Menuntaskan Janji dan Kenangan Tentang Renaldy
Agar mendapat hasil biopsi yang cepat, dokter menyarankan untuk membawa Renaldy ke Singapura, dan nanti kemoterapinya dapat dilakukan di Jakarta. Dari dua rumah sakit di Singapura, hasilnya positif. Renaldy mengidap leukimia myeloid akut atau AML, jenis leukimia yang paling berbahaya dan agresif.
Dari hasil diskusi, termasuk biaya dan pengeluaran, Mikeu dan Deddy memutuskan untuk membawa anak yang sangat dikasihinya itu langsung ke Kota Melaka, Malaysia. Renaldy melakukan kemoterapi pertama dan tinggal selama 28 hari di sana.
Pulang dari Melaka, kondisinya sempat membaik. Namun pada kemoterapi kedua dokter menyarankan agar Renaldy dilakukan transplantasi sumsum tulang di Kuala Lumpur. Kedua orang tua ini terhenyak, karena biaya yang dibutuhkan sangat besar.
“Waktu itu kami hanya pegang uang tak sampai 100 juta rupiah, itu pun sebagian pinjam dari keluarga,” kata Deddy.
Singkat cerita, setelah melewati beberapa upaya, mereka pun mendapatkan bantuan dari sebuah yayasan kanker anak di Singapura. Namun Renaldy justru kemudian menolak menjalani transplantasi karena tidak mau sesuatu terjadi pada adiknya sebagai donor.
Setelah proses survei yang mendalam oleh Ayen Rita, tak sampai satu bulan, pengajuan bantuan tersebut dikabulkan. Tzu Chi membayar biaya pengobatan Renaldy yang terbilang mahal. Tzu Chi juga memberikan bantuan berupa diapers karena Renaldy mengalami pendarahan.
Dari uang pribadi, Mieke dan Deddy menghabiskan biaya lebih dari 1 miliar rupiah, yang sebagian meminjam dari kerabat, serta menjual mobil dan unit apartemen. Meski segala upaya telah dikerahkan selama dua tahun setengah itu, takdir berkata lain. Renaldy menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Medistra pada tanggal 19 November 2018.
Walau telah berlalu hampir delapan tahun, Mikeuh dan Deddy terus menguatkan diri. Mereka juga merawat memori indah tentang anaknya yang sangat baik hati itu, di antaranya menyimpan dengan rapi mainan Renaldy dan menjadikannya pajangan di rumah.
Setelah delapan tahun tak berjumpa dengan Ayen, Mikeuh meneleponnya dan mengabarkan jika ia hendak berdonasi ke Tzu Chi. Ceritanya, saat biaya pengobatan Renaldy kala itu masih kurang banyak, Mikeuh meminjam uang dari seseorang dan mereka cicil setiap kali Deddy mendapatkan THR dari tempatnya bekerja.
Waktu itu, yang meminjami uang tersebut berpesan pada Miekuh dan Deddy agar tidak menceritakan perihal pinjaman ini kepada suami dan anaknya atau kerabat lainnya, karena uang yang dipinjamkan adalah miliknya pribadi. Saat cicilan tinggal sekali lagi, seseorang tersebut lebih dulu meninggal dunia. Karena ada amanat agar tak memberitahu keluarganya. Kedunya pun berdiskusi dengan beberapa orang yang dianggap bijaksana. Hampir semua menyarankan; jika anggota keluarga mendiang ada yang kesusahan, maka uang itu harus diberikan supaya dapat membantu. Namun keluarga yang ditinggalkan terbilang sangat berada, karena itu lebih baik jika disumbangkan ke sebuah yayasan kemanusiaan.
Keduanya pun menghubungi Ayen dan menyerahkan donasi sebesar lima juta rupiah atas nama mendiang kerabatnya. Begitulah pertemuan berwujud reuni itu terjadi. Tak lupa keduanya mendoakan Ayen agar dapat segera pulih dari sakit stroke yang dideritanya.
“Supaya bisa segera aktif lagi ya Ci Ayen seperti dulu,” tutur Mikeuh dan Deddy, yang disambut Aamiin dan terima kasih oleh Ayen.
Fotografer : Khusnul Khotimah,
Editor : Fikhri Fathoni.