Kegiatan Internasional

Relawan Tzu Chi dari Austin Datang untuk Membantu Keluarga yang Terkena Dampak Tornado

Setidaknya sepuluh tornado terjadi di Texas Tengah dan Texas Utara selama badai hebat pada malam tanggal 21 Maret 2022, mengakibatkan kerusakan parah pada bangunan di beberapa area. Sebuah tornado menghantam Williamson County pada malam tersebut, mendatangkan malapetaka di kota-kota termasuk Round Rock, Hutto, dan Taylor. Menurut laporan berita dari Texas, badai tersebut berdampak pada 450 rumah di Williamson County; dimana 150 rumah diantaranya hancur atau rusak parah.
Pada tanggal 24 Maret 2022, relawan Tzu Chi dari Austin Service Center, Kantor Regional Selatan Tzu Chi Amerika Serikat, berkendara ke kota yang paling parah dihantam badai yaitu Round Rock, untuk mengetahui skala kerusakan yang timbul. Mereka mengunjungi rumah-rumah yang dihantam tornado dan mencari tahu skala kerusakan yang terjadi. Tzu Chi kemudian mengundang organisasi lokal pemberi bantuan dan sumber-sumber nonprofit lainnya untuk melakukan dua distribusi bantuan untuk memberikan bantuan persediaan darurat, termasuk kartu belanja senilai US$1.000 dari Tzu Chi Amerika Serikat untuk setiap keluarga yang terkena dampak bencana.
Distribusi bantuan pertama diadakan di United Heritage Center di Round Rock selama dua hari berturut-turut mulai dari tanggal 25 Maret 2022. Pada tanggal 31 Maret 2022, distribusi bantuan kedua dilakukan di Williamson County Expo Center di Tyler, sekitar 55 kilometer utara dari kota Austin, Texas. Berbagai organisasi kemanusiaan kembali berkolaborasi untuk memberi bantuan darurat bencana kepada keluarga yang menjadi korban.

Relawan Mingyu Chen memperkenalkan misi-misi Tzu Chi dan memberikan majalah Tzu Chi USA kepada staf yang bekerja di lokasi distribusi bantuan yang ingin tahu lebih banyak tentang Tzu Chi.

Tidak ada yang ditinggalkan
Badai tornado yang tiba-tiba terjadi tersebut tidak hanya menghancurkan rumah-rumah penduduk tetapi juga menghancurkan sarana transportasi bagi banyak orang, jadi beberapa keluarga yang tertimpa bencana tidak dapat mengikuti acara distribusi bantuan darurat yang pertama. Mempertimbangkan hal ini, relawan Tzu Chi menghubungi via telepon kepada mereka agar bisa mendapatkan bantuan; keluarga Selena River adalah salah satunya.
“Ketika tornado datang, suami saya menggendong bayi kami yang berusia tiga bulan, dan keluarga sekeluarga bersembunyi di toilet, ketakutan. Sangat mengerikan,” kata Selena River, salah satu penerima bantuan. 
Rumah keluarga River rusak parah hingga nyaris hancur seluruhnya akibat tornado. Walaupun Selena tahu bahwa Tzu Chi akan mendakan distribusi bantuan darurat pada tanggal 25 dan 26 Maret 2022, dia tidak dapat datang untuk menerimanya. Menindak-lanjuti keadaan tersebut, relawan Tzu Chi Tsangbin Wen menghubungi mereka dan mendorong mereka untuk datang menghadiri distribusi kedua pada tanggal 31 Maret 2022.

Selena River, yang rumahnya nyaris hancur sama sekali akibat tornado, membawa bayinya ke lokasi distribusi bantuan darurat , dimana dia menerima kartu bantuan tunai.

Karena rumah keluarga Heath dinyatakan berbahaya, tidak ada yang diijinkan untuk masuk atau keluar, dan keluarga Heath tidak punya pilihan selain menginap sementara di hotel. Ketika mereka mendengar bahwa bantuan tunai yang diberikan bernilai US$1.000, Heath terlalu terkejut untuk berbicara, mulutnya ternganga. Matanya memerah dan membengkak karena airmata, tetapi ada senyuman di wajahnya, dan dia langsung memeluk seorang relawan untuk menunjukkan rasa terima-kasihnya.
Mempelajari kisah celengan bambu Tzu Chi, yang diceritakan oleh relawan Tzu Chi Tsangbin Wen, Heath terinspirasi untuk bergabung kedalam lingkaran cinta kasih dan kepedulian sehingga orang lain bisa tertolong setelah bencana menghantam hidup mereka.

Menghubungkan hati ke hati

Lanxa Alonso (kedua dari kanan) menyukai selimut ramah lingkungan Tzu Chi dan menghargai bantuan terjemahan yang dia terima karena dia tidak bisa berbahasa Inggris.

