Kumpulan Ceramah Master Cheng Yen

Menjaga Tekad dan Menjalankan Ajaran dalam Jangka Panjang

“Bertemu dengan Anda kali ini, saya sangat tersentuh. Pertama-tama, saya ingin berterima kasih kepada Anda atas nama pribadi. Bertahun-tahun yang lalu, terhadap kepala RS Santa Maria Luodong, Pastor Antonio Didone, Master sering mencurahkan perhatian dan cinta kasih. Ini membuatnya sangat tersentuh. Saya adalah adik kandungnya. Saya berterima kasih kepada Master atas kepedulian dan perhatian Master terhadapnya saat itu,” kata Pastor Giuseppe Didone.

“Selain itu, Pusat Disabilitas Intelektual Santo Camillus telah dijalankan selama 39 tahun. Dalam kurun waktu ini, kami merawat banyak anak penyandang disabilitas. Dahulu, lokasinya di Dongshan. Lalu, kami mendirikan gedung baru di Sanxing. Saat itu, Master juga menunjukkan kepedulian dalam hal ini dan membantu kami memasang lift yang sangat kokoh demi keselamatan anak-anak ini,” pungkas Pastor Giuseppe Didone.

“Pastor merawat para penyandang disabilitas, dari yang berusia 5 tahun hingga yang berusia 80-an tahun. Para penyandang disabilitas ini berasal dari keluarga yang kondisinya sangat sulit. Karena itu, kami juga membutuhkan sumber daya medis untuk mereka dan Tzu Chi memberikan banyak bantuan dalam hal ini. Saat kami menyampaikan kondisi keluarga mereka kepada relawan Tzu Chi Yilan, para relawan selalu membantu tanpa berpikir dua kali. Karena itu, kami sungguh berterima kasih pada kalian,” kata Huang Yu-wen, Kepala Pusat Disabilitas Intelektual Santo Camillus.
Saya sungguh sangat tersentuh. Bagi saya, semua agama pada dasarnya sama. Semua agama memiliki satu tujuan yang sama, yaitu cinta kasih. Baik agama Katolik, Kristen Protestan, Buddha, maupun Islam, semuanya mengajarkan banyak prinsip kebenaran dan semua prinsip kebenaran itu tak jauh dari cinta kasih. Baik menggunakan istilah rahmat, cinta kasih agung, maupun kasih, semuanya adalah cinta kasih. Cinta kasih adalah harapan dalam kehidupan manusia.
Para pemuka agama dari setiap agama juga memiliki arah yang sama, yaitu melayani masyarakat dan bersumbangsih bagi orang yang menderita. Jadi, semuanya sama. Hanya saja, terdapat perbedaan era, negara, dan budaya sehingga terbentuklah “keyakinan Barat” dan “keyakinan Timur”. Sesungguhnya, semua keyakinan pada dasarnya sama. Saya sendiri selalu berpegang pada semangat, filosofi, dan arah yang sama, yaitu cinta kasih. Karena itulah, saya tidak membeda-bedakan agama.
Meski merupakan seorang umat Buddha, saya merasa bahwa istilah agama yang berbeda-beda muncul karena perbedaan era dan negara. Semua agama pada dasarnya sama. Terlebih lagi, dalam agama Buddha dan Katolik, saya mendapati bahwa pastor, biarawati, dan kaum monastik Buddhis memiliki arah yang sama. Mereka melepas keluarga kecil masing-masing dan bertujuan untuk melayani umat manusia. Jadi, kita memiliki tujuan yang sama.
Kita sama-sama berjuang bagi umat manusia. Mereka adalah keluarga kita. Saya yakin bahwa keluarga Pastor sama dengan keluarga saya, yaitu semua orang di dunia ini. Tuhan mengasihi semua orang di dunia ini, Buddha juga mengasihi semua orang di dunia ini. Semua orang patut kita kasihi. Intinya, kita hendaknya mengasihi semua makhluk.
