Sanubari Teduh – 490 – Cinta Kasih Memberi Kebahagiaan
Saudara se-Dharma sekalian, dasar dari menjadi seorang manusia dimulai dari keluarga atau orang tua masing-masing. Pendidikan dalam keluarga atau tata krama antara orang tua dan anak seharusnya berisi kebajikan. Berbakti adalah dasar dari segala kebajikan. Pendidikan keluarga tak lepas dari kebajikan. Sesungguhnya, kebajikan ini bergantung pada apakah dalam keluarga orang tua penuh kasih dan anak berbakti. Jika ya, pendidikan keluarga ini pasti baik. Sering dikatakan bahwa orang tua adalah contoh bagi anak. Pendidikan yang diterima anak di rumah ialah berbakti. Jika anak dapat berbakti pada orang tua, mereka akan dapat mengasihi saudara. Jika dapat mengasihi saudara, kelak saat bersekolah, mereka akan dapat menghormati orang yang lebih tua, yakni para guru. Mereka juga dapat mengasihi teman-teman. Kelak, saat terjun ke masyarakat, mereka akan memandang semua orang tua sebagai orang tua sendiri atau kerabat sendiri, memandang orang yang sepantaran sebagai saudara sendiri, dan memandang orang yang lebih muda sebagai anak sendiri. Semua ini harus dimulai dari pendidikan keluarga. Berbekal pendidikan keluarga dan pendidikan formal, seseorang dapat terjun ke masyarakat. Jadi, pepatah zaman dahulu berkata bahwa segala kebajikan diawali dari berbakti. Artinya, keluarga kecil adalah penentu bagi masyarakat. Jadi, kita harus mementingkan pendidikan keluarga.
Berikutnya, bersumbangsih dengan cinta kasih mendatangkan berkah. Saat sudah tumbuh dewasa, kita mulai terjun ke masyarakat. Untuk menjadikan masyarakat bagai keluarga, kita perlu mengembangkan cinta kasih. Jadi, cinta kasih ini berarti rela bersumbangsih. Jika dapat senantiasa rela bersumbangsih, kita dapat memberi kebahagiaan bagi orang lain. Jadi, cinta kasih bisa memberi kebahagiaan. Ini bergantung pada pikiran kita. Jika batin kita lapang dan terbuka, inilah cinta kasih. Dengan batin yang lapang, kita rela bersumbangsih dan membantu orang lain. Jadi, membantu orang lain berarti kita menciptakan berkah di dunia dan memberi kebahagiaan bagi orang-orang. Kemudian, kita juga membutuhkan keharmonisan. Ditengah masyarakat, jika semua orang sangat harmonis atau dapat mengembangkan keharmonisan, kita akan dapat mendekatkan diri pada semua orang. Kita akan mudah bergaul dengan banyak orang. Kita akan mudah bergaul dengan banyak orang. Orang-orang juga sangat menyambut kita. Ini karena kita berhasil menjadi orang. Kita ramah terhadap orang lain. Karena itu, ke mana pun kita pergi, selalu diterima oleh orang lain. Jadi, kita harus selalu memupuk keharmonisan. Jika keluarga harmonis, segala hal akan berkembang.
Jika manusia harmonis, segala sesuatu akan tercapai. Jadi, keharmonisan ini sangat penting dimiliki dalam hubungan antar manusia di masyarakat. dalam hubungan antarmanusia di masyarakat. Kita harus belajar untuk harmonis dan bersikap ramah. Jadi, keharmonisan ini sangatlah penting. Berikutnya, kemurahan hati. Berikutnya, kemurahan hati. Kemurahan hati sama dengan cinta kasih. Memiliki kemurahan hati berarti kita dapat mengalah dalam hubungan antarsesama. Dalam aksara Tionghoa, “kemurahan hati” terdiri atas huruf “dua” dan “manusia”. Dalam hubungan antarmanusia, kita harus dapat mengalah. Mengalah berarti berlapang dada. Hati kita harus lapang agar bisa bertoleransi.
Dengan kesabaran ini, tiada pertikaian. Jika batin kita sangat lapang, masalah apakah di dunia yang tak dapat kita hadapi dengan sabar? Jika kita dapat bersabar tanpa merasa sedang bersabar, kesabaran ini menjadi sesuatu yang alami. Dalam berbagai masalah di dunia, kita tidak merasa sedang menahan diri. Kita harus bersabar tanpa merasa bersabar. Bersabar tanpa merasa bersabar dan menahan diri bedanya sangat jauh. Menahan diri berarti kita hanya mengalah sebentar. Namun, level mengalah kita sangat sempit. Kita dengan cepat akan merasa, “Saya cukup bersabar sampai sini.” “Saya tidak ingin mengalah lagi.” Jadi, menahan diri adalah bumerang. Saat ia berbalik, kekuatannya sangat besar dan bisa membuat luka yang lebih besar. Dalam melatih diri, kita harus punya kesabaran. Setelah bersabar, keterampilan kita meningkat dan merasa semua yang berlalu bukan apa-apa.
