Menjalin Jodoh Baik di Jalan Bodhisattva
“Hari ini, saya akan berbagi kisah Xiao-jun. Ibu dan kakak dari Xiao-jun sama-sama memiliki keterbelakangan mental, sedangkan ayahnya meninggal akibat kanker hati pada 2010. Pekerjaan anak ini juga tidak lancar. Dia akhirnya pulang dan mendirikan tenda di ruang tamu,” kata Peng Xiu-zhen relawan Tzu Chi.
Kita melihat anak ini. Kita membantu keluarganya untuk membersihkan rumah dan mengajarinya untuk menjaga kebersihan serta membawa tendanya keluar. Kehidupannya pun mulai berubah. Dia bertemu penyelamat kehidupannya. Penyelamat ini adalah Bodhisattva.
Bodhisattva muncul karena ada makhluk yang menderita. Bodhisattva dan semua makhluk juga membutuhkan jalinan jodoh untuk dapat bertemu. Tanpa jalinan jodoh, mereka tidak dapat bertemu. Jadi, Buddha berkata bahwa Bodhisattva muncul karena adanya jalinan jodoh dengan makhluk yang menderita.
Sering dikatakan bahwa untuk mencapai kebuddhaan, kita harus menapaki Jalan Bodhisattva. Untuk dapat mencapai kebuddhaan, kita harus memiliki jalinan jodoh yang cukup dengan semua makhluk. Untuk memiliki jalinan jodoh yang cukup dengan semua makhluk, kita harus menapaki Jalan Bodhisatwa. Jadi, kita menjalin jodoh dengan semua makhluk dengan membantu meringankan penderitaan mereka. Inilah jalan untuk mencapai kebuddhaan.
Dunia ini penuh penderitaan. Untuk melatih diri, Bodhisattva harus mengandalkan jalinan jodoh untuk melihat penderitaan, menyadari berkah, dan menciptakan berkah di dunia. Pada Bodhisattva di masa lampau, seperti Avalokitesvara, Maitreya, Manjusri, dan Bodhisattva ternama lainnya, apakah benar-benar ada di dunia?
Sesungguhnya, Buddha percaya bahwa sifat manusia pada hakikatnya bajik, seperti Avalokitesvara yang memberi pertolongan ketika mendengar suara penderitaan atau Manjusri yang bijaksana. Sebelum mencapai kebuddhaan, semuanya harus menapaki Jalan Bodhisattva seperti Maitreya.
Bodhisattva Avalokitesvara telah mencapai kebuddhaan di masa lalu. Begitu pula dengan Bodhisattva Manjusri. Mereka mendukung Buddha Sakyamuni di dunia ini untuk menunjukkan bahwa semua manusia memiliki kebijaksanaan.
Bodhisattva Avalokitesvara adalah Buddha masa lampau yang bernama Tahagata Pengetahuan Dharma Sejati. Beliau bermanifestasi di dunia untuk memberi pertolongan saat mendengar penderitaan. Ini membuat orang-orang begitu menghormati Bodhisattva Avalokitesvara dan bersedia menjalankan ajaran-Nya. Inilah cara Buddha untuk memberi bimbingan sesuai kondisi.
Di dunia masa kini, yang memiliki cukup kebijaksanaan dan welas asih serta mempraktikkannya secara nyata ialah Bodhisattva Maitreya. Bodhisattva Maitreya kini terus memupuk berkah dan menanti matangnya jalinan jodoh untuk mencapai kebuddhaan di Dunia Saha ini.
Bodhisattva Manjusri adalah Buddha masa lampau. Bodhisattva Avalokitesvara bermanifestasi di dunia dan memberi ajaran sesuai kondisi semua makhluk. Jadi, kita harus meneladan Bodhisattva Avalokitesvara yang memberi pertolongan saat mendengar penderitaan, juga menjadi seperti Bodhisattva Maitreya yang menciptakan berkah di dunia.
Bodhisattva sekalian, sungguh banyak penderitaan di dunia ini. Kita telah mengetahui dan memahaminya. Kita semua telah memiliki banyak pengetahuan. Namun, sering kali kita hanya menggunakannya secara sempit. Kita hanya berkutat pada kepentingan atau manfaat jangka pendek.
Sesungguhnya, dengan pengetahuan ini, kita dapat memahami masa lalu, mengenal masa kini, dan mengetahui masa depan. Kalaupun kita mengetahui masa lalu, mengenal masa kini, dan dapat memprediksi masa depan, apa gunanya?
Jika semua ini hanya dijadikan sebatas pengetahuan, kita tetap akan membawa kegelapan batin dan ketakutan. Kita akan tetap bersikap egois. Dengan adanya kegelapan batin, orang-orang menjadi tamak. Dengan adanya ketakutan, orang hanya peduli pada diri sendiri. Inilah kondisi batin makhluk awam pada umumnya. Orang di hadapan kalian saat ini juga adalah makhluk awam. Hanya saja, saya sering berusaha untuk melihat lebih jauh, mengingat masa lalu, dan mengenali saat ini setiap harinya.
Saya juga kerap membuat prediksi lewat analisis yang saya buat pada kondisi saat ini. Saya bukan melihat masa depan dengan kekuatan batin. Saya mengamati kondisi yang ada saat ini untuk memprediksi masa depan. Di sinilah kita harus menggunakan kebijaksanaan. Untuk waktu yang sudah berlalu sangat lama, kita mungkin tidak dapat mengingat semuanya.
Namun, atas hal-hal yang kita ingat, kita dapat merenungkan, “Ah, saya memiliki sedikit penyesalan di masa lalu. Waktu sudah berlalu, kehidupan saya sudah berkurang. Saya telah melewatkan satu hari tanpa berbuat apa-apa. Apa yang saya lakukan kemarin? Hari ini dan kemarin, saya tidak melakukan apa-apa dan hanya membiarkan hari demi hari berlalu begitu saja. Apakah saya ada melakukan sesuatu hari ini? Tidak juga.”
Waktu satu hari kembali berlalu. Ini yang disebut melewatkan waktu dengan sia-sia. Waktu terus berlalu. Hari kemarin telah berlalu; hari ini pun akan berlalu. Baik masa lalu yang telah berlalu maupun masa kini yang akan berlalu, semuanya berlalu tanpa jejak dan tanpa kita sadari. Jadi, bolehkah kita tidak sungguh-sungguh sadar atas kondisi dunia ini?
Dunia ini penuh penderitaan. Yang dunia ini butuhkan ialah Bodhisattva. Insan Tzu Chi telah tersebar di seluruh dunia. Selama di suatu tempat ada jejak insan Tzu Chi, semua makhluk yang berjodoh akan dapat tertolong. Kita harus menggenggam waktu yang ada. Kita semua harus menjadi Bodhisattva dunia dan menggalang lebih banyak Bodhisattva.
Kita harus sungguh-sungguh menggenggam waktu yang ada. Dengan mendedikasikan diri seiring waktu, kita dapat melihat lebih luas dan menjalin lebih banyak jodoh baik dengan semua makhluk sehingga kita dapat saling mendukung. Terima kasih kepada para Bodhisattva dunia yang telah bersumbangsih dengan cinta kasih. Janganlah kita menyia-nyiakan waktu. Terima kasih.
Melindungi dunia dan menjalin jodoh baik
Ceramah Master Cheng Yen tanggal 18 Maret 2022
Sumber : Lentera Kehidupan – DAAI TV Indonesia
Penerjemah : Hendry, Karlena, Marlina, Devi