Sanubari Teduh-310-Buah Karma Ditanggung Sendiri Bagian 1
Saudara se-Dharma sekalian, setiap hari kita mengulas tentang pikiran. Apakah kita sudah menjaga pikiran dengan baik? Jika pikiran tidak dijaga dengan baik, maka ia sangat mudah berkeliaran sehingga terkadang dapat menutupi hati nurani kita. Apakah kita sudah senantiasamenjaga pikiran dengan baik? Pikiran kita haruslah sederhana. Janganlah kita memiliki niat tidak baik Janganlah kita memiliki niat tidak baik karena akan memicu munculnya masalah. Karena itu, kita harus senantiasamenjaga pikiran dengan baik. Di dalam Sutra sering diungkit bahwa setiap niat yang timbuldapat menciptakan karma buruk. Karena kita membangkitkan niat tidak baik, maka terciptalah karma buruk. Setiap tindakan dan ucapan kita juga dapat menciptakan karma buruk. Janganlah kita berpikir tidak ada orangyang mengetahuinya. Sesungguhnya, pikiran manusiadan alam saling berhubungan erat. Karena itu, kita semua harus senantiasa menjaga pikiran dengan baik. Apakah kalian masih mengingat kisah tentang seorang bhiksu tua dan sramanera cilik? Saat bhiksu tua ingin melakukan perjalanan, sramanera cilik membantunyamemanggul barang bawaan
Sramanera cilik berpikir, “Saya harus melatih diri hingga seperti guru saya.” “Saya harus memiliki pelatihan diri yang baik.” “Saya harus giat dan tekun untuk melatih diri dengan baik.” Bhiksu tua mengetahui niat sramanera cilik yang sangat luar biasa. Anak sekecil itu sudah tahu untuk tekun melatih diridemi membimbing semua makhluk. Bukankah ini adalah Bodhisattva? Bhiksu tua segera memanggilnya, “Kemarilah.” “Nanti saya akan memanggul barang saya sendiri.” Bhiksu tua lalu mengambil barangdan memanggulnya sendiri. Sramanera cilik tidak mengerti mengapa sang guru memintanya berjalan di depan. Dalam hatinya berpikir, “Guru saya sangat menyayangi saya.” “Asalkan berlatih diri dengan baik, saya akan menerima persembahan dari orang lain.” Saat dia membangkitkan niat ini, gurunya kembali memangilnya untuk berjalan di belakang sambil memanggul barang. Setelah berjalan cukup jauh, dia merasa sangat lelah, lalu berhenti sejenak. Si sramanera cilik bertanya, “Sesungguhnya, apa yang terjadi?” “Mengapa Guru melakukan itu berulang kali?” “Mengapa Guru melakukan itu berulang kali?” “Terkadang Guru meminta saya memanggul barang, terkadang Guru memanggulnya sendiri.” “Apa yang terjadi sesungguhnya?” Gurunya menjawab, “Saat berjalan, apakah kamu membangkitkan sebersit niat? “Kamu membangkitkan sebersit niat untuk bersungguh hati melatih diridemi membimbing semua makhluk?” “Ya.” “Apakah kamu juga berpikir jika melatih diri sejak kecil,maka akan disayang orang dan kelak dapat menerima persembahan?” dan kelak dapat menerima persembahan?” “Adakah kamu berpikir demikian?” “Ada.” “Niatmu terus maju dan mundur, ada tidak?” “Ada.” “Ya.” “Jika membangkitkan niat baik untuk melatih diri dengan sungguh-sungguh, berarti kamu adalah Bodhisattva.” “Kamu adalah orang yang luar biasa, sedangkan saya masih seorang Arhat.” “Namun, jika kamu hanya melatih diri demi memperoleh kenyamanan, maka kamu bahkan jauh dari seorang Arhat.” “Karena itu, kamu harus memanggul barang ini.” Jadi, niat yang tidak baikdapat memicu terjadinya masalah. Bhiksu tua itu saja dapat mengetahui niat yang timbul, terlebih lagi Delapan Kelompok Makhluk Pelindung Dharmadan setan
