Kumpulan Ceramah Master Cheng Yen

Mendedikasikan Diri dan Kehidupan demi Menjalankan Ikrar

“Saat itu, saya bergabung di tim aktivitas Tzu Chi dan Kakak Wang Duan-zheng berkata pada saya, ‘Sebagai tim aktivitas, kamu harus terus mengadakan kegiatan, baru bisa membimbing orang.’ Sejak Tzu Chi mengadakan kegiatan, seluruh Taiwan dipenuhi cinta kasih. Tzu Chi terus mengembangkan sumber daya masyarakat,” ujar Jiang Lin Ya-mei, relawan Tzu Chi.

“Di balik anggota komite Tzu Chi yang sukses, selalu ada pasangan yang sangat berdedikasi. Ayah saya bagaikan narahubung ibu saya. Dahulu, saat orang-orang tidak bisa menemukannya, telepon rumah tidak berhenti berdering. Ayah sayalah yang membuat catatan untuk ibu saya. Kemudian, muncullah ponsel,” kata tutur Jiang Min-zhen, putri Jiang Lin Ya-mei.

“Ayah lalu membeli sebuah ponsel dan menaruhnya di dalam tas Ibu. Ayah selalu membantunya menyalakan ponsel, lalu membantunya mengisi daya saat Ibu pulang. Khawatir Ibu akan menghilangkannya, Ayah bahkan menempelkan nama Ibu satu per satu di ponsel. menempelkan nama Ibu satu per satu di ponsel. Karena itu, ibu saya bisa bersumbangsih sebagai komite Tzu Chi dengan lancar,” pungkas Jiang Min-zhen.

Seiring waktu, kita dapat mengukir banyak sejarah. Di era itu, para relawan mengemban tanggung jawab karena memiliki semangat misi terhadap dunia ini. Jika tidak, apakah Tzu Chi berhubungan dengan mereka? Sesungguhnya, jika orang-orang bertanya apa hubungan Tzu Chi dengan diri mereka, jawabannya ialah tidak ada hubungan apa-apa. Namun, setelah mereka menjalankan misi Tzu Chi, hubungannya menjadi sangat erat.
Jika kita bersungguh hati membantu penerima bantuan, kita akan menjalin jodoh yang sangat mendalam dengan mereka. Jadi, beruntung kalian telah bersumbangsih. Saya mendengar suara Ya-mei sekarang dan masih terdengar sama dengan suaranya puluhan tahun lalu.
“Sejak saya mengidap adenokarsinoma paru-paru dan divonis dokter bahwa hidup saya tinggal setahun, saya selalu mengingat ajaran Master untuk tidak mengkhawatirkan penyakit saya. Saya sangat bersyukur. Karena ajaran Master, hingga kini, saya tidak sedikit pun mengkhawatirkan penyakit saya,” kata Jiang Lin Ya-mei, relawan Tzu Chi.

“Kakak Ya-mei menjalani operasi tenggorokan dan kehilangan suaranya. Dia menulis dengan tangannya, ‘Di kehidupan sekarang, meski tidak bisa berbicara tentang Tzu Chi, saya juga akan menulis tentang Tzu Chi.’ Dalam hati, saya merasa bahwa dia sungguh luar biasa. Saat itu, dia membangkitkan ikrar seperti ini. Sejak saat itu, dia membimbing kami selangkah demi selangkah sehingga kami yang tadinya hanya berjumlah 20-an orang bertambah menjadi 200-an orang,” kata Ji Ya-ying, relawan Tzu Chi.

Saat itu, dia tidak berpikir, “Saya sakit, saya harus menjaga kesehatan saya.” “Saya tidak bisa bersumbangsih karena tak bisa berbicara.” Jika berpikir demikian, dia tidak perlu memikirkan waktu yang terus berlalu. Dahulu, dia pernah bersumbangsih sebagai ketua tim aktivitas. Dialah yang mengatur semua kegiatan. Jadi, dia mengesampingkan kesehatan diri sendiri dan hanya melakukan hal yang benar.
Namun, kini saya selalu mengingatkan semua orang untuk menjaga kesehatan diri sendiri dengan baik. Sesungguhnya, saya juga menjaga kesehatan. Namun, saya juga menggenggam waktu yang ada. Selama ini, kondisi kesehatan saya juga tidak baik, tetapi saya tetap menggenggam waktu untuk menjalankan tugas saya. Saat ini, kesehatan saya tidak membaik, juga tidak memburuk. Demikianlah.
Kita semua sudah untung. Selama puluhan tahun ini, kita telah banyak bersumbangsih. Kita bukan hanya berkembang di Taiwan, tetapi juga menjangkau lebih dari setengah jumlah negara di seluruh dunia. Jadi, jika bukan karena kalian dan saya pantang menyerah dan terus berusaha untuk mengatasi berbagai kesulitan, hari ini kita tidak akan duduk di sini karena tidak ada yang bisa dibicarakan.
“Saat saya menuntut ilmu di Australia, Ibu mendampingi saya.  Beliau juga memperhatikan para relawan di sana. Beliau juga memperhatikan para relawan di sana dan membantu mendirikan Kantor Cabang Tzu Chi Sydney. Saya sangat bersyukur atas semangat yang beliau wariskan sehingga saya dapat bergabung dengan Tzu Chi. Beliau mewariskannya pada saya dan saya bersedia mewarisinya. Saya berharap dapat menginspirasi lebih banyak orang di komunitas agar mereka makin menyukai dan menyayangi Tzu Chi,” kata Jiang Min-zhen, putri Jiang Lin Ya-mei.

