Menghormati Guru, Mementingkan Ajaran, dan Memperdalam Akar Kebajikan
Kita tetap harus menggenggam benih dan kondisi yang baik serta waktu yang tepat. Ini sangatlah penting. Lihatlah, dalam upacara kelulusan, sebagian murid menangis, begitu pula dengan para guru. Mereka telah berinteraksi selama bertahun-tahun. Kita sungguh harus memandang penting jalinan kasih sayang antara guru dan murid.
Dahulu, jalinan kasih sayang ini lebih erat. Kini, dari tahun ke tahun, jalinan kasih sayang ini makin renggang. Saya sungguh merasakan bahwa jalinan kasih sayang antara guru dan murid tidak seerat dahulu. Nilai jalinan kasih sayang antara guru dan murid dan nilai keyakinan sudah menurun di mata banyak orang. Karena itulah, terkadang saya merasa sangat khawatir.
Akan tetapi, khawatir juga tidak ada gunanya. Meski tidak ada yang bisa saya lakukan, tetapi saya tetap menaruh harapan. Bagaimanapun, sekolah-sekolah Tzu Chi didirikan oleh organisasi Buddhis. Saya selalu menghormati agama-agama lain. Saya bersyukur kepada semua guru yang datang ke Hualien, bergabung dengan Tzu Chi, dan penuh semangat dedikasi.
Guru harus memiliki semangat memberi dengan sukacita. Memberi dengan sukacita berarti mengajarkan semua yang mereka pelajari. Demikianlah para guru mendidik murid-murid dengan tulus. Hendaklah murid-murid bersyukur kepada para guru.
Kita harus berusaha untuk memulihkan jalinan kasih sayang antara guru dan murid. Bagaimanakah hendaknya jalinan kasih sayang antara guru dan murid? Guru bagaikan orang tua. “Guru sehari, orang tua seumur hidup.” Orang-orang zaman dahulu sering berkata demikian. Guru yang pernah mengajar kita sehari akan selamanya menjadi orang tua kebijaksanaan kita.
Dahulu, jalinan kasih sayang ini lebih erat. Kini, dari tahun ke tahun, jalinan kasih sayang ini makin renggang. Saya sungguh merasakan bahwa jalinan kasih sayang antara guru dan murid tidak seerat dahulu. Nilai jalinan kasih sayang antara guru dan murid dan nilai keyakinan sudah menurun di mata banyak orang. Karena itulah, terkadang saya merasa sangat khawatir.
Akan tetapi, khawatir juga tidak ada gunanya. Meski tidak ada yang bisa saya lakukan, tetapi saya tetap menaruh harapan. Bagaimanapun, sekolah-sekolah Tzu Chi didirikan oleh organisasi Buddhis. Saya selalu menghormati agama-agama lain. Saya bersyukur kepada semua guru yang datang ke Hualien, bergabung dengan Tzu Chi, dan penuh semangat dedikasi.
Guru harus memiliki semangat memberi dengan sukacita. Memberi dengan sukacita berarti mengajarkan semua yang mereka pelajari. Demikianlah para guru mendidik murid-murid dengan tulus. Hendaklah murid-murid bersyukur kepada para guru.
Kita harus berusaha untuk memulihkan jalinan kasih sayang antara guru dan murid. Bagaimanakah hendaknya jalinan kasih sayang antara guru dan murid? Guru bagaikan orang tua. “Guru sehari, orang tua seumur hidup.” Orang-orang zaman dahulu sering berkata demikian. Guru yang pernah mengajar kita sehari akan selamanya menjadi orang tua kebijaksanaan kita.
Asalkan ada satu ajaran guru yang selamanya kita ingat, itu akan menjadi gen kebijaksanaan yang masuk ke dalam kebijaksanaan kita. Jadi, dalam kebijaksanaan kita terdapat warisan cinta kasih. Kalian juga dapat seumur hidup menjalankan ajaran guru kalian.
