Secangkir Teh Hangat dan Ketulusan di Rumah Sakit Cinta Kasih
Di penghujung bulan Oktober 2025, ketika jarum jam baru menunjuk pukul 9.30 pagi, suasana di Rumah Sakit Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng terasa begitu hidup. Tujuh relawan Tzu Chi dari komunitas He Qi Barat 1, Barat 2, dan Utara, tampak bergerak dengan harmoni. Mereka adalah relawan pemerhati di Rumah Sakit Cinta Kasih (RSCK) Tzu Chi Cengkareng yang tengah berbagi tugas, ada yang melipat kain kasa, menyiapkan air panas dan teh hangat, mencuci serta mengeringkan gelas, hingga menyusun termos dan troli untuk dibagikan kepada para pasien yang tengah menunggu giliran konsultasi. Kegiatan sederhana ini mungkin tampak kecil, tetapi di balik setiap cangkir teh yang diberikan, tersimpan kehangatan dan kasih yang besar.
Dari Tangan yang Melayani, Hati yang Tersentuh
Bagi Frengki, yang baru menjadi relawan pemerhati untuk pertama kalinya sejak bergabung di Tzu Chi tahun 2023, hari ini adalah pengalaman berharga. “Yang memotivasi itu karena saya mau tahu seperti apa rasanya jadi relawan pemerhati, ngapain aja. Saya mau belajar banyak hal dalam kerelawanan ini,” ujarnya dengan senyum tulus.
Sementara itu, Hwa Hwa (Ellen) sudah empat bulan menjadi relawan pemerhati. Pengalaman yang paling membekas di hatinya adalah ketika ia melihat seorang anak penderita busung lapar yang datang berobat.
“Anaknya tampak sangat lemah, sedangkan ibunya terlihat begitu perlente. Saat itu saya merasa sangat bersyukur, anak saya tumbuh sehat walau saya sendiri berjalan dengan alat bantu. Dari situ saya belajar untuk lebih menghargai setiap anugerah yang saya miliki,” ceritanya dengan mata lembut.
Ellen setiap hari mengantar anaknya sekolah di Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng. Daripada menunggu tanpa tujuan, ia memilih untuk bersumbangsih di RSCK sebagai relawan pemerhati ini.
“Biar tidak buang waktu percuma, saya membantu di rumah sakit. Kegiatan ini bermakna sekali,” tuturnya.
“Anaknya tampak sangat lemah, sedangkan ibunya terlihat begitu perlente. Saat itu saya merasa sangat bersyukur, anak saya tumbuh sehat walau saya sendiri berjalan dengan alat bantu. Dari situ saya belajar untuk lebih menghargai setiap anugerah yang saya miliki,” ceritanya dengan mata lembut.
Ellen setiap hari mengantar anaknya sekolah di Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng. Daripada menunggu tanpa tujuan, ia memilih untuk bersumbangsih di RSCK sebagai relawan pemerhati ini.
“Biar tidak buang waktu percuma, saya membantu di rumah sakit. Kegiatan ini bermakna sekali,” tuturnya.
Semangat di Tengah Ujian
Di ruang tunggu, Suhardi, 70 tahun, duduk ditemani istri dan anaknya. Ia menderita diabetes dan sedang menunggu konsultasi dengan dokter bedah. Mereka datang dari daerah Kapuk, naik motor bertiga agar lebih hemat biaya. Ketika menerima secangkir teh hangat dari relawan, wajahnya tampak lega.
“Yang membuat saya semangat mendukung suami berobat adalah karena selagi ada BPJS, sembuhkan dulu. Biar suami saya bisa beraktivitas lagi,” ujar sang istri, Liani, dengan senyum penuh keteguhan. Ia menutup dengan pesan sederhana namun dalam, “Tetap semangat, tetap berobat, jalani hidup dengan baik.”