Semuanya sangat mudah, seperti orang dewasa dengan tenaga besar mengangkat seember air. Ember akan terangkat dengan begitu mudahnya. Sebaliknya, anak kecil dengan tenaga kecil bahkan mungkin tidak bisa menggerakkan ember itu sama sekali. menggerakkan ember itu sama sekali. Intinya, manusia harus melapangkan hati agar dapat bersabar dan mengalah. agar dapat bersabar dan mengalah. Dengan hati yang lapang ini, tiada pertikaian dengan orang lain. Saudara sekalian, mempelajari ajaran Buddha berarti belajar melatih pikiran. Jika di dalam pikiran ada kebajikan, rasa bakti, cinta kasih, keharmonisan, dan kemurahan hati, hal apa lagi di dunia ini yang akan menyulitkan kita? Jadi, kita harus sungguh-sungguh belajar. Kita harus terjun ke tengah masyarakat. Kita juga harus mengutamakan kebajikan, memberi kebahagiaan dengan cinta kasih, bergaul dengan harmonis, dan mengurai pertikaian dengan kemurahan hati. Inilah yang harus kita pelajari. Kita sudah membahas tentang berbagai kesalahan, baik yang ringan, berat, kasar, maupun halus; baik melakukannya sendiri, meminta orang lain melakukan, maupun ikut melakukan dengan gembira, semuanya bermula dari pikiran. Karena kurangnya niat baik, manusia bisa melakukan sendiri, menyuruh orang melakukan, atau turut melakukan dengan gembira. Melakukan apa? Kejahatan. Jadi, kita harus mengembangkan niat baik, cinta kasih, keharmonisan, dan kemurahan hati. Dengan begitu, tiada lagi kesalahan kasar ataupun halus, berat ataupun ringan.
Jika kita memiliki niat buruk dan kekurangan cinta kasih dan welas asih, tabiat buruk kita akan terbangkitkan dan menciptakan kesalahan besar dan kecil. Berikutnya dikatakan, “Atau memaksa orang lain melakukannya.” “Demikianlah, bahkan memuji pelaku kejahatan.” Sebelum penggalan ini, dibahas tentang kesalahan berat atau ringan, halus atau kasar, dilakukan sendiri, meminta orang lain melakukan, atau turut melakukan bersama orang lain. Semua ini adalah kejahatan. Berikutnya lebih kuat lagi. Bukan hanya melakukan sendiri, tetapi memaksa orang dengan kekuatan. Bukan hanya meminta, tetapi juga menggunakan kekuasaan untuk memaksa orang lain. Membayangkannya, kita mungkin langsung paham. Sebagian orang yang memiliki 10 kejahatan batinnya selalu dipenuhi niat buruk. Bukan hanya jahat, mereka juga bernyali besar. Orang seperti ini, selain memiliki tabiat buruk, juga menindas orang-orang baik. Mereka menggunakan banyak cara untuk menarik orang-orang yang tidak berpengetahuan. Orang yang tak dapat membedakan benar salah dijebak oleh mereka. Mereka mulai menggunakan kekuatan mereka untuk memaksa orang lain melakukan sesuatu. Dengan kejahatan, mereka memaksa orang untuk melakukan sesuatu. Ada pula yang memuji pelaku kejahatan. Perbuatan itu tidak benar. Namun, ada orang yang mengamatinya.
Meski tidak ikut melakukan, orang itu melihat perbuatan jahat tersebut. Saat orang lain melakukan pelanggaran yang tidak baik, tidak ada cinta kasih, dan tidak murah hati, bahkan memaksa orang lain berbuat jahat, kita ada di sekitarnya. Bukan hanya tidak mampu menilai bahwa perbuatan itu tidak benar dan tidak menegurnya, tetapi hanya berdiam di sana. Orang ini juga takut terancam. Dia tidak berani mengatakan bahwa si pelaku salah. Bukan hanya tidak berani menegurnya, dia malah membelanya. Orang seperti ini tidak bisa membedakan benar salah. Meski diri sendiri tidak melakukan kejahatan, tetapi dia tidak memahami benar salah dan tidak memiliki keberanian moral. Jadi, dia tidak berani mengatakan salah, sebaliknya malah memuji. Dia memuji pelaku kejahatan. Orang seperti ini bukan hanya tidak berani bicara, tetapi malah mengatakan pelaku kejahatan benar.
