Relawan Tzu Chi Memberi Bantuan kepada Warga Myanmar yang Terkena Bencana Banjir
Secara global, bencana tampaknya semakin sering terjadi. Pada bulan Oktober ini, Myanmar mengalami curah hujan sebesar 7,87 inci hanya dalam delapan hari, tertinggi dalam 59 tahun terakhir.
Daerah yang terkena dampak paling parah adalah wilayah Bago di dataran tengah-selatan Myanmar, yang luasnya sekitar 39.400 kilometer persegi – sekitar dua kali luas New Jersey, Amerika Serikat.
Kota Bago, yang terletak sekitar 80 kilometer atau 50 mil dari Yangon, telah terendam oleh naikknya air Sungai Bago. Khawatir akan potensi resiko sengatan listrik, pihak berwewenang menghentikan pasokan listrik. Secara keseluruhan, diperkirakan 14.000 orang kehilangan tempat tinggal akibat bencana banjir tersebut.
Bersatu untuk membantu sesama
Menghadapi bencana seperti itu, bahkan mereka yang tinggal di rumah terapungpun tidak dapat lagi menemukan penghiburan. Relawan Tzu Chi berkomitmen untuk memastikan masyarakat yang berada di wilayah bencana mendapatkan makanan hangat. Asalkan bisa didatangi, relawan Tzu Chi menggunakan perahu kecil untuk mengantarkan makanan, didorong oleh keinginan tunggal agar warga tidak hanya menerima makanan hangat untuk tubuh mereka tetapi juga kenyamanan bagi jiwa mereka.
Skala bencananya sangat besar. Biksu Buddhist dari Vihara Thamain Daw Daya di Yangon menghubungi relawan Tzu Chi, meminta bantuan untuk membantu warga melewati masa sulit ini. Para relawan berkolaborasi dengan tiga vihara daerah Yangon dan kotamadya Danyin untuk mempersiapkan dan memasak makanan; mereka menunjukkan kesatuan tujuan yang melampaui batas apapun. Tujuan utamanya adalah untuk segera menringankan kelaparan warga.
Dampak bencana terhadap mata pencaharian warga
Banjir telah menggangu penghidupan warga, Relawan Tzu Chi yang dipimpin oleh Guo Bao-yu melakukan survey di daerah yang terkena bencana pada tanggal 09 Oktober 2023. Dari tanggal 10 hingga 13 Oktober 2023, mereka telah mendistribusikan lebih dari 27.000 kotak makanan hangat, roti, dan air minum, yang melibatkan 155 relawan.
Seorang pengendara sepeda motor yang menerima kotak makanan hangat mengungkapkan rasa terima kasihnya; dia mengatakan bahwa banjir telah membuat dia kehilangan pekerjaan dan pendapatan serta menjerumuskannya ke dalam kesulitan. Beliau sangat mengapresiasi makanan hangat yang disediakan oleh relawan Tzu Chi, dengan mengatakan: “Dapat menikmati makanan lengkap sekarang adalah sebuah berkah”.
Perubahan iklim telah meningkatkan frekuensi bencana terkait iklim. Banjir yang dulunya terjadi setahun sekali, kini telah menjadi dua kali. Meskipun bencana alam tidak ada ampunnya, namun kasih sayang dan cinta kasih manusia tetap ada, membuka jalan bagi masyarakat yang terkena bencana untuk segera dapat melanjutkan kehidupan normalnya kembali.
Jurnalis : Chen Yong-sheng, Chen Yong-ting, Huang Lu-fa,
Fotografer : Yayasan Tzu Chi Myanmar, Nyi Min-hein, Yi Mon-than,
Editor : Yang Ya-ying,
Diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia oleh : Sik Pin.