[ST-017] 心淨法入心 Dharma Meresap di Kala Bathin Jernih
Saudara se-Dharma sekalian, dalam mempelajari ajaran Buddha, yang terpenting adalah pikiran. Tak peduli seberapa jauhnya jarak dan zaman, jika kita dapat menjaga hati dan pikiran dengan baik, kita akan hidup bagai di masa Buddha hadir. Lebih dari 2.000 tahun lalu, tanggal 8 bulan 4 penanggalan lunar, di India, di tempat yang kini termasuk wilayah Nepal, di kerajaan yang dulu bernama Kapilavastu, lahirlah seorang pangeran.
Putra mahkota dari Raja Suddhodana ini telah terlahir pada saat itu. Kelahirannya dikatakan sebagai berkah bagi puluhan ribu orang. Apakah hanya bagi puluhan ribu orang? Ungkapan puluhan ribu di sana menunjukkan jumlah yang sangat banyak. Saat itu, sang putra mahkota, yaitu Pangeran Siddhartha yang lahir ke dunia, tumbuh semakin dewasa dan memiliki rasa ingin tahu yang makin besar. Beliau mengamati dan merenung dengan sungguh-sungguh dan merasakan banyak hal yang tak beliau pahami, seperti perubahan yang dialami semua makhluk, pergantian empat musim; kelahiran, usia tua, penyakit, kematian, juga ada kemiskinan, kekayaan, status sosial, serta perbedaan antara yang kuat dan lemah.
Banyak hal yang tak beliau pahami. Hal ini membangkitkan rasa ingin tahunya. Karena itu, beliau sungguh-sungguh merenungkannya. Semakin merenung, beliau semakin merasa bahwa dalam kehidupan, ada begitu banyak perbedaan baik tinggi rendah, panjang pendek, kaya miskin, hidup mati, sehat sakit, dll. Perbedaan ini semakin lama semakin terlihat. Beliau terus-menerus merenungkan hal ini. Beliau berpikir, jika akar penyebab dari semua ini dapat ditemukan, maka hal-hal yang sulit dipahami ini akan dapat dimengerti dengan jelas. Untuk itu, beliau terus merenung dengan kebijaksanaannya. Akhirnya, untuk mewujudkan tekad dan cita-citanya, beliau pun meninggalkan istana dan memulai pencarian untuk memahami kebenaran di balik segala hal di alam semesta.
Dalam pemikirannya, jika beliau dapat menemukan kebenaran hakiki, maka tiada hal yang terlalu rumit untuk dipahami. Karenanya, beliau memutuskan meninggalkan istana dan mencari sumber kebenaran hidup. Maka sejak saat itu, beliau menghadapi banyak rintangan dan menjalani banyak sekali penderitaan yang belum tentu sanggup ditanggung rata-rata manusia. Beliau menderita baik secara fisik, menderita akibat lingkungan, dan banyak lagi. Tak semua orang dapat bertahan dalam kondisi itu.
Namun, dengan keteguhan tekadnya, beliau berhasil mengatasi berbagai kesulitan. Karenanya, beliau berhasil dan mencapai pencerahan. tanggal 8 bulan 12 penanggalan lunar, di bawah cahaya bintang, beliau mencapai pencerahan. Sejak saat itu, lahirlah Seorang Yang Tercerahkan, yang mencerahkan diri-Nya dan makhluk lain, serta sempurna dalam kesadaran dan praktik.
Segala kebenaran di alam semesta, baik yang berkaitan dengan materi, manusia, dan masalah, dengan kebijaksanaan dari Manusia Agung ini dapat dianalisis dan diuraikan. Ternyata, kebenaran ini sungguh sederhana. Contohnya, manusia dengan jumlah yang banyak, memiliki noda batinnya masing-masing. Banyak hal rumit dalam hubungan antarmanusia. Manusia sering kali berselisih, bahkan ada kalanya melakukan kekerasan baik secara terbuka maupun tertutup. Semua ini dipelopori pikiran. Pikiran pada dasarnya sangat sederhana, murni tanpa noda.