Lihatlah perseteruan antarnegara zaman sekarang dan pertikaian antarmanusia. Inilah “memuji pelaku kejahatan”. Ini menyebabrkan dunia dipenuhi bencana akibat ulah manusia. Jadi, kita harus sangat bersungguh hati. Pikiran kita harus selalu dijaga Pikiran kita harus selalu dijaga agar karma buruk tidak tercipta. Begitu karma buruk diciptakan, konsekuensinya sangat besar. Kelak kita mungkin terjatuh ke neraka dan sangat menderita. Jadi, Jadi, setiap hari kita selalu membahas gejolak batin.
Gejolak batin sangat menakutkan. Orang kecil melakukan kesalahan kecil. Orang menengah melakukan kesalahan menengah. Orang besar melakukan kesalahan besar. Perbuatan ini bisa menggetarkan langit dan bumi. Jadi, kita harus selalu meningkatkan kewaspadaan. Jika suatu hari kita tidak menjaga pikiran dengan baik dan tidak menaklukkan noda serta kegelapan batin, mungkin kita akan menciptakan berbagai karma buruk berat ataupun ringan, kasar ataupun halus; baik melakukannya sendiri, meminta orang lain, atau bergembira melihat orang melakukannya. Semua bisa terjadi dalam keseharian kita. Jadi, kita harus selalu memiliki hati yang bertobat. Kita harus memupuk kebiasaan bertobat agar dapat menaklukkan tabiat dari pikiran buruk.
Berikutnya dikatakan, “Semoga berkat pahala yang tumbuh dari pertobatan atas segala kejahatan ini, dari kehidupan ke kehidupan, senantiasa penuh cinta kasih, harmonis, setia, berbakti, rendah hati, dan penuh kesabaran.” Benar, kita harus selalu memupuk rasa bertobat. Jika dapat senantiasa bertobat, secara alami, segala kejahatan seperti yang kita bahas sejak awal, seperti yang kita bahas sejak awal, ringan atau berat, kasar atau halus, semuanya terkikis berkat pertobatan. Saya sering mengatakan bahwa semua kembali pada tabiat. Berhubung niat buruk timbul dari tabiat, kita juga bisa memupuk kebiasaan lain, yakni kebiasaan untuk bertobat. Kebiasaan untuk bertobat berarti meningkatkan kewaspadaan. Jadi, saat timbul sebersit pikiran negatif, kewaspadaan kita juga harus bangkit. Kita harus segera bertobat atas pikiran ini.
Meski niat ini belum menjadi tindakan, kita juga harus bertobat karena niat ini telah timbul dalam pikiran kita. Kita harus segera bertobat. Dengan demikian, segela kejahatan itu tidak akan terus berkembang dan tak akan terwujud ke dalam tindakan. Jadi, kita harus bertobat atas segala kejahatan untuk memadamkan kejahatan itu. Dengan begitu, pahala juga akan tumbuh. Kebajikan akan tumbuh. Berkat pahala yang tumbuh ini, dari kehidupan ke kehidupan, kita senantiasa penuh cinta kasih, harmonis,setia, dan berbakti. Ini terwujud berkat kekuatan pertobatan yang melenyapkan segala tabiat buruk. Kini kita harus memupuk keterampilan dan kekuatan bajik. Jadi, janganlah lupa makna pahala (gong de), Jadi, janganlah lupa makna pahala (gong de), yaitu berlatih ke dalam diri dan bertata krama ke luar.
Pelatihan ke dalam diri mengasah keterampilan diri sendiri. Keterampilan yang dimaksud ialah memupuk kebiasaan baik. Inilah keterampilan ke dalam yang berkaitan dengan kebiasaan. Jadi, jika dapat sungguh-sungguh berlatih ke dalam diri, dengan sendirinya akan tampak tata krama di luar. Kita dapat mengembangkan segala kebajikan. Segala hal yang baik membuat kita turut bersukacita dan segera melakukannya. Kita tahu bahwa suatu hal itu baik dan bermanfaat bagi orang banyak. Inilah cinta kasih dan welas asih. Cinta kasih dan welas asih dapat menciptakan berkah bagi masyarakat dan membawa kebahagiaan bagi masyarakat. Ini didasari oleh hati yang lapang. Kita juga dapat bertata krama. Ini disebut moralitas.
Kita berada di tengah masyarakat, bergaul dengan harmonis, dan membawa kebahagiaan. Kita tidak bertikai dengan orang lain karena hati kita dapat bertoleransi. Kita dapat bersabar sehingga bebas dari pertikaian. Inilah pahala kita. Batin kita memupuk kebiasaan baik yang tercermin dalam tindakan kita di luar. Jadi, “pahala yang tumbuh” berkaitan dengan kebiasaan yang dipupuk. Bukan hanya pada kehidupan sekarang, melainkan dari kehidupan ke kehidupan, secara alami di tengah masyarakat kita terbiasa untuk penuh cinta kasih, harmonis, setia, dan berbakti. Ada orang yang kelihatannya bertemperamen baik, sangat berbakti, sangat bajik, dan penuh welas asih. Apa pun yang orang lain katakan tentangnya, seburuk apa pun kondisi yang menimpanya, dia tetap sabar. Baginya, semua itu bukan apa-apa. Contohnya, anggota Tzu Cheng kita, Chen Jin-chuan. Kita lihat dia sangat berbakti di rumah. Saat dia kecil, orang tuanya tidak punya waktu untuk merawatnya. Neneknyalah yang merawatnya. Jadi, selain berterima kasih kepada orang tuanya, dia juga berbakti pada neneknya.
