Sanubari Teduh – 078 – Waspada terhadap Setiap Niat Yang Muncul
Waspada terhadap Setiap Niat yang Muncul Saudara se-Dharma sekalian, apakah lahan batin kita ini telah kita garap dengan giat? Lahan batin ini, jika tidak kita garap dengan sungguh-sungguh, mungkin akan cepat ditumbuhi rumput liar. Betapa pun banyaknya benih yang ditanam, jika kita tidak sungguh-sungguh mencabuti rumput liar, mengairi, memberi pupuk, dan menciptakan kondisi yang mendukung, maka benih itu tidak akan tumbuh dengan baik. Karena itu, sering saya katakan bahwa pikiran haruslah dijaga dengan baik. Tiada cara lain untuk berlatih di jalan Buddha. Satu-satunya cara adalah menjaga pikiran kita dengan baik. Seperti yang telah dikatakan di awal, makhluk awam memiliki banyak rintangan. Berapakah jenis rintangan makhluk awam? Akibat akumulasi dari masa lalu, rintangan yang ada tentu sangat banyak, namun semuanya hanya dibedakan menjadi tiga. Yang disebut tiga rintangan, pertama adalah rintangan noda batin, kedua adalah rintangan karma, ketiga adalah rintangan buah karma. Noda batin timbul dari kegelapan batin. Kegelapan batin ini dapat juga dianggap sama dengan noda batin. Jumlah dan wujud noda batin ini sungguh banyak. Ada yang menyebutnya 84.000 noda batin.
Akan tetapi, sesungguhnya bukan hanya 84.000. Tidak hanya segitu. Ini menunjukkan bahwa dalam kurun waktu satu hari, mungkin saja ada 84.000 noda batin yang terus berkutat dalam pikiran kita. Kadang saya berpikir tentang mengapa disebut 84.000. Apakah menandakan jumlah yang sangat banyak? Saya teringat bahwa saya pernah berkata bahwa satu jam terdiri atas 60 menit, dan satu menit terdiri atas 60 detik. Satu hari terdiri atas 24 jam. Jika kita hitung dengan saksama, maka ada 86.400 detik dalam sehari. Di zaman dahulu, dalam Sutra sering disebutkan//tentang 84.000 noda batin. Apakah ini menunjukkan bahwa dalam setiap detik, ada noda batin yang timbul? Saya rasa begitu. Terlebih lagi, noda batin muncul begitu cepat. Merenungkan hal ini, kita perlu sungguh waspada. Kita sungguh harus menjaga pikiran dengan baik. Semua praktisi,//baik monastik maupun perumah tangga hendaknya mengetahui bahwa jika pikiran ini tidak dijaga dengan baik,//noda batin akan timbul. Dengan timbulnya noda batin, kita akan menciptakan karma buruk. Jadi, noda batin timbul dari pikiran, dan karma terwujud melalui perbuatan. Saat kita berbuat, berarti benih karma telah tertanam.
Benih ini akan terus terakumulasi dari kehidupan ke kehidupan. Dengan begitu, buah karma yang diterima juga tidak berkesudahan. Karena telah menanam banyak benih, maka buah yang akan kita terima kelak juga akan banyak. Karena itu, dalam melatih diri, Kita harus sungguh-sungguh menjaga setiap pikiran yang timbul. Kita perlu waspada terhadap pikiran kita. Jadi, noda batin, karma, dan buah karma berkaitan dengan hukum sebab akibat. Karena itu, ketiganya saling bertautan. Karena saat buah karma terwujud, noda batin akan kembali timbul dan kita akan kembali menciptakan karma buruk. Ini sudah pasti. Jika kita bukanlah orang yang melatih diri, ketika noda batin muncul, kita akan segera memberikan reaksi. Reaksi dalam bentuk perbuatan ini adalah karma. Karma buruk ini bersumber dari akumulasi noda dan tabiat buruk dalam batin. Semua ini saling berkaitan. Mulanya,//kita menciptakan karma akibat noda batin, kemudian benih karma yang tertanam ini terus terakumulasi dan ketika kondisi mendukung, ia pun berbuah. Saat buah karma ini muncul, kita kembali bereaksi, dan reaksi ini membawa kerisauan. Akibatnya, kita kembali melakukan tindakan yang akhirnya kembali membawa buah karma. Siklus ini tidak pernah berhenti. Karena itu, dikatakan bahwa manusia terus tenggelam dalam lautan penderitaan atau di alam-alam rendah. Kita terus tenggelam.
