Sanubari Teduh

Sanubari Teduh – 070 – Senantiasa Bertobat Secara Terbuka

Saudara se-Dharma sekalian, Dharma bagaikan air. Apakah kita setiap hari sudah membersihkan batin dengan air Dharma? Saya yakin ketika kita bangun di pagi hari, yang pertama dilakukan adalah ke kamar mandi dan menggunakan air. Air bisa membersihkan kotoran. Demikian pula, setiap hari, setiap saat, batin kita tidak boleh jauh dari air Dharma. Jadi, kita harus selalu bersungguh-sungguh membersihkan batin kita dengan air Dharma. Pertobatan adalah pemurnian. Segala karma buruk//dapat dimurnikan dengan bertobat. Kita sudah membahas bahwa hakikat kejahatan tidak berada di dalam, di luar, maupun di antaranya. Sesungguhnya, apakah hakikat kejahatan// berada di luar, di dalam, ataukah selamanya ada dalam batin kita? Ia adalah hasil pertemuan sebab dan kondisi. Jika kita tidak menciptakan sebab, maka buah karma buruk tak akan tercipta. Selain sebab, dibutuhkan kondisi pendukung. Kita ambil virus sebagai contoh. Virus pada dasarnya tidak hidup, tetapi setelah menempel pada bakteri lain, ia akan menjadi parasit. Demikian pula dengan kejahatan. Itulah sebabnya kita harus selalu mawas diri. Kita harus menyadari bahwa kejahatan pada hakikatnya adalah kosong.

Pada mulanya memang tidak ada. Demikianlah Tujuh Kondisi Pikiran harus dibangkitkan. Jika pada hakikatnya memang adalah kosong, lalu mengapa kejahatan bisa muncul? Jika ingin memurnikan karma buruk, kita harus membangkitkan Tujuh Kondisi Pikiran. Tujuh Kondisi Pikiran untuk Melenyapkan Tiga Rintangan: – Rasa malu – Rasa takut – Berpaling dari samsara – Membangkitkan Bodhicitta – Memandang setara semua makhluk – Membalas budi luhur Buddha – Mengamati kosongnya hakikat kejahatan Tujuh kondisi pikiran ini terdiri atas: pertama, rasa malu; kedua, rasa takut; ketiga, berpaling dari samsara; keempat, membangkitkan Bodhicitta; kelima, memandang setara semua makhluk; keenam, membalas budi luhur Buddha; ketujuh, mengamati kosongnya hakikat kejahatan. Jika Tujuh Kondisi Pikiran tadi dapat benar-benar kita pahami, berarti dalam keseharian kita, kita harus memiliki rasa malu. Saya sering mengulas tentang pentingnya mawas diri dan rendah hati.

Orang yang bisa bermawas diri dan rendah hati dapat senantiasa memiliki rasa malu. Di dunia ini, kita harus mawas diri, tidak boleh sombong, tidak boleh melekat pada pandangan sendiri, pun tidak melekat pada kekosongan maupun keberadaan. Kita harus mengecilkan ego dan terjun ke tengah masyarakat. Pikiran ini harus selalu kita praktikkan dan kita bangkitkan. Janganlah kita menyombongkan diri karena banyak bahaya yang berada di sekitar kita. Kesombongan juga dapat membahayakan diri kita. Jika dipikir-pikir, di dunia ini tiada yang perlu dilekati. Semua keinginan, reputasi, dan keuntungan hanyalah keindahan semu sesaat yang akan berlalu bagaikan mimpi. Semua itu tiada yang benar-benar nyata. Manusia bersaing demi sesuatu yang tidak nyata dan hanya membawa kerisauan dan karma buruk. Oleh karena itu, kita seharusnya berpaling dari nafsu keinginan tersebut, jangan ada ketamakan. Kita harus senantiasa membangkitkan Bodhicitta. Sebagai praktisi, jika tidak mengembangkan Bodhicitta, apa lagi yang harus kita latih? Oleh karena itu, kita sudah membahas tentang Empat Pikiran Tanpa Batas, Enam Paramita, dan 37 Faktor Pendukung Pencapaian Pencerahan. Semuanya ini adalah metode yang paling penting dalam pelatihan diri kita.

