Pemberkahan Akhir Tahun 2025: Tekad Awal yang Terus Menyala
Pemberkahan Akhir Tahun merupakan momentum tahunan yang penuh refleksi, rasa syukur, dan ungkapan terima kasih atas perjalanan welas asih yang telah ditempuh Tzu Chi sepanjang tahun. Acara ini dihadiri para relawan, donatur, serta staf badan misi Tzu Chi Indonesia yang selama ini menjadi penggerak utama misi kemanusiaan.
Mengusung tema “Jangan Lupakan Tekad Awal Masa Celengan Bambu”, Pemberkahan Akhir Tahun kali ini mengajak seluruh peserta menengok kembali awal mula berdirinya Tzu Chi enam puluh tahun lalu. Berawal dari donasi kecil yang tulus kemudian bertumbuh menjadi kekuatan besar bagi kemanusiaan. Pesan ini mengingatkan bahwa kebajikan sekecil apa pun memiliki daya yang luar biasa jika dilakukan secara konsisten dan dilandasi niat yang murni.
Empat relawan Tzu Chi Medan yakni Lukman, Steel Edwin, Shu Tjeng, dan Sylvia membagikan kisah mereka dan tim relawan Tzu Chi Medan menghadapi kondisi lapangan yang penuh tantangan. Keterbatasan air bersih, medan berlumpur, hingga perjuangan menyiapkan makanan dengan fasilitas yang minim menjadi bagian dari realitas yang mereka hadapi saat menyalurkan bantuan bagi masyarakat.
Meski demikian, relawan Tzu Chi dari Medan, Aceh, dan Padang tetap bergerak sepenuh hati, tanpa mengenal lelah, demi meringankan penderitaan para korban bencana. Semangat kebersamaan dan ketulusan menjadi kekuatan utama dalam setiap langkah pelayanan.
Pesan Master Cheng Yen kembali ditegaskan bahwa mewariskan semangat Tzu Chi adalah tanggung jawab bersama. Meski telah berusia 60 tahun, semangat awal dari celengan bambu, bermula dari donasi 50 sen yang penuh ketulusan, harus terus dijaga dan dihidupi.
Dalam pesan cinta kasihnya, Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, Liu Su Mei, menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada seluruh relawan, donatur, staf badan misi, atas dedikasi yang telah diberikan sepanjang tahun. Pemberkahan Akhir Tahun menjadi ruang yang berharga untuk berkumpul, bersyukur, dan saling menguatkan.
“Dalam tahun yang baru ini, kita harus mewariskan dan membina lebih banyak anak muda. Tzu Chi Indonesia sudah 30-an tahun, kita melihat baik staf badan misi atau relawan yang bertugas dalam fungsionaris banyak mengalami kemajuan dan bersedia mengemban tanggung jawab. Semoga Tzu Chi Indonesia bisa melangkah dengan langkah yang besar dan mantap. Dengan demikian, barulah kita bisa membantu lebih banyak orang,”pesannya.
Menghadiri Pemberkahan Akhir Tahun, perasaan Ayen Rita bercampur aduk. Duduk di barisan belakang dengan kursi roda, ia disambut satu per satu oleh para relawan yang menghampirinya. Momen itu membuatnya sangat terharu. Ada rasa bahagia karena kembali bertemu sahabat-sahabat se-Dharma sesama relawan Tzu Chi, meski di sudut hatinya terselip kesedihan.Sejak terserang stroke pada pertengahan tahun 2024, Ayen Rita yang sudah 18 tahun menjadi relawan Tzu Chi menyadari dirinya tak lagi berdaya seperti dahulu. Namun, sebagai relawan Tzu Chi, ia berusaha menepis kesedihan itu dengan terus berpikir positif dan menerima kondisi yang ia alami. Kebanggaan pun tumbuh ketika mengetahui sebanyak 148 relawan komite baru telah dilantik. Baginya, hal itu menjadi peneguh bahwa barisan relawan Tzu Chi kian panjang dan penuh harapan.
“Saya sangat senang bisa bertemu kembali dengan saudara-saudari se-Dharma di Tzu Chi. Di satu sisi, saya sedih karena belum bisa banyak membantu. Namun di sisi lain, saya merasa lega dan bangga karena kini ada 148 relawan komite baru yang siap melanjutkan langkah Tzu Chi,” ungkap Ayen Rita.
Fotografer : Arimami Suryo A,, Fikhri Fathoni, Kasun, Henry Tando (He Qi Jakarta Utara 2) Ryanto Budiputra (He Qi Tangerang),
Editor : Hadi Pranoto.