Karena itu, makhluk awam sulit membebaskan diri. Ini adalah akibat dari Tiga Rintangan yang saling bertaut, terakumulasi, dan ditutup-tutupi. “Akibat adanya noda batin, timbullah segala karma buruk.” Syair Pertobatan Air Samadhi telah dengan jelas mengatakan bahwa akibat adanya noda batin, kita melakukan segala karma buruk. “Akibat adanya karma buruk, diperolehlah buah penderitaan.” Saat benih karma dan kondisi bertemu kembali, buah penderitaan akan kembali berwujud. Siklus yang berkesinambungan ini sungguh tidak berkesudahan. Oleh karena itu, setiap orang harus sungguh-sungguh bertobat. Sebelumnya kita sudah banyak membahas bahwa kita sungguh perlu bertobat. Jika tidak, noda halus akan tetap ada dalam batin kita, benih karma buruk akan kembali muncul dan berbuah sesuai kondisi pendukung itu. Jadi, ini sangat menakutkan. Karena itu, dikatakan bahwa, “Akibat adanya noda batin,//timbullah segala karma buruk.” Noda batin dan kekuatan karma amat menakutkan. Dalam melatih diri, jika kita menyimpang sedikit saja, kehilangan perhatian benar, dan memiliki pikiran salah, maka akan sangat menakutkan. Di Taiwan bagian tengah, ada sepasang suami istri yang merupakan insan Tzu Chi. Putri mereka yang bekerja di Taiwan bagian utara suatu hari menelepon ke rumah dan berkata pada ibunya, “Ibu, ada seorang guru yang sangat hebat di sini. “Ia memiliki kesaktian dan ahli dalam pengobatan alternatif.” “Ia dapat mengubah struktur tubuh fisik kita dan menyembuhkan penyakit.” “Datanglah dan biarkan ia memeriksamu.” Ibunya agak skeptis. Apalagi, ia sendiri merasa sehat dan tidak merasa butuh perawatan apa pun.
Akan tetapi, karena putrinya begitu antusias, ibunya pun merasa ia begitu karena berbakti. Ia berbakti sehingga peduli pada orang tuanya. Lebih lanjut, dari perkataan putrinya, Menurut putrinya, organisasi itu luar biasa. Pertama, ia sangat penasaran. Kedua, ia merasa putrinya sangat berbakti. Maka, mereka pun pergi ke wilayah utara dan mengikuti kelas ini. Untuk berpartisipasi dalam kelas ini, mereka harus mendaftar. Bagaimana caranya mendaftar? Yakni dengan membayar sejumlah uang. Berapa? Satu sesinya memerlukan biaya ribuan dolar NT. Jadi, secara keseluruhan, biayanya mencapai 170.000 dolar NT (Rp50 juta). Mereka sangat terkejut mendengarnya. Setelah mengikuti sesi pertama, mereka merasa ajarannya cukup masuk akal. Terutama sang ayah, ia merasa putrinya begitu baik, ditambah istrinya sendiri yang mengajaknya, maka ia pun percaya. Jadi, di kelas tersebut, mereka sama-sama mendengarkan pelajaran. Sang istri pun mulai merasa, “Master kita juga mengatakan hal yang sama, tidak ada yang luar biasa.” Akan tetapi, suaminya begitu terpikat. Mereka pun menghadiri sesi kedua dan sesi ketiga. Setelah mempelajari semakin dalam, mereka diajarkan untuk berpuasa, bermeditasi, dan mengubah cara pandang. Suaminya perlahan-lahan mulai menerima dan mendalami ajaran tersebut.