Guru saya juga memberi saya beberapa kata yang tak lepas dari kehidupan saya dan telah menjadi jiwa kebijaksanaan saya. Beliau hanya berkata, “Kita memiliki jalinan jodoh yang istimewa. Saat ini, saya tidak bisa berbicara banyak padamu. Intinya, kamu harus ingat untuk berjuang demi ajaran Buddha dan semua makhluk.”
Semua ini terjadi dalam waktu kurang dari dua menit. Dari saya bersujud, beliau memberikan pesan, hingga saya kembali bersujud dan berdiri, prosesnya kurang dari dua menit. Namun, saya menjalankan pesan beliau seumur hidup.
Saya mendirikan Tzu Chi juga karena pesan guru saya untuk berjuang demi ajaran Buddha dan semua makhluk. Bagaimana cara saya berjuang demi ajaran Buddha? Saya teringat akan penderitaan di dunia. Di dunia ini, terdapat berbagai jenis penderitaan. Namun, penderitaan terbesar ialah kemiskinan dan penyakit. Karena itulah, saya mulai menolong orang kurang mampu.
Namun, bagaimana saya menolong mereka? Saya mulai membangkitkan kekayaan batin orang-orang. Saya tidak berani meminta orang untuk berdonasi dalam jumlah besar. Saya hanya berkata, “Saat hendak pergi ke pasar untuk berbelanja, ingatlah untuk menyisihkan 50 sen dari uang belanja. Ini tidak akan memengaruhi makanan kalian.” Jadi, Tzu Chi bermula dari praktik donasi 50 sen.
Guru saya juga memberi saya beberapa kata yang tak lepas dari kehidupan saya dan telah menjadi jiwa kebijaksanaan saya. Beliau hanya berkata, “Kita memiliki jalinan jodoh yang istimewa. Saat ini, saya tidak bisa berbicara banyak padamu. Intinya, kamu harus ingat untuk berjuang demi ajaran Buddha dan semua makhluk.”
Semua ini terjadi dalam waktu kurang dari dua menit. Dari saya bersujud, beliau memberikan pesan, hingga saya kembali bersujud dan berdiri, prosesnya kurang dari dua menit. Namun, saya menjalankan pesan beliau seumur hidup.
Saya mendirikan Tzu Chi juga karena pesan guru saya untuk berjuang demi ajaran Buddha dan semua makhluk. Bagaimana cara saya berjuang demi ajaran Buddha? Saya teringat akan penderitaan di dunia. Di dunia ini, terdapat berbagai jenis penderitaan. Namun, penderitaan terbesar ialah kemiskinan dan penyakit. Karena itulah, saya mulai menolong orang kurang mampu.
Namun, bagaimana saya menolong mereka? Saya mulai membangkitkan kekayaan batin orang-orang. Saya tidak berani meminta orang untuk berdonasi dalam jumlah besar. Saya hanya berkata, “Saat hendak pergi ke pasar untuk berbelanja, ingatlah untuk menyisihkan 50 sen dari uang belanja. Ini tidak akan memengaruhi makanan kalian.” Jadi, Tzu Chi bermula dari praktik donasi 50 sen.
Belakangan ini, insan Tzu Chi dari berbagai negara berangsur-angsur kembali ke Taiwan. Saya selalu mengingatkan semua orang untuk bersumbangsih dengan cinta kasih. Saya berbagi kisah celengan bambu dengan mereka agar mereka dapat menyisihkan dana kecil setiap hari. Jadi, tanpa memengaruhi kehidupan sehari-hari, kita dapat bersumbangsih bagi semua makhluk di dunia. Ini dapat dilakukan oleh setiap orang.
Jika murid-murid kita dapat memahami apa yang saya katakan, mereka juga dapat menyisihkan uang setiap hari untuk menolong orang yang menderita di seluruh dunia. Untuk belajar menjadi orang yang baik, kita harus terlebih dahulu belajar mengasihi. Saat anak-anak masih berada dalam dekapan orang tua, orang tua memberi mereka perhatian dan cinta kasih. Sejak kecil, anak-anak selalu dekat di hati sang ibu karena sang ibu selalu merangkul mereka erat-erat. Jadi, hati anak dan ibunya sangatlah dekat.