Kini neneknya berusia 90-an tahun. Setiap hari, dia membopong neneknya. Setiap hari, dia membopong neneknya. Saat tubuh neneknya terasa lebih ringan, dia merasa tidak tega. Kita melihat bagaimana dia membopong atau mendorong neneknya di kursi roda. Dia sangat berbakti pada keluarganya. Dia juga selalu menyuapi neneknya. Jika neneknya tidak membuka mulut, dia akan membuka mulut dan mencontohkan, lalu berkata, “Nek, ayo buka mulut.” Neneknya akan mengikutinya. Dia lalu menyuapi neneknya bagaikan induk burung menyuapi anaknya. Sikap baktinya sungguh mengharukan. Jadi, anaknya mengatakan bahwa ayahnya adalah teladan terbaik. “Ayah kini sangat baik pada Nenek Buyut.” “Kelak saya juga akan baik pada Ayah.” Dia juga mengajak seluruh anggota keluarganya untuk bergabung dengan Tzu Chi. Dia juga merupakan ketua regu Xieli. Bagaimana dia membimbing orang? Ada orang yang berwatak keras.
Relawan Chen ini berikrar untuk membimbing orang-orang bergabung dengan Tzu Chi dan mempelajari hal-hal yang bermanfaat. Inilah tekadnya. Teman-temannya, orang-orang yang sudah lama dikenalnya, atau orang-orang yang baru dikenalnya, semua dibimbingnya untuk masuk ke ladang pelatihan ini, yang paling baik ialah posko daur ulang. Jadi, dia mengajak orang-orang ini datang ke posko daur ulang. Orang-orang pun tersentuh olehnya dan bergabung. Menghadapi orang-orang yang lebih keras, dia memiliki cara sendiri. Dia tidak hanya berbicara di mulut saja, tetapi mengajak untuk menjalankan langsung. Saat ada relawan yang ingin menjemput barang daur ulang di malam hari, dia akan membantu selepas bekerja. Selelah apa pun, dia tetap akan datang membantu. Beginilah caranya menggerakkan misi pelestarian lingkungan. Dia melakukan sendiri dan membimbing lewat tindakan. Dia membimbing orang dengan kelembutan. Inilah cara yang dia gunakan. Dalam keseharian, dia juga suka mengajak para relawan untuk jalan-jalan dengan membawa serta keluarga dan orang tua mereka. Dia sendiri juga demikian. Dia membawa seluruh anggota keluarganya, termasuk neneknya. Jika jalan sedikit curam atau terjal, dia segera membopong neneknya. dia segera membopong neneknya. Orang-orang yang melihat tindakannya juga dapat belajar untuk berbakti kepada orang yang lebih tua, mengubah tabiat buruk terhadap keluarga, mengubah tabiat buruk terhadap keluarga, dan mengasihi anak istri. Inilah caranya membimbing orang banyak. Inilah sikap penuh cinta kasih, harmonis, setia, berbakti, rendah hati, dansabar. Butuh kesabaran untuk membimbing orang.
Saudara sekalian, kita harus sunggung-sungguh menggunakan tubuh kita dan jalinan jodoh yang kita miliki untuk saling memicu dan saling mendukung di dalam ladang pelatihan ini. Kita harus memupuk kebiasaan baik dan jangan melakukan kesalahan. Kita harus selalu meningkatkan kewaspadaan, dimulai dari diri sendiri, sekeliling kita, hingga yang lebih luas, bahkan masyarakat. Kita harus memupuk kebiasaan baik. Jika terhadap orang lain, kita memiliki rasa tidak puas, kita harus segera mengingatkan diri dan bertobat. Saat pikiran untuk bertobat timbul, niat jahat akan lenyap, kebiasaan baik akan terpupuk. Dengan begitu, dalam kehidupan ini dan kehidupan-kehidupan selanjutnya, keterampilan ini akan terus mengikuti kita, Dari kehidupan ke kehidupan, kita selalu menjalin jodoh baik di masyarakat. Sebelum mencapai keBuddhaan, kita harus terlebih dahulu menjalin jodoh baik. Jadi, cinta kasih dan kemurahan hati adalah akar dari kebajikan. Harap semua senantiasa bersunggul hati.