Mengenang Budi Luhur Buddha, Orang Tua dan Semua Makhluk
Kegiatan ini dihadiri 1.312 peserta dari berbagai kalangan seperti relawan, Sangha, donatur, guru, pelajar dan masyarakat umum untuk berdoa bersama. Tujuan dari kegiatan ini sendiri adalah untuk mengenang dan berterima kasih atas budi luhur Buddha, orang tua dan semua makhluk. Waisak mengenang tiga peristiwa utama dalam kehidupan Buddha Gautama, yaitu kelahiran, pencapaian pencerahan dan wafat serta momen bersyukur atas budi jasa Buddha yang telah datang ke dunia sebagai penuntun jalan kebenaran bagi semua makhluk. Hari Ibu mengenang budi luhur orang tua yang telah melahirkan dan membimbing kita dengan kasih sayang dan cinta yang sejalan dengan ajaran Buddha. Hari Tzu Chi Sedunia memperingati hari lahir Pendiri Tzu Chi Master Cheng Yen, dan bersyukur atas budi jasa semua orang yang telah bersumbangsih demi semua makhluk yang menderita.
Setelah prosesi prosesi pemandian rupang Buddha berjalan sempurna, dilanjutkan dengan melantunkan Cheng Xin Qi San Yuan (dengan hati tulus memanjatkan tiga ikrar), pelimpahan jasa dengan Gatha Pemandian Rupang Buddha, dan mengungkapkan rasa hormat paling tinggi melalui prosesi penghormatan paling tulus kepada Buddha, orang tua, dan semua makhluk.
Suasana khidmat berubah menjadi haru saat Chloe Winella membacakan puisi dengan penuh penghayatan. “Ayah adalah gunung yang melindungiku dari hujan… Ibu adalah sungai yang lembut membasahi hatiku… Mereka menyembunyikan cinta dalam kerja keras. Saya adalah pohon kecil, tumbuh dalam cinta. Terima kasih ayah dan ibu, selamanya mencintai rumah kalian,” ungkap Chloe saat membacakan puisinya. Ia pun sangat senang dan bahagia bisa ikut acara pemandian rupang Buddha hari ini.
Diiringi lagu “Gan Xie” (terima Kasih), anak-anak bersimpuh mempersembahkan bunga anyelir dan pelukan kepada ibu mereka. Anak-anak Kelas Budi Pekerti (Qin Zi Ban), Kelas Kata Perenungan Master Cheng Yen (Jing Si Ban), dan Tzu Shao mempersembahkan sekuntum bunga carnation (anyelir) sambil memeluk dengan penuh kasih sayang. Para ibu juga mengucapkan doa yang terbaik bagi buah hati mereka. Suasana haru kemudian mengisi seluruh ruangan karena banyak peserta yang tidak sanggup menahan air mata pada sesi ini.
Saat melihat momen anak-anak melakukan bakti kepada orang tua, Steel Edwin sangat berbahagia. “Kita memberi kesempatan kepada anak-anak untuk menumbuhkan rasa sayang dan terima kasih kepada orang tua. Inilah inti dari ajaran kita,” tuturnya.
Senada dengan itu, Rita yang menjadi koordinator kegiatan menekankan bahwa perayaan Waisak tahun ini terasa Istimewa karena bertepatan dengan hari Waisak, Hari Ibu International, dan peringatan 60 Tahun Tzu Chi Sedunia. “Kehadiran anggota Sangha (Bhikkhu/Bhikkhuni) menambah keagungan ritual prosesi Waisak yang bertujuan menyucikan hati dan meningkatkan rasa cinta kasih terhadap sesama manusia, serta pembentukan formasi TC 60 untuk memperingati hari jadi ke -60 Tzu Chi dan mengenang budi luhur orang tua,” jelas Rita.
Pada perayaan Waisak kali ini, Edy membawa serta 12 murid-murid SMP, SMA dan SMK Sekolah Brigjen Katamso 2 agar generasi muda dapat belajar hal baru dan meneladani makna Waisak secara lebih mendalam. “Dengan mengikuti prosesi, mereka dapat memaknai Waisak secara langsung dengan hati dan pikiran yang jernih, tidak hanya dari buku pelajaran Agama Buddha. Selain itu juga dapat mengembangkan welas asih dan sifat kebuddhaan dalam bathin mereka,” sambung Edy.
“Jadi kebetulan kita bilang hari ini adalah hari bagus. Kalau penanggalan di kalender Tionghoa, tanggal 10 Mei itu bagus. Kita sangat gembira kedatangan relawan Tzu Chi dan para peserta. Dengan adanya perayaan Waisak di Sekolah Cinta Budaya ini tentu saja saya berharap umat Buddha, masyarakat umum, serta murid kita sebagai generasi muda tahu akar budayanya, tahu akan makna dan mengapa kita memperingati Waisak,” tegas Heriyanto.
Hari Waisak tidak sekadar dirayakan, tapi hendaknya menjadi refleksi dalam setiap individu, mendalami makna dan menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Pemandian rupang Buddha hanyalah sebuah simbolis dan hendaknya dimaknai dengan merefleksi diri, membersihkan batin dan melenyapkan kegelapan bathin serta membangkitkan sifat kebuddhaan dalam hati setiap orang. Master Cheng Yen senantiasa mengajak insan Tzu Chi dan semua orang untuk mengembangkan dan memunculkan sifat Buddha yang pada dasarnya ada dalam batin setiap orang, sesuai dengan kata perenungan Master Cheng Yen. “Hari Waisak bukan hanya memperingati kelahiran Buddha, tapi untuk membangkitkan sifat kebuddhaan dalam hati setiap orang. Kita harus menjadikan setiap hari sebagai Waisak dengan menjalani hidup penuh welas asih, kebijaksanaan dan ketulusan”.
Fotografer : Liani, Kamin, Lily Hermanto, Lim Hung Jeng, Soit, Gunawan (Tzu Chi Medan),
Editor : Arimami Suryo A.