Relawan Tzu Chi Manila Mengunjungi Proyek Penanaman Pisang di Davao
Relawan Tzu Chi terbang dari Manila ke Davao pada tanggal 04 Juni 2022 untuk mengunjungi proyek penanaman pisang Davao, yang merupakan bagian dari program pengentasan kemiskinan dan kelaparan Tzu Chi. Inisiatif ini dimulai oleh relawan Tzu Chi di Davao pada bulan Januari 2022 dimana mereka membantu menanam 2.500 benih pohon pisang di Talaingod, Davao del Norte, melayani 45 keluarga dari suku Ata Manobo.
Total sebanyak 35 orang relawan Tzu Chi – 31 orang berasal dari Manila dan 4 orang berasal dari Angeles City, Pampanga – disambut kedatangannya oleh relawan Davao, yang dipimpin oleh Nelson Chua. Setelah dua jam penerbangan, relawan Tzu Chi mengemudi selama tiga jam dari kota Davao dan berjalan kaki melalui jalan pegunungan untuk mencapai lokasi di Sitio Napisulan, Purok 14, wilayah pemukiman Sto Nino, Talaingod. “Kami senang menerima kedatangan mereka disini. Dan mereka tampak senang menyeberangi sungai. Mereka sangat menikmatinya,” kata Nelson Chua.
Bagi CEO Yayasan Tzu Chi Filipina, Henry Yunez, ini adalah waktu yang tepat untuk kunjungan setelah dua tahun pematasan perjalanan. “Karena situasi pandemi sekarang lebih baik, kami datang kesini untuk belajar dari saudara-saudara kita di Davao yang membantu penduduk asli setempat disini,” katanya.
Relawan Tzu Chi Davao mulai bekerja sama dengan penduduk asli Talaingod ketika pandemi dimulai di tahun 2020. “Kami melihat langsung betapa sulitnya kehidupan suku Ata Manobo. Kami pikir mereka benar-benar butuh pertolongan,” kenang Nelson Chua. Mereka mulai mengadakan pembagian beras dan sembako di Talaingod semasa pandemi, melayani sekitar 1.700 keluarga pada tahun tersebut.
Di tahun 2021, relawan Tzu Chi mulai merencanakan sebuah program mata pencaharian untuk suku Ata Manobo, dan akhirnya melaksanakan program penanaman pohon pisang Cardava di tahun 2022. Mereka memberi pelatihan keahlian teknis, menyediakan pupuk organik, dan memantau pohon-pohon yang telah ditanam secara rutin. Pohon-pohon tersebut diharapkan mulai menghasilkan buah yang manis di tahun depan. “Pisang Cardava ini, kamu bisa menggorengnya. Kami juga memiliki sekitar 40 pabrik yang memproduksi keripik pisang. Mereka tidak akan kesulitan untuk menjualnya,” kata Nelson Chua, yang meyakinkan para petani bahwa mereka akan membantu menjual hasil panen mereka.
Ariel Garao adalah salah satu relawan yang berbasis di Davao, memberikan dukungan teknis dan membantu kebutuhan masyarakat. Dia pertama kali diundang untuk membantu di kegiatan pembagian beras oleh Nelson Chua, bos ditempat kerjanya. Sejak itu, dia tidak pernah meninggalkan Tzu Chi. “Saya selalu punya waktu untuk Tzu Chi. Tidak ada yang sebanding dengan kegembiraan ketika melihat orang-orang yang dibantu anda bahagia,” katanya.
Garao senang mendapat dukungan dari relawan Tzu Chi Manila untuk proyek ini. “Masyarakat disini sekarang dapat melihat harapan untuk hidup mereka, terutama ketika mereka melihat segitu banyak relawan Tzu Chi yang siap membantu mereka,” tambahnya.
Manny Go adalah salah satu contoh lain. Dia termasuk diantara relawan asal Manila yang datang untuk membantu program mata pencaharian ini. “Hati saya sangat bahagia bisa menolong sesama orang Filipina. Ini adalah bagian dari tanggung jawab saya,” kata Go.
Proyek ini merupakan berkah luar biasa bagi Robert Daoban, yang keluarganya hampir tidak bisa bertahan hidup dari makan ubi jalar dan pisang yang mereka petik dari kebun. Mereka hanya bisa membeli beras setelah mereka menjual hasil panen mereka setelah beberapa lama – empat bulan untuk jagung dan setahun untuk abaca – untuk bisa membeli beras yang sangat murah.
Jika untuk keluarga miskin lainnya, beras adalah makanan pokok, bagi keluarga Daoban, beras adalah kemewahan. “Mimpi saya adalah kami bisa makan setiap hari,” kata Robert.
“Kami hanya makan dua kali sehari, sekitar jam 10.00 pagi dan jam 21.00 malam,” kata istrinya, Mercy Daoban. Pasangan ini juga berharap kedua anak mereka bisa menyelesaikan sekolah. “Saya berharap putri kecil saya suatu hari nanti bisa menjadi guru, dan putra saya bisa jadi polisi,” kata Mercy yang hanya tamat sekolah dasar, kasus yang biasa terjadi di masyarakat yang hidup dalam kemiskinan yang ekstrem dan jauh dari sekolah.
Akses terhadap teknologi informasi dan komunikasi adalah masalah lain bagi suku tersebut. Tanpa listrik, sinyal, dan peralatan yang memadai, mereka tidak dapat mengakses informasi tentang dunia luar dan kehilangan kesempatan untuk belajar.
Orang-orang yang datang dari luar ke komunitas mereka yang terpencil dan menawarkan bantuan adalah kejutan besar bagi mereka. “Terima kasih banyak telah memberi kami beras dan benih pisang. Terima kasih untuk semua bantuan anda,” kata Robert. Istrinya, Mercy, juga tak kalah bersyukur. “Kami senang karena Yayasan Tzu Chi datang kemari.”
Jurnalis : Ben Baquilod,
Fotografer : Matt Serrano, Daniel Lazar,
Diterjemahkan oleh : Sik Pin.