Karena itu, kita harus senantiasa menjaga pikiran dengan baik. Kita harus tahu dengan jelas. Karena itu, penggalan di dalam Sutra berbunyi, Kita sudah pernah membahas bahwa saat kita meninggal dunia, penjaga neraka akan menunggu. Pergumulan di antara hidup dan matisangat membawa penderitaan. Saat penjaga neraka menyeret,kita sungguh menderita. Ke manakah kita akan diseret? Ke Istana Yama Raja. Di sana, segala perbuatan kita segala perbuatan kita dan setiap ucapan kita di alam manusia, semuanya terekam. Setiap ucapan buruk kita yang melukai orang lain atau menciptakan kesalahpahaman, atau menciptakan kesalahpahaman, semuanya tercatat dengan jelas. Buku perbuatan kita ada di meja Raja Yama. Di sana, orang-orang yang terlibatakan datang untuk bersaksi. Pada saat itu, kita membela diri di sana. Sama halnya dengan di alam manusia. Saat kita melakukan kesalahan, orang lain akan mengajukan tuntutan. Di pengadilan, kita melakukan konfrontasi dan memanggil para saksi. Jadi, prinsip di alam manusia dan di akhirat adalah sama. Jadi, di sanalah kita melakukan konfrontasidengan orang-orang yang terlibat. Di saat itu, semua kebaikan, rasa dendam, kejahatan, dan lain-lain, akan diuraikan secara jelas
Semua orang yang terlibat saling memberikan bukti dan memberi kesaksian. Selain orang-orangyang pernah dicelakai oleh kita, terkadang ada pihak ketiga yang menjadi saksi. “Ya, saat itu Anda meminta sayauntuk mengatakan seperti ini padanya.” “Anda meminta saya untuk melakukannya.” Bukan hanya orang yang memberi perintahyang bersalah, orang yang diperintah juga harus turut bersaksi. Sebelumnya kita sudah mengulas bahwa baik orang yang memberi perintahmaupun orang yang melakukannya, semuanya tak bisa menghindari tanggung jawab. Mereka mungkin saling menyalahkan, “Kau yang lebih dahulu mencelakai diriku.” “Anda yang terlebih dahulu merugikan saya.” “Karena Anda terlebih dahulu melukai saya, maka saya pun membalasnya.” Mereka saling menyalahkan dan bertikai. Saat berada di Istana Raja Yama,semua ini tak dapat terhindar. Jadi, meskipun kita sudah bersiap-siap untuk membela diri, yang benar tetaplah benardan yang salah tetaplah salah. Semua orang yang ingin mengadu akan datang. Pada saat itu. semua orang yang datang mengadu memiliki kemarahan yang sangat besar. Apa yang menyebabkan semua itu? Ucapan dan perbuatan kita. Ucapan dan perbuatan kita. Jadi, lima indra kita, meliputi mata, telinga, hidung, lidah, dan tubuh, ditambah dengan pikiran, sudah melakukan berapa banyak kekeliruan? Lidah kita hanya memiliki panjang tiga inci. Dengan lidah yang tak terlalu panjang, kita dapat memarahi orang dengan kasar dan memutarbalikkan fakta
Lihatlah, lewat ucapan saja, kita sudah menciptakan banyak karma buruk. Kehidupan di dunia hanya puluhan tahun lamanya. Jika memiliki niat tidak baik, setiap kata yang keluar dari mulut kita tidak ada yang baik. Terlebih lagi dengan tubuh kita. Meski jelas-jelas telinga kita mendengar kata-kata yang baik, tetapi kita memelesetkannya menjadi kata-kata buruk. Jelas-jelas orang berbaik hati membimbing kita, tetapi kita malah berpikirmereka menertawakan kekurangan kita. Pola pikir seperti ini juga dapat membuat kita menciptakan karma buruk. Inilah indra