Ia seakan jatuh ke dalam lubang hitam. Di rumah, ia mulai kehilangan kendali diri. Mulanya, ia bukanlah seorang yang pemarah, namun kini ia jadi sangat mudah marah. Dahulu, jika orang lain berbuat salah, ia akan mudah memaafkan. Namun sekarang, ketika marah, ia akan mengungkit kesalahan-kesalahan lama yang orang lakukan terhadapnya. Ia akan menantang orang itu secara terbuka. Istrinya melihat ada yang tidak beres dengan suaminya. Bagaimana ia bisa berubah menjadi seperti itu? Pada malam hari ia pun susah tidur. Saat diminta ke dokter karena gangguan pencernaan, ia berkata gurunya melarangnya minum obat. Banyak hal yang kelihatannya tidak normal. Karena itu, istrinya membawanya ke Hualien untuk segera bertemu dengan saya. Saat mereka datang, pertemuan pagi kita baru saja berakhir. Kebetulan hari itu penanggung jawab penyakit dalam RS kita juga hadir dalam pertemuan pagi. Begitu pertemuan pagi berakhir, seorang komite membawa suami istri tadi//untuk menemui saya. Sambil berlutut, sang istri berkata, “Master, tolong selamatkan muridmu.” Saya bertanya, “Apa yang terjadi?” Lalu suaminya mulai menangis. “Ada apa sebenarnya?” Istrinya berkata, “Ada masalah dengan kejiwaannya.” Ketika saya mendengar hal ini, saya segera meminta orang untuk segera memanggil dr. Chen. dr. Chen pun segera kembali.
Saya kemudian berkata pada sang suami, “Silakan Tuan Wu berkonsultasi dengan dr. Chen.” “Dan Nyonya Wu, silakan ikut saya.” Saya lalu bertanya padanya, “Sebenarnya apa yang terjadi?” Ia kemudian mulai bercerita tentang yang mereka alami dari awal. Mereka telah menghabiskan lebih dari seratus ribu dolar NT. Hasilnya, sang suami semakin kehilangan kendali diri. Istrinya berkata kepada saya, “Ketika saya mengikuti kelas tersebut, dalam hati saya terus berpikir, ‘Mana mungkin, Master pernah membahas hal ini, mana mungkin bisa seperti itu?’” Saat itu pikiran mereka bagai dibimbing ke arah yang menyimpang. Akan tetapi, karena dalam hatinya masih ada pikiran benar, maka ia tidak terpengaruh. Ia hanya berpikir, “Mana mungkin ada hal seperti itu?” “Itu tidak mungkin.” “Mengenai hal ini, Master pernah menjelaskannya.” Namun, suaminya memercayai semua ajaran itu sehingga pikirannya tersesat. Setelah dr. Chen selesai berbicara//dengan suaminya dan kembali ke rumah sakit, saya meminta suaminya masuk. Ia berkata kepada saya, “Master, kini pikiran saya jauh lebih jernih.” Saya bertanya, “Apa maksudnya?” Ia menjawab, “Datang ke tempat ini, saya merasa beban di batin saya terangkat.” Saya bertanya, “Apa yang terjadi denganmu?” Ia menceritakan semua isi hatinya.
Ia tinggal di Griya selama tiga hari. Kami menasihatinya untuk pergi ke rumah sakit dan bertemu dengan psikiater. Psikiater tersebut mengatakan bahwa penyakitnya masih berada di tahap permulaan, dan ia akan segera pulih jika berhenti mengikuti kelas itu. Saat memeriksakan diri ke rumah sakit, psikiater itu berkata, “Anda tidak perlu minum obat.” “Cukup tinggal selama 2 hari di Griya.” “Jika Anda dapat mengembalikan kejernihan mental Anda, maka pikiran Anda akan pulih, akan dapat tidur nyenyak, dan Anda tidak perlu mencari saya lagi.” “Kita lihat bisakah Anda sembuh tanpa obat.” Ia sungguh-sungguh tinggal di Griya dan ikut bekerja di kebun bersama yang lain. Ia sangat penuh sukacita. Ia telah membuang semua yang dipelajarinya. Karena kesibukannya, ia pun lupa akan pelajaran yang ia dapat dan kembali menjalankan kehidupan yang normal. Ia dapat tidur dengan nyenyak dan merasa tenang. Ia tidak lagi merasa cemas dan mulai dapat menenangkan pikirannya.