Jadi, kita harus tekun dan giat berlatih untuk memandang setara semua makhluk. Kita semua adalah saudara tanpa perlu memandang hubungan darah. Kita hidup di bumi yang sama. Kehidupan adalah sebuah kesatuan. Jika bumi selamat, manusia juga akan selamat. Jika bumi tidak selamat, bagaimana mungkin manusia bisa selamat? Karena itu, demi keselamatan umat manusia, setiap orang harus menyayangi bumi ini. Dengan begitu, manusia akan hidup tenteram. Kita harus memandang setara semua makhluk. Bumi saja harus kita sayangi dan hargai, apalagi manusia. Oleh karena itu, kita harus selalu memperlakukan semuanya dengan setara. Kita harus selalu bersyukur dan bertekad membalas budi Buddha. Kita dapat memahami banyak hal dan terbebas dari noda batin serta karma buruk berkat budi luhur Tiga Permata. Demi semua makhluk, Buddha menjalani banyak kesulitan semata-mata untuk mencari akhir penderitaan dan kembali pada kebenaran hakiki. Setelah mencapai pencerahan dan mengetahui sebab penderitaan, Buddha mulai membimbing semua makhluk dengan kebijaksanaan dari tubuh Dharma-Nya.

Buddha mendedikasikan diri-Nya dan melatih diri demi semua makhluk. Karena itu, kita harus bersyukur atas budi-Nya. Apalagi, mengingat semua karma buruk kita, berkat budi luhur Buddha yang telah memberi bimbingan pada kitalah kini kita tahu sebab timbulnya karma buruk dan sebab timbulnya penderitaan. Berkat bimbingan Buddha yang penuh welas asih dan kebijaksanaan, kini kita mengetahui cara menggunakan kebijaksanaan kita untuk mengamati bahwa hakikat kejahatan adalah kosong. Ia tak memiliki hakikat yang tetap, hanyalah pertemuan antara sebab dan kondisi yang mengakibatkan terjadinya kejahatan ini. Jadi, hakikat kejahatan adalah kosong. Kita harus meningkatkan kesadaran kita. Terhadap kondisi di luar dan dalam diri, kita harus benar-benar waspada.

Apakah batin kita mudah terpengaruh oleh kondisi luar? Jika nafsu keinginan dan kegelapan batin bangkit, maka begitu ada kondisi yang menggoda, kita akan segera terpengaruh dan melakukan karma buruk. Dengan begitu, kita pasti menerima buahnya. Karena itu, dalam berlatih di jalan Buddha, kita harus senantiasa meningkatkan kesadaran. Inilah mengamati kosongnya hakikat kejahatan. Berikutnya, Setelah membangkitkan tujuh kondisi pikiran ini, kita memvisualisasikan para Buddha dan para suci di sepuluh penjuru, mengatupkan kedua telapak tangan, mengakui kesalahan, tulus berdoa, merasa malu, bertekad untuk berubah dan memperbaiki diri. setelah membangkitkan kita memvisualisasikan para Buddha dan para suci di sepuluh penjuru. Kita harus mengatupkan kedua telapak tangan. Kita harus sepenuh hati mengatupkan tangan dan beranjali, mengakui kesalahan, tulus berdoa, merasa malu, bertekad untuk berubah dan memperbaiki diri. Kita harus senantiasa membangkitkan rasa malu dan tekad untuk berubah, karena sebagai makhluk awam, kita mempunyai tabiat buruk.

Hakikat kejahatan adalah kosong. Itu hanyalah akumulasi tabiat buruk kita. Karena itu, kita harus selalu berdoa dengan hati yang tulus. Kita harus memiliki rasa malu//terhadap diri sendiri dan orang lain atas segala kesalahan kita. Dengan memiliki rasa malu, barulah kita bisa memperbarui batin kita. Kita harus mengubah perilaku kita. Kita harus membersihkan batin kita. Jika kita bisa membersihkan batin dan memperbaiki cara pandang yang salah, barulah perilaku kita bisa berubah. Kita harus merasa malu, berubah, dan memperbaiki diri. Berubah berarti meluruskan perbuatan kita. Memperbaiki diri berarti membersihkan noda batin dan tabiat buruk dengan tuntas. Kita harus memperbaiki diri secara tuntas. Membersihkan jantung dan hati, serta menyucikan usus dan perut. Dengan bertobat seperti ini, kejahatan apakah yang tak dapat dipadamkan, dan berkah apakah yang tak dapat ditumbuhkan? Dikatakan, “Membersihkan jantung dan hati, serta menyucikan usus dan perut.” “Dengan bertobat seperti ini, kejahatan apakah yang tak dapat dipadamkan, dan berkah apakah yang tak dapat ditumbuhkan?” Syair ini telah jelas menyatakan bahwa//kita harus memperbaiki diri.