pendengaran. Indra penciuman juga dapatmenciptakan banyak karma buruk. Saat mencium sebuah aroma, kita berpikir untuk memakan sesuatu. Banyak hewan yang dibunuh akibat indra penciuman kita. Karena ingin memakan daging,kita membunuh hewan, baik melakukannya sendirimaupun menyuruh orang lain. Dalam kehidupan di dunia ini, bangkitnya nafsu makan mendorong kita membunuh hewan sesuka hati. Selain manusia, masih ada kehidupan lainnya. Kita sudah pernah mengulastentang kehidupan jasmani. Selain manusia, Selain manusia, juga ada kehidupan lainnya. Enam indra kita telahmenciptakan banyak karma buruk. Dari mata, telinga, hidung, lidah, dan tubuh, karma buruk lewat tubuh adalah yang terbesar. Apa pun yang didengar oleh telinga atau dicium oleh indra pencium, semuanya akan mendorong tubuhuntuk melakukan tindakan. Dengan tubuh ini pula, kita melakukan karma membunuh. Entah sudah berapa banyak hewanyang sudah kita bunuh
Mungkin pada kehidupan lalu kita juga pernah dibunuh sebagai manusia atau makhluk hidup lainnya. Untuk apa dibunuh? Untuk dimasak, direbus, dikuliti,atau dirampas haknya. Kalian tahu berbagai jenis makhlukyang dijadikan makanan
Saat kepiting akan disatai, kakinya masih bergerak-gerak. Lihatlah, setelah disatai, kepiting-kepiting itu direbus dengan air mendidih, dari sebelumnya berwarna hijau menjadi merah. Makanan manusia juga mengandung kekejaman. Teringat saat saya masih muda dan baru saja meninggalkan rumah, saya sempat berada di Taitung. Saat melewati sebuah jalan pada sore hari, saya melihat orang sedang membunuh ular. Dia menguliti ular itu dari kepala hingga ekor. Dia menguliti ular itu dari kepala hingga ekor. Ular itu dikuliti hidup-hidup untuk dijual dagingnya. Jika teringat pada pemandangan yang saya lihat di jalan saat itu dengan darah yang bercucuran, saya membayangkan rasa sakit dan derita yang dirasakan ular itu. Bayangkan, hanya demi nafsu makan, kita manusia membunuh makhluk hidup lain dan menghalalkan segala cara. Semua ini bermula dari sebersit niat. Jika ada niat tidak baik, ini juga bisa memicu timbulnya masalah. Di dalam kehidupan sekarang ini juga, kita bisa menerima buah karma
Teringat sebelum saya meninggalkan rumah, ada kerabat dari seorang teman yang suka menyembelih sapi dan babi. Dia memiliki bisnis pejagalan. Pada masa akhir hidupnya, orang ini terbaring di tempat tidurselama beberapa bulan bagai berada di “neraka ranjang besi”. Dia hanya terbaring di sana dan berguling dari atas ke bawah. Suaranya berubah menyerupai suara babi atau suara sapi. Dia mengalami ini selama beberapa bulan. Jika kembali teringat masa itu, saya teringat pada hukum karma. saya teringat pada hukum karma. Buah karma terdiri atas buah pada kehidupan ini, pada kehidupan berikutnya, dan pada kehidupan-kehidupan mendatang. Ini bergantung pada tabungan karma baik. Begitulah kehidupan. Jika buah karma baik belum habis diterima, Jika buah karma baik belum habis diterima, maka meski orang ini pernah berbuat karma buruk, maka meski orang ini pernah berbuat karma buruk, tetapi berkat besarnya karma baiknya yang besar, berkahnya belum habis dinikmati. Karena itu, pada kehidupan sekarang, meski orang itu berbuat banyak karma buruk, orang-orang berkata, “Dia begitu jahat, mengapa seumur hidupnya begitu enak?” Ya, ini karena waktunya belum tiba. Pada kehidupan ini dia masih menerima banyak buah kebaikan masa lalunya yang belum habis diterima
