Menyalurkan bantuan musim dingin untuk mendukung keluarga-keluarga di Afrika Selatan
Pada tanggal 13 – 15 Mei 2026, kegiatan penyaluran bantuan musim dingin dilaksanakan di empat sekolah dasar di Tembisa, Afrika Selatan. Selama kegiatan tersebut, 1.340 keluarga kurang mampu menerima pasokan pangan yang sangat dibutuhkan untuk membantu mereka melewati bulan-bulan musim dingin di belahan bumi selatan. Inisiatif ini melibatkan 57 sukarelawan pada hari pertama dan 38 sukarelawan pada hari kedua, yang mencerminkan komitmen bersama untuk mendukung para siswa setempat beserta keluarga mereka.
Para sukarelawan setempat menunjukkan inisiatif yang luar biasa; mereka kerap bergerak di luar wilayah tugas masing-masing untuk memberikan bantuan. Sebagai contoh, Meria, seorang sukarelawan dari Ivory Park, turut membantu kegiatan distribusi di SD Winnie Mandela setelah cucunya mengingatkannya mengenai acara tersebut. Semangat kerja sama ini mencerminkan dedikasi yang mendalam untuk melayani mereka yang membutuhkan, tanpa memandang batasan wilayah tempat tinggal.
Mendukung pendidikan melalui bantuan
Pada tanggal 13 Mei 2026, tim tersebut merampungkan penyaluran bantuan bagi 306 keluarga di Sekolah Dasar Winnie Mandela. Para guru menyampaikan apresiasi mereka, seraya menyatakan bahwa bantuan pangan tersebut meringankan beban berat yang dipikul keluarga, sehingga para siswa dapat lebih fokus pada pendidikan mereka alih-alih mencemaskan makanan berikutnya.
Penyaluran bantuan tahap kedua dilaksanakan di SD Mapheto dan menjangkau 340 keluarga. Kemitraan ini merupakan kerja sama baru yang dijalin setelah sekolah mitra sebelumnya terlibat dalam politik lokal. Berpegang teguh pada prinsip penyaluran bantuan yang apolitis, para sukarelawan mengalihkan fokus mereka ke Mapheto, tempat banyak keluarga siswa menghadapi kesulitan keuangan yang parah dan sangat membutuhkan dukungan dari pihak luar.
Ketangguhan komunitas dan aksi balas kebaikan
Kegiatan penyaluran bantuan pada tanggal 15 Mei 2026 di SD Dr. Mathole, yang melayani 350 keluarga, menghadirkan tantangan logistik yang unik. Beberapa sukarelawan berpengalaman berhalangan hadir karena adanya acara pemakaman, sehingga tim yang terdiri dari sukarelawan yang lebih baru harus menangani persiapan kegiatan tersebut.
Sebagai bentuk dukungan, TShed, sebuah organisasi mitra lokal yang bergerak di bidang layanan disabilitas, mengirimkan lima orang anak muda untuk membantu. Salah satunya adalah seorang pemuda penyandang disabilitas fisik pada tangan kiri yang menunjukkan semangat luar biasa; hal ini membuktikan bahwa keinginan untuk membantu sesama mampu melampaui keterbatasan fisik.
Dalam acara tersebut, Wakil Kepala Sekolah, Mekwa HP., memperkenalkan seorang pemuda berusia dua puluhan yang pernah menjadi penerima bantuan musim dingin di sekolah itu pada tahun 1999. Meskipun sudah lama lulus, pemuda tersebut terus kembali ke almamaternya untuk menjadi sukarelawan, sebuah wujud nyata dari siklus kepedulian yang berkelanjutan. Para siswa yang menjadi pengurus organisasi siswa juga turut berperan aktif menyukseskan acara ini dengan menjaga ketertiban serta membantu anak-anak yang lebih kecil membawa paket beras dan makanan mereka.
Dedikasi di tengah duka pribadi
Komitmen mendalam para relawan tampak paling nyata pada diri Angilina. Hanya sehari sebelum pembagian tahap akhir, cucu laki-lakinya yang berusia empat tahun meninggal dunia karena sakit. Begitu mendengar kabar tersebut, para relawan mengunjungi rumahnya untuk memberikan penghiburan; mereka duduk dengan tenang bersama keluarga Angilina di rumah beratap seng itu sembari melantunkan Sutra Hati.
Meski mengalami kehilangan yang begitu berat dan tak terbayangkan, Angilina tetap datang ke SD PS. Tsosane pada tanggal 15 Mei 2026 untuk membantu menyalurkan bantuan kepada 344 keluarga. Kehadirannya meninggalkan kesan mendalam bagi semua orang, memperlihatkan ketangguhan luar biasa serta semangat tanpa pamrih untuk melayani sesama, bahkan di tengah masa dukacitanya.
Saat pembagian terakhir rampung, prosesnya berjalan jauh lebih lancar seiring dengan para sukarelawan baru yang mulai menyesuaikan diri dengan alur kerja. Keempat kegiatan pembagian ini tidak hanya menyalurkan bantuan pangan yang sangat dibutuhkan oleh keluarga-keluarga di Tembisa, tetapi juga menjadi wadah untuk mempererat ikatan komunitas dan memberdayakan kaum muda. Berkat kerja sama antara guru, siswa, dan individu-individu yang berdedikasi, dukungan yang diberikan melampaui sekadar bantuan materi; hal ini turut memupuk semangat kepedulian yang akan terus tumbuh di tengah masyarakat.
Fotografer : Emily Lu (呂月霞),
Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh : Sik Pin.