Bagaimana cara membersihkan noda batin? Dalam syair tadi dikatakan, “Membersihkan jantung dan hati.” Kita harus membersihkan bagian dalam tubuh kita. Kita harus benar-benar membersihkan seluruh organ tubuh kita. Contohnya, saat wabah SARS terjadi, kita menganjurkan semua orang bervegetarian. Coba perhatikan diri kita manusia, dengan hanya membuka mulut saja kita dapat menciptakan karma buruk. Untuk makan saja kita dapat menciptakan karma buruk karena makan daging makhluk hidup. Demikianlah yang kuat memakan yang lemah. Inilah kesombongan manusia. Sungguh merupakan sikap yang arogan. Manusia terus membanggakan diri dan memperlihatkan kekuatan. Kita merasa berhak memakan makhluk lain. Lihatlah, tak perlu melakukan tindak kriminal, cukup hanya dengan makan saja kita sudah menciptakan karma buruk setiap hari. Tak terhitung sudah makhluk hidup yang menjadi santapan manusia. Lihatlah, betapa kotornya isi perut kita. Namun, yang terkotor adalah batin kita.

Sungguh sangat kotor. Banyak bangkai terkubur dalam perut kita, membuat perut kita bagaikan kuburan. Kuburan biasanya berisi jenazah manusia, namun dalam perut manusia, terkubur banyak bangkai hewan. Bayangkan betapa kotornya. Karena itu, kita harus bervegetarian. Dengan bervegetarian, kita bisa membersihkan perut kita. Selanjutnya adalah berdoa. Lihatlah, pada zaman dahulu, baik raja, pejabat, hingga rakyat biasa, mulai dari kaisar hingga rakyat biasa, dalam setahun pasti pernah melakukan ritual doa keselamatan dan berkah. Sebelum berdoa, mereka pasti berpantang daging. Ini sudah dipraktikkan sejak zaman dahulu. Pada masa kini, kita seharusnya juga melakukan hal yang sama sebagai wujud ketulusan kita, bahkan bukan hanya tujuh hari, tiga hari, ataupun sebulan saja dalam setahun. Ketahuilah bahwa berpantang beberapa hari hanyalah menunjukkan ketulusan sementara.

Kenyataannya, tubuh kita sudah lama kotor. Coba pikirkan, bukankah kita harus membersihkan usus kita setiap hari? Kita pun harus sungguh-sungguh membersihkan bagian dalam tubuh kita setiap saat. Karena itu, dikatakan, “Membersihkan jantung dan hati Ini menggambarkan bagaimana kita harus selalu menjaga kebersihan tubuh kita. Selain kebersihan organ tubuh, kita juga harus menjaga kesucian pikiran kita. Jika kita dapat melakukannya, maka dikatakan, Bertobat sangatlah penting. Jika kita tak mengerti pentingnya bertobat, maka dikhawatirkan karma buruk kita semakin lama akan semakin besar. Oleh karena itu, kita harus senantiasa bertobat setiap saat. Pertobatan berarti pemurnian. Karena itu, saya sering berkata bahwa Dharma bagaikan air yang dapat membersihkan kotoran. Untuk memurnikan segala karma buruk yang telah kita perbuat di masa lalu, satu-satunya cara terbaik adalah bertobat.

Pada setiap kebaktian pagi dan malam, kita selalu membaca syair pertobatan. Ini bertujuan untuk senantiasa mengingatkan diri kita. Pertobatan pada kebaktian pagi adalah untuk mengingatkan kita agar pada hari ini, dalam interaksi dengan orang lain dan masalah, kita senantiasa menjaga kesadaran batin kita untuk tidak terpengaruh oleh kondisi luar. Kebaktian pagi bertujuan mengingatkan kita. Kebaktian malam adalah saat untuk berefleksi apakah sepanjang hari ini, dalam menghadapi orang, masalah, dan hal, kita terpengaruh atau tercemar kondisi luar, dan apakah kita telah melakukan kesalahan. Inilah saat bagi kita untuk berintrospeksi. Jadi, kebaktian pagi bertujuan mengingatkan, dan kebaktian malam adalah saatnya introspeksi. Dalam beraktivitas, sebagai makhluk awam, terciptanya karma buruk sangat sulit dihindari. Karena itu, terhadap perbuatan masa lalu, kita harus senantiasa bertobat. Dengan begitu, kesalahan ini baru akan lenyap. Orang yang memiliki hati yang bertobat tidak akan mengulangi kesalahan. Jadi, hati yang bertobat harus senantiasa ada untuk melenyapkan kesalahan masa lalu dan meningkatkan kewaspadaan di masa depan. Inilah yang disebut pertobatan. “Menutup-nutupi kesalahan akan membuat karma buruk semakin bertumbuh.” Jika kita melakukan kesalahan lalu menutup-nutupinya, maka kesalahan ini akan semakin bertumbuh.