Ini bagaikan uang tabungan di bank yang terus ditarik dan dikeluarkan. yang terus ditarik dan dikeluarkan. Jadi, karma baiknya belum habis diterima, bukan berarti karma buruknya tidak berbuah. Ada orang yang sangat baik seumur hidupnya, lalu mengapa selalu menderita? Itu karena meski sudah banyak berbuat baik, tetapi karma baik itu belum berbuah. Sebaliknya, kekuatan karma buruknyamasih sangat besar. Karena itu, saat terlahir di alam manusia, yang dia terima adalah buah karma buruknya. Jadi, dalam kehidupan ini dia harus menderita. Kita harus meyakini hal ini. Jadi, kebaikan atau keburukan dilakukan di alam manusia. Makhluk surga hanya menikmati buah karma baik. Jika di alam manusia kita terus berbuat baik, kelak juga berkesempatan untuk lahir di surga. Jika berkah kita habis dan ada timbunan buah karma buruk yang belum diterima, maka kita akan jatuh ke neraka. Setelah menjalani hukuman di neraka, apakah selesai begitu saja? Tidak. Kita masih terlahir di alam manusiadan terus menerima buah karma. Bodhisattva Ksitigarbha berada di nerakauntuk membimbing kita. Beliau memberi tahu kita apa yang telah kita perbuat di kehidupan lampau sehingga kita terjerumus ke neraka
Beliau mungkin akan menasihati jika kita berkesempatan lahir di alam manusia, maka kita hendaknya memperbaiki diri. Demikianlah Bodhisattva Ksitigarbha memberi bimbingan kepada makhluk neraka. Meski semua makhluk itu tengah menerimaakibat perbuatan buruk mereka, tetapi Bodhisattva tetap membimbing mereka. Mereka yang berdaya tangkap tajamdapat menerima ajaran. Meski masih harus menerima buah karma burukdi alam manusia, mereka dapat bertemu orang baik yang menolong mereka. Mereka dapat bertemu penyelamat hidup mereka. Demikianlah makhluk neraka juga bisa bertobat dan menerima ajaran. Ada pula orang yang meskibelum bertemu penolong, tetapi menerima kondisi dengan ikhlas. Meski mengalami berbagai penderitaan, dia menerimanya dengan sukarela. Setelah buah karma buruknya habis diterima, maka kekuatan karma buruk akan lenyap. Jadi, karma baik dan burukmemiliki buah masing-masing. Bukankah kita pernah mendengar bahwa di neraka ada sebuah cermin? Itu adalah cermin penyibak kejahatan. Bagaimana pun kita berkelit, kita tidak akan dapat membohongi cermin itu. Ia akan memperlihatkan perbuatan kita untuk kita saksikan sendiri seperti menonton sebuah rekaman. “Anda jelas-jelas pergi ke sana, lihatlah.” “Anda jelas-jelas melakukan itu.” “Anda lihat sendiri.” Bukan hanya orang lain yang bersaksi. Jadi, janganlah berbuat jahat. Buah perbuatan jahat akan kita terima sendiri
Biasa setelah berbuat baik,kita melimpahkan jasa untuk orang lain. Sesungguhnya, buah karma baikjuga akan kita terima sendiri. Jadi, karma baik dan burukmemiliki buah masing-masing. Kita sering melihat orangdemi memenuhi nafsu makan, memasukkan ikan lele hidup-hidup ke dalam arak yang sedang direbus. Ini juga perbuatan yang kejam. Singkat kata, semua ini dilakukan demi kenikmatan diri sendiri atau demi memuaskan nafsu makan sesaat. Kita juga pernah mendengar ada orang yang demi menyantap makanan hasil laut rela pergi ke luar negeri dengan pesawat terbang. Kita juga pernah mendengar