Mengikis Ego di Universitas Kehidupan: Catatan dari Bedah Buku Guru Kendo
Diskusi ini tidak sekadar mengulas seni bela diri tradisional Jepang, tetapi juga mengupas nilai-nilai filosofis tentang pembentukan karakter, kedisiplinan, ketangguhan mental, serta proses pembelajaran dalam kehidupan. Lebih dari itu, kisah ini menjadi perjalanan batin yang mengajak setiap orang untuk bercermin dan melihat kembali ke dalam dirinya sendiri.
Cerita berpusat pada perjalanan seorang pemuda yang memiliki ambisi besar untuk menguasai ilmu Kendo dengan cepat. Namun, harapannya berubah ketika bertemu dengan sang guru. Alih-alih langsung mempelajari teknik bertarung tingkat tinggi, ia justru diminta menjalani latihan dasar yang panjang, berulang, dan melelahkan.
Perjalanan tersebut membuat konsentrasinya goyah dan dipenuhi rasa frustrasi. Ia merasa sang guru hanya mengulur waktu, sementara dirinya telah dikuasai oleh ego serta keinginan memperoleh hasil secara instan. Tanpa disadari, rutinitas yang tampak membosankan itu justru menjadi cara sang guru membangun fondasi batinnya.
Melalui proses yang panjang, perlahan tumbuh kesadaran baru dalam dirinya. Ia mulai memahami bahwa ketekunan, pengendalian diri, serta ketenangan batin merupakan kunci utama dalam menyelesaikan latihan Kendo sekaligus menjalani kehidupan dengan lebih bijaksana.
“Saya merasa bahwa di dunia Tzu Chi ini seperti Universitas Kehidupan. Tempat di mana kita dapat melatih kedisiplinan, karakter, mengendalikan emosi, sekaligus memupuk kesabaran,” ujar Willey.
Ia juga mengingatkan pesan Master Cheng Yen bahwa semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar pula kerendahan hati yang harus dimiliki. Willey mengutip filosofi padi yang semakin berisi semakin merunduk. Menurutnya, dalam universitas kehidupan tidak ada kata tamat untuk belajar, sebab setiap orang dapat menjadi guru bagi kita.
Yanti Yunita menambahkan bahwa proses mempelajari keterampilan apa pun tidak dapat dilakukan secara tergesa-gesa.
“Semua harus dimulai dengan membangun kesabaran dan menumbuhkan keyakinan dalam hidup,” tutur Yanti.
Kisah Guru Kendo menggambarkan perjalanan seorang murid yang sempat merasa jenuh dan frustrasi karena harus menjalani latihan yang dilakukan berulang-ulang. Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan instan, cerita ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan tidak pernah dicapai dalam semalam.
Melalui bimbingan sang guru, murid tersebut akhirnya memahami dua kunci penting dalam menguasai Kendo maupun menjalani kehidupan.
Pertama adalah ketekunan yang berkelanjutan. Tidak ada keahlian yang diperoleh secara instan, karena setiap potensi memerlukan proses pembelajaran yang konsisten.
Kedua adalah ketenangan batin atau samadhi, yaitu kemampuan untuk menundukkan ego, mengikis kesombongan, serta membuka diri terhadap kritik agar terus berkembang. Ketika batin menjadi tenang, seseorang dapat melihat keadaan dengan lebih jernih dan bijaksana.
Kedua narasumber pun menyimpulkan bahwa kemenangan sejati bukanlah ketika pedang berhasil menyentuh lawan, melainkan saat seseorang mampu berdamai dengan dirinya sendiri dan melepaskan keterikatan pada ego.
Diskusi semakin hidup ketika memasuki sesi tanya jawab. Yanti Yunita membagikan perjalanan hidupnya yang penuh perjuangan. Berasal dari Kisaran, ia harus menghadapi rasa khawatir dan ketidakpastian demi memperoleh pendidikan yang lebih baik di Kota Medan.
Melalui ketekunan serta kesabaran dalam menjalani proses belajar, kini Yanti berhasil berkarier di bidang mikrobiologi, salah satu subspesialisasi ilmu biologi. Pengalaman tersebut menjadi bukti nyata bahwa proses yang dijalani dengan sungguh-sungguh pada akhirnya akan membuahkan hasil yang indah.
Teti, salah seorang peserta, menyampaikan bahwa dalam perjalanan di Tzu Chi terdapat berbagai tahapan yang perlu dilalui untuk bertumbuh menjadi insan Tzu Chi sejati, mulai dari melatih diri, menggalang hati, hingga menggalang dana.
“Ketekunan, kesabaran, ketelitian, dan keyakinan harus selalu menyertai kehidupan, apa pun profesinya,” ujarnya.
“Jika kita sungguh-sungguh dalam melatih diri, apa pun yang dikerjakan dengan sepenuh hati akan menghasilkan keberhasilan,” tutur Elena.
Musidin dan Cynthia Yaputri juga membagikan pengalaman mereka selama menjadi relawan Tzu Chi sebagai kesempatan untuk terus melatih diri, belajar bersyukur, serta menikmati keberkahan bersama.
“Aura Jing Si sangat baik. Master Cheng Yen berharap kita memiliki ruang untuk menenangkan diri sejenak, membaca buku-buku kehidupan, serta menemukan jawaban atas berbagai keresahan hati,” ungkap Jusni.
Ia juga menjelaskan bahwa seluruh hasil dari produk yang dijual di Jing Si Books & Cafe dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan makanan dan akomodasi para relawan maupun tamu yang berkunjung ke Hualien, Taiwan, sebagai bentuk dukungan terhadap misi kemanusiaan Tzu Chi.
Kegiatan bedah buku yang penuh inspirasi ini akhirnya ditutup dengan penghormatan kepada Buddha dan Master Cheng Yen. Para peserta pun pulang membawa pemahaman baru bahwa kehidupan adalah proses panjang untuk melatih hati, mengikis ego, menumbuhkan kesabaran, serta menemukan kebahagiaan sejati melalui perjalanan yang dijalani dengan ketulusan.
Fotografer : Lim Hung Jeng (Tzu Chi Medan),
Editor : Anand Yahya.