Karena pengaruh manusia dan masalah dunia luar, kegelapan batin pun timbul yang akhirnya membawa bencana bagi dunia. Semua ini berawal dari pikiran. Buddha telah menganalisis kebenaran tentang segala hal di alam semesta. Semua materi hanyalah perpaduan 4 unsur. Empat unsur ini adalah tanah, air, api, dan angin.
Keempat unsur ini membentuk materi dan makhluk yang beraneka ragam di alam semesta. Baik gunung, sungai, daratan, maupun pepohonan di hutan, tumbuhan, hewan, manusia, dan lain-lain, semua terbentuk dari keempat unsur ini: tanah, air, api ,dan angin.
Jika kebenaran ini dapat kita mengerti dengan baik, maka kita dapat memahami segala hal di dunia adalah perpaduan berbagai unsur dan tak dapat berdiri sendiri. Jika kita dapat memahami kebenaran ini, kita akan memahami bahwa lahir, tua, sakit, mati terjadi karena tubuh juga adalah perpaduan unsur. Setelah memahami semua kebenaran ini, maka tiada hal yang perlu dipertentangkan. Dari manakah pertentangan berasal? Dari pikiran. Pikiran pun bersifat tidak kekal, selalu timbul, berlangsung, berubah, dan lenyap. Dalam pikiran kita ini, ketika bersentuhan dengan kondisi dunia luar, sering kali timbul berbagai perasaan dan nafsu: senang, tidak senang, berjodoh, tidak berjodoh, dan lain-lain. Akibat kontak dengan dunia luar, pikiran manusia menjadi tidak stabil, terus bergejolak mengikuti kondisi dunia luar.
Lihatlah kondisi di luar. Barusan, saat saya berjalan keluar, langit belum terlalu terang. Tetapi, sekarang langit sudah terang-benderang. Sementara kita duduk di sini, kondisi di luar terus berubah. Ketika kita duduk dengan tenang di sini, tubuh fisik kita pun terus-menerus mengalami perubahan. Dalam satu detik, sel-sel tubuh terus berganti. Dalam tubuh kita sendiri, kita tidak mengetahui, dan tidak merasakannya. Sesungguhnya, di dalam tubuh kita terdapat berbagai mikroorganisme yang saling berinteraksi, saling melawan, maupun saling memusnahkan.
Di tubuh kita, dalam hitungan detik metabolisme terus berlangsung, dan sel-sel terus berganti. Tubuh jasmani ini tidaklah kekal, terlebih lagi batin. Tadi, ketika ceramah pagi belum dimulai, setiap orang hendaknya menenangkan hatinya. Jika tidak, pikiran kita akan terus berkelana dan tidak dapat berkonsentrasi. Ketika sebuah bentuk pikiran muncul, itulah yang disebut fase timbul. Ketika hati kita bisa menjadi tenang, ini disebut fase berlangsung.
Bagi sebagian orang, saat timbul bentuk pikiran, pikiran ini terus dipertahankan dalam dirinya. Itulah kemelekatan. Kita tidak memahami bahwa pikiran mengalami fase timbul, berlangsung, berubah, lenyap. Jika kita memahami kebenaran ini, kita tak akan melekat. Namun, kita sebagai manusia tak memahami kebenaran ini sehingga melekat. Karena itu, muncul banyak noda dan kegelapan batin yang dimulai dari titik itu dan terus berubah, namun pada akhirnya tetap akan lenyap.
Di dunia ini, tiada yang benar-benar abadi. Unsur tanah, air, api, dan angin membentuk dunia. Dengan adanya pembentukan, keberlangsungan, kerusakan, dan kehancuran, tiada sesuatu yang kekal di dunia. Manusia mengalami lahir, tua, sakit, mati. Pikiran manusia yang bersentuhan dengan dunia luar dipenuhi berbagai perasaan dan nafsu yang terus-menerus berubah sesuai fase timbul, berlangsung, berubah, dan lenyap. Sungguh tiada yang kekal di dunia. Timbul, berlangsung, berubah, lenyap pada pikiran; Maka adanya timbul, berlangsung, berubah, lenyap pada pikiran; lahir, tua, sakit, mati pada jasmani; terbentuk, berlangsung, rusak, hancur pada materi karena semua tidak lain hanya perpaduan 4 unsur.
