangsih dengan cinta kasih. Banyak tayangan yang dihadirkan, di antaranya progam pembuatan jembatan di Nusa Tenggara Timur.
Semua materi yang disajikan dalam pelatihan berlandaskan cinta kasih yang tulus, mengajak para relawan untuk berempati, tenggang rasa terhadap derita orang lain. Seperti yang dirasakan William Adijaya, relawan Tzu Chi yang telah mengikuti beberapa kegiatan dari pelestarian lingkungan, tim konsumsi, dan kunjungan kasih.
“Saya bahagia mengikuti segala kegiatan, terlebih lagi tersentuh ketika mengikuti kunjungan kasih pada seorang anak usia 10 tahun yang yang terhambat bicaranya. Saya membayangkan betapa sedihnya orang tua anak tersebut,” cerita William.
Semua materi yang disajikan dalam pelatihan berlandaskan cinta kasih yang tulus, mengajak para relawan untuk berempati, tenggang rasa terhadap derita orang lain. Seperti yang dirasakan William Adijaya, relawan Tzu Chi yang telah mengikuti beberapa kegiatan dari pelestarian lingkungan, tim konsumsi, dan kunjungan kasih.
“Saya bahagia mengikuti segala kegiatan, terlebih lagi tersentuh ketika mengikuti kunjungan kasih pada seorang anak usia 10 tahun yang yang terhambat bicaranya. Saya membayangkan betapa sedihnya orang tua anak tersebut,” cerita William.
Hal yang sama juga dirasakan Cinthya sebagai relawan yang telah bergabung menjadi insan Tzu Chi. “Saya akan mengajak serta teman-teman untuk menjadi relawan, agar barisan Bodhisattva semakin panjang dan makin banyak penderitaan orang terselamatkan,” cerita Cinthya.
Salah satu relawan yang baru tergabung di Kebon jeruk 1, Natalia Chandra, bercerita walaupun lelah dalam kondisi cuaca panas tidak menyurutkan semangatnya berbagi terhadap sesama.
“Saya tertarik menjadi relawan Tzu Chi karena dengan menolong orang lain, sebenarnya menolong diri sendiri. Waktu baksos bagi beras yang lalu, walau lelah dan panas dalam membantu orang, tapi ada rasa bahagia yang saya petik, karena bermanfaat bagi orang lain. Prinsip saya, hidup harus menjadi berkat bagi orang lain, seperti ajaran master Cheng Yen. Dan saya sangat bahagia serta terkesan dalam pelatihan hari ini”, tutur Natalia Chandra.
Salah satu relawan yang baru tergabung di Kebon jeruk 1, Natalia Chandra, bercerita walaupun lelah dalam kondisi cuaca panas tidak menyurutkan semangatnya berbagi terhadap sesama.
“Saya tertarik menjadi relawan Tzu Chi karena dengan menolong orang lain, sebenarnya menolong diri sendiri. Waktu baksos bagi beras yang lalu, walau lelah dan panas dalam membantu orang, tapi ada rasa bahagia yang saya petik, karena bermanfaat bagi orang lain. Prinsip saya, hidup harus menjadi berkat bagi orang lain, seperti ajaran master Cheng Yen. Dan saya sangat bahagia serta terkesan dalam pelatihan hari ini”, tutur Natalia Chandra.
Tuntas sudah acara pelatihan relawan abu putih pada pukul 15.00 WIB. Bekal yang disimak dan dibawa di hati masing-masing relawan diharapkan terus melekat dalam setiap langkah dalam menapaki jalan Bodhisatwa, menebarkan cinta kasih, menumbuhkan kebijaksanaan. Bergandengan tangan menulis keajaiban dalam angin dan hujan seperti penggalan syair inspiratif dari Shou Yu yang ditampilkan. Bergandengan tangan menempuh jalan yang masih panjang untuk mampu menciptakan masyarakat harmonis dan aman sentosa di seluruh dunia.
Jurnalis : Ami Haryatmi (He Qi Barat 2),
Fotografer : Mery Hasan, James Yip, Agus DS. (He Qi Barat 2),
Editor : Fikhri Fathoni.
Fotografer : Mery Hasan, James Yip, Agus DS. (He Qi Barat 2),
Editor : Fikhri Fathoni.