“Surat ini ditulis oleh Kakak Ya-mei untuk saya pada 33 tahun yang lalu. Ini dapat membuktikan bagaimana Kakak Ya-mei mewariskan semangat Tzu Chi dan membimbing para murid Jing Si luar negeri. “Kakak Ya-ying, apa kabar? Setelah kembali dari Sydney, sebagai ketua tim aktivitas Tzu Chi Taipei, saya langsung menerima banyak misi dari Master dan sangat sibuk. Saya telah menghubungi pusat manajemen mengenai pengajuan pendirian kantor baru. Setelah dokumen yang dibutuhkan lengkap, kami akan meneruskan prosesnya’,” kata Ji Ya-ying, relawan Tzu Chi.

“Surat ini ditulis pada tahun 1994. Sesungguhnya, saya sangat bersyukur telah bertemu banyak penyelamat dalam hidup ini. Saya akan memanfaatkan setiap detik, menit, dan hari dalam kehidupan saya ini untuk menjalankan Tzu Chi serta membalas budi Master dan semua penyelamat dalam hidup saya,” pungkas Ji Ya-ying.

Saya membangkitkan sebersit niat untuk mendirikan Tzu Chi dan kalian semua mendukung Tzu Chi. Kita bisa bersumbangsih bagi Taiwan dan luar negeri, ini berkat dedikasi setiap relawan kita. Singkat kata, kekuatan cinta kasih sangatlah penting. Cinta kasih ini haruslah cinta kasih agung. Jika kita hanya mengasihi diri sendiri, yang baik-baik saja hanyalah diri sendiri, bukan semua orang.
Jika semua orang baik-baik saja, berarti diri sendiri pun baik-baik saja. Ini sudah pasti. Jika Taiwan damai dan tenteram serta semua orang hidup sejahtera, bukankah itu sangat baik? Jika kita hanya mementingkan diri sendiri tanpa memedulikan kekacauan masyarakat, bagaimana bisa kita hidup tenteram? Saya berharap semua orang dapat mengerti.
Jangan berpikir bahwa kita sudah tua. Belakangan ini, saya mengingatkan orang-orang untuk tidak berpikir bahwa diri sendiri sudah tua atau berusia lanjut. Saya sering berkata bahwa kita tidak boleh menyerah pada usia. Kehidupan tidak pernah berkata bahwa ia sudah tua, manusialah yang berkata bahwa dirinya sudah tua. Kehidupan tidak pernah berkata demikian.
Buddha berkata bahwa setiap orang memiliki hakikat kebuddhaan. Hakikat kebuddhaan adalah hakikat yang sangat murni. Murni berarti tidak ternoda oleh waktu, era, dan kegelapan batin orang-orang. Dengan senantiasa mempertahankan hakikat yang murni, ini disebut tercerahkan. Batin yang tercerahkan ialah batin yang murni tanpa noda. Kita meneladani Buddha demi mencapai pencerahan yang sama.
Kita semua menapaki Jalan Bodhisattva. Jalan Bodhisattva ini sangatlah panjang. Lihatlah Jalan Bodhisattva. Jalan ini adalah jalan tak berujung yang akan berlanjut hingga kehidupan mendatang. Sesungguhnya, ini berkat jalinan jodoh kita dari kehidupan lampau. dari kehidupan lampau.
Semua orang melakukan apa yang saya katakan sehingga makin banyak orang yang bergabung dengan Tzu Chi dan semangat Tzu Chi dapat terus diwariskan. Dari kehidupan ke kehidupan, kita akan Kembali untuk meneruskan misi Tzu Chi. Karena itulah, saat ini, saya juga hendaknya sering melatih kesadaran saya agar tidak lupa untuk “belajar” dan “sadar” serta menapaki Jalan Bodhisattva.
Setelah pergi, saya akan kembali lagi untuk menapaki jalan ini. Saya tetap akan belajar dan sadar. Jadi, dari kehidupan ke kehidupan, kita menapaki Jalan Bodhisattva agar tercerahkan. Inilah yang harus kita pelajari.
Intinya, hendaklah kita mendedikasikan diri dan kehidupan kita. Sepanjang hidup kita, kita sepenuh hati bersumbangsih. Jadi, mendedikasikan diri dan kehidupan sangatlah bernilai. Kita tidak menapaki jalan yang salah, juga tidak menyia-nyiakan waktu. Karena itu, saya ingin bersyukur kepada kalian semua.

Bersumbangsih dengan keyakinan, keberanian, dan keuletan
Mengatasi berbagai kesulitan untuk membimbing semua makhluk
Menapaki Jalan Bodhisattva dengan kesadaran dan praktik yang murni
Mendedikasikan diri dan kehidupan demi menjalankan ikrar

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 09 Februari 2026
Sumber : Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah : Hendry, Marlina, Shinta, Janet, dan Graciela
Ditayangkan Tanggal 11 Februari 2026