Program Bedah Rumah Tahap 2 Kamal Muara : “Rumah Ini Mau Saya Tempati Seumur Hidup Saya”
“Minggu ini adalah minggu yang ke empat saya bekerja membantu tukang yang sedang merenovasi rumah saya. Meskipun begitu, saya tetap semangat. Bekerja di bawah panasnya matahari. Yang membuat kulitku terbakar. Hitam, legam tak kuhiraukan lagi. Tetesan keringat, terus keluar membasahi seluruh tubuh saya. Seolah saya bermandikan keringat siang ini. Tapi, tak apalah,” kata Muhamad (60), salah seorang penerima bantuan bedah rumah Tzu Chi di Kamal Muara, Jakarta Utara.
Dengan semangat, tangan Muhamad semakin lihai mengaduk semen. Menambah sedikit air, kemudian mengaduknya kembali. Menuangkan adukan semen tersebut ke dalam ember. Lalu mengangkat ember -ember yang telah berisikan adukan semen. Kemudian menuangkan ke dalam ke wadah yang terbuat dari kayu yang di pakai tukang untuk menampung adukan semen.
Tukang bangunan sedang menyusun bata ringan membentuk tembok rumah, sementara Muhamad dengan senang hati bolak-balik mengambil adukan semen. Tanpa mengenal Lelah, pria yang sudah tak muda lagi ini ikut membantu tukang yang sedang membangun rumahnya seperti menyiapkan adukan pasir dan semen dan membawa adukan semen dan pasir untuk tukang karena keneknya hanya satu orang dan dua tukang.
“Saya kasihan kenek kalo sendirian, disini yang kerja dua tukang dan satu kenek,” ujar Muhamad. Dan lagi tukangnya senang kalo saya ikut bantu, lagi pula inikan untuk rumah saya sendiri,” lanjut Muhamad.
Muhamad (62), suami dari Kartini (70) warga kamal Muara ini dahulu kondisi rumahnya lebih rendah dari jalan dan selalu banjir jika hujan dan banjir rob datang. Kini, untuk sementara Muhamad dan Kartini menumpang di rumah sang kakak yang tak jauh dari rumahnya. Sementara rumahnya dalam proses pembangunan atau rehab.
“Alhamdulillah, saya senang sekaligus bersyukur sekali dapat bantuan bedah rumah dari Yayasan Buddha Tzu Chi. Mudah-mudahan nanti setelah diperbaiki kami sekeluarga merasa nyaman tinggal dirumah,” ungkap Muhamad.
Pria yang dulunya berprofesi sebagai anggota Hansip (Pertahanan Sipil) ini mengakui sebelumnya banyak bagian atap rumahnya yang sudah rapuh, banjir dan belum mampu untuk melakukan perbaikan dan meninggikan lantai rumah karena alasan ekonomi.
Muhamad mengucapkan terima kasih kepada Yayasan Buddha Tzu Chi karena rumahnya mau dibangun lagi. “Rumah ini mau saya tempati selama hidup saya, rumah ini nggak akan saya jual, karena ini rumah satu-satunya, saya kan punya anak cucu,” janji Muhamad.
Muhamad bekerja sebagai keamanan lingkungan di pelelangan ikan selama 16 tahun. Kini Muhamad sudah pensiun dan bekerja serabutan. Sementara Kartini (Istri) bekerja di Gedung Sekolah Islam yang berada tepat di sisi kiri rumahnya.
Muhamad juga berterima kasih kepada relawan Tzu Chi yang pada saat pembongkaran rumah juga ikut membantu. “Pada saat itu (bongkar rumah) cuaca hujan (relawan) pada ikut bantu nurunin genteng,” ungkap Muhamad.
Program bantuan rumah yang dijalankan oleh Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia di Kamal Muara sudah pada tahap kedua. Sebelumnya pada tahap pertama sudah selesai dibangun 10 unit rumah dengan berbagai ukuran, sesuai dengan luas tanah dan jumlah jiwa dan berkonsep rumah yang sehat, bersih dan layak huni.
Pada tahap survei, para relawan Tzu Chi selalu di dampingi Ketua RT dan RW dari Kelurahan Kamal Muara. Termasuk rumah Muhamad yang dinyatakan rumahnya layak dibantu karena kondisinya yang sangat memprihatinkan dan tidak layak huni. Tentunya rumah warga yang dibantu adalah yang memenuhi syarat-syarat dokumen kepemilikan yang sah, seperti sertifikat rumah dan dokumen-dokumen lainnya.
Fotografer : Anand Yahya,
Editor : Hadi Pronoto.