Menjalankan Pelestarian Lingkungan secara Luas demi Melindungi Dunia
Di generasi kita sekarang, teknologi sangat maju. Kita dapat dikatakan sangat dipenuhi berkah. Saat ini, akses transportasi sudah sangat mudah. Pertemuan antarmanusia juga menjadi jauh lebih mudah dilakukan. Namun, meski terlihat lebih mudah, semuanya tetap bergantung pada tekad dan jalinan jodoh. Jika tidak ada jalinan jodoh, meski kita tinggal bersebelahan, saya tidak akan mengenal Anda dan Anda tidak akan mengenal saya. Jadi, berinteraksi dengan tetangga tidaklah mudah.
Jika ada tekad dan jalinan jodoh, kita dapat berkumpul bersama. Yang terpenting ialah kita memiliki kesatuan hati, tekad, dan ikrar. Kita memiliki kesatuan hati karena menjadikan hati Buddha sebagai hati kita sendiri. Kita memiliki kesatuan tekad karena menjadikan tekad Guru sebagai tekad kita sendiri.
“Para fungsionaris harus menyebarkan dan mewariskan Dharma. Kami mengubah kegiatan bulanan ‘Hari Pelestarian Lingkungan’ menjadi ‘Hari Keberlanjutan Lingkungan Tzu Chi’. Kami juga mendorong warga untuk memilah sumber daya secara mandiri. Master pernah memberikan ceramah tentang pendidikan yang tegas. Hal yang benar harus kita galakkan. Kita tidak boleh melakukannya secara perlahan karena waktunya sudah tidak mencukupi. Hendaknya kita benar-benar mempromosikan konsep bersih dari sumbernya. Hanya jika setiap orang mengubah kebiasaan, barulah kita dapat menyucikan hati manusia dan melindungi Bumi kata Huang Xin-hua, relawan Tzu Chi.
Buddha Sakyamuni datang ke dunia untuk menyucikan hati manusia. Jika hati manusia tidak disucikan, dunia akan menjadi tidak stabil dan penuh gejolak. Semua ini berawal dari sebersit pikiran. Pikiran dapat menimbulkan pergolakan dunia, juga bisa mengakumulasi ketamakan di dalam hati manusia. Ketamakan yang terus terakumulasi akan membuat manusia menginginkan banyak barang, juga membuang banyak barang. Karena itulah, butuh misi pelestarian lingkungan. Misi ini telah dijalankan puluhan tahun.
Lebih dari 30 tahun yang lalu, saya menyampaikan sebuah kalimat saat ceramah. Saat itu, banyak hadirin yang bertepuk tangan dan itu cukup mengganggu. Setiap saya mengucapkan beberapa kalimat, tepuk tangan kembali terdengar dan memotong pembicaraan saya. Jadi, saya berkata kepada semuanya, “Gunakanlah kedua tangan yang bertepuk untuk melakukan daur ulang.” Itulah kalimat yang saya ucapkan dalam sebuah seminar besar 30-an tahun yang lalu. Sejak saat itu, istilah pelestarian lingkungan terus digaungkan.
Hendaknya kita membangkitkan cinta kasih agung. Jika manusia ingin hidup damai dan tenteram, yang terpenting ialah menyucikan hati manusia agar tidak ada konflik antarmanusia. Dalam sebuah keluarga, jika pikiran tidak selaras, hubungan antara orang tua dan anak akan dipenuhi dengan pertentangan. Hal ini menyebabkan keluarga tidak harmonis. Demikian pula hubungan antara suami dan istri ataupun antara menantu dan mertua. Singkat kata, setiap keluarga memiliki masalah yang berlapis-lapis.
Sebuah keluarga haruslah rukun dan harmonis. Jika setiap keluarga harmonis, komunitas pun akan harmonis. Dari komunitas, keharmonisan ini akan menyebar ke tengah masyarakat, lalu terus meluas hingga membawa kestabilan dan kedamaian bagi negara. Jadi, hendaknya setiap orang menumbuhkan cinta kasih dan terus menciptakan berkah.
Singapura memang tidak luas wilayahnya, tetapi jumlah relawan Tzu Chi di sana sangat banyak dan kalian terus mengajak orang-orang untuk bergabung. Saya percaya bahwa kalian bisa menginspirasi setiap orang di Singapura menjadi insan Tzu Chi. Dengan demikian, Singapura akan menjadi negara yang stabil, damai, dan senantiasa makmur. Inilah doa saya untuk kalian.