Dalam ajaran Buddha, semua makhluk mencakup segala sesuatu yang bernyawa, termasuk makhluk yang sangat kecil seperti semut. Di meja saya, terdapat sebuah jam dengan seekor “semut” di atasnya. Saya menganggapnya sebagai semut luar biasa yang selalu berpacu dengan waktu. Bagaimana cara berpacu dengan waktu?
Semut kecil ini ingin mendaki Gunung Sumeru. Namun, selama bertahun-tahun, ia tetap berada di posisi yang sama di hadapan saya. Saya sendiri pun merasa bahwa saya tetap berada di posisi yang sama. Namun, kehidupan tetap berjalan sesuai hukum alam. Usia kehidupan saya pun terus berkurang. Sisa waktu saya sudah tidak banyak. Saya juga merasakan bahwa kehidupan memang tidak kekal. Karena itu, kita harus menghargai kehidupan.
Misi kita ialah bersumbangsih bagi dunia. Orang-orang yang menderita membutuhkan saya, Anda, dan kalian semua. Mereka membutuhkan bantuan. Kita hendaknya yakin bahwa kita dapat menolong mereka karena kita berpegang pada ajaran agama. Jadi, kita dapat menolong mereka. Hanya saja, Buddha mengajarkan hukum sebab akibat.
Beberapa hari ini, saya mengulas hukum sebab akibat setiap hari. Dengan adanya perpaduan sebab dan kondisi, barulah kita dapat menolong mereka. Mengenai semut kecil yang ingin mendaki Gunung Sumeru, semut di hadapan saya ini telah mendaki bertahun-tahun. Namun, ia tetap berada di hadapan saya setiap hari dan tidak bergerak sedikit pun. Begitu pula dengan kehidupan saya yang terus melangkah di tempat.
Kehidupan sangatlah kecil, bagaikan seekor semut. Waktu terus berlalu secara alami. Jadi, waktu terus bergulir. Waktu bukan hanya diam di tempat. Waktu terus bergulir dan sangat panjang. Namun, kehidupan kita seperti semut kecil sehingga kita tidak menyadarinya. Setiap hari, saya berkata, “Seiring berlalunya satu hari, usia kehidupan juga berkurang satu hari. Bagai ikan yang kekurangan air, apakah kebahagiaan yang diperoleh?”
Setiap hari, saya mengingatkan diri sendiri dengan meletakkan semut ini di hadapan saya. Saya merasa bahwa melihatnya sekali dalam sehari tidaklah cukup. Setiap menit dan detik, saya ingin melihat semut kecil ini bergerak atau tidak. Apakah ia mengalami kemajuan? Setiap hari, ia tidak mengalami kemajuan. Saya lalu teringat akan diri sendiri yang juga tidak mengalami kemajuan. Demikianlah kehidupan.
Setiap orang memiliki kehidupan masing-masing, tetapi agama kita mengajarkan semangat yang sama. Dalam menjalani kehidupan, kita sama-sama mencari kebenaran dari keyakinan kita. Kebenaran dari keyakinan ini mengajari kita untuk mengerahkan cinta kasih. Kita harus mempraktikkan cinta kasih. Saya yakin bahwa sebagai sesama pemuka agama, kita selalu mengajarkan cinta kasih. Jadi, mari kita bekerja sama.

Keyakinan benar mengajarkan untuk menghimpun cinta kasih agung
Menjaga tekad dan menjalankan ajaran dalam jangka panjang
Melakukan praktik nyata dengan tekun dan bersemangat serta membimbing menuju kebajikan
Mewujudkan keharmonisan antaragama dan mendoakan ketenteraman dunia

Ceramah Master Cheng Yen Tanggal 16 Juni 2026
Sumber : Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah : Hendry, Marlina, Shinta, Janet, dan Graciela
Ditayangkan Tanggal 18 Juni 2026

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

rp888

https://www.geocities.ws/moulmaths/

https://www.geocities.ws/digitalanam/

rp888

rp888