Pemberkahan Akhir Tahun 2025 Selatpanjang: Lintas Usia Menyelam Sutra, Semua Berlatih Sepenuh Hati
Setiap tahun menjelang akhir tahun 2025, kantor Tzu Chi Selat Panjang menyelenggarakan kegiatan Pemberkahan Akhir Tahun 2025. Melalui pementasan bahasa isyarat tangan dari Sutra Buddha, Tzu Chi berharap para relawan, donatur, dan tamu undangan dapat menyerap Dharma, lalu menerapkannya secara bijaksana dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan Pemberkahan Akhir Tahun 2025 oleh relawan Tzu Chi Selat Panjang dilaksanakan pada tanggal 7 Februari 2026 di Hotel Grand Meranti. Ada 439 peserta menghadiri kegiatan pemberkahan tahun ini. Di antara mereka, terdapat 24 penyelam sutra. Menariknya, tiga di antaranya merupakan kakak-beradik: Dellyn (17), Cherlyn (16), dan Cellia (14).
Kegiatan Pemberkahan Akhir Tahun 2025 oleh relawan Tzu Chi Selat Panjang dilaksanakan pada tanggal 7 Februari 2026 di Hotel Grand Meranti. Ada 439 peserta menghadiri kegiatan pemberkahan tahun ini. Di antara mereka, terdapat 24 penyelam sutra. Menariknya, tiga di antaranya merupakan kakak-beradik: Dellyn (17), Cherlyn (16), dan Cellia (14).
“Awalnya saya masuk bareng teman karena ada kegiatan pembagian celengan Tzu Chi di sekolah. Lalu ada yang mengajak ikut shou yu (isyarat tangan) untuk masuk Tzu Chi. Teman saya mengajak saya, lalu saya mengajak kakak-adik saya,” ungkap Cherlyn, salah satu tim isyarat tangan.
Dellyn pun memiliki alasan tersendiri. Sejak kecil ia sudah akrab dengan kegiatan-kegiatan Tzu Chi melalui tayangan Daai TV.
“Saya sering menonton Daai TV sejak kecil, jadi tertarik dengan kegiatan yang dilakukan Tzu Chi. Waktu diajak ikut, saya penasaran. Saya pikir kegiatan ini bakal menarik, punya tujuan, dan manfaat yang bagus untuk diri kita dan juga semua orang,” tutur Dellyn.
Dellyn pun memiliki alasan tersendiri. Sejak kecil ia sudah akrab dengan kegiatan-kegiatan Tzu Chi melalui tayangan Daai TV.
“Saya sering menonton Daai TV sejak kecil, jadi tertarik dengan kegiatan yang dilakukan Tzu Chi. Waktu diajak ikut, saya penasaran. Saya pikir kegiatan ini bakal menarik, punya tujuan, dan manfaat yang bagus untuk diri kita dan juga semua orang,” tutur Dellyn.
Tidak hanya murid usia sekolah yang menjadi penyelam sutra. Banyak di antaranya merupakan ibu rumah tangga, bahkan pensiunan. Oma Handani (70) adalah salah satunya. Meski tidak bisa berdiri terlalu lama, ia tetap tekun berlatih demi memberikan penampilan terbaik.
“Koka shi jie ada kirim, jadi saya sering latihan di rumah. Di HP ukurannya terlalu kecil, tulisannya saya tidak bisa lihat. Gerakan orangnya juga tidak kelihatan karena kecil. Tapi suami saya pasang di TV, jadi saya bisa sering latihan,” jelas Oma Handani tentang tantangan yang ia hadapi.
Beberapa hari sebelum pementasan, Oma Handani juga sempat terjatuh. Akibatnya, saat naik turun tangga ia perlu digandeng relawan. Murid-murid dan relawan pun terlihat sangat memperhatikan Oma Handani, siap membantu kapan pun ia membutuhkan.
“Koka shi jie ada kirim, jadi saya sering latihan di rumah. Di HP ukurannya terlalu kecil, tulisannya saya tidak bisa lihat. Gerakan orangnya juga tidak kelihatan karena kecil. Tapi suami saya pasang di TV, jadi saya bisa sering latihan,” jelas Oma Handani tentang tantangan yang ia hadapi.
Beberapa hari sebelum pementasan, Oma Handani juga sempat terjatuh. Akibatnya, saat naik turun tangga ia perlu digandeng relawan. Murid-murid dan relawan pun terlihat sangat memperhatikan Oma Handani, siap membantu kapan pun ia membutuhkan.
Panitia pelaksana turut memikirkan kebutuhan lansia. Mereka membuat tanda atau tulisan berukuran besar di lokasi agar lebih mudah diikuti. Latihan tambahan juga disediakan bagi relawan yang daya tangkapnya tidak secepat murid sekolah.“Ini harus 感恩 (terima kasih) ke Hardy (suami Koka). Ini ide dari Hardy, jadi dibuat agak besar untuk biao/tanda-tandanya,” ucap Koka Farida, Koordinator Isyarat Tangan.
“Yang muda tangkapnya lebih cepat, tapi karena sekolah mereka tidak bisa terlalu sering ikut latihan. Yang berumur mereka lebih rutin dan rajin. Katanya sering lupa, jadi mereka 很用心,” tambahnya.
“Yang muda tangkapnya lebih cepat, tapi karena sekolah mereka tidak bisa terlalu sering ikut latihan. Yang berumur mereka lebih rutin dan rajin. Katanya sering lupa, jadi mereka 很用心,” tambahnya.
Para penyelam sutra tidak hanya membabarkan Sutra Buddha, tetapi juga “sutra hidup” mereka masing-masing. Berbagai tantangan bisa menghadang, namun tekad untuk menggenapkan pementasan terus mendorong mereka keluar dari zona nyaman. Sebab, semakin besar tantangan, semakin dalam pula Dharma terukir dalam diridan semakin luas jejak kebaikan yang dapat disentuhkan kepada orang lain.
Jurnalis : Supardi (Tzu Chi Batam),
Fotografer : Candera Tzu Chi Selatpanjang, Supardi (Tzu Chi Batam),
Editor : Anand Yahya.
Fotografer : Candera Tzu Chi Selatpanjang, Supardi (Tzu Chi Batam),
Editor : Anand Yahya.