Siswa-siswi Tzu Chi School Bantu Program Bedah Rumah Di Kamal Muara
Dua puluh orang relawan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia bersama 30 orang siswa-siswi Tzu Chi School Jakarta kembali mengadakan pengecatan rumah warga Kamal Muara yang masuk dalam Program Bebenah Kampung Tzu Chi tahap ke-4 pada hari Sabtu, 2 Maret 2024, secara serentak di RT 02 RW 04, Penjaringan, Jakarta Utara. Ada 10 rumah warga yang dicat rumahnya oleh para siswa-siswi dan relawan Tzu Chi dari komunitas He Qi Angke yang telah 98 % telah rampung pembangunannya.
Salah satu dari 10 unit rumah tahap empat ini yang rampung pembangunannya adalah rumah Ibu Suina (78) yang berada di RT 02/04, Kelurahan Kamal Muara. Nenek dengan lima anak ini sangat senang ketika relawan Tzu Chi dan para siswa-siswi datang mau mengecat rumahnya. Ibu Suinah saat ini tinggal bersama anak, menantu dan tiga cucunya. Ada enam orang anggota keluarga yang tinggal di rumah Ibu Suina.
Salah satu dari 10 unit rumah tahap empat ini yang rampung pembangunannya adalah rumah Ibu Suina (78) yang berada di RT 02/04, Kelurahan Kamal Muara. Nenek dengan lima anak ini sangat senang ketika relawan Tzu Chi dan para siswa-siswi datang mau mengecat rumahnya. Ibu Suinah saat ini tinggal bersama anak, menantu dan tiga cucunya. Ada enam orang anggota keluarga yang tinggal di rumah Ibu Suina.
Sebelum dibangun kondisi rumah Ibu Suinah adalah rumah panggung berdinding bilik bambu yang dibawahnya dipenuhi oleh sampah. Sang menantu yang tinggal bersama Suina mencari nafkah dengan berjualan bubur yang hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari saja. Kini Ibu Suina hanya mengandalkan dari anak dan menantunya karena fisiknya sudah tidak kuat untuk kembali bekerja di pelelangan ikan. Faktor ekonomi menjadi kendala utama bagi Ibu Suina dan keluarga untuk dapat memperbaiki rumahnya.
Ibu Suinah bercerita sebelum rumahnya dibangun oleh Tzu Chi, rumah panggungnya yang berdinding bilik, beratapkan seng, dan terpal yang sangat tidak layak dan nyaman untuk ditinggali. Belum lagi bocor dikala hujan, dan bahkan sering tikus masuk ke dalam rumahnya ketika sedang tidur pulas karena di bawah rumahnya dipenuhi sampah.
Tak henti-hentinya Ibu Suinah berucap rasa syukur, rumahnya yang kini telah selesai dibangun sangat bagus, rapi, bersih, dan nyaman dihuni. Di usia senjanya, Ibu Suina kini dapat tersenyum lega. Impiannya untuk tinggal di rumah yang layak, bersih, dan nyaman kini dapat terwujud.
Ibu Suinah bercerita sebelum rumahnya dibangun oleh Tzu Chi, rumah panggungnya yang berdinding bilik, beratapkan seng, dan terpal yang sangat tidak layak dan nyaman untuk ditinggali. Belum lagi bocor dikala hujan, dan bahkan sering tikus masuk ke dalam rumahnya ketika sedang tidur pulas karena di bawah rumahnya dipenuhi sampah.
Tak henti-hentinya Ibu Suinah berucap rasa syukur, rumahnya yang kini telah selesai dibangun sangat bagus, rapi, bersih, dan nyaman dihuni. Di usia senjanya, Ibu Suina kini dapat tersenyum lega. Impiannya untuk tinggal di rumah yang layak, bersih, dan nyaman kini dapat terwujud.
“Seneng banget, bersyukur pada Allah SWT, terima kasih banyak kepada bapak-bapak (relawan Tzu Chi –red),” kata Suinah. Suina juga berjanji untuk merawat rumah yang sudah dibangun oleh Tzu Chi untuk tetap bersih dan tidak akan dijual. “Orang ini rumah satu-satunya nanti kalau dijual saya tinggal di mana, ini rumah peninggalan almarhum suami saya, dulu rumah ini hanya rumah kayu, karena banjir terus dibuat panggung,” kata Suinah mengenang.