Pernahkah kalian mendengar ungkapan “anak yang jahat suka berbohong”? Orang yang sering berbuat kesalahan, ucapannya tidak dapat dipegang karena ia tidak akan mengatakan kenyataan sebagaimana adanya. Orang yang berani mengakui kesalahan adalah orang yang mau memperbaiki diri. Jadi, dengan menutupi kesalahan, kesalahan itu akan terus bertumbuh. Karena itu, jika kita melakukan kesalahan, janganlah disembunyikan, jangan ditutup-tutupi. Ketika melakukan kesalahan, akuilah dengan terus terang. Kita sering mendengar insan Tzu Chi sering berbagi tentang masa lalu mereka di depan banyak orang. Saya selalu mengatakan, “Membuat pengakuan bermanfaat bagi kemajuan.” Mengakui kesalahan secara terbuka berarti kita tidak terus menyimpan kesalahan. Kita tidak boleh terus menyembunyikan kesalahan atau keburukan kita. Jika demikian, kita tidak akan maju. Karena itu, tak apa mengakui kesalahan secara terbuka. Kita harus mengakui kelemahan kita. Janganlah kita menyimpan keburukan, kesalahan, ataupun kejahatan masa lalu dan terus menyembunyikannya. Semua itu dapat terus mencemari batin kita. Oleh karena itu, kita harus bertobat. Bertobat adalah menguak segala kekotoran dan membersihkannya dengan air. Sebelumnya dikatakan tentang membersihkan organ tubuh dan segala kekotoran dalam diri kita, termasuk cara pandang kita.

Inilah yang disebut bertobat. Jangan anggap karena tiada yang tahu kesalahaan kita, maka biar saja terus kita tutupi. Ini tidaklah benar. Kita harus mengakuinya. Karena kita hidup di tengah masyarakat, bagaimana kita bisa menjamin tiada orang yang tahu masa lalu kita? Jangan menganggap bahwa di Tzu Chi tiada yang tahu masa lalu kita. Karena Tzu Chi adalah organisasi besar, kita mungkin bertemu orang yang dulu kita kenal. Daripada orang lain yang membuka masa lalu kita, lebih baik kita saja yang berterus terang. Menceritakan kesalahan sendiri di masa lalu, inilah yang disebut bertobat secara terbuka. Jadi, dalam organisasi pelatihan diri kita, juga ada waktu khusus untuk bertobat. Kita di vihara-vihara, biasanya mengadakan sidang pertobatan 2 minggu sekali di mana peserta menyatakan pertobatan atas segala kesalahan dalam 2 minggu tersebut. Jika kita tidak membuat pengakuan, peserta lain boleh membuka kesalahan kita. “Kamu pernah begini terhadap saya,” atau,“Kamu pernah begitu terhadap orang lain.” “Kamu pernah melakukan kesalahan ini-itu.” Kita harus mengakui kesalahan kita di tempat. Kadang ada yang tak sengaja berbuat salah sehingga tidak menyadarinya.