Dengan terlahir sebagai manusia, kita memiliki tubuh jasmani. Dengan adanya tubuh jasmani, berlangsunglah fase ketidakkekalan ini. Badan jasmani yang kita miliki, pada akhirnya kembali menjadi tanah. Setelah meninggal, tubuh akan dimakamkan, apa lagi yang tersisa? Tidak ada.
Di alam semesta ini, adakah sesuatu yang kekal? Maka, kebenaran yang sederhana ini, jika dapat benar-benar kita pahami, kita tak akan terjerumus dalam noda batin.Pada awalnya, tiada sesuatu pun. Semua hanyalah hasil pikiran kita. Bodhi sesungguhnya tidak berpohon, cermin pun tiada berbingkai, pada awalnya memang tiada sesuatu pun, bagaimana debu dapat mengotori?
Jadi, mulai saat ini kita harus sungguh-sungguh bertobat setiap hari, bertobat atas segala ilusi, hal sia-sia yang timbul setiap hari yang sesungguhnya hanyalah hasil dari pikiran dan menimbulkan noda batin.
Kita haruslah bersyukur karena telah sadar bahwa dahulu kita terjerumus dalam noda batin karena ilusi. Beruntung, 2.500 tahun yang lalu, pada tanggal 8 bulan 4 penanggalan lunar itu, seorang manusia agung terlahir ke dunia. Sejak saat itu, beliau tumbuh seiring waktu dan menemukan kebenaran. Beliau lalu menyebarkannya pada umat manusia. Meski 2.500 tahun telah berlalu, kebenaran ini telah dibabarkan kepada kita, dan dalam 2 ribuan tahun ini ada banyak orang yang tercerahkan karenanya, dan banyak orang yang memahami kebenaran ini. Dari sumber kebenaran ini, mereka mulai meneliti tentang materi maupun jasmani.
Bahkan, kini banyak ilmuwan terus mengadakan penelitian sehingga menghasilkan penemuan bagi masa kini. Semua ini terealisasi berkat pemahaman akan prinsip-prinsip kebenaran. Oleh karena itu, kita seharusnya lebih menghormati Buddha Sakyamuni. Buddha senantiasa mengajarkan, makhluk hidup harus bertobat atas noda batin.
Dengan demikian, baru dapat menyucikan dan menenangkan pikiran serta menyelami kebenaran. Sama seperti saat akan menulis artikel yang baik, kertas yang kita gunakan harus putih dan bersih. kertas yang digunakan harus putih dan bersih. Di atas kertas yang bersih, kita baru dapat menulis artikel. Pakaian yang kita kenakan memiliki beraneka ragam warna. Kain yang beraneka warna ini semula juga berupa kain putih yang dicelup dengan beraneka warna.
Demikian pula, sebelum dapat menerima Dharma, kita harus memiliki rasa syukur, membersihkan hati, dan terus menjaganya, karena kita ingin mencari kebenaran sejati. Langkah pertama dalam melatih diri adalah bertobat. Dengan bertobat, barulah noda batin dapat dilenyapkan.
Saat noda batin lenyap, batin akan menjadi murni, dan kebenaran ajaran Buddha baru dapat meresap ke dalam hati. Maka, terlebih dahulu kita harus tahu pentingnya menghormati Tiga Permata. Dengan adanya Buddha, Dharma, dan Sangha, barulah kebenaran dapat terus diwariskan. Karenanya, kita harus menghormati Tiga Permata, sebab Tiga Permata merupakan ladang berkah dan mitra bagi semua makhluk. Mereka yang ingin bertobat harus terlebih dahulu memberi penghormatan kepada Tiga Permata.
