Menjaga Keseimbangan Batin, Menumbuhkan Kebajikan
Pada hari Minggu, 6 September 2026, Tzu Chi Pekanbaru kembali mengadakan ramah tamah bersama Gan En Hu (penerima bantuan Tzu Chi) di Kantor Tzu Chi Pekanbaru. Pertemuan yang rutin diadakan setiap bulan ini dihadiri oleh 87 Gan En Hu dan disambut oleh 38 relawan Tzu Chi Pekanbaru.
Kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan dilanjutkan dengan doa bersama. Ramah tamah kali ini mengangkat tema “Tarik-Menarik antara Kebajikan dan Kejahatan”. Dari pikiran hingga menjadi sebuah tindakan, selalu ada tarik-menarik antara sisi kebajikan dan kejahatan. Niat baik dan buruk di dalam hati manusia bagaikan dua sisi timbangan. Ketika salah satunya bertambah sedikit saja, keseimbangan dapat bergeser ke arah tersebut.
“Menurut saya, berbuat kebaikan bukan berarti kita harus berbuat baik kepada semua orang. Kita dapat berbuat baik semampu kita,” ucap Ibu Wiwi pada sesi ramah tamah.
Lina menjelaskan kepada para Gan En Hu, “Jika kita memiliki niat yang buruk, timbangan dalam diri kita akan condong ke arah yang buruk pula. Demikian sebaliknya, orang yang mampu mengembangkan hati penuh welas asih, segala perbuatan dan perkataannya akan bermanfaat bagi dunia dan menciptakan berkah bagi sesama.”
Pesan tentang pentingnya menumbuhkan kebajikan juga dibagikan oleh M. Rizki dalam sesi sharing. Ia menceritakan bagaimana sang ibu membimbingnya untuk memegang teguh prinsip kebenaran.
“Dalam hal membimbing anak agar memegang teguh prinsip kebenaran, ibu saya melakukannya dengan cara yang selalu sabar dan mencontohkan hal yang baik. Dari sana, saya belajar bahwa sebuah perbuatan baik lebih berharga daripada ucapan bagi seorang anak,” tutur M. Rizki.
“Dalam hal membimbing anak agar memegang teguh prinsip kebenaran, ibu saya melakukannya dengan cara yang selalu sabar dan mencontohkan hal yang baik. Dari sana, saya belajar bahwa sebuah perbuatan baik lebih berharga daripada ucapan bagi seorang anak,” tutur M. Rizki.
Kesabaran dan keteladanan menjadi pelajaran penting dalam membimbing anak. Perbuatan baik yang dilakukan secara nyata dapat menjadi contoh sekaligus menanamkan niat yang penuh kebajikan dalam diri mereka.
Para Gan En Hu kemudian diajak menyaksikan video berjudul Kejujuran. Tayangan tersebut mengingatkan bahwa buah dari kejujuran adalah hasil yang baik. Walaupun manfaatnya belum tentu dapat dirasakan saat ini, kebaikan yang ditanam dapat dirasakan oleh anak dan cucu pada masa mendatang.
Bapak Stefanus juga membagikan pengalaman kepada para Gan En Hu. Ketika masih aktif mengajar, ia pernah menjumpai seseorang yang mengalami kecelakaan. Saat itu, ia sedang bergegas menuju sekolah. Banyak orang di sekitar lokasi terlihat takut untuk menolong, mungkin karena khawatir menjadi saksi atau menghadapi risiko.
Dihadapkan pada dua pilihan, Bapak Stefanus akhirnya memutuskan untuk menolong korban kecelakaan tersebut.
“Walau terlambat masuk kerja, dalam hati saya sangat bersyukur bisa membantu orang yang membutuhkan bantuan,” ucap Bapak Stefanus.
Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa berbuat baik terkadang membutuhkan keberanian untuk mengambil keputusan di tengah berbagai pertimbangan. Namun, ketika hati tergerak untuk membantu, ada kebahagiaan tersendiri setelah dapat meringankan penderitaan orang lain.
Acara ramah tamah juga diisi dengan penuangan celengan bambu. Dengan semangat menciptakan berkah kembali, satu per satu Gan En Hu menuangkan celengan cinta kasih mereka. Donasi yang terkumpul kali ini akan disatukan untuk membantu saudara-saudara yang membutuhkan di Nepal. Melalui celengan bambu, para Gan En Hu juga mendapatkan kesempatan untuk berbagi dan turut berbuat kebajikan.
Kegiatan ramah tamah Gan En Hu kemudian ditutup dengan bahasa isyarat tangan melalui lagu Satu Keluarga. Para relawan dan Gan En Hu bersama-sama memperagakan isyarat tangan dalam suasana hangat setelah melepas rindu dalam pertemuan yang hanya berlangsung satu bulan sekali.
Pada akhir pertemuan, relawan Tzu Chi membagikan masker kepada para Gan En Hu untuk digunakan di tengah kabut asap yang menyelimuti Kota Pekanbaru. Bantuan sederhana ini menjadi bentuk perhatian relawan terhadap kondisi para penerima bantuan.
Pada akhir pertemuan, relawan Tzu Chi membagikan masker kepada para Gan En Hu untuk digunakan di tengah kabut asap yang menyelimuti Kota Pekanbaru. Bantuan sederhana ini menjadi bentuk perhatian relawan terhadap kondisi para penerima bantuan.
Melalui ramah tamah ini, para Gan En Hu tidak hanya mendapatkan kesempatan untuk bersilaturahmi, tetapi juga diajak kembali melihat ke dalam diri. Di tengah tarik-menarik antara kebajikan dan kejahatan, setiap niat dan tindakan menjadi pilihan. Menjaga keseimbangan batin dan terus menumbuhkan niat baik menjadi langkah sederhana untuk menghadirkan lebih banyak berkah dalam kehidupan.
Jurnalis : Dea Paramita (Tzu Chi Pekanbaru),
Fotografer : Asriani, Dea Paramita (Tzu Chi Pekanbaru),
Editor : Anand Yahya.
Jurnalis : Dea Paramita (Tzu Chi Pekanbaru),
Fotografer : Asriani, Dea Paramita (Tzu Chi Pekanbaru),
Editor : Anand Yahya.