Noda ini terus ada dalam batin kita. Jika seseorang memberi tahu bahwa kita melakukan kesilapan, segeralah menyatakan penyesalan. Jangan malah menjawab, “Itu urusanku, mengapa malah kamu bocorkan?” “Kamu telah mempermalukan dan menghina saya.” Sikap demikian tidaklah benar. Siapa yang tidak pernah melakukan kesalahan? Kesalahan adalah noda. Noda haruslah segera dibersihkan. Ketika menyadarinya, kita harus segera membersihkannya. Jika orang lain mengingatkan, kita juga harus segera membersihkannya. Kita harus menerima yang disampaikan dengan penuh rasa syukur dan bertobat. Inilah pelatihan diri yang sebenarnya. Jadi, janganlah menyimpan dan menutupi segala kesalahan kita. Jika kita menyimpannya dalam diri, kesalahan ini akan semakin bertumbuh. Jika kita bertobat secara terbuka, kesalahan ini akan tersucikan. Pertobatan secara terbuka sangatlah penting. Dalam melatih diri, selain mengembangkan 4 Pikiran Tanpa Batas, 6 Paramita, dan 37 Faktor Pendukung Pencapaian Pencerahan, Jika kita tidak bisa bertobat setiap saat, meski kita melatih 4 Pikiran Tanpa Batas, 6 Paramita, bahkan 37 Faktor Pendukung Pencapaian Pencerahan dengan sangat tekun dan bersemangat, jika kita menutup-nutupi kesalahan, berarti batin kita masih belum bersih.

Jadi, isi dari Syair Pertobatan ini harus kita hayati dengan sepenuh hati. Dikatakan bahwa kita harus menyucikan usus dan perut serta membersihkan jantung dan hati. Kita harus membersihkan diri luar dalam dengan tuntas. Jika dapat melakukannya, tiada kesalahan yang tak dapat padam. Jadi, untuk mengikis karma buruk, satu-satunya cara adalah bertobat. Sesungguhnya, orang yang dilahirkan miskin belum tentu selamanya akan hidup sulit dan terus menerima buah karma buruk. Asalkan memiliki sedikit benih karma baik dan jalinan jodoh baik, ia pun bisa segara lepas dari penderitaan dan hidup bahagia dalam kehidupan ini. Contohnya, di Indonesia. Kita dapat melihat banyak kisah menyentuh di Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi. Di antaranya, ada pasangan suami istri tua. Dibantu oleh relawan Tzu Chi, kakek dan nenek ini bergandeng tangan melihat rumah baru mereka. Sampai di depan pintu rumah, si kakek langsung menutup matanya. Ketika ditanya, “Ada apa, Kek?” Ia menjawab, “Benar ini bukan mimpi?” “Apakah ini nyata?” “Saya takut begitu buka mata, semuanya akan menghilang.” Begitulah kegembiraan sang kakek.

Si nenek terus tertawa sambil memeluk insan Tzu Chi. Ia berkata, “Dulu kami tinggal di Kali Angke.” “Di sana sangat kotor.” “Rumah kami bobrok.” “Sepanjang hari banyak lalat dan nyamuk, juga sangat bau.” “Sekarang bisa tinggal di sini, saya sangat senang dan bersyukur.” Kakek dan nenek ini sangat senang. Nenek mengungkapkan kegembiraannya, sedangkan kakek agak khawatir. “Saat saya membuka mata, akankah semuanya hilang?” “Apakah saya sedang bermimpi?” Kakek dan nenek ini tadinya memiliki 6 anak. Malangnya, lima orang sudah meninggal, hanya satu yang masih hidup. Putranya ini sudah menikah dan pergi mencari nafkah bersama istrinya. Kakek dan nenek ini mengasuh dua cucu mereka. Kini, kakek, nenek, dan kedua cucu ini dapat tinggal di tempat yang layak. Karena itu, mereka mengatakan, “Kami seakan baru keluar dari neraka dan tiba-tiba sampai di surga.” “Saya takut begitu membuka mata, surga ini akan menghilang.” Lihatlah, mereka memiliki benih karma baik. Ditambah jalinan jodoh dengan insan Tzu Chi, surga pun terpapar di hadapan mereka. Mereka bisa menggandeng tangan cucu mereka dan bersama-sama memulai hidup yang bahagia. Intinya, Saudara sekalian, berkah haruslah diciptakan sendiri. Jika tidak menciptakan berkah, maka kita tak akan bertemu jodoh pendukung. Ada sebab, ada kondisi jodoh. Jika sebab dan kondisi pendukung bertemu, maka berkah akan berbuah. Intinya, kita harus senantiasa menjaga pikiran dengan baik. Kita harus mengikis karma buruk agar karma baik dapat berbuah. Untuk mengikis karma buruk, kita harus menjaga pikiran dengan baik. Jangan terus menambah karma buruk. Terlebih lagi, kesalahan yang sudah dibuat janganlah ditutup-tutupi. Kita harus senantiasa membersihkan diri kita dengan menggunakan air Dharma. Harap semua lebih bersungguh-sungguh.