Daur Ulang untuk Pelestarian Lingkungan

Untuk Menyelamatkan Dunia, Kita Harus Menjernihkan Pikiran Terlebih Dahulu

Tolong gunakan tangan yang Anda gunakan untuk bertepuk tangan untuk saya dengan mengambil sampah, menyapu jalan-jalan, dan mendaur ulang, sehingga kami dapat mengubah barang-barang daur ulang itu menjadi emas. Dengan mengubah sampah menjadi emas, kita dapat mengubah emas menjadi hati yang penuh kasih.”
Dharma Master Cheng Yen

Mendaur Ulang dengan Tangan yang Bertepuk

Baru-baru ini, ada banyak hal yang tidak normal dalam cuaca kita. Ilmuwan menemukan bahwa penyebab utama dari dari perubahan iklim yang dahsyat ini dapat ditelusuri jejaknya dalam polusi lingkungan alam kita. Bagaimana kita dapat meminimalkan terjadinya bencana alam? Apa yang bisa kita lakukan untuk generasi masa depan kita?
Pada tahun 1990, ketika Master Cheng Yen menyampaikan ceramah di Taichung, Taiwan Tengah, ia mendorong pendengarnya untuk menggunakan tangan yang mereka pakai untuk bertepuk tangan untuk menjaga lingkungan dan menganjurkan memilah-milah sampah. Seorang perempuan muda segera menjawab panggilannya. Dia mulai memimpin kegiatan daur ulang di lingkungannya, dan bahkan mendonasikan dana yang ia dapat dari kegiatan tersebut untuk amal.

Upaya sosial mengubah sampah menjadi emas (uang), dan emas menjadi cinta kasih telah tersebar di seluruh Taiwan dan lokasi-lokasi luar Taiwan berkat usaha dan dedikasi tinggi para relawan Tzu Chi selama bertahun-tahun. Hingga saat ini, terdapat 10.000 lokasi Depo Daur Ulang Tzu Chi di seluruh dunia, dengan hampir 100.000 relawan yang rutin berkecimpung dalam kegiatan daur ulang.
Di Indonesia, program pelestarian lingkungan Tzu Chi dimulai sejak 1 Januari 2004. Sebuah gudang khusus seluas 500 m2 di Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng, Jakarta Barat dibangun untuk menampung sampah daur ulang. Sampah-sampah berupa kertas, plastik, alat rumah tangga, aluminium, hingga meja kursi bekas, dikumpulkan dari para relawan. Sejak saat itu, pelestarian lingkungan pun semakin digalakkan dan terus berkembang hingga terdapat 20 Depo Pelestarian Lingkungan Tzu Chi di beberapa wilayah di Indonesia. Depo pelestarian lingkungan ini membuat relawan semakin bersemangat untuk melakukan pengumpulan dan pemilahan sampah. Tak sedikit relawan yang menjadikan rumahnya sebagai depo pelestarian lingkungan mini. Mereka menampung sampah daur ulang yang diberikan oleh para tetangga, bahkan setiap harinya, tanpa ragu, malu, dan kenal lelah, mereka menjemput sampah tersebut ke rumah-rumah. Semua dilakukan demi satu hal, membantu melindungi bumi yang sedang sakit.

Depo Pelestarian Lingkungan: Rumah Pelestarian Lingkungan

Sejak tahun 2004 hingga 2011, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia telah mendirikan 20 Depo Pelestarian Lingkungan yang tersebar di beberapa kota besar seperti Jakarta, Medan, Bekasi, Lampung, Makassar, Batam, Biak, Pekanbaru, dan Tangerang. Di tempat ini sampah-sampah yang terkumpul akan dipilah sesuai dengan jenisnya. Insan Tzu Chi memiliki prinsip, mengubah sampah menjadi emas, dan mengubah emas menjadi cinta kasih. Sampah-sampah yang terkumpul ini akan dijual dan hasilnya digunakan untuk misi kemanusiaan Tzu Chi.

Depo Pelestarian Lingkungan Muara Karang merupakan beberapa contoh dari enam depo pelestarian lingkungan yang didirikan di Jakarta. Depo yang berdiri sejak Januari 2008 ini menjadi salah satu pusat pemilahan sampah oleh relawan. Tak sekadar memilah sampah, relawan di depo ini juga mendaur ulang bekas karton gulungan benang menjadi celengan cinta kasih. Keberadaan depo ini juga tak lepas dari sosok sepasang suami istri, Hioe Thin Tjhong dan Ervina Luciana Tjhang yang pada awalnya meminjamkan ruko miliknya untuk dipergunakan sebagai depo pelestarian lingkungan. Namun akhirnya mereka pun memutuskan untuk menghibahkan ruko tersebut untuk Yayasan Buddha Tzu Chi.
Peresmian Depo Pelestarian Lingkungan Tzu Chi di Duri Kosambi, Jakarta Barat, pada tanggal 25 Desember 2011 menambah jumlah depo yang terdapat di Indonesia. Tempat ini pun kerap kali digunakan oleh relawan untuk melakukan kegiatan lainnya, seperti sosialisasi relawan baru hingga bedah buku. Keberadaan depo pelestarian lingkungan di tengah masyarakat menjadi tempat melatih dan membina diri bagi mereka yang tergerak untuk melestarikan lingkungan. Dari muda hingga tua, pria maupun wanita secara bersama-sama menciptakan berkah dan menjalin jodoh baik dengan banyak orang, membuat aliran jernih dari dalam hati terus terpancar.
Depo Pelestarian Lingkungan Cengkareng juga kerap kali menjadi tujuan kunjungan belajar dari siswa-siswi sekolah berbagai tingkatan hingga berbagai kalangan masyarakat. Seperti pada tanggal 7 November 2009, sebanyak 200 siswa yang merupakan anggota Palang Merah Remaja (PMR) dari 40 sekolah SMP, SMA, dan SMK di Jakarta Barat berkunjung ke Depo Pelestarian Lingkungan Tzu Chi Cengkareng.