Demikianlah, bagi semua makhluk, Tiga Permata adalah mitra yang baik dan ladang menanam berkah, Buddha Sakyamuni adalah Permata Buddha. Buddha telah mencapai pencerahan, mencerahkan orang lain, sempurna dalam kesadaran dan praktik. Dengan adanya Seseorang Yang Tercerahkan ini, sumber air Dharma ini mulai mengalir tanpa henti. Meski 2.000 tahun lebih telah berlalu, kebenaran ini terus mengalir tanpa henti hingga sekarang.
Karenanya, saat ini kita harus dengan tulus dan sepenuh hati membangkitkan rasa hormat. Buddha adalah Yang Tercerahkan. Tanpa Seseorang Yang Tercerahkan ini, bagaimana kita bisa memahami kebenaran? Semua Dharma dapat menyembuhkan penyakit batin makhluk hidup.
Jadi, Dharma bagaikan obat. Sakit merupakan kondisi yang sangat menderita, apalagi jika penyakit batin muncul dalam hati, maka virus batin tersebut akan terus ada. Inilah sumber penderitaan manusia. Jadi, kita harus menghormati Tiga Permata. Karena adanya Buddha, yang dengan kebijaksanaan-Nya mampu mengungkap segala kebenaran di alam semesta, Dharma dapat sungguh-sungguh Beliau babarkan. Ajaran Buddha dapat bertahan ribuan tahun dan terus menyebar hingga sekarang karena adanya banyak bhiksu dan bhiksuni yang mengikuti jejak para Buddha dan Bodhisattva. Mereka mengabdi pada kebenaran dan mempraktikkannya.
Kita seharusnya lebih menghormati mereka. Karena Buddha lahir di India, dan mengajar di India, peninggalan ajaran-Nya banyak terdapat di India. Kita harus sangat bersyukur, bahwa baik di India maupun di Tiongkok ada orang yang mencari kebenaran dan mencintai ajaran Buddha.
Mereka tak takut akan kesulitan. Kita tentu masih ingat saat membahas Sutra Ajaran yang Diwariskan Buddha, kita menyebut Kasyapa Matanga dan Dharmaraksa. Mereka berdua adalah orang India. Demi membabarkan Dharma, yang mereka ketahui sangat baik dan berguna maka demi menyebarluaskannya, meski Buddha telah parinirvana (mangkat), mereka bersedia memikul tanggung jawab untuk menyebarkan Dharma ini. Untuk itu, dari daerah barat mereka menunggang kuda dan membawa Sutra-Sutra untuk disebarkan ke Tiongkok.
Selain itu, ada Kumarajiva. Jika melantunkan Sutra Bunga Teratai, kita tentu mengenal Kumarajiva. Beliau menyebarkan Sutra ke Tiongkok dan menerjemahkannya. Ia menerjemahkan banyak Sutra Mahayana. Jika bukan karena Kumarajiva, tak akan ada ajaran Buddha seperti sekarang, terutama ajaran Mahayana. Karena jika kita lihat saat ini ajaran Buddha di India telah tenggelam. Namun, ajaran Buddha kini baik di timur maupun barat, di belahan bumi mana pun, tengah dikaji dan terus dipelajari dengan sungguh-sungguh oleh banyak orang. Bahkan di Inggris pun demikian.
Di universitas dibuka program studi agama yang mengkaji ajaran Buddha. Demikian pula di Amerika Serikat. Banyak negara dengan peradaban tinggi, terutama Jepang, di mana Sutra-Sutra telah tersebar sejak masa Dinasti Tang sehingga banyak kebudayaan Jepang yang diserap dari budaya dalam ajaran Buddha.
Di Tiongkok pun banyak tata krama dalam keseharian yang berasal dari ajaran Buddha. Buddhisme sungguh merupakan budaya bagi manusia. Lihatlah di sebelah barat Tiongkok, yaitu India, begitu banyak guru besar yang tak kenal lelah menyebarkan Dharma ke daerah timur. Di daerah timur, yaitu Tiongkok pun demikian. Lihatlah Master Xuanzang. Beliau merasa bahwa ajaran Buddha yang dipelajarinya sepertinya tidak lengkap.
