Sosialisasi Bulan Tujuh Penuh Berkah di Tanjung Balai Karimun
Bulan Tujuh dalam penanggalan Lunar sering kali dikenal sebagai bulan hantu oleh sebagian besar masyarakat Tionghoa. Terdapat kepercayaan bahwa pada bulan tersebut, para hantu akan terbebas dari dunia bawah untuk sementara waktu. Sesajian berupa daging, dupa, serta kertas sembahyang dipersembahkan kepada para leluhur dengan harapan dapat membebaskan para leluhur dari penderitaannya.
Namun di Tzu Chi, Bulan Tujuh penanggalan Lunar merupakan bulan penuh berkah, sukacita, dan bulan untuk membalas budi. Karena sesungguhnya persembahan dan hadiah terbaik serta penuh berkah untuk para leluhur adalah doa yang tulus, amal, dan perbuatan bajik, salah satunya dengan bervegetaris.
Maka dari itu Tzu Chi Tanjung Balai Karimun mengadakan acara sosialisasi Bulan Tujuh Penuh Berkah pada Minggu, 24 Juli 2022, pukul 09.00 WIB. Kegiatan ini juga dimanfaatkan untuk menenangkan batin para relawan melalui pelantunan Gatha Pendupaan, Gatha Pembuka Sutra, pelaksanaan Pradaksina, dan meditasi. Relawan Sukmawati dan Wiyzhien secara bergilir membawakan materi mengenai penjelasan Bulan Tujuh Penuh Berkah serta pola hidup bervegetaris dan ramah lingkungan. Para relawan juga memerankan drama sebagai himbauan untuk menjalankan pola hidup bervegetaris dan mengintegrasikannya ke dalam kehidupan sehari-hari termasuk kebiasaan dalam menjalankan tradisi.
Pelaksanaan acara sosialisasi Bulan Tujuh Penuh Berkah tidak terlalu berbeda dari tahun ke tahun. Tetapi, kegiatan ini berperan penting dalam proses menumbuhkan tekad relawan untuk bervegetaris. Indra, relawan yang berasal dari Pulau Tanjung Batu Kecil sudah menjalankan pola hidup bervegetaris selama 1 tahun lebih. Sebelumnya, Indra (24) melakukan sembahyang Bulan Tujuh dengan daging-daging serta kertas sembahyang yang melimpah. Ia kini mengganti daging dengan olahan nabati serta mengurangi penggunaan kertas sembahyang. “Bervegetarian karena pelatihan diri, yang kedua membalas budi orang tua, dan yang ketiga menghargai kehidupan makhluk lain. Vegetarian ini bukan sekedar tidak makan daging, tapi harus ada tekad dan komitmen yang kita jalani. Kita harus bersabar, mengurangi emosi, sekaligus pelatihan dari hati,” ucap Indra.
Pui Huat (51), relawan Komite Tzu Chi Tanjung Balai Karimun juga memiliki kisah inspiratif mengenai pola hidup vegetaris untuk dibagikan. Setelah dilantik menjadi relawan Komite Tzu Chi pada tahun 2017, Pui Huat langsung bervegetaris. Bisnis Bak Kut Teh (makanan dari budaya Tionghoa) turun temurun keluarganya langsung disulap menjadi Bak Kut Teh vegetarian.
Awalnya bisnis sama sekali tidak berjalan lancar, namun Pui Huat tetap berusaha dengan gigih. Ia pun meracik ulang resep andalan keluarganya menjadi hidangan vegetarian yang tidak kalah lezat dengan versi non vegetarian. Lambat laun, Bak Kut Teh vegetariannya pun dikenal oleh masyarakat luas dan penjualannya terus meningkat.
“Mulai dari satu hari satu kali, anggaplah bervegetaris seperti sedang fang shen (pelepasan makhluk hidup). Kemudian menjadi satu bulan berturut turut, berlanjut menjadi setengah tahun, setahun, dua tahun, tiga tahun, dan seterusnya,” ungkap Pui Huat.
Setelah berpola hidup vegetaris, Pui Huat merasa perlahan-lahan ada perubahan dalam hidupnya. “Setelah saya vegetarian, saya merasa vegetarian sangatlah baik, menumbuhkan kasih sayang, baik untuk kesehatan. Saya merasa dengan bervegetaris, hidup menjadi sangat bermakna,” ucapnya.
Fotografer : Mie Li, Tcering Zoma Chen (Tzu Chi Tanjung Balai Karimun),
Editor : Arimami Suryo A..