Mereka tidak hanya memperoleh teori, tetapi juga melihat langsung bukti nyata dan mempraktikkannya langsung. Mereka diajarkan agar sebelum sebuah barang berakhir di tempat sampah ataupun di tempat daur ulang, setiap orang hendaknya dapat berpikir dengan bijaksana saat akan membeli barang yang dibutuhkan dan bukan sekadar diinginkan. Sebuah tindakan kecil dengan kekuatan pengaruh yang besar.

Sosialisasi Pelestarian Lingkungan: Melatih Diri Dari Pintu ke Pintu

Pentingnya pengetahuan tentang daur ulang sampah sudah seharusnya disosialisasikan lebih gencar, karena dengan mendaur ulang sampah yang bisa dimanfaatkan kembali akan mengurangi beban bumi yang semakin hari semakin berat. Oleh karena itu, insan Tzu Chi tidak hanya melakukan pemilahan sampah di Depo Pelestarian Lingkungan Tzu Chi, mereka juga bergerak keluar untuk melakukan sosialisasi pelestarian lingkungan kepada masyarakat umum, mulai dari sosialisasi di perumahan warga hingga ke berbagai sekolah.Saat melakukan sosialisasi ke rumah warga, relawan membuka jalinan jodoh yang baik dengan setiap warga, demi terwujudnya lingkungan yang bersih, sehat, dan asri. Para relawan pun senantiasa mengingat untuk selalu menerapkan nilai-nilai budaya humanis Tzu Chi saat melakukan sosialisasi, sehingga jalinan jodoh baik pun dapat terus berlanjut. Seperti sosialisasi yang dilakukan pada tanggal 25 September 2010 di sebuah perumahan di Jakarta Utara. Relawan melakukan kegiatan ramah tamah dengan warga sekitar dan menyampaikan pentingnya pelestarian lingkungan. Setelah itu, tepatnya pada tanggal 30 Oktober 2010, insan Tzu Chi pun kembali ke tempat tersebut dan mengajak warga sekitar untuk ikut serta dalam praktik pemilahan sampah.
Tanggal 24-26 September 2010, selama 3 hari para relawan Tzu Chi mengadakan pameran Pelestarian Lingkungan yang bertema One First Step di Mal Kelapa Gading, Jakarta Utara. Dalam pameran itu mereka memperkenalkan tentang kisah Tzu Chi dan pelestarian lingkungan melalui poster-poster serta stan kecil tempat pemutaran video. Di bagian tengah pameran, para relawan menyediakan kursi dan meja kecil untuk mengobrol santai dengan para pengunjung, mengajak mereka untuk melibatkan diri dalam gerakan pelestarian lingkungan. Pameran selama 3 hari ini dikunjungi sekitar 1.000 orang. Sejumlah 100 paspor vegetarian dibagikan kepada pengunjung yang ingin ikut melestarikan lingkungan dengan bervegetarian dan 250ikrar hijau diungkapkan. Lompatan besar untuk melestarikan bumi dapat dilakukan dengan langkah-langkah kecil dari banyak orang.

Kisah Dari Pelestarian Lingkungan: Komitmen Sepenuh Hati untuk Menjaga Bumi

Salah satu penerima bantuan yang kini menjadi relawan Tzu Chi adalah Nuriati Jusrawati. Dahulu ia menerima bantuan pengobatan untuk anaknya, dan sejak tahun 2008, usai mengikuti pelantikan relawan, Nuriati mantap bergabung dengan barisan relawan Tzu Chi dengan menggunakan seragam biru putihnya. Relawan lainnya punmengajaknya untuk lebih giat lagi bersumbangsih terutama di kegiatan pelestarian lingkungan. Hal itu membuat Nuriati setiap hari bergerak untuk mengumpulkan sampah daur ulang. Kini teras rumahnya ia jadikan Depo Pelestarian Lingkungan Tzu Chi.

Setiap hari selalu saja ada warga yang mengantarkan sampah daur ulang ke rumah Nuriati, sehingga teras rumahnya jarang terlihat kosong oleh sampah yang disebut emas tersebut. Bahkan tak jarang ia pun berkeliling dengan sepeda motornya untuk mengambil sendiri sampah tersebut. Ia tidak merasa malu jika harus terlihat mengambil dan membawa sampah daur ulang ke rumahnya. Bukan malu, tapi justru bangga. Bahkan, banyak tetangga yang karena tahu saya mengumpulkan sampah daur ulang untuk Tzu Chi, mereka juga ikut partisipasi. Kalau saya pas lagi nggak ada, mereka langsung masukin aja ke pagar rumah saya, jelasnya.

Semua orang tahu akar masalahnya, manusia yang mengejar keuntungan tanpa henti dan keegoisan akan kesenangan duniawi terus meningkatkan suhu atmosfer Bumi, yang mengarah pada kondisi cuaca ekstrem. Namun, sangat sulit bagi dunia usaha untuk mengorbankan keuntungan demi untuk mengurangi emisi karbon. Ketidakseimbangan dalam Empat Elemen: Tanah, Air, Api, dan Angin muncul dari ketidakseimbangan dalam pikiran manusia. Dengan hanya berfokus pada keuntungan jangka pendek, kita membahayakan kelangsungan hidup jangka panjang manusia. Jika umat manusia tidak sadar akan bahaya tersembunyi ini, maka akan benar-benar ‘terlambat’ untuk menyelamatkan Bumi kita! “

Master Cheng Yen