Karenanya, beliau bertekad keluar dari Chang’an, Tiongkok dan menempuh berbagai kesulitan. Jalur Sutra yang beliau lalui, jika kita lihat di atas peta dan coba kita pelajari, medan yang harus ditempuh sungguh berat. Beliau berjalan melalui Afganistan, melewati Turki, baru sampai ke India.
Di masa itu, perjalanan terasa jauh karena belum ada alat transportasi yang memadai. Lihatlah, beliau berangkat dari Chang’an melewati berbagai negara dari Timur Tengah sampai India. Sesungguhnya, ini sangat sulit karena kondisi iklim yang berbeda-beda. Ketika melantunkan Samantamukha Varga, kita menemukan istilah “angin hitam”. Angin hitam ini banyak terjadi dalam perjalanan beliau. Sekarang kita lihat di Afganistan maupun di Pakistan, tempat di mana Tzu Chi telah meninggalkan jejak, terdapat padang pasir yang luas tanpa adanya air, pohon, maupun rumput.
Ketika angin tiba-tiba bertiup, langit akan berubah gelap tertutup debu. Bahkan, di daerah yang semula gurun pasir lapang, angin dapat memindahkan bukit pasir hingga menjadi seperti ada bukit pasir yang menutupi jalan. Sebelum angin bertiup, kita melihat gurun pasir yang rata. Begitu angin bertiup, keadaan menjadi gelap tertutup debu. Setelah badai berlalu, dan angin berhenti bertiup, tiba-tiba terdapat bukit pasir di depan mata. Kontur daratan setempat pun berubah mengikuti perubahan cuaca. Master Xuanzang sendirian menunggang kuda melewati gurun pasir yang luas ini. Dalam sehari, cuaca dan kontur tanah dapat berubah. Dapat kita bayangkan kesulitan yang dihadapinya. Ketika cuaca panas, bagaikan terbakar api.
Jika angin ribut menerpa sebuah kapal dan meniupnya hingga ke negeri raksasa, jika ada seorang saja di antara penumpangnya memanggil nama Bodhisattva Avalokitesvara, semua penumpang di kapal itu akan terbebas dari cengkeraman raksasa itu.
Kini, di Yordania, suhu udara siang hari mencapai 40 derajat lebih, sedangkan suhu malam hari mendekati nol derajat. Kini, kita dapat mendengar sekaligus memahami perasaan insan Tzu Chi di sana. Apalagi ketika Master Xuanzang mengambil Sutra, beliau harus melalui perjalanan yang sulit untuk dapat memperoleh Sutra Prajna-paramita. Banyak Sutra yang beliau peroleh dengan mempertaruhkan nyawanya.
Saudara sekalian, Buddha, Dharma, dan Sangha sungguh harus kita hormati dan kita junjung tinggi. Jika dalam batin kita tidak timbul rasa hormat, Dharma tak akan dapat meresap ke dalam hati. Buddha, Dharma, dan Sangha. Tanpa adanya Buddha, hari ini kita tak akan dapat mendengar Dharma. Tanpa adanya Sangha, tak akan ada yang mewariskan Dharma.
Jadi, kita harus menghormati Tiga Permata dan mengenal balas budi. Maka, baik Buddha, Dharma, maupun Sangha, yang dibawa oleh para guru dari India, maupun yang oleh para bhiksu Tiongkok dicari dan dibawa pulang, kita harus bersyukur pada Sangha yang mewariskan ajaran ini dan menghormatinya bagai Buddha sendiri. Buddha ada ketika hati kita penuh rasa hormat. Kita semua adalah Buddha masa depan.
Jika tak menghormati Buddha masa lampau, mungkinkah kita mencapai kebuddhaan? Masa lalu sama seperti masa kini, masa kini sama seperti masa depan. Karenanya, kita harus senantiasa menjaga hati. Baik di masa lalu, masa kini, maupun masa depan, Tiga Permata tetap ada. Jika kita sungguh-sungguh melatih diri, melenyapkan noda batin masa lalu, dan menjaga hati yang murni, serta dengan sungguh-sungguh menyelami Tiga Permata yang susah payah kita temukan, barulah kebenaran akan terukir di hati kita.
Maka, harap semua selalu bersungguh-sungguh.