Mengantarkan Oma Phan Kin Lan ke Panti Sahabat Baru
Memprihatinkan betul kondisi Oma Phan Kin Lan (76), warga Kapuk Muara, Jakarta Utara. Sekujur kakinya dipenuhi luka melepuh. Satu setengah tahun lalu, ia pernah tertabrak motor. Kakinya luka-luka. Dokter memintanya agar dirawat, namun ia menolak. Luka tersebut tak terawat sehingga kuman berkembang biak.
Kondisinya makin parah karena sudah enam bulan ini ia tak bisa jalan, hanya bisa duduk di kursi. Dua saudaranya juga sama-sama sepuh. Oma Phan Kin Lan makin tak terurus.
Sampai suatu ketika, tetangga yang kebetulan relawan Tzu Chi mengetahui kondisinya dan langsung mengajukan bantuan untuknya. Pada 5 Desember 2021, tim relawan Tzu Chi komunitas He Qi Utara 2 datang ke rumahnya untuk survei. Melihat kondisinya, tim relawan pun langsung menyetujui permohonan bantuan untuk Oma Phan Kin Lan. Ia diberi bantuan pengobatan dan biaya hidup.
“Hari Minggu kami survei, Senin langsung relawan bawa dia ke rumah sakit. Karena kakinya sudah bernanah, bengkak banget,” kata Ayen Rita, relawan Tzu Chi.
Tim relawan lalu membawanya ke Rumah Sakit Cinta Kasih (RSCK) Tzu Chi di Cengkareng. Di sana Oma Phan Kin Lan dirawat selama sepekan. Tim medis RSCK juga memandikannya yang sudah enam bulan tak mandi.
Dengan kondisi Oma Phan Kin Lan yang bisa dibilang lumpuh, tinggal dengan dua saudara yang sama-sama sepuh, tentu bukan solusi. Tim relawan lalu berdiskusi dan usul untuk membawa Oma Phan Kin Lan ke Panti Jompo Sahabat Baru. Usul ini pun disetujui oleh dua saudara Oma Phan Kin Lan.
Di sana Oma Phan Kin Lan akan tinggal sementara. Jika kondisinya membaik, ia dapat pulang kembali. Namun sebelum membawanya ke panti, ada PR yang mesti dikerjakan tim relawan. Oma Phan Kin Lan harus terlebih dulu dimandikan. Sebuah PR yang bisa dibilang tak mudah jika melihat kondisi fisik Oma Phan Kin Lan, serta hampir dua pekan tak mandi itu.
Namun para relawan Tzu Chi komunitas He Qi Utara 2 memang adalah sosok-sosok teladan. Mereka menjalankan tugas tersebut dengan penuh cinta kasih. Pagi-pagi sekali pada Jumat, 24 Desember 2021, tim relawan sudah berada di rumah oma Phan Kin Lan (76), dengan peralatan yang dibutuhkan. Beberapa helai handuk, sabun, shampoo, sikat, guting kuku, gayung dan lainnya.
Adalah Lisfina relawan yang kali ini bertugas sebagai koordinatornya. Tak ada briefing khusus yang ia sampaikan. Para relawan bisa karena keadaan, kemauan, serta kepedulian. Selain itu ada juga relawan yang sudah berpengalaman memandikan ibu mereka yang sakit, yang sedikit banyak lebih paham.
Langkah pertama, tim relawan yang terdiri dari tujuh relawan wanita ini membetulkan posisi duduk Oma Phan Kin Lan agar mudah dimandikan. Setiap relawan punya tugas masing-masing. Ada yang memotong kuku, menggosok badan, mencuci rambut, membersihkan luka kaki yang sudah mulai kering. Semuanya, sampai badan Oma Phan Kin Lan bersih dari kotoran.
Para relawan begitu cekatan, meski Oma Phan Kin Lan banyak mengeluh, lebih karena butuh perhatian. Ketika sudah bersih semuanya, relawan pun memakaikan baju, menyuapi Oma Phan Kin Lan sarapan, dan membantunya meminum obat.
Para relawan dibantu tetangga sekitar lalu membopong Oma Phan Kin Lan ke mobil, menuju Panti Jompo Sahabat Baru. Panti Jompo Sahabat Baru sudah sangat akrab dengan Tzu Chi. Sebelum pandemi Covid-19 tim relawan Tzu Chi sering datang ke panti untuk menghibur dan memberikan para oma-opa di sana.
Setibanya di Panti Jompo Sahabat Baru, tiga suster menyambut tim relawan dan membopong Oma Phan Kin Lan masuk ke dalam. Oma Phan Kin Lan kemudian dicek kondisi kesehatannya.
“Nanti akan tengokin saya kan?” tanya Oma Phan Kin Lan kepada tim relawan Tzu Chi yang mengelilinginya di tempat tidur.
“Makanya berdoa, kalau kami ada waktu, pasti sempat tengokin Oma, doa ya,” jawab Ayen.
Lisfina dan relawan lainnya lega karena Oma Phan Kin Lan berada di tempat yang tepat.
“Harapan saya, harapan relawan semuanya, dia bisa lebih sehat lagi. Ini kan untuk sementara, kalau sudah sehat kembali, bisa balik lagi ke rumah. Jadi harapan kami dia bisa jalan lagi, kondisi kakinya kering,” pungkas Lisfina.
Fotografer : Khusnul Khotimah,
Editor : Arimami Suryo A.