Lanxa Alonso, yang keturunan Hispanik, tidak bisa berbahasa Inggris dan butuh bantuan penerjemah untuk membantunya berkomunikasi ketika dia datang ke salah satu acara distribusi bantuan darurat. Awalnya, dia kelihatan sedih tetapi kemudian menangis ketika dia tahu bahwa kartu bantuan tunai yang diterimanya bernilai US$1.000. Relawan Tzu Chi Pei Chi Tse segera memeluknya sementara relawan yang membantu menerjemahkan juga meneteskan airmata. “Anda semua adalah orang-orang yang berjiwa baik,” kata Lanxa dengan tulus.

Lanxa Alonso menjadi emosional ketika mengetahui nilai uang yang adaa didalam kartu bantuan tunai yang diterimanya.

Rumah milik Calvin Tchuente rusak parah dihantam tornado, dimana dinding dan atapnya terbang ditiup angin kencang. Dia terus menerus berkata “Tuhan memberkatimu” ketika menerima kartu bantuan tunai, mengatakannya lebih dari 10 kali. Calvin adalah keturunan Afrika-Amerika dan seorang Kristen, dan ketika relawan bercerita tentang bantuan Tzu Chi di Africa, yang bertujuan untuk menyampaikan bahwa welas asih dan keterbukaan pikiran hadir dalam ajaran Kristen dan Buddhis, itu adalah pesan yang dia pahami secara mendalam.
“Cinta kasih tidak terikat oleh agama, ras, dan warna kulit. Guru anda adalah Yang Mulia Master Cheng Yen, dan guru saya adalah Tuhan. Kita seperti sebatang pohon: kita mungkin memiliki cabang yang berbeda, tetapi kita dari pohon dan akar yang sama,” kata Calvin Tchuente, salah satu penerima bantuan.

Berbicara dengan relawan Tzu Chi, Calvin Tchuente, yang rumahnya rusak parah akibat badai tornado, menemukan hubungan antara nilai-nilai Kristen dan Buddhis.

Berbagi semangat Tzu Chi
Pada saat pembagian bantuan, relawan Tzu Chi juga dengan senang hati memanfaatkan kesempatan untuk berbagi misi dan filosofi Tzu Chi dengan relawan dari organisasi lain. Tim, seorang relawan dari unit konsultasi medis, pernah bertemu dengan relawan Tzu Chi pada kegiatan sebelumnya. Sejak itu, dia tidak hanya belajar lebih banyak tentang misi pelestarian lingkungan Tzu Chi tetapi juga menerima dan melakukannya secara personal.
Kali ini, dia datang ke kantor regional Tzu Chi untuk meminjam beberapa selimut ramah lingkungan Tzu Chi agar ketiga temannya dapat merasakan langsung betapa lembut dan hangat ketika disentuh mereka sekaligus juga melindungi lingkungan karena terbuat dari botol plastik yang didaur ulang. Ketiga temannya kemudian belajar lebih banyak dari relawan Tzu Chi Fangwen Huang.

Relawan Fangwen Huang memperkenalkan misi-misi Tzu Chi, termasuk misi pelestarian lingkungan, kepada tiga orang teman dari Tim.

Selain misi-misi Tzu Chi, relawan Tzu Chi Fangwen Huang juga menjelaskan tentang semangat celengan bambu Tzu Chi, teknologi welas asih DaAi, dan kata-kata mutiara Jingsi Dharma Master Cheng Yen, yang merupakan inti layanan Tzu Chi dan filosofi Buddhis. Dan bagi Tim, ini juga merupakan kesempatan untuk menyerahkan celengan bambu yang telah diisinya semenjak pertama kali bertemu dengan Tzu Chi.
Relawan Palang Merah Gail Hassell adalah seorang pensiunan guru. Beliau berbagi pengalaman pelayannya kepada komunitas lokal bersama relawan Tzu Chi dan berdonasi langsung di tempat untuk menunjukkan apresiasinya dan pengakuannya terhadap kegiatan global Tzu Chi.

Pensiunan guru Gail Hassell dan seorang relawan Tzu Chi bertukar pengalaman mereka dalam layanan masyarakat.

Sepuluh relawan Tzu Chi berpartisipasi pada kegiatan distribusi bantuan darurat kedua dan mendistribusikan kartu bantuan tunai dan selimut ramah lingkungan Tzu Chi kepada delapan keluarga yang terkena dampak badai tornado. Kali ini, lokasi distribusi bantuan berada di daerah yang relatif terpencil, tetapi informasi tentang kegiatan ini disiarkan oleh stasiun televisi lokal, radio, dan media lainnnya di lokasi bencana. Meskipun demikian, jumlah keluarga yang datang lebih sedikit dari yang diharapkan.
Namun, para relawan senang mereka dengan sepenuh hati dapat membantu keluarga-keluarga yang datang, mempersiapkan jalan bagi mereka untuk pulih. Tzu Chi Amerika Serikat akan membawa cinta kasih langsung kepada mereka yang membutuhkan di seluruh negeri.

Sumber : www.tzuchi.us,
Jurnalis : Fangwen Huang,
Fotografer : Fangwen Huang, Pei Chi Tse, Ziluan Cai, Shujin Li,
Editor : Ida Eva Zielinska,
Diterjemahkan kedalam Bahasa Inggris oleh : Hong (Ariel) Chan,
Diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia oleh : Sik Pin.