Rasa syukur yang sama juga dirasakan oleh Ibu Komariah (57), warga penerima bantuan bedah rumah lainnya. Ibu Komariah tinggal berempat bersama dua orang anak dan satu menantu. Komariah sehari-hari bekerja di pabrik plastik sebagai tenaga pengepakan mulai pukul 08.00 hingga 17.00 yang dibayar secara mingguan.
“Alhamdulillah saya senang rumah saya dibangun lagi, kalau saya ngomong saya nangis Pak, saya gak kuat pak rumah saya dulunya begitu (rumah kayu panggung) kalau hujan bocor dimana-mana, namanya suami dah nggak ada, jadi ada bocor dibiarin aja. Kalau minta tolong orang kan harus pakai duit,” ujar Komariah.
Siswa-siswi Tzu Chi School yang membantu mengecat rumah juga turut bahagia. Mereka mengecat rumah di salah satu ruangan yang telah disiapkan. Awalnya mereka sangat canggung mengecat karena belum pernah dah tidak paham bagaimana caranya mengecat. Namun, setelah diberi penjelasan mereka bisa mengecat rumah dengan rapi.
Rasa syukur yang sama juga dirasakan oleh Ibu Komariah (57), warga penerima bantuan bedah rumah lainnya. Ibu Komariah tinggal berempat bersama dua orang anak dan satu menantu. Komariah sehari-hari bekerja di pabrik plastik sebagai tenaga pengepakan mulai pukul 08.00 hingga 17.00 yang dibayar secara mingguan.
“Alhamdulillah saya senang rumah saya dibangun lagi, kalau saya ngomong saya nangis Pak, saya gak kuat pak rumah saya dulunya begitu (rumah kayu panggung) kalau hujan bocor dimana-mana, namanya suami dah nggak ada, jadi ada bocor dibiarin aja. Kalau minta tolong orang kan harus pakai duit,” ujar Komariah.
Siswa-siswi Tzu Chi School yang membantu mengecat rumah juga turut bahagia. Mereka mengecat rumah di salah satu ruangan yang telah disiapkan. Awalnya mereka sangat canggung mengecat karena belum pernah dah tidak paham bagaimana caranya mengecat. Namun, setelah diberi penjelasan mereka bisa mengecat rumah dengan rapi.
Lo Hok Lay yang mewakili relawan dalam pengecatan rumah ini mengatakan bahwa menyertakan para siswa-siswi Tzu Chi school bertujuan agar mereka dapat melihat, mendengar langsung dari pemilik rumah yang dibangun kembali oleh Yayasan Tzu Chi. “Supaya mereka bisa melihat dengan telinga, mendengar dengan mata. Artinya saat dia melihat penderitaan orang yang ditolongnya, ia turut mendengar dan merasakan keluh kesah pemilik rumah dan melihat semua persoalan yang ditemui dilapangan secara bijaksana sehingga menginspirasi orang lain untuk terus berbuat kebajikan,” terang Hok Lay.
Para relawan dan siswa-siswi Tzu Chi School sangat bersemangat ketika mengecat rumah Ibu Suinah dan Ibu Komariah. Sembari mengecat, para relawan berbincang-bincang dengan pemilk rumah. Kebahagiaan warga semakin lengkap dengan adanya paket sembako, pembagian beras, dan pembangunan rumah ibadah di wilayah Kamal Muara.
Relawan Tzu Chi berharap rumah tinggal dan rumah ibadah yang sudah dan sedang dibangun ini dapat dijaga dengan baik kebersihannya. Semoga kegiatan ini dapat menginspirasi warga masyarakat lainnya untuk turut tergerak membantu mereka yang membutuhkan.
Para relawan dan siswa-siswi Tzu Chi School sangat bersemangat ketika mengecat rumah Ibu Suinah dan Ibu Komariah. Sembari mengecat, para relawan berbincang-bincang dengan pemilk rumah. Kebahagiaan warga semakin lengkap dengan adanya paket sembako, pembagian beras, dan pembangunan rumah ibadah di wilayah Kamal Muara.
Relawan Tzu Chi berharap rumah tinggal dan rumah ibadah yang sudah dan sedang dibangun ini dapat dijaga dengan baik kebersihannya. Semoga kegiatan ini dapat menginspirasi warga masyarakat lainnya untuk turut tergerak membantu mereka yang membutuhkan.
Jurnalis : Anand Yahya,
Fotografer : Anand Yahya,
Editor : Hadi Pranoto.
Fotografer : Anand Yahya,
Editor : Hadi Pranoto.