Saya kemudian berkata padanya, “Karena kamu juga melihat beberapa insan Tzu Chi di kelas itu, saya sangat khawatir.” “Dapatkah kamu//berbagi pengalaman dengan mereka?” “Segeralah beri tahu putrimu untuk tidak lagi mengajak orang lain.” Saat putrinya menerima telepon dari ibunya, ia pun sangat terkejut. Jadi, suaminya pun mulai berbagi kisah di kantor cabang Taichung. Di antara relawan yang hadir, terdapat seorang komite Tzu Chi. Ia berkata, “Setelah mendengarkan ceritamu, entah apa yang harus saya lakukan.” Ia bertanya, “Apa apa?” Komite ini berkata, “Sungguh bahaya.” “Suami dan putri saya juga percaya terhadap ajaran itu.” “Akhir-akhir ini mereka pun mulai berubah.” “Mereka semakin terjerumus ke sana.” “Mereka terus pergi ke kelas itu dan mengabaikan pekerjaan mereka sendiri.” “Mendengar cerita kalian, apa yang harus saya lakukan?” “Bagaimana kamu bisa pulih kembali?” Komite ini segera bertanya bagaimana ia dapat pulih kembali. Ia berkata, “Kini saat teringat ajaran itu, saya segera mengingat ajaran Master.” “Istri saya mengatakan bahwa ketika ia mendengarkan ceramah di sana, ia terus memikirkan ucapan Master dalam hatinya sehingga tidak terpengaruh.” “Saat itu saya hanya ikut dengan membuta.” “Jadi, kini saya selalu mengingat ajaran Master di dalam hati.” Saudara sekalian, saat timbul rasa penasaran atau penyimpangan dalam pikiran kita, kadang sulit bagi kita untuk kembali. Jika kita sungguh tersesat saat pikiran mulai sedikit menyimpang, saya rasa bahkan psikiater pun tidak dapat banyak menolong.
Psikiater hanya dapat mengatakan, “Penyakit Anda baru sampai tahap awal, jika Anda segera berpaling, maka akan dapat pulih kembali.” Artinya, mengenai kejiwaan, diri sendirilah yang memegang peranan terpenting. Jadi, dalam berlatih di jalan Buddha, janganlah biarkan pikiran sesat muncul. Sangatlah penting untuk memiliki pandangan dan pengetahuan benar. Janganlah percaya dengan membuta segala ritual tolak bala di masyarakat. Bagaimana mungkin itu bisa dilakukan? Kita sering melihat di dalam Sutra dikatakan bahwa noda batin//membawa pada terciptanya karma buruk dan mengakibatkan datangnya buah karma. Inilah hukum alam. Tiada orang yang dapat menghindarinya. Satu-satunya cara adalah menyayangi diri, menjaga pikiran dengan baik, dan menunaikan kewajiban. Karena kita telah menanam benih karma, maka kini kita harus rela menerima buahnya. Inilah cara mengikis karma buruk. yang terbaik adalah tidak menanam benih karma buruk. Ketika benih sebab itu muncul// segeralah lenyapkan, maka kita tak akan menciptakan karma buruk maka kita tak akan menciptakan karma buruk// dan tidak merasakan buahnya. Jadi, saat menghadapi hal yang tak diinginkan, janganlah selalu mencari jalan pintas. Jangan. Pikiran kita haruslah teguh dan arah kita harus tepat. Untuk itu, senantiasalah bersungguh-sungguh.