Setiap orang memperoleh pendidikan prenatal saat masih berada dalam kandungan. Setelah sang bayi lahir, ibunya harus bekerja keras untuk merawatnya. Pendidikan dan cinta kasih sang ibu selalu terlebih dahulu diberikan pada anaknya karena anaknya berada dalam kandungannya selama 8 hingga 9 bulan. Anak juga belajar dari perilaku dan ucapan ibunya.
Jika murid-murid kita dapat memahami apa yang saya katakan, mereka juga dapat menyisihkan uang setiap hari untuk menolong orang yang menderita di seluruh dunia. Untuk belajar menjadi orang yang baik, kita harus terlebih dahulu belajar mengasihi. Saat anak-anak masih berada dalam dekapan orang tua, orang tua memberi mereka perhatian dan cinta kasih. Sejak kecil, anak-anak selalu dekat di hati sang ibu karena sang ibu selalu merangkul mereka erat-erat. Jadi, hati anak dan ibunya sangatlah dekat.
Setiap orang memperoleh pendidikan prenatal saat masih berada dalam kandungan. Setelah sang bayi lahir, ibunya harus bekerja keras untuk merawatnya. Pendidikan dan cinta kasih sang ibu selalu terlebih dahulu diberikan pada anaknya karena anaknya berada dalam kandungannya selama 8 hingga 9 bulan. Anak juga belajar dari perilaku dan ucapan ibunya.
Setiap anak hendaknya senantiasa berpikir untuk membalas budi luhur orang tua. Kita harus senantiasa ingat, “Tubuh saya diberikan oleh orang tua saya untuk bersumbangsih. Saya ada berkat orang tua saya.” Intinya, kita harus bersyukur atas budi luhur orang tua, guru, dan Buddha.
Saya menaruh harapan pada misi pendidikan kita. Jika memiliki waktu luang, saya harap kalian juga dapat mempelajari ajaran Buddha. Saya harap para murid dan guru dapat bersama-sama mencari tahu bagaimana memadukan ajaran Buddha dan pendidikan. Ini sungguh sangat dibutuhkan. Singkat kata, semoga para peserta didik kita dapat bersungguh-sungguh mendalami Dharma dan ilmu pengetahuan.
Untuk mendalami Dharma dan ilmu pengetahuan serta mengembangkan kebijaksanaan, kalian membutuhkan guru. Karena itu, kalian harus menghormati guru dan mementingkan ajaran. Para guru memiliki kewajiban untuk mengajarkan semua yang dipelajari pada murid-murid mereka. Demikianlah jalinan kasih sayang antara guru dan murid.
Saya menaruh harapan pada misi pendidikan kita. Jika memiliki waktu luang, saya harap kalian juga dapat mempelajari ajaran Buddha. Saya harap para murid dan guru dapat bersama-sama mencari tahu bagaimana memadukan ajaran Buddha dan pendidikan. Ini sungguh sangat dibutuhkan. Singkat kata, semoga para peserta didik kita dapat bersungguh-sungguh mendalami Dharma dan ilmu pengetahuan.
Untuk mendalami Dharma dan ilmu pengetahuan serta mengembangkan kebijaksanaan, kalian membutuhkan guru. Karena itu, kalian harus menghormati guru dan mementingkan ajaran. Para guru memiliki kewajiban untuk mengajarkan semua yang dipelajari pada murid-murid mereka. Demikianlah jalinan kasih sayang antara guru dan murid.
Para guru mengajar dengan sukacita dan tulus
Menghormati guru dan berbakti kepada orang tua lewat tindakan nyata
Membangkitkan kekayaan batin untuk menolong yang kurang mampu
Menantikan terbentuknya hutan Bodhi di masa mendatang
Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 08 Juni 2026
Sumber : Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah : Hendry, Marlina, Shinta, Janet, dan Graciela
Ditayangkan Tanggal 10 Juni 2026