Sebuah Terobosan Agar Anak-anak Muda Memahami Pentingnya Donor Darah
Darah berfungsi mengirimkan zat zat dan oksigen yang dibutuhkan oleh jaringan tubuh, mengangkut bahan kimia hasil metabolisme serta sebagai pertahanan tubuh terhadap virus dan bakteri. Pentingnya darah membuat kebutuhan darah di klinik atau rumah sakit sangat besar, sehingga stok darah menipis karena darah yang tersalurkan lebih banyak daripada yang diterima.
Untuk membantu persediaan stok darah PMI, komunitas relawan Tzu Chi di Hu Ai Medan Perintis bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia dan Politeknik Wilmar Bisnis Indonesia (WBI) mengadakan bakti sosial donor darah, 22 Oktober 2022. Dengan yel yel,” Pemuda Indonesia, WBI yes yes!” dan sebagai penyemangat para mahasiswa menggunakan Slogan “Darah tidak mengenal perbedaan. Satu niat dan semangat Pemuda Indonesia untuk mereka yang membutuhkan.”
Dalam rangkaian menyambut Hari Sumpah Pemuda diadakan dua kegiatan yaitu Sosialisasi Donor Darah pada 15 Oktober 2022 dan Bakti Sosial Donor Darah pada 22 Oktober 2022. Keduanya digelar di lokasi yang sama yaitu di Kampus Politeknik Wilmar Bisnis Indonesia. Sosialisasi donor darah kepada para mahasiswa WBI pada 15 Oktober 2022 diikuti oleh para dosen guru pendidik dan mahasiswa politeknik Wilmar Bisnis Indonesia. Relawan mengundang narasumber dari Palang Merah Indonesia yaitu Dr. Maulana Baikhakhi M.Biomed.AIFO.K untuk memberikan sosialisasi donor darah dengan judul “Mengapa saya harus donor darah”.
“Di sini kita sebagai pendonor berkesempatan untuk menyebarkan kebajikan, berkesempatan untuk mendeteksi penyakit serius yang ada dalam darah seperti HIV, hepatitis, malaria dan lain lain. Lalu juga meningkatkan produksi sel darah, tubuh menjadi lebih sehat, menjadi lebih awet muda, menjaga kesehatan jantung dan lainnya,” kata Dr. Maulana Baikhakhi M.Biomed.AIFO.K.
Ada beberapa syarat sebelum melakukan donor darah yaitu; berat badan pendonor tidak kurang dari 45 kg, suhu tubuh pendonor normal, telah berusia 17- 60 tahun, memiliki tekanan darah normal, memiliki denyut nadi sekitar 50 sampai dengan 100 kali setiap menit, juga memiliki kadar hemoglobin (HB) setidaknya 12 gram/dl dan lainnya.
Seseorang dengan kondisi kesehatan tertentu tidak dibolehkan untuk menjadi pendonor seperti kondisi tubuh yang kurang sehat saat ingin mendonor, memiliki penyakit menular seperti HIV, hepatitis, malaria dan lainnya serta riwayat penyakit seperti kanker dan stroke.
Pada sosialisasi ini, Budi Dharmawan, relawan Tzu Chi juga berbagi pengalamannya yang telah melakukan donor darah sejak tahun 1996.
“Waktu itu saya masih seusia adik-adik mahasiswa. Saya bergabung sebagai muda-mudi Vihara. Awalnya mau berdonor darah saya tidak merasa takut, dilatar belakangi untuk membantu mereka yang membutuhkan dan bertanggung jawab sebagai pelaksana donor darah. Setelah melakukannya, saya rutin melakukan donor darah tiga bulan sekali hingga sekarang. Sekali mendonor, tidak akan berhenti,” tutur Budi Dharmawan.
Pada kegiatan donor darah, pendonor harus melalui beberapa proses pemeriksaan medis sebelum dinyatakan lolos. Di antaranya mengisi formulir pendaftaran dan kuisioner kesehatan, pengukuran berat badan, pemeriksaan kadar hemoglobin darah, pemeriksaan golongan darah bagi pendonor pemula, pemeriksaan kesehatan, juga tekanan darah. Calon donor juga mesti dicek apakah sudah divaksin covid-19 lengkap.
Salah satu donor adalah Indra Vaniestel Manik (20), mahasiswa Wilmar Bisnis Indonesia dan kuliah di bidang Agribisnis Hortikultura. Ia ikut berdonor setelah mengikuti sosialisasi donor darah.
Hari ini merupakan awal pertama saya berdonor darah. Awalnya dari rumah saya masih ragu dan takut, tetapi setelah melihat teman yang lain diambil darahnya saya juga ingin jadi pendonor dan berhasil.Perasaan saya senang karena dapat menjadi pendonor darah untuk membantu mereka yang lagi butuh darah,” katanya.
Agilla Kharisma (18) yang mengambil jurusan Manajemen Pemasaran International juga pertama kali berdonor setelah mengikuti sosialisasi. Ketika pertama kali berdonor jujur ia merasa takut, tapi ternyata tak seseram yang ia bayangkan.
“Sedikit rasa sakit di awalnya saja, setelahnya tidak sakit. Saya sangat senang bisa donor darah karena bisa membantu orang lain yang membutuhkan dan bisa mengeluarkan darah kotor dari tubuh saya. Dan ini menjadi motivasi saya untuk beramal kebajikan. Harapannya semoga badan saya tetap sehat agar bisa donor darah untuk tahap selanjutnya,” ujar Agilla.
Wakil Direktur Bidang Kemahasiswaan Politeknik Wilmar Bisnis Indonesia, Bilson Pandiangan, sangat mendukung kegiatan sosialisasi serta kegiatan donor darah ini. Pihak kampus memliki visi dan misi yang sama dalam berbuat kebajikan. Kegiatan donor ini baru pertama kali Politeknik Wilmar Bisnis Indonesia gelar, dan melalui kerjasama dengan Tzu Chi ini, pihak kampus merangkainya dengan kegiatan sosial dalam rangka Hari Sumpah Pemuda.
“Bakti sosial donor darah ini bisa dijadikan agenda rutin kemahasiswaan,” jelasnya.
Merry Anggieta sebagai Ketua Keluarga Mahasiswa di Politeknik Wilmar Bisnis Indonesia sangat bangga melihat antusiasme dari mahasiswa di Politeknik Wilmar Bisnis Indonesia mengikuti donor darah. “Mereka berani serta memiliki jiwa sosial untuk berbagi dan bermanfaat dengan melakukan donor darah,” kata Merry Anggieta.
Dua rangkaian kegiatan dalam memperingati Hari Sumpah Pemuda, yaitu sosialisasi dan bakti sosial donor darah ini berjalan dengan baik. Kegiatan ini merupakan terobosan agar anak-anak muda makin memahami pentingnya donor darah sehingga dapat memenuhi stok darah Palang Merah Indonesia. Pada tahun 1928 kita bersatu untuk cita-cita kemerdekaan. Saat ini mari kita bersatu hati, peduli dan empati kepada sesama untuk kehidupan yang lebih baik.
Fotografer : Liani, Gunawan Halim (Tzu Chi Medan),
Editor : Khusnul Khotimah.