Menyebarkan Kebajikan bagai Aliran Jernih
“Saya sungguh sangat bersyukur atas berkah yang saya miliki untuk mengikuti Master. Pertama kali bertemu Master, saya bagaikan tersetrum. Saya merasa bahwa saya bagaikan anak miskin yang telah berkelana sangat lama hingga akhirnya menemukan Master. Saat itu, saya berikrar untuk mengikuti Master dari kehidupan ke kehidupan,” kata Chen Xue-zi, relawan Tzu Chi.
“Memiliki begitu banyak murid, Master terus berjalan maju tanpa menoleh. Master berjalan dengan sangat cepat dan kita harus bisa mengikuti langkah Master. Jadi, untuk mengikuti Master, kita harus tekun dan bersemangat melatih diri. Kita harus menjalankan latihan jangka panjang, latihan penghormatan, latihan menyeluruh, dan latihan tanpa henti. Kita harus setekun ini baru bisa mengikuti langkah Master,” lanjut Chen Xue-zi.
“Untuk mencapai kebuddhaan, kita harus menapaki Jalan Bodhisatwaa. Saya akan senantiasa mengingatnya di dalam hati. Mohon Master tenang. Semoga Master selalu sehat. Kami pasti akan mengikuti Master dengan erat. Master, tenanglah, kami akan giat bersumbangsih,” ungkap Chen Xue-zi.
Baik, ingatlah untuk mengikuti langkah saya dari kehidupan ke kehidupan.
“Baik, terima kasih, Master,” pungkas Chen Xue-zi.
Ini menunjukkan bahwa waktu Anda sangat bernilai.
“Sebelum suami saya meninggal dunia, dialah yang selalu bersumbangsih. Saya hanya terus mendukung dan mendampinginya sehingga dia dapat bersumbangsih dengan tenang. Boleh dibilang bahwa saya telah menyumbangkannya. Setelah dia meninggal dunia, saya pun meneruskan misinya. Lalu, menantu perempuan dan cucu saya juga turut bergabung,” kata Zhuang Ci-yu, relawan Tzu Chi.
“Kini, di tengah komunitas, saya mencurahkan perhatian kepada saudara se-Dharma. Saya melakukan semua yang bisa saya lakukan. Saya berharap saya dapat terus bersumbangsih hingga napas terakhir,” pungkas Zhuang Ci-yu.
Saat itu, ketika menggalang donasi, di mana pun ada orang yang bertekad untuk berdonasi, kalian akan segera menghampiri mereka. Kalian segera menghampiri mereka karena tidak tega membiarkan satu orang pun kehilangan kesempatan untuk bergabung. Jika ada orang yang melaporkan kepada kalian bahwa ada orang yang mengalami kesulitan, kalian pun akan segera menghampiri mereka karena tidak tega membiarkan mereka menderita.
Jadi, kalian sungguh merupakan Bodhisattva dunia zaman sekarang yang bersumbangsih dengan langkah yang mantap. Kalian telah menapaki jalan ini selama lebih dari 40 tahun. Saya sangat bersyukur kepada kalian. Selain saya, semua Bodhisattva Tzu Chi juga hendaknya bersyukur dan membimbing satu sama lain. Kalian membimbing orang yang kalian kenal dan mereka juga membimbing orang lain. Jadi, setiap anggota komite dapat menginspirasi banyak anggota komite.
Sesungguhnya, demikianlah Tzu Chi berkembang. Jika hanya saya sendirian, ini tidak mungkin terwujud. Karena itulah, saya bersyukur kepada kalian. Yang saya hadiahkan pada kalian ini adalah “Warisan Keluarga”. Saya berharap anak cucu kalian dapat menghargainya dan tahu bahwa kakek buyut, nenek buyut, kakek, nenek, atau orang tua mereka merupakan Bodhisattva yang mendukung pencapaian Tzu Chi pada masa itu. Saya menghadiahkannya secara langsung pada kalian.
Sungguh, Tzu Chi tidak pernah merugikan dunia, melainkan selalu membawa manfaat. Apa pun yang kita tulis, katakan, dan lakukan, semuanya demi membawa manfaat bagi dunia. Membawa manfaat bagi dunia berarti menciptakan berkah bagi masyarakat. Tzu Chi memiliki empat misi, yakni misi amal, kesehatan, pendidikan, dan budaya humanis.
Kita harus membimbing orang agar bisa membedakan yang baik dan yang buruk. Kita hendaknya menulis hal-hal yang baik untuk memotivasi orang-orang dan menulis hal-hal yang buruk juga agar orang-orang dapat mengetahuinya tanpa menimbulkan luka yang tidak perlu. Inilah tugas dari misi budaya humanis.
Dalam kehidupan pasti ada kekurangan. Kita hendaknya menitikberatkan kelebihan. Meski ada yang memiliki kekurangan, janganlah kita membuatnya terlihat lebih buruk dari aslinya. Demikianlah misi budaya humanis kita.
Kita hendaknya lebih memahami penderitaan dan lebih sering menjangkau orang yang menderita. Da Ai TV juga harus menjangkau orang-orang yang menderita dan menunjukkan wujud penderitaan di dunia. Berkat kalian, saya bisa lebih memahami bagaimana mempraktikkan kebajikan di dunia. Kita juga harus menyiarkan penderitaan orang-orang, baru bisa membimbing orang lain untuk bersumbangsih.
Jadi, saat menulis artikel, hendaklah kalian menyinggung bagaimana menolong orang-orang yang menderita, bukan sekadar menyiarkan penderitaan. Banyak orang yang tahu bahwa hidup penuh penderitaan, tetapi tidak tahu bagaimana memberikan bantuan. Kita hendaknya memberitahukan bagaimana cara bersumbangsih. Jadi, kita juga harus menyiarkan bagaimana cara memberikan bantuan. Saya berharap kalian dapat lebih bersungguh hati mendalami hal ini.