bagaimana mereka akhirnya bertobat secara terbuka. Intinya, kita harus tahu bahwa meski kita pernah menghalalkan segala carauntuk memenuhi nafsu makan, membunuh sendiri makhluk lainatau meminta orang membunuhnya, tetapi hati nurani kita sesungguhnya tetap ada. Hakikat sejati kita semua sama dengan Buddha. Hanya saja, kita banyak melakukan kesalahan. Saat terlahir kembali di alam manusia ini, hati kita penuh kerisauan dan ketakutan. Banyak hal di dunia ini terjadi sebagai akibat dari perbuatan kita sendiri di masa lalu. Ada orang yang bukan hanya membunuh demi nafsu makan, tetapi juga merampas hak atau kekayaan orang lain
Kita sering mendengar cerita seperti ini. Meski tidak sampai mengancam nyawa, tetapi ada orang yang berusaha untuk merampas kekayaan orang lain, memisahkan orang lain dari keluarganya, merebut pasangan atau harta orang lain. Dia memikirkan segala cara untuk membuatkeluarga orang lain tercerai-berai atau untuk merampas kepunyaan orang lain. Ini juga sering terjadi di dunia ini. Jadi, bentuk kejahatan di dunia ini sungguh beragam dan tak terkira. Batin yang penuh racun sungguh berbahaya. Karena itu, dalam syair berikutnya dikatakan, Saudara sekalian, jika kita melihat penggalan ini, kita seharusnya tahu maksudnya. “Di masa lalu aku tidak bisa berbuat apa-apa.” “Kini di istana Raja Yama, aku akan menuntutmu.” “Aku akan menuntut balas atas dosa-dosamu.” “Saat engkau masih hidup, kebajikanmu sangat besar, sehingga aku tidak mampu membalasmu.” “Namun, di sini, aku dapat menuntut balas.” “Bukti-bukti sudah sangat jelas.” “Kini engkau tak bisa berbohong lagi.” “Hanya ada satu pilihan bagimu, yaitu menerima putusan Raja Yama dengan rela.” yaitu menerima putusan Raja Yama dengan rela.” Kita sering mengatakan bahwa jangan sampai kita “melakukan dengan sukacita, tetapi harus menerima dengan sukarela”. Kita seharusnya “melakukan dengan sukareladan menerima dengan sukacita”
Saat kita melakukan sesuatu dengan sukarela, sesulit apa pun kita tetap rela. Namun, setelah hal yang baik ini dilakukan, kita akan menerima rasa sukacita. Kita merasa tenang dan damai. Sebaliknya, jika kita berbuat sesuka hati dan berkata, “Ini bukan urusanmu, yang penting saya sukadan mau menerima konsekuensinya,” maka masalahnya akan berbeda jauh. Jika begitu, sampai di hadapan Raja Yama, kita hanya bisa menerima hukuman dengan rela. Kita berharap bisa berbagi hukuman dengan orang lain. “Kamu yang menyuruh saya melakukannya.” “Bukan saya yang ingin melakukannya.” “Kamu yang meminta saya.” Baik meminta orang maupun diminta orang, Baik meminta orang maupun diminta orang, semua memiliki bagian masing-masing. Jadi, jangan berpikir, “Saya hanya disuruh, saya pasti aman.” Belum tentu. Singkat kata, perbuatan apa yang kita lakukan, maka kita sendiri yang akan menerima akibatnya. Sedikit pun kita tidak dapat menghindar. Karena itu, kita harus selalu bersungguh hati. Jika kita menyimpan niat tidak baik, masalah bukan hanya mengintai di alam manusia dengan banyaknya masalah dengan orang lain. Bahkan, setelah kita meninggal dunia, kita tetap tak dapat menghindar dari karma. Kita tetap harus senantiasa menjaga hati nurani kita dan menjaga pikiran kita. Dengan begitu, barulah kitatidak akan melakukan kesalahan. Harap semua selalu bersungguh hati.