“Yang membuat saya semangat mendukung suami berobat adalah karena selagi ada BPJS, sembuhkan dulu. Biar suami saya bisa beraktivitas lagi,” ujar sang istri, Liani, dengan senyum penuh keteguhan. Ia menutup dengan pesan sederhana namun dalam, “Tetap semangat, tetap berobat, jalani hidup dengan baik.”
Tak jauh dari sana, ada Merri Tang yang datang dengan tongkat. Ia terpeleset seminggu lalu saat menaiki tangga, menyebabkan tulang iganya terbentur. “Saya sudah beberapa kali berobat ke RSCK. Dokternya baik, petugasnya ramah, dan relawannya penuh kasih,” ucapnya.
Suaranya mulai bergetar ketika mengenang momen tak terlupakan: “Saya pernah salah datang, harusnya konsultasi siang tapi saya datang pagi. Karena saya susah jalan, saya tunggu saja sampai siang. Lalu ada relawan yang memberi saya sekotak nasi gratis saat jam makan siang. Saya terharu, ternyata di dunia ini masih ada orang baik.” Air matanya menetes setetes di ujung matanya bukan karena sakit, tapi karena rasa syukur dan kehangatan yang ia terima.
Suaranya mulai bergetar ketika mengenang momen tak terlupakan: “Saya pernah salah datang, harusnya konsultasi siang tapi saya datang pagi. Karena saya susah jalan, saya tunggu saja sampai siang. Lalu ada relawan yang memberi saya sekotak nasi gratis saat jam makan siang. Saya terharu, ternyata di dunia ini masih ada orang baik.” Air matanya menetes setetes di ujung matanya bukan karena sakit, tapi karena rasa syukur dan kehangatan yang ia terima.
Keteladanan dalam Tindakan
Sebagai koordinator relawan pemerhati, Hendra, yang telah bergabung sejak 2009, memahami bahwa semangat dan harmoni tidak tumbuh dari kata-kata, tetapi dari keteladanan.
“Untuk menjaga semangat para relawan dan menciptakan lingkungan yang saling mendukung, kita harus melihat keadaan. Cukup beri contoh lewat tindakan, bukan ucapan,” katanya dengan tenang.
“Untuk menjaga semangat para relawan dan menciptakan lingkungan yang saling mendukung, kita harus melihat keadaan. Cukup beri contoh lewat tindakan, bukan ucapan,” katanya dengan tenang.
Dari ruang tunggu RSCK ini, relawan setiap saat diajarkan bahwa kebaikan tidak selalu datang dalam bentuk besar. Kadang hanya secangkir teh hangat, senyum tulus, atau sekotak nasi yang dibagikan dengan kasih. Namun, bagi penerimanya, itu bisa menjadi pengingat bahwa dunia masih penuh harapan dan cinta kasih.
Kisah para relawan dan pasien di Rumah Sakit Cinta Kasih Tzu Chi mengajarkan bahwa setiap orang bisa menjadi sumber kebaikan. Tak perlu menunggu waktu luang atau kemampuan besar, cukup niat tulus untuk hadir, mendengar, dan berbagi. Seperti yang dilakukan para relawan pagi itu, semoga kita pun bisa menjadi secangkir “teh hangat” bagi hati yang sedang menunggu harapan.
Jurnalis : Christine Desyliana (He Qi Barat 1),
Fotografer : Merry Christin (He Qi Barat 1),
Editor : Metta Wulandari.
Kisah para relawan dan pasien di Rumah Sakit Cinta Kasih Tzu Chi mengajarkan bahwa setiap orang bisa menjadi sumber kebaikan. Tak perlu menunggu waktu luang atau kemampuan besar, cukup niat tulus untuk hadir, mendengar, dan berbagi. Seperti yang dilakukan para relawan pagi itu, semoga kita pun bisa menjadi secangkir “teh hangat” bagi hati yang sedang menunggu harapan.
Jurnalis : Christine Desyliana (He Qi Barat 1),
Fotografer : Merry Christin (He Qi Barat 1),
Editor : Metta Wulandari.