Semangat dan Tekad Awal yang Tidak Pernah Padam
Acara ini dihadiri sekitar 700 relawan dan tamu undangan yang terdiri dari anggota Sangha, pemuka agama, donatur, tokoh masyarakat, dan masyarakat umum.
Pemberkahan awal tahun merupakan agenda tahunan untuk bersyukur, mendoakan kedamaian dunia, sekaligus meninjau perjalanan misi kemanusiaan Tzu Chi. Kegiatan ini juga menjadi bentuk apresiasi kepada para relawan, donatur, dan masyarakat yang selama ini mendukung tersebarnya cinta kasih dan kebajikan.
Tahun ini terasa istimewa karena Tzu Chi memasuki usia ke-60 tahun. Berawal dari tekad sederhana melalui gerakan celengan bambu, Tzu Chi kini telah hadir di sekitar 68 negara dan wilayah serta menjangkau lebih dari 136 negara dan wilayah. Mengusung tema “Jangan Melupakan Tekad Awal Masa Celengan Bambu, Selamanya Mengingat Ikrar Agung dan Mazhab Tzu Chi,” para peserta diajak untuk terus menjaga tekad awal dalam menebarkan cinta kasih dan kebajikan.
Para hadirin juga diajak menyaksikan tayangan kilas balik perjalanan misi kemanusiaan Tzu Chi Indonesia, khususnya di Sumatera Utara dan Aceh sepanjang tahun 2025, yang menunjukkan berbagai upaya relawan dalam menebarkan cinta kasih dan membantu masyarakat yang membutuhkan.
Didalam sharingnya, relawan Tzu Chi Medan sangat prihatin terhadap bencana banjir besar yang melanda Sumatera dan Aceh pada akhir November 2025 lalu. Di banyak daerah, listrik padam, komunikasi terputus, dan informasi sulit diperoleh. Banyak warga terdampak yang membutuhkan bantuan segera. Dalam kesempatan ini, para hadirin diajak mendengarkan sharing pengalaman bantuan bencana banjir di Sumatera dan Aceh.
Relawan Lukman Chairuddin, Steel Edwin, Shu Tjeng, dan Sylvia Chuwardi membagikan pengalaman mereka bersama tim relawan Sumatera Utara dan Aceh saat menghadapi medan yang penuh tantangan. Keterbatasan air bersih serta sulitnya akses menuju lokasi terdampak tidak mematahkan semangat relawan untuk memberikan pertolongan dan dukungan bagi para korban. Para relawan terus berupaya mencari berbagai alternatif untuk menembus lokasi terdampak demi meringankan penderitaan warga. Selain itu, relawan juga mengadakan bakti sosial kesehatan di lokasi terdampak pascabencana sebagai bentuk perhatian terhadap kesehatan dan kualitas hidup masyarakat. Perjuangan tanpa lelah relawan ini mendapat banyak apresiasi dari masyarakat dan menjadi motivasi bagi relawan untuk terus menyebarkan cinta kasih kepada mereka yang membutuhkan.
“Terima kasih banyak kepada Yayasan Buddha Tzu Chi atas bantuannya. Sekarang kami tidak kebanjiran lagi dan bisa tinggal tanpa rasa takut. Hanya Allah yang dapat membalas kebaikan ini,” ungkap Sulastri dengan mata berkaca-kaca.
Andre, yang ikut memerankan drama dari DAAAI TV berjudul Harapan yang Tidak Ikut Luntur mengaku sangat tersentuh dengan tema yang diangkat. Menurutnya, drama tersebut ingin menyampaikan bahwa di tengah bencana selalu ada harapan. Kisah yang ditampilkan menggambarkan realitas bencana yang melanda Sumatera Utara, Aceh, dan sekitarnya pada tahun lalu. Puing-puing kehancuran tidak mematahkan semangat, melainkan justru menghadirkan harapan baru.
Ada pula penampilan isyarat tangan lagu Qian Shou Shi Jie (Dunia Bodhisatwa Bertangan Seribu). Lagu ini menyiratkan makna bahwa insan Tzu Chi yang terjun ke daerah bencana bagaikan Bodhisatwa bertangan seribu yang penuh welas asih dalam membantu meringankan penderitaan para korban.
Peraga juga menampilkan lagu Ci Bei De Xin Lu (Jalan Hati yang Penuh Welas Asih) yang menggambarkan bahwa welas asih lahir dari penderitaan. Welas asih bukan sekadar perasaan, melainkan jalan yang harus ditempuh melalui tindakan nyata untuk membantu sesama. Selain itu, relawan pria juga menampilkan isyarat tangan lagu Tzu Cheng Dui Ge sebagai bentuk apresiasi atas peran relawan pria yang sering terlibat dalam kegiatan penuh tantangan seperti penanganan bencana.
Melihat langsung kondisi masyarakat pra-sejahtera membuat Richard merasa bahwa justru dirinya yang banyak belajar dan dibantu untuk lebih pandai bersyukur. Dalam penanganan pascabanjir yang melanda Sumatera Utara baru-baru ini, ia turut aktif menyebarkan informasi mengenai kondisi dan kebutuhan korban melalui media sosial, membantu penggalangan dana, serta terlibat langsung dalam penyaluran bantuan kepada masyarakat terdampak.
“Saya mengagumi konsistensi Tzu Chi dalam misi kemanusiaan, mulai dari tsunami Aceh tahun 2004 hingga sekarang. Di tahun baru ini saya berharap dunia terbebas dari bencana dan penderitaan, serta Tzu Chi tetap menjadi garda terdepan dalam membantu masyarakat yang membutuhkan,” ujarnya.
Perjalanan Tzu Chi tidak terlepas dari dukungan donatur, relawan, dan masyarakat. Terima kasih atas semua partisipasi dan kepercayaan yang diberikan kepada Tzu Chi. Semoga semangat cinta kasih terus berkembang sehingga kita dapat membantu lebih banyak orang,” ujarnya.
Senada dengan itu, Koordinator kegiatan Herlina Arifin berharap momen pemberkahan awal tahun ini dapat menjadi ruang refleksi bagi para relawan untuk terus menebarkan kebajikan.
“Semoga di tahun ini dunia semakin damai dan para relawan Tzu Chi dapat terus membantu lebih banyak orang, sekaligus membina diri agar kebijaksanaan dalam diri semakin tumbuh,” tuturnya.
“Semoga kekuatan cinta kasih setiap orang dapat dikerahkan sepenuhnya bagi sesama. Dengan mewariskan cinta kasih, kita mewariskan keluhuran. Memupuk keluhuran bagi anak cucu lebih berharga daripada mewariskan kekayaan materi. Mari kita bersungguh hati mengerahkan kekuatan cinta kasih dan berdoa agar dunia aman dan tenteram. Saya mendoakan kalian semua,” pesan Master Cheng Yen.
Jurnalis : Liani, Robby Mulia Halim (Tzu Chi Medan),
Fotografer : Amir Tan, Liani, Lili Hermanto, Tanoto (Tzu Chi Medan),
Editor : Metta Wulandari.